Share

chapter 10

Author: 010
last update publish date: 2023-12-01 16:20:15

Zakia tidak bisa menahan senyum saking senangnya. Dia berjalan menuruni gedung lebih santai sambil meraup oksigen dalam-dalam. Napas kelegaan dirasa lebih mudah dihembuskan ketimbang sejenak yang lalu. Menuruni anak tangga tidak seperti mendakinya, akselerasi Zakia tentu lebih cepat dengan langkah yang 'tak lagi berat.

Setelah keluar gedung Zakia langsung menemui teman-teman nongkrongnya. Di sana ada Nova dan Miftah dua teman sejoli para pejuang skripsi.

"Beb, gua ada kabar gembira nih. Lo berdua pasti penasaran kan ... iya kan?" ujar Zakia sambil menaik-naikkan alisnya.

"Kabar gembira apaan, Za, kok lo heboh gitu?" tanya Nova.

"Gua acc bab 2 nih. Wuah rasa gimana 'gitu. Seneng banget gua!" pekik Zakia heboh.

"Kya! Selamat ya, Beb," ujar Nova sambil bertepuk tangan.

"Eh, kan cuma acc bab 2, Za. Masih ada 2 bab lagi lo, saran gua mending belajar lebih serius deh jangan seneng dulu, biar rencana kita wisudah bareng kesampen 'gitu," tukas Miftah.

"Aih ... mood gua jadi buruk nih lo ingeti gitu, Mif. Padahal baru aja gua seneng." Zakia mencebik kesal.

"Gua yakin kok kita semua tahun ini pasti wisudah. Daripada mood lo jelek, gimana kalau kita nge-mall aja deh?" saran Nova.

Bener juga ide si Nova!

"Nah ide bagus tu," ujar Zakia.

"Eh tapi maaf ya Za gua tadi aku ngomong kayak gitu. Gua enggak ada maksud bikin mood lo jelek beneran deh sumpah. Gua cuma takut lo ketinggalan sama kita, kalau kita mah tinggal bab terakhir aja. Sekali lagi maaf ya Za."

"Gapapa kok, Mif. Gua tau maksud lo baik, yaudah kita cabut yuk," balas Zakia Mereka bertiga akhirnya berangkat ke salah satu mal.

Sesampainya di mall mereka langsung mendatangi gerai KFC dan lekas makan. Kebetulan dari tadi pagi Zakia belum sempat makan. Kiranya saat itu Zakia yang paling ngotot ngajak makan sebulum cuci mata. Sambil makan meraka kembali melanjutkan obrolan dengan masalah yang lebih serius.

"Kalau aja lo enggak sibuk sama organisasi mungkin lo itu udah selesai duluan daripada kita-kita, Za," ujar Nova.

"Gua enggak bisa cuma kuliah kuliah aja, Nov. Organisasi itu gua hobby, bahkan SMA aja gua ketua osis. Suka aja gua tuh, penuh tantangan. Daripada enggak ada kegiatan jadi bucin," jawab Zakia sambil mengunyah ayam crispy spicy kesukaannya.

"Yah mendingan lo udahan aja deh sama kegiatan lo itu, fokus aja skripsi dulu. Tinggal dikit lagi Za tanggung banget. Mungkin gara-gara lo aktif ngusut-ngusut kayak gitu jadi skripsi lo dibuat lama gitu," balas Miftah.

Zakia menghendikkan bahunya, meskipun semester akhir tak lagi diwajibkan untuk mengikuti organisasi. Tapi Zakia sudah kecanduan, dia mahasiswa aktif di kampusnya.

"Gak tau juga, Mif. Tapi gua ngerasanya kayak dipersulit aja gitu. Kalau pun gua dipersulit emang salah gua apa? Lagian kami kalau demo itu ya ngusut hak-hak kita sebagai mahasiswa aja kok, dan gua paling benci sama orang korupsi."

"Itu perasaan lo aja kali Za. Eh abis ini kita ke mana nih?" Nova mengubah topik pembicaraan.

"Gimana kalau kita lanjut karaoke aja?" balas Zakia antusias.

"Aku kayaknya enggak bisa lama-lama deh, ini juga udah sore nanti pulangnya kemalaman kalau kita karaoke," uar Miftah.

Pergi tanpa tujuan lalu meributkan tempat selanjutnya mau ke mana, seperti itulah persahabatan mereka bertiga bahkan sejak pertama kali kenal di semester satu. Zakia sebetulnya tidak memiliki banyak waktu kalau di kampus, dia lebih sering menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi atau mengikuti seminar. Dibandingkan Nova dan Miftah yang seperti mahasiswi pada umumnya, Zakia terlihat sangat berambisi lebih berambisi dan punya cita-cita yang tinggi.

Sebelum pulang ke rumah masing-masing mereka sempat berkeliling, belanja dan yang tak boleh terlewatkan adalah foto-foto. Ada banyak sekali angel sok imut yang terpotret oleh kamera depan handphone Zakia. Tapi kalau untuk masalah foto selfie terlihat sekali kalau Miftah tidak terlalu antusias, bergaya dengan seadanya, karena pribadinya yang introvert. Miftah lebih suka berfoto candid ketimbang harus berfoto dengan gaya memonyongkan bibir atau mengeluarkan lidah, Miftah lebih suka dengan gaya yang natural.

Setelah lama bercengkerama hingga matahari merendahkan singgasanya hampir tenggelam, meraka akhirnya pulang. Sama seperti burung-burung yang kembali kesarangnya setelah seharian mencari makan dan terbang kesana kemari. Bercak-bercak kuning keemasan di langit pun menggiring kepulangan Zakia dengan keindahan yang alami.

Sesampainya di rumah Zakia langsung mencari papanya. Saat itu Sandy sedang berada di ruang tengah sedang menonton Tv. Diam-diam Zakia memeluk papa-nya itu dari belakang.

"Pa bimbingan aku di acc nih, aku seneng banget deh."

"Oiya! Selamat ya, Sayang. Papa doakan semoga cepat kelar skripsinya."

"Coba Mama masih ada ya Pa pasti mama juga bakal seneng banget, habisnya aku bentar lagi mau wisudah." Mendadak haru.

"Kamu enggak boleh gitu, mama kamu juga pasti bahagia kok, dan Mama sudah senang di alamnya sana," balas Sandy dengan nada yang lebih lembut.

Sandy memeluk anaknya yang sedih oleh haru dan rindu itu. Memeluknya dengan lembut sambil mengusap-usap kepalanya.

"Ngomong-ngomong kamu mau lanjut S2 enggak?" tanya Sandy.

"Kayaknya enggak deh, Pa. aku mau langsung kerja aja supaya bisa membahagiakan Papa." Jawab Zakia.

Zakia sangat menyayangi papanya itu. Bagi Zakia papanya adalah sosok yang sangat dia kagumi. Sandy bukan hanya sangat menyayangi Zakia, lebih dari itu, dia benar-benar menunjukkan bagaimana sosok seorang ayah yang melindungi dan melengkapi kebutuhan anaknya. Terlebih lagi statusnya sebagai orangtua tunggal, setidaknya Sandi ingin yang terbaik untuk Zakia putri tercintanya.

Menjadi orang tua tunggal untuk Zakia bukanlah hal yang mudah. Terlebih Sandy begitu handal dalam membagi waktunya untuk anak dan pekerjaannya. Suatu hari nanti, Zakia berharap akan mendapatkan lelaki yang sama tanggung jawabnya dengan sang ayah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bn 010 book-00172   chapter 67

    one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one one one one one one vone vone one one one one one o

  • Bn 010 book-00172   chapter 66

    Sa kaharian naman ng Zaparya ay tila bagyong dumating ang tinaguriang prinsipe ng kadiliman na si Prinsipe Roman. Wala siyang kinatatakutan at inaatrasan kahit pa ang sarili niyang ama na si Haring Clavar. Dumating ang prinsipe na duguan ang kasuotan na agad namang napansin ng kaniyang ama.“Anong nangyari sayo?”“Huwag niyong alalahanin ang mantsa ng dugo sa aking baluti sapagkat hindi ito sa akin galing kundi sa m

  • Bn 010 book-00172   chapter 65

    Santa with a fucking gun?Kari Brewman peered through the blur-rimmed glass door at the plum, red-suited figure in line at the teller window. None of the other customers paid any attention either to his costume or his weapon.Did everyone in Montana carry a gun?Welcome to the Wild West.The thought made her grimace. With a sigh of resignation, she tugged open the door at the First Bank of Swenson, fought the opposing force of the blustery December north wind and hurried into the lobby. Cold numbered her fingers in too-thin gloves, wet snow sifted down her neck beneath the stylish collar of her lightweight cashmere coat and icy slush soaked her feet, exposed to the elements by elegant but now ruined high-heeled shoes. She wasn't accustomed to dressing for winter weather and obviously hadn't got it right.Welcome her greeted her, but not the familiar moist, tropical atmosphere of her native Miami. The dry fustu a

  • Bn 010 book-00172   chapter 64

    A woman with brown long hair and black eyes. Name is Briana, daughter of a marquess. Walked the hallway, until it was seen continuously by the servants and guards. Briana family is a famous family of marquees and has a history within the empire. Her parents love her so much, because she is they only daughter.Briana becomes the heir of a future marquess title, as she is the only child of her family. It was very rare for a woman to become the heir of a family, usually a noble woman would marry a man with a higher status than her.The Briana family is different from the others. They want the best for her, Briana wants to be a marquess because she is amazed by her father. Until that day finally came, when the empire was still ruled by the previous emperor.The emperor executed her parents for poisoning the emperor. Briana's heart was very broken, she wanted to get rid of this feeling by killing this painful feel

  • Bn 010 book-00172   chapter 63

    Maite Harris estudiante de dieciséis años, es inteligente, muy amigable sólo con sus amigas de infancia Jackeline y Elaine. Su vida cambia cuando conoce a su profesor Daniel Jackson.

  • Bn 010 book-00172   chapter 62

    Pria itu masih tertegun. Ia seperti seorang manusia dengan setengah kesadaran. Matanya menunduk seakan mencari kesalahan. Bukan hanya mencari, tapi mengutuk dirinya.Wajahnya kian menyedihkan, saat menatap hujan. Menatap hujan membuatnya teringat gadis ajaib penyuka hujan dan malam itu. Ya, tak lain adalah kekasihnya. Naya.Kekasih? Agaknya malam itu adalah jembatan pemutus kasih. Sebuah keraguan kembali dirasakan Genta. Ia merasa minder.Seorang anak petani biasa. Pria realistis, begitu banyak orang menyebutnya.Genta setelah malam itu mengantarkan pulang Naya, ia makin merasa minder. Tanpa sepengetahuan Naya, Ibunya memanggil Genta."Kamu menyukai anakku, Naya?" Tanya Kinanthi."Iya, Bu.""Lebih baik kamu jauhi dia!""Kenapa, Bu?""Kamu tak pantas bersama anak saya!"***Genta pulang dengan wajah penuh kesedihan. Ia tak bisa mengungkapkan apa yang dirasanya. Lalu, iapun memilih menuliskan sedikit ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status