LOGIN"Miss Alena sangat spesial bagiku, Kawan," ujar Davae dengan mantap. Diberi penekanan juga.
Dialihkan kembali pandangan pada Alena, enggan lebih lama memandang sang mitra bisnis yang tak membuatnya nyaman. Dada masih dalam kondisi memanas karena kecemburuan besarnya.
Ingin memberlakukan sikap tenang. Bagaimanapun juga David Morgan adalah rekan bisnis yang sudah cukup sering bekerja sama dengan perusahaan. Ia harus tetap mampu menunjukkan profesionalitas.
"Spesial bagaimana, Bos?"
Davae langsung menolehkan kepala ke arah Alena, setelah mendengar pertanyaan bernada polos yang wanita itu lontarkan. Kontras akan pancaran mata indah Alena, jelas menunjukkan kejahilan. Ia pun segera menyimpulkan wanita itu ingin bergurau.
"Lebih dari sekadar sekretaris pintar dan berbakat yang membantuku menangani sejumlah tugas dan proyek menguntungkan," jawab Davae mantap.
"Trims, Bos. Kau juga istimewa untukku."
Davae seketika mengukirkan senyumannya. Ia memilih tidak melepaskan pegangan pada tangan Alena, walau David Morgan melayangkan sorot aneh kepada mereka berdua. Tak ada rahasia perlu disembunyikan. Termasuk hubungannya dan Alena yang lebih dari sekadar rekan kerja saja.
"Hmmm. Rupanya sangat spesial."
Davae segera mengangguk, saat sudah dialihkan pandangan ke sosok rekan bisnisnya. "Begitulah, Mr. Morgan. Tidak ada yang biasa saja."
"Untuk apa kau ada di sini?" Davae berupaya untuk mengalihkan topik pembicaran. Bertanya santai.
"Kita ada janji, Mr. Hernandez. Rencana kita rapat bersama. Kau tidak mungkin lupa bukan?"
Davae menggeleng pelan. "Tentu aku tidak lupa jika kita memiliki jadwal rapat bersama."
"Maksudku adalah kenapa kau masuk ke ruangan kerjaku, bukan ke ruang rapat langsung saja."
"Pesan yang kau kirim sudah aku balas. Dan, aku memintamu menunggu di ruangan biasa. Kenapa kau malah masuk ke sini? Kau belum mengatakan kepadaku kau akan kemari." Davae pun kembali menyerang dengan kata-kata pedasnya.
Ekspresi sudah memerlihatkan raut paling serius dan tatapan mata semakin menajam. Diarahkannya begitu jelas pada sosok David Morgan. Mitra bisnis yang cukup dekat dengannya itu, tentu merasakan nyata juga ketidaknyaman dan rasa tak sukanya.
"Maaf jika aku kemari tanpa memberitahumu. Aku hanya ingin menemuimu. Tapi, kau sedang tidak di sini. Sekretarismu yang menyambut kedatanganku."
Alena tetap memfokuskan pandangan pada David Morgan, setelah mendengar bagaimana pria itu melontarkan kalimat balasan yang bernada godaan. Ia kian muak. Ditambah dengan pancaran mata dari David Morgan menunjukkan kemesuman semakin besar. Akan diberikan pelajaran kepada mitra bisnis Davae itu agar tidak menerus semena-mena.
"Sudah menjadi tugasnya menyambut setiap tamu yang datang kemari, bukan hanya kau saja. Aku harap kau tidak berpikiran yang terlalu berlebihan."
Davae lebih menajamkan tatapan ke arah sang mitra bisnis, cukup tersinggung dengan seringaian diperlihatkan David Morgan. "Dan, tolong juga kau jangan berusaha menjadikan sekretarisku sebagai mangsa yang baru. Aku rasa kalian tidak cocok."
"Hahaha. Davae. Kau terlalu serius."
"Aku harus serius jika menyangkut Alena. Aku tidak ingin dia sampai kau jadikan sebagai mangsa baru. Dia adalah sekretarisku. Aku berhak memastikan bahwa dia harus merasa aman dan terlindungi."
Saat sang atasan menyelesaikan jawaban, maka Alena merasakan pegangan Davae semakin kuat saja di tangannya. Membuat ia segera memandang pria itu. Melihat tatapan dingin serta menusuk manik hitam Davae, menyebabkannya menjadi bergidik ngeri. Ada amarah sangat nyata yang terpancar.
Dan, hanya beberapa detik dirinya berani untuk melakukan kontak mata. Dipilih mengakhiri terlebih dahulu. Kembali, dipusatkan pandangan ke sosok David Morgan karena merasa pria itu masih terus memerhatikannya. Sungguh, ia semakin muak.
"Kau sangat peduli dengan sekretarismu, Davae. Di antara kalian, pasti sudah terjadi sesuatu bukan?"
David menyeringai. "Baiklah. Tadi kalian sudah mendeklarasikan kalian merasa spesial untuk satu sama lain. Sejauh apa itu? Haha. Aku penasaran."
"Bukan urusanmu, Mr. Morgan. Kau tidak memiliki hak mengajukan pertanyaan berkaitan dengan masalah pribadi kepadaku. Kita sudah sepakat soal ini bukan? Sejak dua tahun yang lalu." Davae masih menjaga suaranya agar sopan, tak terprovokasi.
"Haha. Iya, aku masih ingat. Kesepakatan berempat soal tidak boleh mengusik apa pun yang ada dalam perusahaan, kecuali hanya untuk kerja sama? Aku belum lupa sama sekali, Davae. Tenang saja."
"Aku tidak akan melanggar. Walau, harus aku akui jika sekretaris barumu ini sangat menarik. Tapi, aku akan membiarkan kau saja yang memilikinya. Kau dan dia rasanya cocok. Haha. Pasangan serasi."
Dada Davae semakin panas, saat David Morgan mengedipkan matanya pada Alena. Namun, ia tidak bisa menunjukkan ekspresi lain, hanya ekspresi yang datar. Sikap harus tetap dijaga, walau sedang dilanda ketidakbagusan emosi karena ulah mitra bisnisnya itu. Ia enggan untuk lebih terpancing. Harus mampu bersikap tenang.
"Maaf, Tuan. Tapi, aku tidak tertarik kepadamu. Aku sudah punya seorang boss yang menyenangkan."
Demi apa pun, Davae merasakan panas di bagian dada menghilang. Kemudian, diraih tangan kanan Alena sembari menyunggingkan senyum di wajah. Dikecup beberapa kali punggung tangan wanita itu yang terasa sangat lembut di mulutnya.
"Terima kasih, Miss Alena. Kau harus bersamaku. Dan, kau akan aku berikan bonus menyenangkan juga. Kau pasti menyukainya." Davae berujar cukup kencang. Tak peduli dengan keberadaan dari David Morgan.
a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a
Mikhail stared at Xander's wide back as he felt a burning gaze directed in his direction. He turned towards it to find a hooded young man who looked about his height glaring at him. He couldn't see the man's face but could tell from the way his jaw was stiffened that he was hostile towards him.Mikhail shifted uncomfortably at the door as he tried to avert his gaze from the man. Suddenly, Xander called out to the man as he watched the man turn towards Xander, his demeanor shifting completely.William...? that name sounds a little familiar... but I'm not so sure... It is a pretty common name... But why is he wearing a hood in the evening? Also... his gaze was pretty intense... Mikhail thought as he watched Xander riding off into the distance, the young man following suit, not sparing another glance his way."Then, I'll be leaving as well. It seemed the Ki... erm... It seemed that My Lord had a pleasant evening, I'll be sure to send y
Pragati was an orphan who was adopted by an Army officer at the age of 7 years, but her father’s enemy abducted and sold her. She was forced into prostitution. After 4 years, Random night Vyom Grover, mobster boss pays a visit to a traitor who stole his money and flew away to the same whorehouse where that traitor was harassing Pragati sexually. He couldn’t help but get attracted to Pragati at the first sight and purchased her from there.
Chapter 13: Cupid’s Job“Atheos Oras na para uminom ng gamot” sabi ng isang boses na hind
"Maaf," panik Elsa, segera meraih tisu di atas meja dan secara naluriah tangan Elsa bergerak untuk mengelap celana Leon yang basah, tapi bukannya membantu, bekasnya malah semakin melebar. Elsa merutuk dirinya sendiri karena tidak bisa fokus dan tubuhnya terasa seperti tersengat listrik ketika merasakan tangan Leon di pahanya, atau itu cuma khayalan Elsa saja? Tapi yang pasti, air yang tumpah dari teko itu tidak sedikit, nyaris membasahi setengah celana bahan yang dikenakan Leon.Leon mengerang dalam di tenggorokannya. Merasakan tangan gadis itu membelai pahanya membuat Leon menutup mata merasakan denyut tidak tertahankan yang terasa di bagian dirinya yang tidak jauh dari jemari Elsa berada sekarang.
Chapter 4Astrella POV: