Compartir

chapter 27

Autor: gaojianxiong
last update Fecha de publicación: 2023-12-01 21:06:52

Tik tok tik tok…

Alena terbangun saat mendapati sosok Louisa masuk dengan bunyi hentakan pada pintu ruang perawatan Sergei. Alena terkejut nyaris melompat.

“Apa yang terjadi dengan kakakku?” Pertanyaan yang seketika membuat Alena terhenyak bangun dari tidurnya. Antara batas sadar dan mimpi. Alena tak langsung menjawab Louisa, Alena merasa ada sesuatu yang aneh. Keberadaan Rudolf. “Bagaimana keadaannya?” Pertanyaan yang diulang, membuat Alena menoleh untuk menatap, menyadari diri jika ia terlelap dan belum ada kabar apa pun setelah dua jam berlalu sejak dirinya bertemu Nena untuk membawa Sergei masuk ke ruang operasi.

“Dia … maksudku Sergei masih dalam ruang operasi, dia … ada penyumbatan di kepalanya. Saat ini dokter sedang menanganinya,” kata Alena panjang lebar dan ia menelan ludah setelahnya, suaranya terbata-bata, mengisyaratkan ia terkejut dengan kehadiran Louisa.

“Ya Tuhan,” desis Louisa yang kemudian terduduk di sofa yang Alena duduki sebelumnya.

Alena menatap Louisa dengan kening berkerut. Hal yang tak biasa bagi Alena.

“Dari mana kau tahu keadaan ini?” tanya Alena curiga. Ia duduk bersisian dengan Louisa. Wanita itu menoleh setelahnya, saling bertatapan sebelum Louisa menjawab. “Aku datang ke apartemenmu, bertemu dengan----”

“Ya,” potong Alena dan ia sudah tahu jawabannya. Delia kembali ke apartemen usai menemaninya, dan terpaksa pergi karena adanya panggilan pekerjaan.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Alena?” Terdengar nada menyalahkan dan menyerang dalam suara Louisa di telinga Alena. Perasaan menggelitik tiba-tiba memenuhi perasaan Alena. “Sejak kapan kalian menanyakan keberadaan Sergei, Louisa?” Alena balik bertanya. Sergei terbuang dari keluarganya karena keputusannya untuk menikahi Alena. Sergei rela melepaskan semuanya demi menyelamatkan dirinya.

“Seharusnya itu tidak terjadi, Alena. Jika saja---”

“Ya, kau mungkin benar. Jika saja Sergei tidak terlalu bodoh memilih untuk menikahi korban pemerkosaan. Begitu, kan?” sindir Alena dengan segenap keberaniannya. Alena merasa telah berada di titik lelah dengan semua permasalahan dalam kehidupannya. Himpitan yang tak pernah selesai.

Alis Louisa naik sebelah secara perlahan, Alena sadar jika Louisa terkejut dengan reaksinya saat ini. “Kau datang untuk meributkan masalah yang sama atau memang tulus mengkhawatirkan kakakmu?” lanjut Alena seakan tak tahan dengan tuduhan Louisa.

Bayangan sosok Louisa yang memasuki mobil Rudolf beberapa hari lalu tiba-tiba melintasi kepala Alena. Rasa penasaran yang terhenti sejak jawaban yang disampaikan Clancy saat membawa dirinya ke penthouse Rudolf.

“Apa ada masalah dengan hal itu, Alena?”

Percikan permasalahan dimulai kembali. Alena menghela napas dan menyadari jika akan terjadi keributan. “Aku cukup kecewa dengan kalian. Khususnya ibu kalian, karena---”

“Bukankah itu menjadi bentuk dukungannya untukmu, Alena?” Pertanyaan yang menyindir bagi Alena. “Apa maksudmu?”

Seringai miring muncul di wajah Louisa, membuat Alena merasa cukup waspada.

“Jika kau setuju dengannya, kau bisa terbebas dari Sergei. Bukan kah begitu, Alena?”

“Kau sudah gila,” dengus Alena beranjak dari duduk dan tepat di abang pintu Nena muncul. Seketika wajah Alena membeku, napasnya terasa tersekat. “Bagaimana keadaannya, Nena?” Suara Alena terdengar berat. Pertanyaan spontan yang meluncur dari bibir Alena.

“Kami akan menunggu hasilnya untuk dua puluh empat jam ke depan.” Nena mengatakannya dengan penuh penekanan, ia sempat melirik ke balik bahu Alena dan mendapati sosok Louisa berdiri di sana. “Kau adik Sergei?” tanya Nena dan Alena langsung menggeser posisi berdirinya. Membiarkan Nena dan Louisa untuk saling berhadapan.

“Ya, aku adiknya.”

“Bisa kau sampaikan ke ibumu, jika Sergei terlalu kuat dalam bertahan hidup,” ucap Nena yang membuat Alena sama terkejutnya dengan Louisa yang terlihat dari kelopak matanya yang melebar.

“Apa maksud---”

“Ibumu berbicara langsung dengan kami dan meminta kami menghentikan semuanya,” sela Nena yang bagai sengatan listrik bagi Alena. Napasnya tertahan di kerongkongan. Alena menatap Louisa dari sudut matanya. Tampak Louisa yang terlihat biasa saja.

“Kami akan memindahkannya setelah kami dapatkan hasilnya, Alena. Aku berharap, Sergei segera bangun,” ungkap Nena sambil menepuk lengan atas Alena. Memberikannya segaris senyum yang cukup menjadi suntikan semangat bagi Alena. “Istirahat lah, Alena. Aku tahu kau lelah,” sambung Nena.

“Ya, aku akan istirahat setelah ini.”

Nena beranjak dari hadapan Alena dan meninggalkannya bersama Louisa. Alena menarik napas panjang di sela keheningan ruangan yang menyusup.

“Aku titipkan Sergei padamu. Aku permisi dulu.”

Louisa beranjak pergi dengan langkah anggun, menyisakan bunyi benturan antara hak sepatunya yang beradu dengan lantai. Suaranya menghilang seiring dengan langkahnya yang kian menjauh. Alena merasakan dirinya yang tiba-tiba tak berdaya.

“Kami akan memindahkannya setelah kami dapatkan hasilnya, Alena. Aku berharap, Sergei segera bangun.”

Perkataan Nena yang kembali terngiang di telinga Alena. Ia melangkah gontai mendekat ke arah sofa, terduduk dengan tubuh yang terasa bagai tak memiliki tulang. Alena tertunduk lesu, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pikirannya melayang-layang.

“Ya Tuhan,” desisnya.

“Sayang, kau baik-baik saja?” Suara Rudolf membuat Alena menyingkirkan telapak tangannya dari wajah. Alena menatap Rudolf yang menjulang di hadapannya. Ujung jemari Rudolf membelai lembut pipi Alena. “Aku di sini, maaf jika aku---”

“Hasilnya dua puluh empat jam dari sekarang,” potong Alena dan Rudolf tersenyum segaris, sebelum menurunkan tubuhnya untuk berjongkok di hadapan Alena sambil menggenggam kedua telapak tangan Alena yang terasa dingin. Keduanya saling bertatapan dengan mendalam, menerobos banyak sekat yang tak kasat mata. Jelas terpancar kekacauan dalam sorot mata Alena yang dirasakan Rudolf. Pujaannya kembali terseret dalam perasaan tak berdaya, dan Rudolf benci akan hal itu.

“Kita akan menghadapinya bersama. Semuanya akan baik-baik saja.”

“Aku tak ingin menyakiti siapa pun,” ujar Alena dengan suara yang begitu pelan seolah benar-benar tak berdaya. Alena menggeleng pelan sebelum kembali tertunduk dan dengan sigap Rudolf meraih dagu Alena, mengangkat kembali wajah Alena.

“Kau tidak akan---”

Tiba-tiba dering ponsel milik Rudolf terdengar dan menghentikan kalimatnya. “Jawab lah,” pinta Alena sambil menghela napas panjang. “Tunggu sebentar,” timpal Rudolf, sebelum dirinya beranjak untuk berdiri dan menjawab panggilan pada ponselnya.

“Hallo, Andrea,” Rudolf memulai membuat Alena menoleh.

Andrea Felix, adik sepupu Rudolf, anak dari Victoria. Bayangan wajah keluarga Rudolf melintasi kepala Alena. Wajah cantik Andrea dan seringai membenci milik Victoria seakan menyeret Alena dalam lorong masa lalu hingga Alena tidak menyimak apa yang dibicarakan Rudolf dengan Andrea.

“Aku sudah mengatakannya pada Ibumu, aku tidak peduli dengan apa pun yang berhubungan dengan kalian.” Rudolf mengatakannya dengan intonasi suara yang naik. Tarikan napas yang kasar dan jelas Rudolf kesal. Alena menoleh, menatap punggung lebar Rudolf yang berdiri menjulang membelakanginya. “Aku peduli padamu, Andrea. Dan kau mengerti jika---”

Rudolf tiba-tiba berbalik, menatap Alena dan membuatnya cukup terkejut. Tatapan lurus Rudolf membuat jantung Alena berdetak lebih kencang. “Jika kau memintaku untuk hal itu. Aku punya kejutan untukmu, dan aku akan mengajaknya ke pestamu, An.”

Alena menatap Rudolf dengan kening berkerut, wajah Rudolf yang dihiasi senyum bahagia, ia benar-benar terlihat tampan. “Baiklah, akhir pekan ini. Bye.” Kalimat terakhir sebelum Rudolf melepaskan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jins yang dikenakannya. Berjalan beberapa langkah ke arah Alena sebelum duduk bersisian, menarik bahu Alena untuk bersandar di dadanya. “Andrea mengundangku ke acara pertunangannya.”

Alena mendongak, dan Rudolf menunduk, keduanya bertatapan. “Aku ingin membawamu ikut denganku, Baby,” ucap Rudolf yang membuat Alena melepaskan dirinya dari pelukan Rudolf dan sebelum Alena mengeluarkan suaranya, Rudolf sudah lebih dulu berkata, “Aku tak terima penolakan.”

“Pria egois,” sembur Alena yang membuat Rudolf terkekeh dan menarik kembali wanitanya ke dalam pelukan dada bidangnya. “Pria egois yang selalu membuatmu jatuh cinta,” timpal Rudolf dengan keyakinan sepenuhnya pada Alena, dan terdengar kekehan pelan dari suara Alena yang seakan membenarkan dugaan Rudolf.

Dunia seakan berubah dalam sekejap bagi Alena setiap kemunculan Rudolf. Kehidupan yang bagai roller coaster, bergerak cepat dan Alena merasakan dirinya yang tak siap. “I love you, Baby,” bisik Rudolf di puncak kepala Alena yang di balas dengan pelukan yang kian erat.

***

“Kau baru saja menghubunginya?” Pertanyaan dari Victoria yang membuat Andrea terperanjat kaget, berputar di atas tumit sepatunya.

Victoria berjalan anggun memasuki kamar tidur Andrea. “Mama menguping pembicaraanku?” tanya Andrea dengan kesal, ia yakin kebiasaan ibunya tak pernah berubah. Victoria tidak tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkan putrinya. “Aku mengundangnya bukan untuk urusan bisnis, Mama. Dan aku harap Mama tidak merusak pestaku,” ungkap Andrea sebelum dirinya beranjak dan dengan cepat Victoria menahan lengan atas sang putri, tatapan tajam menghujam.

“Aku senang jika Rudolf datang ke pestamu, Nak.”

Andrea tak langsung membalas, ia menatap wajah Victoria dengan tatapan menilai, mencoba untuk mengamatinya dengan lebih dalam. “Aku punya kabar lain untuk Mama,” ujar Andrea sambil melepaskan tangan Victoria. Jeda sebentar dan raut wajah Victoria tampak berubah penasaran.

“Rudolf akan datang bersama seseorang.”

“Apa maksudmu?” Tampak Victoria yang terkejut, terdengar dari suaranya dan matanya yang besar tiba-tiba membulat. “Sepertinya Rudolf telah menemukan kekasih baru.”

“Tidak mungkin,” desis Victoria.

“Apa yang tidak mungkin, Mama. Wanita mana yang tidak menginginkan pria yang memiliki segalanya seperti Rudolf.” Andrea berhenti, menarik napas selama jeda sebelum kembali melanjutkan perkataanya. “Ingat, Ma. Rudolf pemilik 80% kekayaan keluarga Felix. Mungkin saat ini ia tidak peduli dengan semua angka itu. Tapi kehadiran seorang wanita bisa mengubah segalanya.”

Victoria menatap Andrea dengan tatapan yang lebih tajam.

“Bersiaplah Mama untuk segala kemungkinan. Aku berharap wanita yang bersama Rudolf kali ini lebih tangguh dari Alena Harris, agar tidak mudah Mama singkirkan,” imbuh Andrea sebelum ia beranjak pergi dari hadapan Victoria. Langkah lebar Andrea memasuki kamar mandi, menyisakan Victoria dalam bayangan masa lalu.

“Kau akan mendapatkan bayaran yang sesuai dengan hasil pekerjaanmu jika kau mampu menyingkirkan dia dari kehidupan Rudolf.”

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • GJX GN 21000000191   chapter 67

    a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a

  • GJX GN 21000000191   chapter 66

    Mikhail stared at Xander's wide back as he felt a burning gaze directed in his direction. He turned towards it to find a hooded young man who looked about his height glaring at him. He couldn't see the man's face but could tell from the way his jaw was stiffened that he was hostile towards him.Mikhail shifted uncomfortably at the door as he tried to avert his gaze from the man. Suddenly, Xander called out to the man as he watched the man turn towards Xander, his demeanor shifting completely.William...? that name sounds a little familiar... but I'm not so sure... It is a pretty common name... But why is he wearing a hood in the evening? Also... his gaze was pretty intense... Mikhail thought as he watched Xander riding off into the distance, the young man following suit, not sparing another glance his way."Then, I'll be leaving as well. It seemed the Ki... erm... It seemed that My Lord had a pleasant evening, I'll be sure to send y

  • GJX GN 21000000191   chapter 65

    Pragati was an orphan who was adopted by an Army officer at the age of 7 years, but her father’s enemy abducted and sold her. She was forced into prostitution. After 4 years, Random night Vyom Grover, mobster boss pays a visit to a traitor who stole his money and flew away to the same whorehouse where that traitor was harassing Pragati sexually. He couldn’t help but get attracted to Pragati at the first sight and purchased her from there.

  • GJX GN 21000000191   chapter 64

    Chapter 13: Cupid’s Job“Atheos Oras na para uminom ng gamot” sabi ng isang boses na hind

  • GJX GN 21000000191   chapter 63

    "Maaf," panik Elsa, segera meraih tisu di atas meja dan secara naluriah tangan Elsa bergerak untuk mengelap celana Leon yang basah, tapi bukannya membantu, bekasnya malah semakin melebar. Elsa merutuk dirinya sendiri karena tidak bisa fokus dan tubuhnya terasa seperti tersengat listrik ketika merasakan tangan Leon di pahanya, atau itu cuma khayalan Elsa saja? Tapi yang pasti, air yang tumpah dari teko itu tidak sedikit, nyaris membasahi setengah celana bahan yang dikenakan Leon.Leon mengerang dalam di tenggorokannya. Merasakan tangan gadis itu membelai pahanya membuat Leon menutup mata merasakan denyut tidak tertahankan yang terasa di bagian dirinya yang tidak jauh dari jemari Elsa berada sekarang.

  • GJX GN 21000000191   chapter 62

    Chapter 4Astrella POV:

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status