LOGINAda setidaknya satu juta kehidupan berbeda yang ada di jagat raya ini. Mulai dari matahari sang surya sampai Pluto yang dingin dan tak terlihat, selalu ada kisah yang bahkan tidak di ketahui oleh satu kehidupan dan kehidupan lainnya. Bahkan, adapula kehidupan yang bahkan tidak di sadari oleh kehidupan lainnya, bahwa... Mereka ada.
Kerajaan Angin adalah salah satu kehidupan yang ada di garis tangan kisah. Letaknya sangat dekat dengan dunia manusia. Sebenarnya mereka masih sama-sama berada di gravitasi yang sama, hanya di batasi oleh garis Dimensi. Yaitu garis kesadaran yang setipis helaian rambut.
Salah satu keagungan dari dunia Kerajaan Angin adalah mereka yang terlahir suci. Mereka terlahir tanpa hati yang kotor, terlahir untuk merawat kaum mereka dan terlahir dengan fisik yang sempurna.
Mereka hidup dengan kekuatan luar biasa. Tak ada perang, tak ada persaingan, dan tak ada kebencian. Mereka hanya hidup untuk merawat apa yang ada di sekitar mereka. Bisa di katakan, kehidupan mereka adalah kesempurnaan dari kehidupan Manusia.
Tapi mereka terikat dengan sebuah kutukan. Sebuah kutukan yang memisahkan dua kaum yang ada di Kerajaan Angin. Hingga sampai saat ini, setelah tujuh generasi, ke dua kaum tersebut terpisah. Perpisahan dua kaum tersebut adalah penebusan dosa yang leluhur mereka lakukan dahulu.
Kaum Crous dan Lous, dua kaum Kerajaan Angin yang terpisahkan oleh dimensi misterius.
Garis dimensi pembatas itu yang membedakan kaum di antara keduanya.
Udara yang segar, hutan Gris (seperti pohon pinus jika di Bumi) yang membentang jauh tanpa batas dan air segar mengalir di setiap sungai.
Ada burung dengan berbagai jenisnya, ada bunga dengan warna yang khas, ada pula udara yang sangat bersih, tenang dan menghanyutkan
Di suasana senja kala itu, gadis kecil berambut panjang dengan selendang putih yang ada di antara pinggangnya tengah mengayunkan pedang tajam itu ke udara. Suara besringan benda tajam itu terdengar nyaring ketika beradu dengan angin. Dengan mata biru tersorot tajam pada objek, ia mengayunkan pedanganya ke arah benda yang digunakan untuk uji coba latihan mereka hari ini.
Kras!
"Tepat!"
Seruan dari seberang, membuat senyum tipis terukir di bibir ranumnya. Sorot mata biru itu seketika terarah pada seorang yang jauh lebih tua dari dia dan tengah menghampiri dirinnya.
"Bagus, Zheya! Kau menguasainya dengan cepat," tepukan kuat di pundak kecilnya membuat gadis kecil ini meringis kesal.
"Hay! Aba! Berhenti memukul pundakku seperti itu! Aku bukan anak kecil!" *Aba= sebutan untuk seorang Paman atau pelatih.
Aba tersenyum nyaris tertawa mendengar kemarahan gadis kecil bermata biru ini.
"Baiklah Shu Zheya, kau sudah semakin besar juga semakin pintar. Kau bahkan sekejab bisa mengusai kekuatan sulit ini. Leluhurmu pasti bangga denganmu," Aba sudah akan mengayunkan tepukan di pundak Gadis kecil ini lagi. Namun pelototan dari bola mata biru itu membuat Aba mengurungkannya.
"Aba, kapan aku menjadi kuat? Seperti Aba, sepeti Ari?" tanya polos dari bibir kecil itu menbuat Aba tersenyum lembut. Kali ini tangannya terangkat untuk menepuk pelan puncak kepala Zheya. (Ari=Bibi)
"Sebentar lagi, Zheya. Kau akan cepat menjadi besar dan akan menjadi semakin kuat. Tunggulah waktunya tiba, Shu Zheya," Ucap Aba penekanan di setiap ucapannya.
"Humm.... " Zheya mengayunkan pedangnya ke udara, suara besringan itu kembali terdengar nyaring. Gadis kecil ini menatap pedang tajamnya lekat. "Katanya, aku terlahir dari kekutan yang besar. Apa karena itu aku juga bisa menjadi sangat kuat?" tanya Zheya kembali menatap Aba.
Aba mengangguk mantap masih mempertahankan senyum lembutnya. Meski Aba adalah makhluk yang sudah tergolong tua, namun wajah bersinarnya selalu memancarkan ketenangan. Rambut panjangnya sudah memutih dan kulitnya pun semakin putih. Menandakan jika makhluk di depannya ini sudah berumur ratusan tahun.
Aba mengangguk, "Benar, Zheya. Kau satu-satunya kaum Crous yang terlahir dengan kekuatan yang besar setelah enam generasi Kerajaan Angin." Zheya tersenyum puas mendengar penjelasan makhluk yang termasuk tertua dari generasinya ini. Ia juga banyak mendengar tentang kekuatan yang ada pada dirinya.
"Tapi kau harus tahu, Shu. Kekuatan milikmu ini akan menjadi sangat besar, juga sangat berbahaya jika kau salah menggunakannya, " ucapan Aba terdengar seperti peringatan. Masih dengan kerutan pada kening dan rasa penasaran pada diri gadis kecil ini yang semakin besar, ia lantas bertanya. (Shu=Marga atau berarti Nona).
"Kekuatan macam apa yang ada pada diriku, Aba? Apa Aba bisa memberitahuku?" tanya Zheya penuh rasa penasaran di tatapan matanya. Pertanyaan ini sudah lama bahkan sejak ia lahir menghinggap di hatinya. Ketika ia mendengar para kaum Shu membicarakan kekuatan besar itu, kekuatan yang ada dalam dirinya. Shu Zheya tak pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu.
Aba lagi-lagi tersenyum, menyentuh pundak kecil Zheya dan membaca sebuah mantra. Sekejab mata, mereka menghilang. Dan ketika Zheya membuka matanya lagi, ia sudah berada di atas awan, melihat sebuah kehidupan di bawahnya.
"Kenapa Aba membawaku ke sini?" tanya Zheya tampak tak suka. Terlihat bibir mungil itu mengerut lucu.
"Kau tahu lebih awal mengenai Dimensi ini, Zheya. Ya, kehidupan Makhluk yang katanya sama dengan kita," tatapan makhluk dari kaum Lous ini tertuju pada bawah pijakannya. Bahkan dari jarak dan Dimensi lainpun, mereka bisa melihat kehidupan lain di bawah mereka.
"Beda, Aba! Kehidupan manusia sama sekali berbeda dengan kaum kita. Taka ada persamaannya, " kekesalan terdengar jelas dari nada suara gadis kecil ini. Bahkan ke dua lengan kecilnya terlipat di dada masih dengan kerucutan bibirnya yang kecil.
"Benar. Mereka dan kita berbeda. Tapi kau tahu Zheya? Suatu saat kau bisa menembus Dimensi mereka bahkan kau bisa hidup di antara mereka, kalau kau mau. Dan bukan hanya Dimensi manusia saja yang mampu kamu tembus, melainkan dimensi Alashka pun kau bisa menembusnya," ucapan Aba dengan manik mata berwarna emas itu tertuju pada objek di bawahnya.
Zheya tergelak, tampak terkejut dengan ucapan Aba.
"Dimensi Alashka? Aku... Benar bisa ke sana, Aba?"
Dengan anggukan pelan tanpa tatapan yang beralih, Aba berkata. "Benar, kekuatan terbesarmu adalah bisa menembus dimensi lain, termasuk Pembatas Alashka."
Mata bermanik biru langit itu terpancar terang. Bersamaan dengan senyum lebar merekah di wajah mungilnya.
Siapa yang tidak senang mendengar Dimensi Alashka? Semua makluk kaum Crous tentu pernah mendengar kisah tentang Dimensi Alashka. Bahkan mereka semua sangat penasaran dengan Dimensi misterius itu.
Dimensi terlarang yang di tetapkan oleh penguasa Kerajaan Angin. Dimensi yang memisahkan antara kaum Crous dan Lous saat ini. (Crous=Kaum wanita. Lous=Kaum Pria).
"Kapan aku bisa melakukan itu, Aba? Kapan aku bisa ke sana?" tanya Zheya semakin penasaran bercampur rasa girang membuat kaki Gadis kecil ini menghentak kecil di pijakan awan yang mereka gunakan.
Namun, tatapan lembut yang biasa Aba tunjukan pada Zheya berubah dingin. Manik mata berwarna emas itu tersorot tajam.
"Kalaupun nanti kekuatanmu itu sudah sepenuhnya ada pada dirimu, jangan pernah datang ke Dimensi Alashka. Jangan pernah, Zheya."
a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a
“Do you have everything?” asked Xander.“I think so,” I replied.The kitchen was mostly done and mostly clean. We had two bedrooms painted and ready, the house was starting to take shape. We had decided that there was enough done for us to move into parts of the house. The main corridors were done, not all painted but at least primed.
The plane finally above ground and now I can feel the excitement rushing in, I get to travel for basically a month, maybe more. Me getting lost and finding cool things which, I don't mind at all, is probably the most exciting part of the trip.Not going to lie, I will miss everyone back home and walking down the street and getting my afternoon boba drink and eating pizza at the world fair garden but looking at a new scenary is also a good adrenaline rush.I got up from my seat since now it is safe to do so and walked over to the nearest flight attendant."Excuse me but can I sleep in the other room with the bed in it?"She looked over at me and gave me a smile."Of course you can. Was there anything you needed before falling asleep?"I looked at my phone that I was holding in my hand and looked at the bar behind her, more like the kitchen if you asked me."Yeah, could I get a small snack and a hot tea?""Sure. Anyth
Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife
A cidade já era visível a uns vinte quilômetros, ela ficava no pé da montanha, e o terreno só subia até chegar nela, o pântano permitia uma visão clara do horizonte, e era visível só longe o formato de prédios, algumas luzes muito fracas eram visíveis também.Chegando mais perto formas mais específicas começaram a se distinguir, quanto mais ao centro da cidade mais altos os edifícios, todos de corres parecidas, todos marrons, o mesmo marrom do pântano, o mesmo tipo de terra formava o pântano e era usada como base para construção.Andando em direção a ela não era visível mas do alto podia-se notar a típica forma de design urbano dos Ohla, nas laterais mais ao longe da cidade residências de trabalhadores de grande porte físico, casas altas com portas largas, feita para os lenhadores, quebradores de rocha entre outros, depois uma série de casas bem menores, feitas para os trabalhadores pequenos
Chapter 5: NightmaresAtheos POV