Share

chapter 54

Author: Gn003
last update Petsa ng paglalathala: 2023-12-02 04:32:04

Nika duduk di lantai beralaskan karpet bulu tebal. Di hadapannya ada sepuluh bungkus ayam geprek dari orderan fiktif. Beginilah salah satu resikonya menjadi ojek online,sudah membayarkan orderan, tapi, ternyata si pembeli tidak ditemukan. Alhasil uangnya terbuang sia-sia, makanannya juga tidak tahu akan dikemanakan.

"Mbak, Bibik udah kenyang banget. Nggak kuat makan lagi,"kata Bik Asih.

"Ya, Bik, sayang banget ini kalau nggak dimakan,"kata Nika dengan wajah memohon agar Bik Asih mau menghabiskannya.

"Ya udah, Mbak, dikasihkan ke orang yang membutuhkan aja,Mbak. Di jalanan banyak,"saran Bik Asih.

"Ya udah, Bik, ayo temenin,ya. Nika bonceng naik motor,"kata Nika.

Bik Asih mengangguk,ini sudah malam, tapi, ia yakin di jalanan sana masih ada orang yang sedang berjuang mencari sesuap nasi."Ayo,lah, Mbak."

Keduanya segera pergi membagikan makanan itu ke jalanan. Untunglah mereka menemukan orang-orang yang memang layak mendapatkan makanan tersebut, lalu Nika dan Bi Asih pulang.

"Ah, syukurlah selesai..." Nika membuka helmnya. Saat baru saja membuka jaketnya, ponselnya berbunyi. 

"Mami!"pekik Nika sambil masuk ke dalam rumah.

"Apa kabar, sayang?"

"Baik, Mami..."

"Kamu lagi apa?"

"Baru selesai ngojek, Mi,capek,"keluh Nika. Dihempaskan tubuhnya ke sofa, sekujur tubuhnya terasa remuk karena seharian di atas sepeda motor.

"Ya memang, cari uang itu capek, yang kuat,ya, kamu pasti bisa!" Mami Nika memberi semangat.

"Mami lagi dimana?"

"Lagi di Nusa Dua..."

Nika mendengkus, ia iri dengan Mami dan Papinya yang setiap hari pergi ke luar kota, berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Berduaan, dan selalu mesra di setiap waktunya."Sama Papi?"

"Iya dong, apalah arti Mami tanpa Papi." Wanita itu terkekeh dari seberang sana.

"Kebalik, Mi, apalah arti Papi tanpa Mami." Nika tertawa mengejek.

"Eh, Arunika..."

Suara Papi Nika terdengar menyambung pembicaraan."Berani bicara begitu...Papi perpanjang masa suram kamu." Kemudian pria itu mengaduh karena mendapat cubitan dari istrinya.

"Aw, sayang, sakit,"katanya dengan manja pada istrinya.

Nika memutar bola mata, mendengarkan kata-kata manja dari Papinya terkadang membuatnya jengah. Terkadang juga ia malu, kenapa punya Papi seperti itu."Papi jahat, ih...nggak tahu apa aku baru pulang, capek banget!"

"Sayang, kamu dari mana malam-malam begini?"

"Papi!"gerutu Nika."Nika cari duit, kena orderan fiktif...bayangkan..., Papi...masa ada yang order ayam geprek sepuluh porsi, terus pas mau Nika antar malah nomornya aktif."

"Ya udah, sabar aja, sayang..."

"Ah, Papi...Nika mau ngomong sama Mami aja. Ngomong sama Papi nggak asyik."

"Loh, Papi kangen sama kamu loh, sayang."

"Nika mau ngomong sama Mami. Nika nggak percaya kalau Papi rindu sama Nika,"balas Nika.

"Sudah sini, Mami yang ngomong." Seva mengambil alih pembicaraan."Nika, ini sudah tiga bulan kamu jadi ojek online...,kenapa nggak coba ngelamar di Perusahaan kantoran gitu?"

"Tahu,nih, Nika...kan ngojek itu capek,"kata Kenzie, sang Papi dari posisinya, tapi, Nika masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"Sekali lagi Papi bilang gitu, Nika mau pulang ke rumah Bude aja. Nika jadi anak Bude, biar Prana jadi anak tunggal Mami sama Papi aja,"omel Nika sambil memijit kakinya yang pegal.

Kenzie mendekat lagi ke ponsel istrinya."Sayang, Papi tuh ...sayang sekali sama kamu. Tapi, Papi lebih sayang sama Mami, sih. Jadi, kalau kamu mau jadi anak Bude ...nggak apa-apa." Kenzie tertawa keras membuat anak perempuannya itu semakin kesal.

"Sudah, kasihan Nika, sayang. Jangan ganggu dulu, ya, Mami mau ngomong sama Nika,"kata Seva."Nika..."

"Iya, Mami..."

"Kamu lamar kerja di kantoran aja. Kalau ngojek, kan, capek dan kepanasan,"saran Maminya dengan lembut.

"Ya...Nika dapat kerjanya sebagai ojek, Mi, ya udah itu aja yang Nika jalankan. Tapi, Nika udah coba lamar kok ke Kantor-kantor. Doain,ya, Mami..."

"Iya, terus...gaji Bik Asih sudah kamu bayar?"

Nika mengerucutkan bibirnya."Mami, kalau Nika bayar gaji Bi Asih...Nika nggak punya uang dong!" Suara Nika seperti hampir menangis.

Kenzie tertawa dari seberang sana, sebenarnya ia juga tidak tega membiarkan Nika bekerja seperti ini. Tapi, ini sudah menjadi tradisi keluarga. Ketika sudah selesai kuliah, mereka harus belajar mencari uang sendiri tanpa mengandalkan nama besar keluarga dan kekayaan orangtua. Kali ini, giliran Nika. Sayangnya, kepintaran sang Mami tidak diwarisi oleh Nika, oleh karena itu ia sedikit susah mencari pekerjaan. Kebetulan ia bisa naik sepeda motor, ia pun melamar menjadi mitra ojek online. Tapi, biar pun harus mencari uang sendiri, Nika tetap difasilitasi rumah, asisten rumah tangga, dan kendaraan. Untuk kebutuhan sehari-hari, Nika harus memakai uangnya sendiri.

Ia diharuskan bisa memanajemen keuangan sendiri.

"Nika, kerja yang baik, semoga saja ujian keluarga Adiguna cepat selesai,ya,"kata Seva menghibur anak sulungnya itu.

"Mami,"rengek Nika."Pengen makan enak..."

"Duh, kasihannya...sabar,ya, sayang sampai tesnya selesai. Kalau sekarang kamu pengen makan enak, minta masakin Bik Asih, atau kamu nabung sendiri,"jelas Seva.

"Iya, Mami. Ya sudah, Nika tidur dulu, Mi. Capek..."

"Selamat tidur, sayang,"ucap Seva.

"Selamat tidur, Mami."

"Selamat tidur anak Pap..." Sambungan langsung terputus begitu Kenzie mengucapkan selamat tidur pada Nika."Astaga, dimatiin..."

"Makanya jangan jahil..." Seva membaringkan tubuhnya, perlahan air matanya mengalir karena kasihan pada Nika. Tapi, semua ini demi kebaikan Nika, agar menjadi anak yang kuat mental dan fisik, belajar menghargai orang, dan tentunya akan ada banyak pelajaran yang nantinya akan mereka dapatkan dari hidup susah.

💋💋💋

Pukul tujuh pagi, Nika sudah bersiap-siap untuk bekerja. Dengan jaket khas sevuah perusahaan ojek online tersebut, tak lupa helm dengan warna senada. Nika memanaskan mesin sepeda motornya sambil menghabiskan susu yang dibuatkan Bik Asih.

"Bik, Nika pergi dulu,"ucap Nika.

"Iya, Mbak." Bi Asih berjalan cepat menuju pintu dan menunggu sampai Nika benar-benar pergi. Setelah itu, ia menutup pagar dan pergi mengerjakan pekerjaan rumah.

Nika mengendarai sepeda motornya dengan hati riang. Sekitar lima ratus meter ia berjalan, ia menepikan sepeda motornya dan mengaktifkan aplikasi. Satu orderan masuk, jaraknya tak jauh dari sini. Nika menerima orderan, lalu berjalan menuju titik lokasi yang sangat dekat. Sesampai di lokasi, ia hanya bisa menganga tak percaya karena pelanggannya kali ini adalah Ghandi, kakak sepupunya sendiri.

Nika melepaskan helmnya dan menghampiri pria berusia dua puluh delapan tahun itu."Mas Ghandi?"

Pria itu mengangguk."Mbak Nika, ya, yang jemput saya?"

Nika melihat aplikasinya, lalu mengangguk dengan bingung."Kok pesan ojek?"

Pria itu langsung memeluk pundak Nika dan mengepitnya di ketiak."Ya mau ketemu kamu, lah!"

"Ya udah, mau kuanterin kemana, ini, Mas?"

"Kita bicara di dalam aja,"kata Ghandi. Kebetulan titik jemputnya ada di sebuah tempat makan cepat saji yang menyediakan menu sarapan pagi.

"Terus ini bagaimana dong, aku lagi kerja, Mas!"protes Nika.

"Cancel aja,lah." Udah,lah ayok masuk,"paksa Ghandi.

Nika menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak akan pernah bisa menolak perkataan pria satu itu.

Ia membuka jaket dan meletakkan ke sebelahnya. Ghandi duduk di hadapannya sambil menatap intens.

"Kenapa nggak bilang kalau kamu sudah mulai kerja begini?"

Nika menggaruk kepalanya yang tak gatal."Ya nggak tahu, kan ini sudah perintah Papa. Semua juga mengalaminya,kan. Kenapa Mas Ghandi harus kaget seperti itu? Dulu juga Mas pernah mencari uang sendiri tanpa membawa nama besar keluarga, bahkan lama banget, sampai tiga tahun."

"Tapi, Mas ini kan lelaki. Kamu...perempuan. Mas kaget banget tahu, begitu dengar kamu sudah mulai menjadi orang biasa terus jadi ojek online pula." Ghandi memijit pelipisnya. Ia masih tak habis pikir ternyata Nika akan mendapatkan giliran ini juga.

"Ya habisnya cuma ini, kan, yang Nika bisa." Gadis itu tertawa lebar. Tak ada beban lagi di hatinya. Tiga bulan menjalani kehidupan layaknya orang pada umumnya membuat Nika belajar menjadi lebih sabar dan ikhlas.

"Nanti Mas bilang sama Papi,ya, supaya tiga bulan aja kamu menjalani ini. Mas nggak tega loh, kamu makin hitam,wajah kusam, masa, sih cucu perempuan satu-satunya malah tersiksa begini."

"Iya, Mas...mau beli skincare, uangnya nggak cukup. Buat makan aja, pas-pasan." Mata Nika berkaca-kaca sambil sedikit mendramalisir keadaan. Tapi, Ghandi tahu kalau Nika hanya bercanda. Ia tahu, Nika sudah dewasa sekarang.

Ghandi menghela napas berat dan mengambil dompet. Ia menyerahkan kartu kreditnya pada Nika."Pakai ini,ya, buat beli kebutuhan kamu."

"Jangan, Mas. Nanti kalau ketahuan, bisa-bisa masa peralihan ini diperpanjang. Apa jadinya, Mas yang tinggal di Surabaya malah transaksinya terus-terusan ada di sini,"tolak Nika.

"Nika..." Ghandi memegang tangan Nika dengan hati yang tak rela."Kalau begitu kamu menikah saja, ya."

Nika tertawa terbahak-bahak. Sejauh ini ia belum terpikirkan untuk menikah. Ia ingin memantapkan karirnya terlebih dahulu. Ia ingin seperti Mamanya yang katanya dulu wanita karir, sempat menjabat sebagai Kepala Divisi dan Manager. Bahkan sang Kakek sampai terkagum-kagum pada Mamanya sampai-sampai langsung setuju menjadikannya menantu. Nika ingin seperti itu."Aku senang menjalani  seperti ini, Mas. Mas jangan khawatir,aku masih difasilitasi sama Papa kok. Dikasih rumah dan ART. "

"Ya udah, kalau gitu seharian ini kita jalan,ya, berdua."

"Aku harus kerja, Mas."

"Biar gaji kamu sehari ini, Mas bayar. Mas udah bela-belain ke sini loh!" Ghandi melotot pada Nika.

"Oke. Naik motor,ya. Aku belum cancel, nih." Nika melambaikan ponselnya sambil tertawa.

"Oke." Ghandi berdiri."Ayo!"

"Yes!" Nika segera memakai jaketnya. Ghandi cukup menyabarkan hatinya atas kondisi ini. Ia tidak tega, tapi, Nika tidak mau menerima bantuannya.

Nika membonceng Ghandi ke lokasi sesuai aplikasi. Tempat tujuan itu adalah sebuah butik ternama.

Sesampai di sana, Ghandi menarik Nika masuk ke dalam.

"Mas....Mas!" Nika terkejut.

"Kamu ganti baju dulu, terus kita jalan,"paksa Ghandi.

"Iya...iya. Aku nurut, jangan ditarik!" Nika mengerucutkan bibirnya.

"Sebentar!" Ghandi meninggalkan Nika, ia menuju ke salah satu susunan pakaian.

Nika menghela napas panjang, tempat seperti ini menjadi asing baginya. Padahal berbulan-bulan lalu, pakaian mahal seperti ini bisa ia dapatkan berpuluh-puluh hanya dengan menunjuk. Semuanya terbeli dalam sekejap mata. Tapi, sekarang ia tahu bagaimana sulitnya mencari lima ribu rupiah saja. Ia akan membeli apa pun yang mahal nanti, saat ia sudah bekerja sendiri.

"Mbak, permisi...saya mau lewat!"

Nika melihat ke belakang, ia memang berdiri di depan pintu, menghalangi orang yang masuk. Aroma parfum mahal langsung menusuk penciuman Nika. Ia menoleh, seorang pria tampan, memakai stelan kerja mahal, melihatnya saja Nika hampir pingsan. Berdekatan dengannya, Nika bagaikan serpihan upil di bawah meja.

Pria itu melirik Nika, kemudian tersenyum."Terima kasih."

"Sama-sama." Nika mengigit jaketnya sambil menatap pria itu dengan tatapan memuja."Gantengnya..."

💋💋💋

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • GN003 book 21000000101   chaopter ssss

    Chapter test, please forgive me A a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a B b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b C c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c D d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d E e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e F f f f f ff f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f G g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g H h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h I i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i J j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j K k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k L l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l M m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m mm m m m m m N n n

  • GN003 book 21000000101   chapter 68

    1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d d f gg a a a a1 2 3 d

  • GN003 book 21000000101   chapter 67

  • GN003 book 21000000101   chapter 66

    DOUBLE HAPPINESS Mrs. Adel and Russo followed the two nurses with the twins to the nursery room, to make sure where the babies were placed. The twins were very special babies in the nursery room. The two nurses can not just leave the babies, they were assigned to take care of the babies properly and protect them. There were two securities guarding the nursery room. Babies being brought would be checked first. After Jade was brought out from the operating room, she was brought up to the VVIP hospital level. The floor level was only for Medrex Family Hospital Ward, it was not used for other patients unless Master Javen allowed.&n

  • GN003 book 21000000101   chapter 65

    Estaba emocionado, ese día era su gran debut, se había levantado temprano y había acudido al circuito con su padre, mientras que su madre, sus hermanos y su novia, llegarían posteriormente para ubicarse en la tribuna Fangio, situada a lo largo de la recta principal, donde podían darle seguimiento a la actividad previa y posterior a la carrera, así como a la apasionante salida y la memorable meta.Al llegar al circuito, una de las primeras personas que vio fue a su amiga Camilla que estaba en el pit stop con otros mecánicos, haciendo las últimas revisiones a los monoplazas de su escudería que participarían en la carrera, la chica cargaba la braga que la identificaba como mecánica de la Scudería Ferrari, al verlo salió del Pit, hacia un pasillo, Taddeo la siguió y la inc

  • GN003 book 21000000101   chapter 64

    Antonia estaba jugando tenis, con Alondra y Matteo en una de las canchas de la villa, mientras Nick y Sophía los observaban, cuando se dio cuenta de la llegada de Sebastián y uno de los gemelos, que estaban siendo acompañados por una persona de servicio hacia Nick y Sophía, donde se saludaron y se quedaron conversando; ella extendió su mirada hacia ellos y supo que el niño que lo acompañaba era Camillo, eso la sorprendió un poco, pero ya sabía que era Anabella y aunque no recordaba, esto era otro indicio de quien era realmente, ¿Por qué cómo se podía explicar que una desconocida supiera identificar a unos niños que son exactamente iguales físicamente? porque de carácter eran muy distintos, uno era más tranquilo, metódico conciliador, raramente creaba conflictos el otro era impulsivo, irreverente, combativo, aunqu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status