Share

chapter 65

Author: GN001
last update publish date: 2023-12-01 15:02:35

Ketika kembali di ruangan awal di mana aku meninggalkan Gabriel bersama Vernon tadi, firasatku semakin memburuk. Ruang kerja Gabriel sudah sangat berantakan. Sebagian besar LED transparant yang menunjukkan gambar beberapa sudut keadaan mansion telah rusak dan mati sedangkan sebagian masih menyala.

Mataku menyapu ke sekeliling ruangan. Jelas si penyusup sempat menembakkan senjata di sini karena meja kerja Gabriel sudah berlubang.

Aku mendesah sedikit lega saat menyadari tidak ada darah, dan kemungkinan Gabriel masih hidup.

Namun, kelegaan itu langsung sirna saat kedua mataku menangkap pemandangan mengerikan di salah satu layar LED.

Di sana, Vernon berada di dalam sebuah tabung dan sedang meronta, berjuang mati-matian agar bisa keluar dari tempat itu sedangkan tak jauh dari tempatnya Gabriel tersungkur di lantai dengan seorang pria yang menginjak punggungnya tanpa ampun. Ia menyeringai dan ...

Tunggu!

Mataku membulat sempurna karena mengenal siapa pria itu.

Semoga kau tidak bertemu dengan Freeze.

Ucapan Vernon kembali terngiang dalam kepalaku.

Freeze!

"Brengsek!" umpatku. Saat itu juga kemarahanku memuncak.

Jadi siapa pria itu sebenarnya? Apakah selama ini ia telah mempermainkanku?!

Langsung berbalik, aku segera berlari ke mini dermaga tempat di mana Gabriel dan Vernon berada.

Dan tanpa sadar aku mengepal sampai buku-buku jari tanganku memutih.

***

Keadaan sudah sangat kacau ketika aku sampai di mini dermaga.

Darah.

Aku memang menyukai darah dari para korban-ku tapi tidak dengan ini.

Ini berbeda.

Kulihat, Gabriel mencoba bangun beringsut dengan pelipis robek dan mengeluarkan darah segar. Gadis itu tampak kacau, berseru, mencoba menggapai sesuatu ...

Vernon!

Tubuhku membeku melihat keadaan pria itu.

Vernon terbaring tak jauh di tempat Gabriel berada. Ia memegang lehernya yang terus mengeluarkan darah. Tetapi bukan itu yang menjadi pusat perhatianku.

Pria itu ...

Ia tersenyum lemah pada Gabriel. Menatap gadis itu dengan tatapan hangat itu lagi.

"Vernon," ucapku lemah.

Tepat saat itu juga, ujung mataku menangkap pergerakan seorang pria di sudut ruangan. Ia menaikkan senjata dan bersiap menembak ke arah Gabriel. Tanpa pikir panjang lagi, aku mencabut sebuah pisau dari sarung pahaku dan langsung berlari menerjang pria asing itu.

"ARGH!" Pisauku berhasil mengenai lehernya.

"Bangun, El! Lari!" teriakku.

Namun sial, sebelum aku berhasil menggoroknya, pria itu sudah langsung menyikutku, berbalik lalu menendang tubuhku hingga aku terpelanting menghantam dinding.

"Argh!" erangku. Tubuh bagian belakangku terasa remuk saat ini. Kekuatan pria itu sungguh tidak main-main.

"Tak kusangka kau sebodoh ini, Nona Cantik. Jadi kau memutuskan untuk kembali menyelamatkan teman hacker-mu dari pada menyelamatkan diri sendiri?" ucap pria itu dengan nada sarkatik.

Aku berdiri, menatapnya tajam. "Siapa kau? Apa urusanmu dengan kami?"

Pria itu tersenyum miring. Ia meringis, memegangi lehernya yang terkena sayatan pisauku dan terus mengeluarkan darah.

Damn! Jika saja tadi aku lebih cepat maka dia sudah tinggal nyawa saat ini.

"Kau memang bodoh. Kau hanya pandai membunuh tetapi otakmu itu tidak pernah kau gunakan untuk berpikir."

Tanganku mengepal kuat. Bergerak menerjang pria itu lagi dan melayangkan sebuah tinjuan ke wajahnya.

Naas, dia berhasil menahannya. Bahkan tanganku yang satunya telah ia cengkeram dengan kuat.

"Freeze, this is your girl. Can I kill her?!"

Mataku terbelalak. Sial! Bagaimana mungkin aku melupakan pria itu?

Menoleh ke belakang, aku mendapati Freeze tengah bertarung dengan Xion. Mereka terlihat 'seimbang' untuk saat ini.

"Tunggu, dude. Dia bagianku." Freeze sempat menyunggingkan sebuah senyuman samar disertai kerlingan yang membuatku muak.

"Sayang sekali." Ucapan pria itu kembali menarik perhatianku. Marah, aku melayangkan tendangan lututku hingga mengenai perutnya. Reflek, dia pun melepas pegangannya padaku. Ia mundur beberapa langkah.

"Kau—"

Perkataan pria itu menggantung begitu saja saat aku sudah menembaknya.

DOR!

"Shit!!" Tembakan itu mengenai pinggangnya. Dan saat aku hendak menarik pelatuk lagi, seseorang menendang tanganku, membuat handgun tersebut terlempar jauh.

"Urusanmu denganku, Sweetheart."

Menggertakkan bibir, aku menerjang Freeze. Melayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi tetapi pria itu bisa dengan mudah menghindarinya.

"Kau benar-benar perlu belajar banyak, Sayang." Freeze menangkap tinjuan tanganku dan langsung memelintirnya ke belakang. Aku mengerang dan berbalik untuk mengurangi rasa sakit di tanganku.

"Mari kita lihat, jika kau mau menjadi bagian dari diriku mungkin aku akan berbaik hati mengajarimu banyak hal," bisiknya dari belakang tubuhku. Ia bahkan sempat-sempatnya menundukkan wajahnya dan mencium ceruk leherku.

Tanganku yang masih bebas bergerak cepat, menjangkau sarung paha dan mengeluarkan pisau dari sana.

Aku menyikut Freeze dan ia melepaskan pelintiran tanganku. Dengan cepat aku berbalik dan melemparkan pisau itu ke arahnya namun sial.

Di detik yang sama ia juga melemparkan sebuah pisau untuk menghalau seranganku. Dan selanjutnya mataku terbelalak saat pisauku menancap tepat di bahu Gabriel.

"Sialan kau, Freeze!"

Freeze menyeringai sinis lalu bersamaan kami merangsek maju dan saling menyerang satu sama lain.

"Aku bersumpah akan membunuhmu!"

Mendengar ucapanku membuat Freeze terkekeh kecil. "Oh, Sayang. Kau tidak akan bisa membunuhku."

Benar. SIALNYA dia memang benar.

Dengan kemampuanku yang jelas masih jauh di bawahnya aku tidak akan bisa membunuhnya.

Seharusnya aku membunuhnya dari awal kami bertemu.

Seharusnya aku ... tidak, tidak. Dari awal memang aku tidak akan pernah bisa membunuhnya.

"Katakan padaku, Vaea. Kenapa kau kembali? Seharusnya kau pergi saja dari sini ... dan menghilang." Freeze menatap lurus padaku.

Kini kami berhenti sejenak. Aku dan dia saling menatap. Napasku tersengal karena pertarungan kami sementara Freeze, pria itu biasa saja. Seolah tadi bukan apa-apa.

"Kau pikir aku akan percaya jika kau mengatakan kau mempedulikan mereka?" dengus Freeze saat menangkapku melirik ke arah Gabriel dan Vernon.

"Siapa kau sebenarnya?" tanyaku tajam, mengabaikan apapun perkataannya tadi. "Dan apa masalahmu dengan kami?"

Freeze menyunggingkan senyum miring khas miliknya, menatapku dari atas hingga bawah. "Jika aku menjawab pertanyaanmu, apakah kau bersedia menjadi 'partner'ku?" ada jeda sejenak sebelum ia meralat ucapannya. "Oh, aku pikir lebih baik jika kau menjadi kekasihku."

"Jawab saja, brengsek!" Bersamaan dengan itu aku menyerangnya lagi. Ia menghindar, ke kanan, kiri, bawah dan salto ke belakang.

Damn! Aku benci jika harus kalah dengannya. Lagi.

"Seperti yang kau tau, aku Freeze." Freeze berkata sembari terus menghindar dari seranganku. "Dan dia," Freeze melirik ke arah pria yang bertarung dengan Xion. "Grevio."

Gerakanku mendadak terhenti. Apa katanya? Grevio? Rasanya aku pernah mendengar nama itu.

"Dan seharusnya kau bangga karena mengenal 'kami'."

Aku mengernyit, tak mengerti maksud perkataan Freeze.

"Kami, GREY, cyber police paling hebat di dunia." Kali ini Freeze melirik Vernon. "Kecuali dia, penghianat yang pantas mati."

Apa katanya?

Pengihianat?

Aku melirik Vernon yang kepalanya tengah berada di pangkuan Gabriel. Wajah pria itu sudah sepucat mayat.

Jadi, Vernon juga salah satu cyber police?

Bagaimana bisa?

"Dan sekarang ... aku akan membunuhmu, Sweetheart," bisik Freeze tepat di telingaku, yang entah sejak kapan ia sudah berdiri di belakangku. Sementara sebelah tangannya memeluk pinggangku, tangan yang lain sudah menodongkan sebuah pisau tepat di belakang punggungku.

Apakah ini akhir segalanya?

To be Continued ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gn 001 book-0000-O   chapter 68

    After getting an understanding of the situation, I hung up the phone. I asked Liu Longting how we should proceed; after all, they were of the same species. Listening to what Ma Jianguo had to say, Liu Longting’s expression remained unchanged. He told me we did not need to prepare anything to deal with that and could head there right away.Ma Jianguo’s house was quite a distance from mine. It was in Tieling, and I did not have a car yet so all I could do was get a train ticket. It was an approximately six-hour journey! I thought that I would have to suffer alone on the train, but unexpectedly just as I was heading out, Liu Longting casually told me to prepare his luggage. He would be sitting on the train with me. That was going to be awkward. I did not mind if he accompanied me, but why would he want to sit on the train with me. Furthermore, I did not have much to talk about with Liu Longting—it would be uncomfortable to sit together. However, since Liu Longting wanted to, I wo

  • Gn 001 book-0000-O   chapter 67

    "A day to our wedding, Charlotte realized her wedding gown was shredded to pieces. She called to inform me that she was on her way to pick a new gown. I told her to wait for me to join her because it was strange for someone to do that. Besides, her house was well secured because she was from a wealthy home. Since the wedding was just the next day, we didn't have time to investigate. I smelled foul play so I didn't want her to go alone but she insisted she

  • Gn 001 book-0000-O   chapter 66

    “The boy woke up from another awful nightmare. Bad memories from the past that he wanted to remove from his mind were replayed in his dreams every night and haunted him endlessly. The boy was terrified of falling asleep.”-The Boy Who Fed on Nightmares

  • Gn 001 book-0000-O   chapter 65

    NikkiI stood from where I sat with furrowed eyebrows and my gazed fixed on Chad. "Ehat is she doing here?" I was thrown back. My feet were unable to consume my balance and I felt trapped. I wanted to be out of there the quickest that I could.My eyes went back to Rebecca when she broke the silence for a confused Chad that could not stop scratching the back of his neck. He was clearly not expecting her to show up here and was not taking her entrance lightly."Oh my God, you?" Rebecca gasped, "I'm so sorry. I didn't know you were here, Chad and I were just having a little fun time together, I literally thought the pizza man was here." She smirked, folding her arms across her naked body."Nikki, it's not what it looks like I promise." Chad stepped forward and out his hands on my shoulders. "Look, Rebecca is only here because we wanted to talk about our plans for her pregnancy.""Ejat?" I gasped.

  • Gn 001 book-0000-O   chapter 64

    EPILOGUE: ... it is still with a heavy heart that I, Chris Ronald, write to you, The United Nations. For the sake of the very lives that have been lost so far in this fight, this struggle for a sovereign state of Nigeria. I still fight, with only one hand and one leg. I refuse to remain silent. Please fulfill the promise you made to my late brother, Chiadi Okorie, the Fisheye, who gave his life in service for this purpose. Avenge us, I beseech you. Avenge Nigeria, for all our sakes. For I, only I, and a few others are still well and able to carry guns to go out into battle against Medusa. But if I go wit

  • Gn 001 book-0000-O   chapter 63

    Nia Prameswari namanya. Kulitnya putih, rambut hitam sebahu, tinggi badan 160 cm, cerdas dan memiliki wajah lumayan manis. Anak kedua dari 3 bersaudara. Kakaknya perempuan berwajah lebih oriental, lebih cantik dan bertubuh lebih pendek. Adiknya laki-laki berkulit lebih gelap tapi bertubuh paling tinggi.Keluarga Nia merupakan keluarga berpendidikan. Ayah dan ibunya seorang sarjana tahun 80an. Ayahnya pegawai di Kementrian dan ibunya seorang guru.Sebenarnya kehidupan Nia dan keluarganya berkecukupan. Namun, karena ayah Nia seorang pemabuk berat membuat keuangan keluarga Nia menjadi sering tidak stabil.Nia tidak pandai bergaul. Dia lebih menyukai membaca buku atau hanya sekedar melihat-lihat teman-temannya bermain. Dia tidak percaya diri untuk bergabung dengan teman-temannya. Bahkan ketika ada teman laki-laki yang menyukainya, Nia malah menjauhi laki-laki itu. Nia bukan membenci laki-laki, dia hanya tidak percaya ada laki-lak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status