เข้าสู่ระบบDengan malas, Zia menoleh ke belakang. “Ada apa?” tanya Zia.
Eza berjalan ke arah Zia, kemudian bernegosiasi dengan perempuan yang duduk di sebelah kanan Zia. Setelah perempuan itu pergi, Eza langsung mendaratkan bokongnya ke kursi tersebut. “Semalam aku chat lagi lho, kok ga dibales?” tanya Zia.
“Aku udah tidur.” Zia berbohong.
“Yaaah ... padahal aku kepingin nyanyi sambil metik gitar, lho.”
Jawaban Eza malah membuat Zia semakin sebal. Sudah berapa banyak perempuan yang Eza nyanyiin? Zia rasanya ingin bertanya, tapi tidak bisa.
“Aku ga dinyanyiin, Za?” Gea tahu-tahu nimbrung dalam percakapan.
Eza tertawa mendengar pertanyaan ketua angkatannya. “Mau bayar berapa, teh?” tanya Eza.
“Lha ... masa buat Zia ditawarin, aku malah dipalakin?” Gea ikut tertawa.
“Beda kelas, teh. Teteh kan reguler jadi harus bayar, kalau Zia udah VIP ga perlu dipalakin.” Eza menjawab.
VIP?
Lagi-lagi isi kepala Zia terus bertanya-tanya. Kalau ada VIP berarti ada VVIP, bukan? Jadi ... siapa perempuan yang mendapat tiket VVIP dari Eza?
“Zi? Ziaa ....” Eza melambai-lambaikan tangannya di depan Zia, membuat perempuan itu mengerjab seketika.
“Sorry, Za. Aku lagi ga mood buat ngobrol.” Zia kembali berkilah.
Eza akhirnya diam. “Maaf ya gangguin kamu, pasti lagi mode mood swing, ya ... get well soon, Zia.” Eza berucap sebelum kembali hening.
Gea memandang aneh dua orang di sebelahnya, lalu menggeleng karena pemikirannya sendiri.
Sementara, Zia masih mengatupkan bibirnya dengan pandangan lurus ke depan. Sama sekali tidak fokus dan kepalanya menerawang, apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?
... -toxic- ...
“Zi ... mau ke kantin?” tawar Eza saat mata kuliah kalkulus selesai.
“Duluan aja, Za. Aku mau minta tolong Gea jelasin ulang materi yang aku ga paham.” Zia menolak.
“Kamu bisa tanya ke aku, lho,” tawar Eza lagi.
Zia menggeleng. “Gapapa, lagian kamu kan mau ke kantin.”
“Ya udah. Ada yang mau dipesen ga?”
“Ga ada.”
Sebenarnya banyak yang ingin Zia pesan, apalagi moodnya sedang buruk begini. Tapi apalah daya orang yang sedang marah, enggan untuk meminta bantuan pada Eza.
“Oke.” Dan Eza yang tidak peka berlalu pergi.
Zia mendengus kesal. Ia kembali duduk dengan mata sinis. Rasanya Zia ingin menangis saat ini, apa Eza tidak mengerti sama sekali bahasa penolakan darinya?
“Zia ... Zia. Kamu lagi ada masalah sama Eza, ya?” tebak Gea.
“Ga ada sih sebenarnya.” Zia menjawab singkat.
“Trus? Kenapa ga ikutan ke kantin dan malah jadiin aku tumbal di sini?” tanya Gea. Dia tidak keberatan menemani Gea di kamar, tapi dia meras penasaran dengan dua orang yang akrab sejak ospek tiba-tiba saling berjauahn.
“Gea ....” Zia memeluk tubuh mungkin Gea, membuat Gea refleks merentangkan tangannya dan otomatis menjauhkan lidahnya dari permen tangkai yang sedang dinikmatinya. “Aku tuh sedih, mood swing banget, ga tau kenapa bawaannya kesel mulu sama Eza.”
Gea berusaha mengemut kembali permen tangkai yang dipegangnya sebelum melayangkan pertanyaan ke arah Zia. “Emangnnya Eza ngapain sampai kamu kesal?”
Zia enggan menjawab. Masa iya Zia mengakui kalau dia merasa kesal karena perkataan Eza semalam? Bisa-bisa Gea berpikir Zia suka sama Eza pula, eeh.
“Katanya belajar, ternyata lagi syuting teletubbies, ya.” Eza tiba-tiba kembali ke kelas. “Nih buat Zia, kata Naya kamu belum sarapan, jadi aku beliin nasi kotak sama susu cokelat biar kamu ga badmood.”
Zia tidak bisa menolak. Perutnya memang terasa lapar, tapi Zia tidak sadar karen saat haid begini Zia sulit membedakan mana sakit perut akibat haid dan mana sakit perut yang mengindikasikan lapar.
“Makasih,” ucap Zia tulus. Lagi-lagi batinnya terenyuh dengan kebaikan Eza.
“As you wish, Zi. Btw, udah sampai mana belajarnya?”
“Belajar?” Gea mengulangi. “Kami kan abis syuting teletubbies, belum sempat belajar lha. Zi, Za. Aku keluar dulu, ya. Dicari Pak Helmi soalnya.” Gea segera melengos pergi.
Kini ruang kelas hanya dihuni oleh Zia dan Eza. “Zi ... jawab dengan jujur.”
Tiba-tiba Eza berkata seperti itu, membuat Zia berhenti menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Susah payah ia menelan sisa makanan yang baru saja dikunyahnya. “A-apa?” tanya Zia yang sudah sepenuhnya mengalihkan fokusnya ke arah Eza.
“Bagian mana dari materi tadi yang kamu ga ngerti?”
Gubrak!
Kirain ingin mengungkapkan perasaan, tahu-tahunya nanyain pelajaran. Sebenarnya Zia mengerti dan sangat paham materi yang baru saja mereka pelajari tadi. Bagi Zia kalkulus bukan hal yang sulit, tapi pertanyaan Eza kini benar-benar sulit untuk dijawab Zia.
“Err ...,” Zia menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
“It’s okay, Zi. Aku bisa ajarin kamu pelan-pelan, kok.”
“Za ... kita bahas makulnya nanti aja, ya? Aku lagi ga mood, suerr.”
“Oke.” Tanpa menolak, Eza langsung menyetujui. Saat Zia sibuk menikmati nasi kotak miliknya, Eza akhirnya fokus pada layar ponselnya. “Kayaknya aku dapat tawaran gabung tim futsal hima, deh.”
Eza menunjukkan layar ponselnya ke arah Zia, berisi pesan dari senior yang menawarinya bergabung di klub futsal hima untuk turnament futsal dua minggu mendatang.
“Kalo kamu suka futsal, ya udah terima aja.” Zia menanggapi.
Eza nampak berpikir sebentar sebelum membalas pesan tersebut. “Boleh ... tapi kamu nanti semangatin aku pas turnament, kan?” Eza menaikkan sebelah alisnya.
“Uhuk ... uhuk ....” Bukannya menjawab, Zia malah tersedak. Eza buru-buru menyodorkan air mineral miliknya kepada Zia. Setelah dirasa nyaman, Zia kembali menatap Eza. “Ya ... tergantung. Kalau aku ga sibuk, aku pasti nonton kok.”
“Bener, yaah? Kalau gitu aku join deh.” Eza tanpa ragu mengirim balasan berisi persetujuan darinya. “Pokoknya kau ga mau tahu, Zia harus ada pas turnament nanti.”
Pipi Zia menghangat. Apa-apaan Eza? Tadi pagi membuatnya galau, tapi sejurus kemudian membuatnya meleleh.
Apa juga yang baru saja dia lakukan? Minum dari botol air mineral milik Eza? Zia terpaku seketika.
‘Ini ... ciuman tidak langsung?’ Pikirannya beku seketika.
... -toxic- ...
Elle n’était en réalité pas certaine qu’il puisse saisir toute la complexité de son ressentiment pour sa jumelle. Principalement parce qu’il a ne disposait pas de tous les éléments pour le faire. Pourtant, il sut prendre de court la jeune femme en faisant une supposition à laquelle elle ne s’attendait pas :— Ça te manque ? Vous deux… comme ça.Elle passa à deux doigts de botter en touche. Refouler son affection pour Moyra était devenu une telle seconde peau que c’était désormais plus simple que de reconnaître ses sentiments. Sauf que ça lui ferait du bien de s’entendre se confier à haute voix et Finngall était, bizarrement, la personne la plus désignée pour l’y pousser.— Ouais… on peut dire ça.— Mais tu n’as pas vraiment envie d’en parler ?— Pas vraiment, a reconnut-elle le nez plissé d’une mimique désolée.— C’est pas grave, rebondit-il en se levant pour saisir un boîtier rectangulaire dans un tiroir de son bureau. J’ai un truc pour toi !Il lui tendit une jaquette de DVD. C’éta
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
k o hfgh i j l j h lk h l aj<template><divclass="create_chapter"><divclass="cc_top"><imgsrc="../../assets/images/bookinfo/icon_back.png"altclass="back" @click.self="handleGoBack" />{{ $t("add.createChapter") }}<divclass="share" @click="isEdit = !isEdit"style="float:right;position:inherit;right:inherit;top:inherit;"><imgsrc="../../assets/images/icon_slices/icon_more2.png"alt /><divclass="more"v-if="isEdit"><divclass="it" @click="$router.push('/create_chapter?bookId=' + bookId)">{{ $t("add.chapterList") }}</div><divclass="it" @click="$router.push('/create_book?bookId=' + bookId)">{{ $t("story.manage_story") }}</div></div></div></div><divclass="cc_title"><template><divclass="setNote"v-if="
An Guoqiang frowned.“Uncle An, let’s cut the nonsense. If you don’t agree to donate the assets, then I’ll have no choice but to use the recording I took earlier today of my conversation with Han Wei. I’ll give it to the media and let them expose you. The whole world will know what kind of father you are after learning how you decided to take everything for yourself.”After saying that, Xu Yi took out the recording pen and switched it on.Han Wei’s voice could be heard loud and clear.“Why don’t you treat An Xin’s shares like your own and invest it into Ye Group. This way, we can divide them among ourselves. What do you think?”The house became quiet when they heard Han Wei’s voice.They did not expect Xu Yi to go as far as to record her conversation with Han Wei. An Guoqiang and Han Wei were shocked. They did not think that this girl would think to take such measures.The two of them were tongue-tied. They had nothing to say to Xu Yi.Ye Shaotang was surprised too. He did no
*Darkness*
Freya sungguh bersyukur bisa bebas dari sindikat penjualan manusia. Semua berkat River. Freya semakin mengagumi suaminya. Bukan hanya karena River menghabiskan lima puluh juta veur untuk menebusnya tetapi lebih karena perjuangan River dalam rangka menyelamatkannya. Dengan kondisi penuh luka, tidak fit, dan stres, tanpa putus asa River pergi ke sana kemari untuk mencarinya. Bahkan nekat menantang Pangeran Reizl dan seisi ruangan untuk memenangkan lelang. Terutama River melakukan semua itu tanpa membawa embel-embel kerajaan. Nekat datang hanya berdua dengan Phoenix ke acara ilegal yang berbahaya tersebut. Untung Franco muncul di detik-detik terakhir.&