Share

chapter 27

Author: Gn003
last update publish date: 2023-12-01 20:59:32

"Lily, bisa kau ceritakan mengenai project terbarumu?"

"Bagaimana perasaanmu masuk ke dalam nominasi kategori sexiest women alive?"

"Apakah benar berita tentang pertunanganmu?"

Kurang lebih itulah pertanyaan-pertanyaan senada yang dilontarkan paparazzi dalam satu bulan terakhir. Aku hanya tersenyum simpul dan terus melangkah menghindari kerumunan yang semakin menjadi. Matthew yang merupakan managerku, sebisa mungkin membuat jarak agar aku bisa mudah berjalan. Dengan radius beberapa meter August sudah siap membukakan pintu mobil dan itu menjadikanku bernafas lega. Detik selanjutnya mobil membelah mulus jalanan malam kota London.

"Astaga paparazzi semakin tidak sopan saja!” Kesal Matthew. Yang selanjutnya terdengar adalah teriakan histersisnya karena mendapati tanganku tergores. Memang mengeluarkan sedikit darah, tapi tak apa. “Lihat saja. Aku hapal mereka semua berasal dari media mana saja. Beraninya mereka menyakiti artisku!” Sebuah plester bergambar binatang panda kini sudah menutupi lukaku.

“Thank you, handsome.”

Mata Matthew mengerling tak menyukai pujian yang ku layangkan. “Hey, aku ini secantik Paris Hilton loh. Mungkin aku harus operasi dada dulu agar kau memanggilku si cantik Matthew.”

Lewat ponselnya, Matthew terus mencari-cari dokter terbaik untuk operasi. Sementara aku iseng meraih tangannya dan bergelayut manja di sana. “Hih! Lepaskan!”

Kekasihku tidak akan merah sekalipun melihatku bermanja ria pada Matthew. Maksudku Matthew tidak menyukai gadis manapun, karena baginya pria bertubuh atletis dan berkulit eksotis lebih menarik.

Sekarang Matthew menoyor pelan kepalaku dan aku balas saja. Perbuatan kami persis anak kecil, yang langsung disambut kekehan August dari balik kemudi. Mereka berdua sudah bersamaku semenjak dua tahun aku berkarir. Dan sejujurnya Matthew dan August sudah ku anggap sebagai orang terdekat. Mereka temanku.

“Jadwalmu besok padat, Lily.” Ujar Matthew sesaat perkelahian kami usai. Dia memberikanku sebotol air mineral dan langsung ku habiskan. "Jam 10 pemotretan, jam 3 ada syuting video musik dan dilanjutkan dengan makan malam. Besok aku akan ingatkan lagi.”

Aku mengacungkan dua ibu jari. “Kau yang terbaik.”

“Tentu. Oh tunggu, ada telpon masuk dari pihak pemotretan. Aku akan mengangkatnya.”

Selanjutnya Matthew sudah sibuk membicarakan ulang mengenai konsep besok hari. Dan aku memainkan ponselku sebentar sebelum jatuh melamun.

“Nona Lily, anda baik-baik saja?”

Aku memerhatikan lekat plester di tanganku, tersenyum. “Tentu, August. Aku baik.”

Padahal kenyataanya tidaklah demikian.

Jujur aku bukanlah orang yang gila akan publisitas. Aku mencintai pekerjaanku, tetapi tidak dengan hadirnya para paparazzi yang selalu menguntitku tanpa henti. Lagi pula apa yang mereka ingin tahu? Aku hanyalah gadis biasa yang berasal dari kota kecil, Hungaria. Dari segi pendidikan pun tidak ada yang bisa ku banggakan, aku cuti kuliah di tahun ke dua dan lebih memilih menetap di London untuk melanjutkan karirku sebagai model.

"Nona Lily, apa anda tempat yang ingin anda datangi?" August kembali bertanya saat aku mulai memejamkan mata. Rintikan hujan yang memasahi kaca mobil membuatku semakin ingin merebahkan diri di ranjang.

"Tidak, langsung pulang saja."

*****

Gelegar petir yang bersahutan membangunkanku dari tidur. Pendingin ruanganpun tidak bisa menghalau keringat yang membanjiri seluruh tubuhku. Kupegangi dada sejenak, berusaha menormalkan deru nafas yang masih memburu. Bukan hanya peluh, pipiku sudah basah oleh tangisan.

Mimpi itu lagi...

Aku menghapus sisa air mataku, kemudian tersadar jam dinding baru menunjukkan pukul 3 pagi. Peristiwa mengerikan itu sudah lama terjadi, namun aku masih kerap memimpikannya. Kakiku bahkan bergetar sebelum berhasil berjalan gontai ke arah dapur.

Tidak ada makan di malam hari, sayang.

Ingat, karirmu lebih penting dibandingkan satu cup mie instant.

I love you.

-Yours

Begitulah kalimat yang tertera pada sticky notes di pintu kulkas. Aku harap itu hanya lelucon, akan tetapi aku tidak menemukan apapun disetiap kabinet dapur. Kekasihku memang tahu aku sering menyelinap makan di tengah malam. Tidakah tindakannya terasa berlebihan?

To: Julian

Aku akan marah padamu satu minggu penuh

Sesudah mengirimi Julian pesan guna menunjukkan kekesalanku, aku beranjak menuju balkon. Aku harap pepatah makan angin dapat berfungsi dan membuat rasa laparku teratasi. Oh, sekarang aku benar-benar terdengar seperti orang bodoh.

Kimono tipis yang ku kenakan langsung berhembus begitu ku geser pintu balkon. Bau tanah sisa hujan semalam masih melekat. Lampu kota yang menerangi lengangnya jalan membuatku semakin menikmati semuanya secara keseluruhan. Bisa dibilang, ini adalah kali pertamanya aku tidak menyesal membeli apartemen di pusat kota. Sangat menenangkan. Rileks.

Kepulan asap yang ditangkap lampu jalan mengalihkan fokusku. Seorang pria berdiri di bawah sana dengan hoodie yang menutupi kepalanya. Aku refleks menggigit bibirku kala sadar pria tersebut sedari tadi tengah... memperhatikanku? Mengapa juga dia... menyeringai? Tunggu, untuk apa dia melakukan itu padaku?

Apakah ini termasuk pelecehan?

Belum usai aku dengan berbagai pikiran burukku, tiba-tiba orang asing tersebut menginjak puntung rokoknya sebelum Range Rovernya. Dalam sepersekian detik dia menghilang dibalik kegelapan, menyisakan diriku yang mematung bersama dering ponselku yang berbunyi keras.

"Baby, satu minggu terlalu lama."

Suara Julian boleh saja memecahkan ketakutanku, tapi seringaian pria misterius itu membekas. Seringaian yang dingin dan mendebarkan.

*****

Dinner bersama agensiku baru saja berakhir. Sekarang di sinilah aku, terduduk sendiri disebuah restaurant Prancis menanti kedatangan Julian. Bahkan aku sengaja menyuruh Matthew pulang lebih awal karena Julianlah yang memaksaku demikian. Ah ya, siang ini August mengundurkan diri secara mendadak. Dia berpamitan dengan alasan bahwa ibunya jatuh sakit, jadi dia langsung bergegas kembali ke kampung halamannya di Doncaster. Pun untuk hari-hari berikutnya Matthew resmi merangkap sebagai manager sekaligus supirku.

"Sayang, maaf aku terjebak macet. Tunggu sebentar lagi, ya?" Suara Julian terdengar pelan diujung ponselku. Mungkin takut amarahku akan meledak.

"Berapa lama?" Aku mencoba mengerti posisinya yang kini sudah memiliki porsi kerja lebih banyak. Sebab menjadi pimpinan divisi di perusahaan asuransi tentu bukanlah perkara mudah.

"Hampir sampai. Tidak sampai 15 menit."

Terdengar Julian membunyikan klaksonnya berulang kali, dan aku menghela nafas dalam-dalam. "Baiklah. Hati-hati mengemudinya."

"Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu." Balasku.

Tidak berselang lama setelah aku mengakhir pembicaraan dengan Julian, seorang waiter datang dan memberikan segelas minuman yang bisa kutebak itu adalah wine. Ada sepucuk kertas tepat dipinggir gelas tersebut.

"Aku tidak memesan menu tambahan." Jelasku terheran.

"Ini pemberian dari pria yang duduk di-" Aku mengikuti arah mata si waiter ketika berbicara, namun ucapannya terhenti ketika meja yang dimaksud sudah kosong.

"Maaf nona, tadi pria yang saya maksudkan ada di sana. Beliau menyuruh saya memberikan ini pada... Nona Lily Cansas?"

"Benar, itu namaku. Baiklah, terima kasih." Setelah waiter tersebut pergi, dengan ragu aku membuka lipatan surat tersebut.

Lily, kau adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat.

Tapi kau tahu?

Aku lebih suka jika mata indahmu tertutup selamanya.

Tubuhku seketika melemas. Ku mohon tidak lagi. Tidak dengan teror lagi. Ini gila, bahkan ditempat umum seperti ini peneror tersebut tak segan menunjukan niatannya. Kakiku limbung saat mencoba berjalan. Mataku memanas seiring rasa takut yang menjalar diseluruh tubuhku. Aku harus pergi! Persetan dengan paparazzi yang akan mengambil gambarku dengan keadaanku yang kacau seperti ini!

Sebelum si pelayan membukakan pintu restaurant, seseorang terlebih dahulu menutupi kepalaku dengan sebuah jaket dan menarik jari-jariku dalam genggamannya. Aku sempat mengelak, tetapi yang ada dia semakin menggenggam erat persatuan tangan kami. Seseorang itu seolah menawarkanku kepastian untuk percaya padanya.

Dalam sekejap, kilatan flashpun sibuk menyambarku dan entah siapa dia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gn 003 book-00103   chapter 68

    a sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d

  • Gn 003 book-00103   chapter 67

  • Gn 003 book-00103   chapter 66

    Daisy found nobody in the room and the door was also closed. She was feeling dizzy and weak but still while staggering she managed to stand up from the bed. Taking slow careful steps, she started walking towards the door, supporting the bed. She was feeling that suddenly her body started feeling heavy. Even walking was difficult for her. The gown, she was wearing was not of her size. It was a little loose but she felt comfortable in it.S

  • Gn 003 book-00103   chapter 65

    On the the third floor, one of those lace barriers twitched. A shadow moved past, just a flicker of darkness, so fast it almost escaped Crook's enhanced scrutiny. The signet ring on his right finger hummed against his skin, hot and urgent.He glanced down at the ring.A hot, solid wave of energy slammed against his expanded thoughts. His head snapped back from the rush of power. His mind folded in on itself and his perceptions screeched down to normal speed so abruptly he almost stumbled. His ears rang. His jaw ached from clenching his teeth-and from- from what.A mental slap?Had somebody really slapped him? He rubbed the space between his right eye and his chin. Damned if it didn't burn.What the hell? Some kind of barrier. Some kind of elemental protections? The beast inside him wanted to snarl and retreat, but he couldn't let that happen. He was here in New York city, with his partner Andy, poking around on the ritualistic murder of a senator'

  • Gn 003 book-00103   chapter 64

    Taddeo, se encontraba en su casa, estaba triste por el castigo que le había impuesto su padre, aunque también estaba enojado, le parecía injusto que lo hubiese castigado sin oírlo, cuando no era culpable, no comprendía como se podía ser tan ligero a la hora de tomar decisiones sobre una persona sin escucharlo previamente, eso era inaceptable y todo por esa estúpida niña.Pero de nada valía lamentarse, no había nada que hacer, su padre se había ido con su hermano para La Toscana y no se lo había llevado, habían transcurrido diez días, en los cuales ellos estaban disfrutando y divirtiéndose mientras él se encontraba encerrado y aburrido, bueno realmente había estado entretenido con sus libros, pero lo que más le afectó fue

  • Gn 003 book-00103   chapter 63

    "I'm sorry, Tayla. If only I can make you stay in our house, I would. But you know our house is not that big and my Mom is a human Armalite, right?" Ella scratched her head and hold the edge of the map, glancing at me before she continued mopping the floor.We are again, in Talk and Chill. Tomorrow I wouldn't be here for the class will start and I need a place where I can stay. Unluckily, Ella, my best friend just told me that she's wasn't able to offer me a hand.I sighed. "I understand, Ella. Thanks for telling me early." I turned around and went towards the sink to wash the dishes, my lips twisting a bit as I thought...why are we getting paid under minimum wage when we do almost all kinds of things in this chill bar? We should at least have an increase."Tayla, I don't understand you. When your parents died, your Aunt Tanya stood as your guardian, but why are you planning to leave your own house?" She stood up and glanced at me with her bewildered, round eyes

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status