LOGINNika duduk di lantai beralaskan karpet bulu tebal. Di hadapannya ada sepuluh bungkus ayam geprek dari orderan fiktif. Beginilah salah satu resikonya menjadi ojek online,sudah membayarkan orderan, tapi, ternyata si pembeli tidak ditemukan. Alhasil uangnya terbuang sia-sia, makanannya juga tidak tahu akan dikemanakan.
"Mbak, Bibik udah kenyang banget. Nggak kuat makan lagi,"kata Bik Asih.
"Ya, Bik, sayang banget ini kalau nggak dimakan,"kata Nika dengan wajah memohon agar Bik Asih mau menghabiskannya.
"Ya udah, Mbak, dikasihkan ke orang yang membutuhkan aja,Mbak. Di jalanan banyak,"saran Bik Asih.
"Ya udah, Bik, ayo temenin,ya. Nika bonceng naik motor,"kata Nika.
Bik Asih mengangguk,ini sudah malam, tapi, ia yakin di jalanan sana masih ada orang yang sedang berjuang mencari sesuap nasi."Ayo,lah, Mbak."
Keduanya segera pergi membagikan makanan itu ke jalanan. Untunglah mereka menemukan orang-orang yang memang layak mendapatkan makanan tersebut, lalu Nika dan Bi Asih pulang.
"Ah, syukurlah selesai..." Nika membuka helmnya. Saat baru saja membuka jaketnya, ponselnya berbunyi.
"Mami!"pekik Nika sambil masuk ke dalam rumah.
"Apa kabar, sayang?"
"Baik, Mami..."
"Kamu lagi apa?"
"Baru selesai ngojek, Mi,capek,"keluh Nika. Dihempaskan tubuhnya ke sofa, sekujur tubuhnya terasa remuk karena seharian di atas sepeda motor.
"Ya memang, cari uang itu capek, yang kuat,ya, kamu pasti bisa!" Mami Nika memberi semangat.
"Mami lagi dimana?"
"Lagi di Nusa Dua..."
Nika mendengkus, ia iri dengan Mami dan Papinya yang setiap hari pergi ke luar kota, berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Berduaan, dan selalu mesra di setiap waktunya."Sama Papi?"
"Iya dong, apalah arti Mami tanpa Papi." Wanita itu terkekeh dari seberang sana.
"Kebalik, Mi, apalah arti Papi tanpa Mami." Nika tertawa mengejek.
"Eh, Arunika..."
Suara Papi Nika terdengar menyambung pembicaraan."Berani bicara begitu...Papi perpanjang masa suram kamu." Kemudian pria itu mengaduh karena mendapat cubitan dari istrinya.
"Aw, sayang, sakit,"katanya dengan manja pada istrinya.
Nika memutar bola mata, mendengarkan kata-kata manja dari Papinya terkadang membuatnya jengah. Terkadang juga ia malu, kenapa punya Papi seperti itu."Papi jahat, ih...nggak tahu apa aku baru pulang, capek banget!"
"Sayang, kamu dari mana malam-malam begini?"
"Papi!"gerutu Nika."Nika cari duit, kena orderan fiktif...bayangkan..., Papi...masa ada yang order ayam geprek sepuluh porsi, terus pas mau Nika antar malah nomornya aktif."
"Ya udah, sabar aja, sayang..."
"Ah, Papi...Nika mau ngomong sama Mami aja. Ngomong sama Papi nggak asyik."
"Loh, Papi kangen sama kamu loh, sayang."
"Nika mau ngomong sama Mami. Nika nggak percaya kalau Papi rindu sama Nika,"balas Nika.
"Sudah sini, Mami yang ngomong." Seva mengambil alih pembicaraan."Nika, ini sudah tiga bulan kamu jadi ojek online...,kenapa nggak coba ngelamar di Perusahaan kantoran gitu?"
"Tahu,nih, Nika...kan ngojek itu capek,"kata Kenzie, sang Papi dari posisinya, tapi, Nika masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sekali lagi Papi bilang gitu, Nika mau pulang ke rumah Bude aja. Nika jadi anak Bude, biar Prana jadi anak tunggal Mami sama Papi aja,"omel Nika sambil memijit kakinya yang pegal.
Kenzie mendekat lagi ke ponsel istrinya."Sayang, Papi tuh ...sayang sekali sama kamu. Tapi, Papi lebih sayang sama Mami, sih. Jadi, kalau kamu mau jadi anak Bude ...nggak apa-apa." Kenzie tertawa keras membuat anak perempuannya itu semakin kesal.
"Sudah, kasihan Nika, sayang. Jangan ganggu dulu, ya, Mami mau ngomong sama Nika,"kata Seva."Nika..."
"Iya, Mami..."
"Kamu lamar kerja di kantoran aja. Kalau ngojek, kan, capek dan kepanasan,"saran Maminya dengan lembut.
"Ya...Nika dapat kerjanya sebagai ojek, Mi, ya udah itu aja yang Nika jalankan. Tapi, Nika udah coba lamar kok ke Kantor-kantor. Doain,ya, Mami..."
"Iya, terus...gaji Bik Asih sudah kamu bayar?"
Nika mengerucutkan bibirnya."Mami, kalau Nika bayar gaji Bi Asih...Nika nggak punya uang dong!" Suara Nika seperti hampir menangis.
Kenzie tertawa dari seberang sana, sebenarnya ia juga tidak tega membiarkan Nika bekerja seperti ini. Tapi, ini sudah menjadi tradisi keluarga. Ketika sudah selesai kuliah, mereka harus belajar mencari uang sendiri tanpa mengandalkan nama besar keluarga dan kekayaan orangtua. Kali ini, giliran Nika. Sayangnya, kepintaran sang Mami tidak diwarisi oleh Nika, oleh karena itu ia sedikit susah mencari pekerjaan. Kebetulan ia bisa naik sepeda motor, ia pun melamar menjadi mitra ojek online. Tapi, biar pun harus mencari uang sendiri, Nika tetap difasilitasi rumah, asisten rumah tangga, dan kendaraan. Untuk kebutuhan sehari-hari, Nika harus memakai uangnya sendiri.
Ia diharuskan bisa memanajemen keuangan sendiri.
"Nika, kerja yang baik, semoga saja ujian keluarga Adiguna cepat selesai,ya,"kata Seva menghibur anak sulungnya itu.
"Mami,"rengek Nika."Pengen makan enak..."
"Duh, kasihannya...sabar,ya, sayang sampai tesnya selesai. Kalau sekarang kamu pengen makan enak, minta masakin Bik Asih, atau kamu nabung sendiri,"jelas Seva.
"Iya, Mami. Ya sudah, Nika tidur dulu, Mi. Capek..."
"Selamat tidur, sayang,"ucap Seva.
"Selamat tidur, Mami."
"Selamat tidur anak Pap..." Sambungan langsung terputus begitu Kenzie mengucapkan selamat tidur pada Nika."Astaga, dimatiin..."
"Makanya jangan jahil..." Seva membaringkan tubuhnya, perlahan air matanya mengalir karena kasihan pada Nika. Tapi, semua ini demi kebaikan Nika, agar menjadi anak yang kuat mental dan fisik, belajar menghargai orang, dan tentunya akan ada banyak pelajaran yang nantinya akan mereka dapatkan dari hidup susah.
💋💋💋
Pukul tujuh pagi, Nika sudah bersiap-siap untuk bekerja. Dengan jaket khas sevuah perusahaan ojek online tersebut, tak lupa helm dengan warna senada. Nika memanaskan mesin sepeda motornya sambil menghabiskan susu yang dibuatkan Bik Asih.
"Bik, Nika pergi dulu,"ucap Nika.
"Iya, Mbak." Bi Asih berjalan cepat menuju pintu dan menunggu sampai Nika benar-benar pergi. Setelah itu, ia menutup pagar dan pergi mengerjakan pekerjaan rumah.
Nika mengendarai sepeda motornya dengan hati riang. Sekitar lima ratus meter ia berjalan, ia menepikan sepeda motornya dan mengaktifkan aplikasi. Satu orderan masuk, jaraknya tak jauh dari sini. Nika menerima orderan, lalu berjalan menuju titik lokasi yang sangat dekat. Sesampai di lokasi, ia hanya bisa menganga tak percaya karena pelanggannya kali ini adalah Ghandi, kakak sepupunya sendiri.
Nika melepaskan helmnya dan menghampiri pria berusia dua puluh delapan tahun itu."Mas Ghandi?"
Pria itu mengangguk."Mbak Nika, ya, yang jemput saya?"
Nika melihat aplikasinya, lalu mengangguk dengan bingung."Kok pesan ojek?"
Pria itu langsung memeluk pundak Nika dan mengepitnya di ketiak."Ya mau ketemu kamu, lah!"
"Ya udah, mau kuanterin kemana, ini, Mas?"
"Kita bicara di dalam aja,"kata Ghandi. Kebetulan titik jemputnya ada di sebuah tempat makan cepat saji yang menyediakan menu sarapan pagi.
"Terus ini bagaimana dong, aku lagi kerja, Mas!"protes Nika.
"Cancel aja,lah." Udah,lah ayok masuk,"paksa Ghandi.
Nika menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak akan pernah bisa menolak perkataan pria satu itu.
Ia membuka jaket dan meletakkan ke sebelahnya. Ghandi duduk di hadapannya sambil menatap intens.
"Kenapa nggak bilang kalau kamu sudah mulai kerja begini?"
Nika menggaruk kepalanya yang tak gatal."Ya nggak tahu, kan ini sudah perintah Papa. Semua juga mengalaminya,kan. Kenapa Mas Ghandi harus kaget seperti itu? Dulu juga Mas pernah mencari uang sendiri tanpa membawa nama besar keluarga, bahkan lama banget, sampai tiga tahun."
"Tapi, Mas ini kan lelaki. Kamu...perempuan. Mas kaget banget tahu, begitu dengar kamu sudah mulai menjadi orang biasa terus jadi ojek online pula." Ghandi memijit pelipisnya. Ia masih tak habis pikir ternyata Nika akan mendapatkan giliran ini juga.
"Ya habisnya cuma ini, kan, yang Nika bisa." Gadis itu tertawa lebar. Tak ada beban lagi di hatinya. Tiga bulan menjalani kehidupan layaknya orang pada umumnya membuat Nika belajar menjadi lebih sabar dan ikhlas.
"Nanti Mas bilang sama Papi,ya, supaya tiga bulan aja kamu menjalani ini. Mas nggak tega loh, kamu makin hitam,wajah kusam, masa, sih cucu perempuan satu-satunya malah tersiksa begini."
"Iya, Mas...mau beli skincare, uangnya nggak cukup. Buat makan aja, pas-pasan." Mata Nika berkaca-kaca sambil sedikit mendramalisir keadaan. Tapi, Ghandi tahu kalau Nika hanya bercanda. Ia tahu, Nika sudah dewasa sekarang.
Ghandi menghela napas berat dan mengambil dompet. Ia menyerahkan kartu kreditnya pada Nika."Pakai ini,ya, buat beli kebutuhan kamu."
"Jangan, Mas. Nanti kalau ketahuan, bisa-bisa masa peralihan ini diperpanjang. Apa jadinya, Mas yang tinggal di Surabaya malah transaksinya terus-terusan ada di sini,"tolak Nika.
"Nika..." Ghandi memegang tangan Nika dengan hati yang tak rela."Kalau begitu kamu menikah saja, ya."
Nika tertawa terbahak-bahak. Sejauh ini ia belum terpikirkan untuk menikah. Ia ingin memantapkan karirnya terlebih dahulu. Ia ingin seperti Mamanya yang katanya dulu wanita karir, sempat menjabat sebagai Kepala Divisi dan Manager. Bahkan sang Kakek sampai terkagum-kagum pada Mamanya sampai-sampai langsung setuju menjadikannya menantu. Nika ingin seperti itu."Aku senang menjalani seperti ini, Mas. Mas jangan khawatir,aku masih difasilitasi sama Papa kok. Dikasih rumah dan ART. "
"Ya udah, kalau gitu seharian ini kita jalan,ya, berdua."
"Aku harus kerja, Mas."
"Biar gaji kamu sehari ini, Mas bayar. Mas udah bela-belain ke sini loh!" Ghandi melotot pada Nika.
"Oke. Naik motor,ya. Aku belum cancel, nih." Nika melambaikan ponselnya sambil tertawa.
"Oke." Ghandi berdiri."Ayo!"
"Yes!" Nika segera memakai jaketnya. Ghandi cukup menyabarkan hatinya atas kondisi ini. Ia tidak tega, tapi, Nika tidak mau menerima bantuannya.
Nika membonceng Ghandi ke lokasi sesuai aplikasi. Tempat tujuan itu adalah sebuah butik ternama.
Sesampai di sana, Ghandi menarik Nika masuk ke dalam.
"Mas....Mas!" Nika terkejut.
"Kamu ganti baju dulu, terus kita jalan,"paksa Ghandi.
"Iya...iya. Aku nurut, jangan ditarik!" Nika mengerucutkan bibirnya.
"Sebentar!" Ghandi meninggalkan Nika, ia menuju ke salah satu susunan pakaian.
Nika menghela napas panjang, tempat seperti ini menjadi asing baginya. Padahal berbulan-bulan lalu, pakaian mahal seperti ini bisa ia dapatkan berpuluh-puluh hanya dengan menunjuk. Semuanya terbeli dalam sekejap mata. Tapi, sekarang ia tahu bagaimana sulitnya mencari lima ribu rupiah saja. Ia akan membeli apa pun yang mahal nanti, saat ia sudah bekerja sendiri.
"Mbak, permisi...saya mau lewat!"
Nika melihat ke belakang, ia memang berdiri di depan pintu, menghalangi orang yang masuk. Aroma parfum mahal langsung menusuk penciuman Nika. Ia menoleh, seorang pria tampan, memakai stelan kerja mahal, melihatnya saja Nika hampir pingsan. Berdekatan dengannya, Nika bagaikan serpihan upil di bawah meja.
Pria itu melirik Nika, kemudian tersenyum."Terima kasih."
"Sama-sama." Nika mengigit jaketnya sambil menatap pria itu dengan tatapan memuja."Gantengnya..."
💋💋💋
a sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d
Daisy found nobody in the room and the door was also closed. She was feeling dizzy and weak but still while staggering she managed to stand up from the bed. Taking slow careful steps, she started walking towards the door, supporting the bed. She was feeling that suddenly her body started feeling heavy. Even walking was difficult for her. The gown, she was wearing was not of her size. It was a little loose but she felt comfortable in it.S
On the the third floor, one of those lace barriers twitched. A shadow moved past, just a flicker of darkness, so fast it almost escaped Crook's enhanced scrutiny. The signet ring on his right finger hummed against his skin, hot and urgent.He glanced down at the ring.A hot, solid wave of energy slammed against his expanded thoughts. His head snapped back from the rush of power. His mind folded in on itself and his perceptions screeched down to normal speed so abruptly he almost stumbled. His ears rang. His jaw ached from clenching his teeth-and from- from what.A mental slap?Had somebody really slapped him? He rubbed the space between his right eye and his chin. Damned if it didn't burn.What the hell? Some kind of barrier. Some kind of elemental protections? The beast inside him wanted to snarl and retreat, but he couldn't let that happen. He was here in New York city, with his partner Andy, poking around on the ritualistic murder of a senator'
Taddeo, se encontraba en su casa, estaba triste por el castigo que le había impuesto su padre, aunque también estaba enojado, le parecía injusto que lo hubiese castigado sin oírlo, cuando no era culpable, no comprendía como se podía ser tan ligero a la hora de tomar decisiones sobre una persona sin escucharlo previamente, eso era inaceptable y todo por esa estúpida niña.Pero de nada valía lamentarse, no había nada que hacer, su padre se había ido con su hermano para La Toscana y no se lo había llevado, habían transcurrido diez días, en los cuales ellos estaban disfrutando y divirtiéndose mientras él se encontraba encerrado y aburrido, bueno realmente había estado entretenido con sus libros, pero lo que más le afectó fue
"I'm sorry, Tayla. If only I can make you stay in our house, I would. But you know our house is not that big and my Mom is a human Armalite, right?" Ella scratched her head and hold the edge of the map, glancing at me before she continued mopping the floor.We are again, in Talk and Chill. Tomorrow I wouldn't be here for the class will start and I need a place where I can stay. Unluckily, Ella, my best friend just told me that she's wasn't able to offer me a hand.I sighed. "I understand, Ella. Thanks for telling me early." I turned around and went towards the sink to wash the dishes, my lips twisting a bit as I thought...why are we getting paid under minimum wage when we do almost all kinds of things in this chill bar? We should at least have an increase."Tayla, I don't understand you. When your parents died, your Aunt Tanya stood as your guardian, but why are you planning to leave your own house?" She stood up and glanced at me with her bewildered, round eyes