Mag-log inTak perlu pergi untuk dicari, tak perlu lari agar ia menghampiri.
Berjuang tak sebercanda itu.
Satu kata yang bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini. “koyok wong gendheng!”
Namun, tidak mengizinkan diriku gila sekarang. Sebab, harus menghadapi kegilaan lainnya nanti. Zea, telah kehilangan secuil harapan untuk memiliki bayi—yang mungkin tumbuh di rahim wanitaku menggantikan Dihya kami. Juga menjadi harapan penerus Annur.
Hari berikutnya, kami mencari dan berkonsultasi dengan dokter kandungan yang lebih berpengalaman. Setelah mengetahui riwayat kesehatan dan hasil USG, salah satu dokter spesialis—dengan gelar setingkat professor berpendapat sama, total histerektomi.
Sesuai dengan bidang keahlian, dokter—tua itu merekomendasikan untuk operasi laparoskopi, atau istilah medisnya Total Laparoscopy Hysterectomi (TLH). Tidak hanya mengangkat rahim dan serviks, dokter juga menyarankan mengangkat kedua ovarium atau istilah medisnya Bilateral Salpingo Oophorectomy (BSO).
Pengangkatan rahim Zea harus segera dilakukan, karena jika tidak akan sangat membahayakan. Hampir semuanya mengatakan hal serupa. Sia-sia sebenarnya kupikir berkonsultasi dengan banyak dokter, bahkan sampai professor tingkatannya. Semua seakan bersekongkol akan diagnosa sakit istriku itu.
Langkahku berubah menjadi lemah. Terlihat jelas kesedihan mengguncang, wanitaku itu, enggan menatap. Sepanjang perjalanan pulang dari dokter terakhir, kami hanya terdiam. Telapak tangan—yang bebas tidak bertengger dikemudi hanya bisa menggenggam jemarinya erat, berbagi kekuatan. Berharap beban itu berkurang.
Akhirnya, dia melepas paksa ketika kendaraan yang kami tumpangi memasuki gerbang pintu Annur. Walau hati ku pun hancur, jantung seperti keluar begitu saja, hingga isi kepalaku pun kosong, bagai ada rombongan semut mengerubung. Menjambak erat rambut, sekadar mengembalikan kekuatan sebelum membuka pintu kendaraan roda empat ini, menenangkan diri, entah seperti apa kondisi istriku nanti. Aku harus kuat!
“Nduk?”
Benar saja,badai isak tangis menerpanya. Dia menutupi wajah membiarkan airmata tertumpah.
“Apa—yang harus kita lakukan, Mas?” Suaranya terbata, disela memeluknya erat, hingga sesak. Inginnya membaur, menyatukan tangis. Karena badai ini milik kita, bukan?
“Kita lakukan yang terbaik,” jawabku dengan tegas, mengusap punggungnya—yang masih seperti melompat-lompat.
Dia mendorong dada, meminta menjauh. Sementara badan mungilnya beranjak dari pinggir ranjang, membuat gerakan mondar-mandir di depan mata—yang membuatku semakin menggila, wajahnya masih memerah tak keruan.
“Ini bukan pilihan, Mas! Ini bukan pilihan! Tidak ada sisa pilihan mana yang harus kupilih. Aku ingin memilih!” Dia berkata, kali ini setengah melengking.
Aku menangkap badan mungil itu, merengkuhnya dan mendudukan kembali di pinggir ranjang. Bukan hanya kesedihan, rasanya kemarahan, penyesalan pun menggelegak dengan sempurna.
‘Kalau sudah begini, sebaiknya segera lakukan operasi pengangkatan rahim.’ Kalimat pernah terlintas dalam pikiran, sekarang menjadi kenyataan yang tidak bisa ditolerir sedikit pun.
Aku membujuknya agar tetap tenang, kita harus tetap tenang dan tetap dalam prasangka yang paling baik kepada Tuhan, meski hati ingin rasanya memaki alam semesta.
“Kita memang tidak memiliki pilihan. Satu pun. Untuk itu, kita harus mengambil apa yang masih tersisa. Kalah itu sakit, Nduk, tapi menyerah itu hina, jangan seperti itu. Sebab, Tuhan akan mencibir orang-orang yang menyerah. Tuhan hanya ingin menghebatkan kita dengan cara berjuang.”
“Jadilah manusia yang mampu menampung banyak masalah, luaskan ruang di hatimu agar semakin banyak masalah yang bisa kamu tampung. Nduk, sayang..., asal kamu di samping Mas, itu sudah cukup.” Aku mengecup puncak kepalanya.
Zea terisak lirih. Kalau boleh, ingin juga menangis saat ini. Seorang pria tidak akan hina karena menangis, tapi kutahan. Benteng kokoh milik istriku baru saja diguncang takdir maha manis, runtuh tinggal separuh. Cukup separuh saja, karena aku takkan membiarkan benteng itu hancur lebur dan hanya menyisakan debu. Untuk itu, aku mengeringkan air mata.
Keinginan berputra? Tentu saja, tidak hanya dia yang menginginkannya. Aku juga. Akan tetapi, sekali lagi anak menjadi hak prerogratif Sang Pencipta. Bukan kita yang asal mau maka jadilah. Karena, Kun fa ya kun itu hanya milikNya.
“Tapi Zea, ingin punya bayi Mas, bukan begini ....” Aku memeluknya erat.
“Manusia itu diberi kesempurnaan, dan tolak ukur kesempurnaan tidak terletak pada kepemilikan, kamu harus ingat..., baik salah atau kurang pun itu juga bagian dari sempurna, maka sempurna terbaik adalah mensyukuri apapun yang terjadi dalam pilihanmu.
Kita sudah menghatamkan bait-bait Al Imam Ibnu Hajar Al Asqani dalam kitab Al Iti’dad Liyaumil Ma’ad bahwa manusia memiliki enam perkara yang menyebabkan hati menjadi rusak, salah satunya dengan membiarkan hati kita tidak ridha, ndak ikhlas..., jangan merusak tatanan maha indah ini dengan meratap.” Isaknya terhenti. Baju depanku sudah basah kena lelehan lahar kesakitannya.
“Wes, Nduk. Lapangkan hatimu, urusan lainnya biar aku yang kerjakan.” Janjiku penuh tekad. Sambil mengusap air mata yang masih membasahi pipi halusnya.
Kami sudah memutuskannya. Namun, terlebih dahulu harus menghadapi kedua sepuh yang sangat mengharapkan kehadiran cucu di rumah ini. Ummi dan abah, berdiskusi panjang malam itu, semua opini kusimpan rapat, memilah dan menelaah.
Pendapat kedua mertua dan pendapat kedua orangtua menjadi ujung tombak kesaktian bahwa perang ini harus kami menangkan. Meskipun di dalam peperangan pasti ada yang terluka atau bahkan mati, setidaknya Zea tetap hidup, aku sudah merasa ini akan cukup mudah dimenangkan.
Hari di mana Zea akan melakukan operasi semakin dekat, detik dan menit melambungkan doa dengan seribu asa, meyakini Tuhan sudah menampung semua harapan-harapanku.
Keluarga dan banyak juga dari walisantri datang berkunjung, mereka menunjukkan keprihatinan, kata sabar, ikhlas dan ridha seperti sego janganan (ibarat sudah seperti makanan sehari-hari) sangat murah dan membuat kita kenyang seketika. Akan tetapi, ucapan halus dan penuh ketulusan itu rupanya berbalik menjadi duri yang merobek hati istriku.
Setiap yang datang terutama ibu yang membawa anak-anak mereka seringkali membuat rona merah pada Zea lebih kentara, tahu kalau dia sedang marah dengan dirinya sendiri. Akulah yang berkewajiban untuk menyiram amukannya dengan menunjukkan bagaimanapun tidak akan berbeda dengan yang sebelumnya.
Jika dia berpikir, mengapa dirinya tidak seperti Prabu Kresna yang memiliki Kembang Wijaya Kusuma. Atau, seorang Resi Subali yang punya Aji Pancasona serta bila dia berpikir bahwa dia tidak juga seperti Maha Guru Sukra yang mempunyai Aji Sunjiwini yang dalam kisah ketiganya, senjata pusaka mereka mampu menghidupkan yang sudah mati.
Aku dapat merasakan, Zea tidak sedang memiliki ketiganya untuk sekedar menghidupkan semangatnya yang hampir mati itu, karena ada aku yang akan menghadirkan jiwa dan ragaku sebagai ganti ketiga pusaka maha sakti itu. Ketulusanku adalah senjata paling ampuh, niatku yang tak mampu ditandingi oleh senjata sakti bentuk apapun. Cintaku yang akan membuatnya hidup, takkan kubiarkan ia mati dalam peperangan ini.
Kami memilih rumah sakit dekat Malang untuk operasi TLH-BSO—kata lain pengangkatan rahim.
Dekat dengan rumah keluarga Zea, agar aku juga tidak terlalu lelah karena harus wara-wiri Banyuwangi—Malang. Ibu mertua memberikan banyak waktunya menemani si istri untuk menjalani semua prosedur ini.
Proses operasi yang sebelumnya menjadi ajang perdebatan kami hingga kamar seperti layaknya medan perang ketiga, kini sudah mencapai titik gencatan senjata. Kami sudah harus legowo, harus menerima dengan hati yang tenang.
Jadwal operasi sudah ditentukan oleh tim bedah, aku meminta Dokter Neelam ikut menemani di dalam ruang operasi.
Hingga waktunya tiba, karena proses angkat rahim ini termasuk operasi besar, para dokter menjadwalkan Zea dirawat satu hari sebelum operasi. Di jam terakhir bisa makan, aku menyuapi buah apel. Setelah itu dia, harus berpuasa lalu diberi cairan untuk mengeluarkan sisa makanan dalam perut agar tidak ada sisa makanan yang akan jadi masalah ketika proses operasi berlangsung.
Aku melepas genggaman tangan, ketika brankar—yang bisa didorong tiba di kamar bertuliskan ‘ruang operasi’ rasanya, ingin aku yang ada di posisi Zea.
Namun, bukan, aku yang mengantarnya berperang dan dia sendirian. Sejenak, ingin menangkan kegundahan di hati sendiri, akan tetapi, sulit rasanya. Seolah, tiada lagi yang bisa membuat bangkit atau sekadar tersenyum.
Namun, sudah kupastikan pada saat istri—tercinta selesai menjalani pertempuran di dalam sana, dia masih mendapatkan aku yang utuh. Tidak berkurang seinci pun. Baik cinta, niat dan seluruh ketulusanku.
***
Love
Mahar
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théolog
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intention