MasukKakiku telah mengetuk cepat lantai kayu restoran yang menjadi tempatku menunggu seseorang hingga tak terhitung lagi.
Aku tak sabar bukan karena ingin buru - buru bertemu orang tersebut melainkan ingin segera menyudahi pertemuan ini agar pikiran dan hatiku bisa tenang, tak berdebar memikirkan kemungkinan yang sebenarnya kuketahui tak akan terjadi namun tetap saja membuatku ketakutan setengah mati.
Ah! Itu dia. Teriakku senang dalam hati begitu mendengar suara lonceng dari pintu Café yang menandakan bahwa seseorang masuk, dugaanku benar. Willa Fitzgerald, seorang gadis yang pekerjaannya akan memiliki sangkut paut dengan diriku kini berjalan memasuki Café bersama Fiore yang kini berdiri di sebelahnya menghadap kearahku.
"buongiorno.." Ucapku berbasa - basi sembari berjabat tangan dengannya, gadis berambut Coklat dengan surai bergelombang itu menatapku dengan raut setengah terkejut seperti heran mendengar betapa fasihnya ucapanku dalam bahasa ibunya. "Aku sempat tinggal selama beberapa lama disini" Ujarku untuk menjawab pertanyaan tak terucapnya hingga wajahnya mendadak memerah, mungkin malu. Aku hanya tersenyum melihatnya.
"Willa, pekernalkan ini Ms. Koesma, dia yang akan menjadi atasanmu selama beberapa bulan ke depan" Fiore membuka percakapan diantara diriku dan gadis dihadapanku yang masih terlihat malu - malu tersebut. Willa memang akan menjadi sekretarisku nantinya, ia telah direkrut oleh perusahaan dengan kriteria sesuai yang kumau, aku meminta tolong untuk dicarikan sekretaris karena disini aku tidak mengenal siapapun selain keluarga Tante Lydia dan keluarga Fiore.
"Saya Tara Koesma, salam kenal ya semoga kita bisa bekerja sama dengan baik untuk kedepannya"
"Perkenalkan nama saya Willa Fitzgerald miss, panggil saja Willa. Saya sering mendengar kabar kehebatan anda dalam memenangkan kasus yang bahkan terlihat tidak mungkin untuk dipecahkan sekalipun, sejujurnya saya sangat senang karena mendapat kesempatan untuk bekerja bersama anda Ms. Koesma"
"Sepertinya kamu terlalu melebihkan, saya juga masih belajar seperti yang lainnya kok" Jawabku sembari terkekeh malu. "Omong - omong saya juga senang dapat bekerja sama dengan anda, saya harap kita dapat saling suportif antara satu sama lain" Lanjutku sebelum kemudian mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di kursi yang terletak di hadapanku lalu membicarakan persoalan mengenai pekerjaan yang akan kuberikan nantinya kepada Willa.
Tak terasa satu jam telah berlalu dan kini Willa meminta izin untuk pergi ke toilet setelah perbincangan yang cukup lama tersebut. Tinggal hanya Fiore dan aku seorang sehingga kami diam beberapa saat diselimuti rasa canggung diantara aku dan dirinya walaupun kini suasana Café semakin ramai karena waktu makan siang sudah datang.
"Kemarin aku bertemu dengan kekasihmu, Alba kan namanya?" Entah keberanian darimana sehingga aku dapat membuka obrolan sembari diserang oleh tatapan mata biru nan tajam itu.
"Ya.. Aku juga mendengar tentangmu darinya, katanya kau baik" Walaupun mengangguk aku tak menatapnya dan kini malah fokus mengaduk minuman Cokelat hangatku yang sekarang sudah tak hangat kembali. "Dia cantik, kuharap hubunganmu akan terus langgeng dengannya. Kupikir dia gadis yang cukup baik walaupun pertemuan kami terbilang singkat, tapi aku dapat melihatnya" Mataku menemukan sosoknya yang sekarang mengangkat sebelah alisnya. Entah karena apa.
"Dia memang wanita baik - baik, dan.. terimakasih sebelumnya atas doamu. Bagaimana dengan kondisimu sendiri? Apakah sudah membaik?" Ia malah bertanya balik.
"Untungnya sudah walaupun masih sering merasa mual, tapi itu wajar untuk trimester pertama. Omong - omong kue buatan Ludo sangat membantu mengatasi rasa mualku. Tolong sampaikan ucapan terimakasih dariku kepadanya sekaligus maaf karena belum sempat juga untuk bertemu dengannya"
"Akan kusampaikan, senang dapat membantu"
"Aku cukup senang karena terpikir untuk pindah dan memutuskan untuk tinggal tempat ini" Lagi. Ia mengangkat alis kanannya yang tebal seperti ulat bulu.
"Kenapa? Apa karena bisa melarikan diri sejauh mungkin?" Sebenarnya aku dapat merasakan rasa menusuk di dalam kalimatnya yang menyindir seakan tempat ini hanya tempat pelarianku semata. Namun aku berusaha tak memikirkannya.
"Aku tak akan berbohong bahwa itu juga salah satu penyebabnya, namun kepindahanku ini didasarkan oleh alasan lain yang lebih kuat, yait-" Ucapanku terpotong begitu Willa mulai terlihat dari kejauhan dan kini sedang berjalan ke arah diriku dengan langkah riangnya.
Matanya melihat bergantian ke arahku dan lelaki di hadapanku yang sedang menyesap kopi hitamnya saat ini. "Aku mengganggu pembicaraan Ms. Koesma dan Mr. Commare ya?" Tanyanya dengan raut tak enak, aku menggeleng pelan dan mengatakan bahwa kehadirannya tak mengganggu pembicaraan kami yang terputus begitu saja. Lagipula kalau dipikir - pikir lebih baik aku sebaiknya meminimalisir interaksiku dengan Fiore, kalau tidak bisa saja aku malah mengatakan hal - hal yang seharusnya tidak ku ucapkan, contohnya seperti tadi.
° ° °
Setelah berpamitan dengan Fiore saat di café tadi dan kepada Willa saat dirinya lebih memilih untuk menaiki taksi online, berasalan karena ada kepentingan
a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a
Mikhail stared at Xander's wide back as he felt a burning gaze directed in his direction. He turned towards it to find a hooded young man who looked about his height glaring at him. He couldn't see the man's face but could tell from the way his jaw was stiffened that he was hostile towards him.Mikhail shifted uncomfortably at the door as he tried to avert his gaze from the man. Suddenly, Xander called out to the man as he watched the man turn towards Xander, his demeanor shifting completely.William...? that name sounds a little familiar... but I'm not so sure... It is a pretty common name... But why is he wearing a hood in the evening? Also... his gaze was pretty intense... Mikhail thought as he watched Xander riding off into the distance, the young man following suit, not sparing another glance his way."Then, I'll be leaving as well. It seemed the Ki... erm... It seemed that My Lord had a pleasant evening, I'll be sure to send y
Pragati was an orphan who was adopted by an Army officer at the age of 7 years, but her father’s enemy abducted and sold her. She was forced into prostitution. After 4 years, Random night Vyom Grover, mobster boss pays a visit to a traitor who stole his money and flew away to the same whorehouse where that traitor was harassing Pragati sexually. He couldn’t help but get attracted to Pragati at the first sight and purchased her from there.
Chapter 13: Cupid’s Job“Atheos Oras na para uminom ng gamot” sabi ng isang boses na hind
"Maaf," panik Elsa, segera meraih tisu di atas meja dan secara naluriah tangan Elsa bergerak untuk mengelap celana Leon yang basah, tapi bukannya membantu, bekasnya malah semakin melebar. Elsa merutuk dirinya sendiri karena tidak bisa fokus dan tubuhnya terasa seperti tersengat listrik ketika merasakan tangan Leon di pahanya, atau itu cuma khayalan Elsa saja? Tapi yang pasti, air yang tumpah dari teko itu tidak sedikit, nyaris membasahi setengah celana bahan yang dikenakan Leon.Leon mengerang dalam di tenggorokannya. Merasakan tangan gadis itu membelai pahanya membuat Leon menutup mata merasakan denyut tidak tertahankan yang terasa di bagian dirinya yang tidak jauh dari jemari Elsa berada sekarang.
Chapter 4Astrella POV: