"Maaf," panik Elsa, segera meraih tisu di atas meja dan secara naluriah tangan Elsa bergerak untuk mengelap celana Leon yang basah, tapi bukannya membantu, bekasnya malah semakin melebar. Elsa merutuk dirinya sendiri karena tidak bisa fokus dan tubuhnya terasa seperti tersengat listrik ketika merasakan tangan Leon di pahanya, atau itu cuma khayalan Elsa saja? Tapi yang pasti, air yang tumpah dari teko itu tidak sedikit, nyaris membasahi setengah celana bahan yang dikenakan Leon.
Leon mengerang dalam di tenggorokannya. Merasakan tangan gadis itu membelai pahanya membuat Leon menutup mata merasakan denyut tidak tertahankan yang terasa di bagian dirinya yang tidak jauh dari jemari Elsa berada sekarang.
Elsa menatap Leon bingung. Lalu ketika Leon membuka mata dan mata mereka bertemu, Elsa melihat tatapan itu lagi, bersamaan dengan tangan Leon yang mencengkram tangannya dan menariknya agar duduk di atas pangkuan lelaki itu. Kesiap Elsa dibungkam oleh bibir Leon di atas bibirnya.
Mata Elsa melebar, sedangkan tatapan Leon padanya sungguh terasa memabukkan. Terlebih, ketika Leon melumat bibir atas dan bawahnya secara bergantian dengan sangat lembut, Elsa tidak bisa menahan rasa berat di matanya dan ia pun terlena.
"Buka mulut kamu," desak Leon, dan Elsa melakukannya sesuai perintah.
Tangan Leon di pinggang Elsa membawa gadis itu semakin mendekat, di saat sebelah tangannya yang lain tenggelam dalam surai lembut hitam itu, menarik wajah Elsa semakin mendekat padanya dan memiringkan bibirnya untuk memperdalam ciuman mereka.
Ketika lidah Leon membelit lidah Elsa, mengecap satu sama lain, mengisap rasa manis pada bibir ranum itu, Leon mendengar Elsa mendesah yang membuat kendali dirinya kini berada di ujung tanduk.
Leon menjauhkan wajahnya dan melihat wajah Elsa yang memerah dengan bibir tebal yang merekah akibat ulahnya. "Balas ciumanku, Elsa," bisik Leon seduktif di telinga gadis itu.
Elsa terengah. "G-gak... gak bisa."
Leon tersenyum tipis, menatap wajah lugu istrinya. Elsa terlihat sangat cantik juga menggoda, bergairah, dan polos dalam waktu bersamaan. Bagaimana hal itu mungkin terjadi? Leon sudah sering melihat wanita-wanita cantik di sekitarnya, namun tidak pernah ada yang seperti Elsa. Tidak pernah ada yang membuatnya sebergairah ini seperti yang Elsa lakukan padanya.
Memperhatikan wajah itu lebih detail lagi, di saat Elsa masih memejamkan mata dengan napas tersendat, Leon melihat lebam keunguan di pipi kirinya. Jika saja bukan karena jarak mereka yang begitu dekat, Leon tidak mungkin menyadari tanda keunguan itu ada di sana. Lalu ketika Leon mengusapnya dan sedikit memberi tekanan, Elsa meringis dan matanya langsung terbuka.
Mereka saling tatap untuk beberapa saat dengan Leon yang bertanya-tanya darimana datangnya lebam kebiruan ini. Semalam Leon yakin tidak melihatnya. Atau apakah ini karena ulahnya? Apa semalam dia melakukan sesuatu yang diluar kendalinya sehingga menyakiti Elsa? Bayangan itu membuat Leon nyaris bergidik ngeri. Dia mengenal gairahnya sendiri yang selalu besar dan seolah tidak pernah terpuaskan, dan Elsa masih terlalu kecil... ya tuhan! Leon menjauhkan tangannya dan menatap Elsa dengan kening berkerut. Elsa tampak bingung, ekspresi polos gadis itu membuat Leon mengerang.
Sialan! Jika saja dia mengikuti saran Maminya untuk tidak menyentuh Elsa sampai gadis itu dewasa.
"Pipi kamu kenapa?" tanya Leon dengan nada menuntut jawaban.
Elsa menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. Lalu ia teringat pada tamparan yang diberikan Mamanya sore tadi dan raut Elsa langsung berubah murung. Tatapannya turun ke bawah menatap kancing kemeja Leon di dada bidang lelaki itu.
Tidak lama, karena Leon menyentuh dagunya dengan ujung jari dan memaksa Elsa mendongak menatapnya. "Jawab, Elsa!" tuntut Leon lebih tegas.
Elsa menggeleng. "Pipi aku gak kenapa-napa, kok."
"Bohong, pipi kamu lebam begini."
Elsa menggigit bibir. "Aku..."
"Apa ini karena apa yang kita lakuin semalam? Apa aku menyakitimu, Elsa?"
Elsa membelalak terkejut, membantah ucapan Leon dengan gelengan kuat. "Nggak, kok! Kak Leon gak ngelakuin itu semalem. Ini cuma... ini cuma... alergi!"
Leon menatap Elsa skeptis, dia tidak mempercayai perkataan gadis itu dan lebih percaya pada spekulasinya sendiri, karena dia yakin bahwa Elsa tengah berbohong padanya. Semalam dirinya pasti terlalu hilang dalam gairahnya sendiri sehingga tidak sadar melakukan sesuatu yang menyakiti Elsa.
"Kamu jelas berbohong," kata Leon, sambil menurunkan Elsa dari pangkuannya.
Entah kenapa, rasa kecewa dan tidak rela menggerogoti Elsa begitu saja, perasaan asing itu membuat Elsa secara refleks menyentuh lengan kemeja Leon dan menatapnya dengan tatapan bersalah.
Apa Leon marah padanya? Karena telah berbohong? Apa sekarang suaminya itu tidak akan menyentuhnya lagi? Atau menciumnya seperti tadi lagi? Elsa tidak ingin hubungan mereka yang dia rasa sudah sedikit membaik kembali seperti sebelumnya, seolah dirinya adalah musuh Leon, dan Leon adalah sosok suami yang asing baginya
"Maafkan aku. Aku gak bakal kehilangan kendali seperti semalam, atau seperti tadi, lagi." Lalu Leon pun mengalihkan fokus pada hidangan lezat yang sempat ia campakan.
Sedangkan Elsa berdiri di sana, mematung, masih mencoba mencerna perkataan lelaki itu, ketika suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya.
Mami masuk sambil celingak-celinguk dan berhenti ketika melihat Elsa di ruang makan.
"Ya ampuuunnn, Elsa! Mami tahu kamu ada di sini, tapi tetep aja mami nggak tenang kalau gak liat kamu seharian," kata sang Mami dengan bersemangat lalu menyerbu Elsa dengan pelukan.
Terselip dalam pikiran Elsa yang tengah kusut, pengandaian jika saja yang menjadi ibu kandungnya adalah wanita yang tengah memeluknya ini, hidup Elsa pasti akan lebih baik. Namun dia tidak mungkin bertemu dengan Leon jika Mami Maya menjadi ibunya. Elsa terkekeh dalam hati, menghilangkan pemikiran tidak berguna itu dan membalas pelukan Mami cukup erat, terlalu erat, sampai Mami sepertinya menyadari sesuatu dan melepas pelukannya.
"Ada apa, Elsa?" tanya wanita itu penuh perhatian. Elsa berdoa semoga dia tidak menyadari lebam kebiruan di pipi kirinya seperti yang Leon lihat. Lalu karena kediaman Elsa itu, tatapan Mami tertuju pada Leon yang dengan cueknya masih menyantap makanannya.
"Leon!" bentak Mami cukup keras.
"Halo, Mi," sapa Leon lebih cuek lagi.
Mami menggeleng-geleng menyabarkan diri pada kelakuan anaknya itu. "Kamu yang sabar, ya, nanti cerita ke Mami kamu diapain aja sama Leon sampai murung begini."
Baik Elsa maupun Leon sama-sama terdiam, ketika Mami berjalan ke dapur, mereka menatap satu sama lain. Lalu Leon menaikkan jari telunjukkan ke depan bibir, memberi isyarat kepada Elsa untuk tidak mengatakan apapun mengenai apa yang mereka lakukan selama Elsa berada di apartemen ini.
Wajah Elsa memerah, memangnya siapa yang berniat menceritakan itu semua? Urat malu Elsa harus diputus terlebih dahulu untuk mengatakan semua itu secara blak-blakan kepada maminya.
[to be continued]