Compartir

chapter 24

Autor: gaojianxiong
last update Fecha de publicación: 2023-12-01 20:16:44

Abi memalingkan wajahnya begitu ia mengenali mobil berwarna putih memasuki kawasan perumahan Elana. Ia tersenyum kecut begitu melihat Rony turun terlebih dahulu, dan membuka pintu dimana Elana berada. Tidak hanya sampai disitu saja, Rony pun mencium kening Elana sekilas, membuat Abi memilih pergi. Ia tidak ingin melihat kelanjutan dari dua sejoli itu. 

Abi memilih duduk di depan kamarnya. Semenjak ia tau Elana pergi tanpa mengikutsertakan dirinya, Abi pun langsung tau dengan siapa wanita itu akan pergi. Namun entah mengapa setelah melihat kedekatan mereka secara langsung, seperti beberapa menit lalu, Abi merasa sesuatu perasaan aneh menggelitik hatinya. Perasaan tidak suka, yang sulit sekali dijelaskan. Seharusnya ia menyadari posisinya, bahkan ini bukan kali pertama Elana pergi berdua bersama Rony, tapi begitu melihat mereka berdua secara langsung, rasanya terasa berbeda dan sedikit membuatnya kesal. 

Benar apa yang diucapkan Mila, wanita yang ditemuinya waktu itu. Ia sepertinya sudah terlalu jauh mengikuti kehidupan Elana sampai ia mengabaikan tujuan utamanya bekerja di kediaman Erlangga.

Sejenak Abi menutup kedua matanya, menghirup udara dalam-dalam dan perlahan membuangnya lewat mulut. 

Abi kembali mencoba menyadarkan diri sendiri. Tujuan utamanya datang ketempat Elana adalah untuk membalas semua perbuatan Erlangga pada mendiang Neneknya. Setelah masalah itu selesai, Abi akan segera pergi dan tidak akan pernah lagi menginjakan kakinya di rumah Elana. 

"Abi,," suara yang begitu familiar menyadarkannya, begitu ia membuka mata, sosok Elana sudah berdiri tak jauh dari tempatnya. 

"Bisa temani aku ke suatu tempat?" 

Selama masih berstatus sebagai ajudan, tentu saja Abi tidak bisa menolak meski suasana hatinya sedang tidak ingin berdekatan dengan Elana. Namun terkadang logika dan hati sulit bekerja sama diwaktu yang kurang tepat. Anggukan Abi, diiringi senyum manis Elana, yang selalu berhasil membuat dadanya bergetar setiap kali melihatnya. 

Kali ini Abi tau kemana tujuan Elana, yaitu tempat peristirahatan Ibunya. Abi hanya berdiri memegangi payung, agar Elana terhalang dari sengatan sinar matahari yang terasa begitu membakar kulit. Tidak tanggung-tanggung, Elana mengajaknya berziarah pukul dua sore hari. Dimana matahari dengan gagahnya masih menyinari bumi. 

Kali ini tidak ada drama tangisan Elana, dia terlihat santai dan tenang. Tidak biasanya Elana seperti itu, karena setiap kali Abi menemaninya datang untuk menemui makan Ibunya, gadis berparas cantik itu tidak pernah absen menangis. Tapi kali ini justru tidak. 

Mungkin saja Elana lelah meratapi kepergian Ibunya, atau justru ada hal yang lebih menyedihkan yang tengah ditahannya. Abi hanya bisa berdiri di belakang Elana, tanpa berkomentar atau mengganggu. 

"Kita pulang," Elana berdiri, setelah ia mengusap nisan Ibunya dan menaruh satu buket mawar putih. 

Abi masih setia memayungi Elana dari belakang, hingga gadis itu benar-benar masuk kedalam mobil. 

Abi segera menyalakan pendingin udara, begitu melihat pipi Elana memerah. 

"Tunggu sebentar," Elana menahan tangan Abi yang hendak menyalakan mobil. 

"Dadaku sakit," Elana menepuk dada dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangan yang lain masih memegangi pergelangan tangan Abi.

Beberapa kali Elana menepuk dadanya, hingga sorot matanya berubah merah dan menangis. 

"Dadaku sakit banget,,," lirihnya, bahkan cengkraman di pergelangan tangan Abi kian menguat, seiring isak tangisnya yang semakin terdengar pilu. 

Perasaan aneh itu kembali menyeruak di dada Abi. Melihat Elana menangis seolah menahan sakit yang begitu luar biasa, membuatnya iba. Abi melepas genggaman tangan Elana, dan menahan satu tangan Elana yang terus menerus memukuli dadanya. 

Abi menggeleng, begitu mendapat tatapan penuh tanya. 

"Menangislah, dengan begitu sesak di hatimu akan sedikit berkurang. Tapi jangan sakiti dirimu sendiri." 

Elana justru semakin kencang menangis, membuat Abi menarik tubuhnya dan memeluk Elana dengan erat. Di pelukan Abi, Elana menumpahkan segala kesedihannya, dan menangis hingga rasa sesak itu sedikit berkurang. 

"Minum dulu,"  Abi menyodorkan sebotol air mineral yang selalu tersedia di dalam mobil, begitu tangis Elana berhenti. 

"Kemejamu kotor," tunjuk Elana pada kemeja Abi yang basah akibat terkena air matanya. 

"Tidak usah dipikirkan," 

Elana mengambil selembar tisu, mengusap kemeja Abi agar tidak terlihat basah. 

"Nanti aku bersihkan," Abi mengambil alih tisu di tangan Elana dan membersihkan sendiri. Abi tidak ingin degup jantungnya yang semakin menggila diketahui Elana. 

"Mungkin setelah ini, aku tidak bisa mengunjungi Ibu lagi." Elana menghela lemah. Kedua tangannya meremas ujung kemeja yang dikenakannya. 

"Bisa sih,," ralatnya dengan senyum dipaksakan, "Tapi aku harus minta izin suamiku terlebih dahulu." Kini Elana menatap Abi, tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat. 

"Aku akan menikah dengan Rong, akhir bulan ini." Seharusnya Elana menyampaikan kabar bahagia itu dengan penuh suka cita, namun ia justru mengucapkannya dengan nada getir, seolah itu pilihan terakhir di hidupnya. 

"Selamat, itu berita bagus." 

"Benarkah?" Elana justru balik bertanya, sejujurnya ia tidak tau pasti. 

Abi mengangguk pasti, meski hatinya kembali berbohong. 

"Aku tidak pernah melihat wajah Ibuku secara langsung, sejak kecil. Dia pergi di usiaku baru dua tahun. Bahkan aku belum begitu hafal bagaimana wajah Ibuku, tapi dia sudah terlebih dulu meninggalkanku." Sudut bibir Elana dipaksa tersenyum. 

"Semenjak itu, aku hidup berdua dengan Ayah. Dan senjak saat itu pula, aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan mengecewakan Ayah apapun yang terjadi." 

Abi tidak begitu tau Elana semasa kecil dan hari ini untuk pertama kalinya, Elana membuka sedikit demi sedikit rahasia hidupnya. 

"Aku selalu berharap bisa menjadi anak baik, penurut dan bisa dibanggakan Ayah. Aku selalu menuruti semua keinginan Ayah, karena selama ini dia telah menuruti keinginanku untuk tidak menikah lagi." Elana menegakan tubuhnya, mengambil selembar tisu untuk menghapus sisa air mata di wajahnya. 

"Jika pernikahanku dan Rony adalah hal yang paling diinginkan Ayahku, maka aku akan melakukannya." Tidak perlu di jelasakan dengan kata-kata, Elana memang tampak begitu ragu dengan pernikahannya sendiri. 

"Jika aku benar-benar menjadi istri Rony, kamu tidak perlu bekerja lagi denganku. Dalam artian lain, kamu hanya memiliki waktu kurang dari satu bulan lagi bekerja denganku." Hati Abi mencolos begitu kalimat terakhir terucap dari bibir Elana. 

"Kamu masih bisa bekerja di rumahku jika kamu mau." Tawar Elana. Namun justru tawaran itu tidak akan pernah Abi terima, meskipun ia membutuhkan pekerjaan. 

"Tapi sebelum pernikahan itu terjadi, bisakah kamu mengabulkan beberapa keinginanku?" 

"Apa keinginanmu?" 

"Jadi pacarku selama dua minggu, bukan jadi ajudan. Perlakukan aku seperti seorang kekasih," 

Abi mengerjap beberapa kali. Haruskan ia menolak, atau sebaliknya? 

Tapi ini bisa menjadi kesempatan baik untuknya. Menjadi kekasih Elana tentu saja akan sangat menguntungkan, selain hubungan mereka menjadi lebih dekat, juga bisa dipergunakan untuk mencari informasi lebih banyak lagi. 

"Setuju?" Tanya Elana lagi. 

Abi mengangguk, di susul senyum merekah di bibir Elana. Biarlah ia bermain dengan perasaannya, setidaknya untuk dua minggu saja. Begitu juga dengan Elana, ia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang dicintai kekasihnya. Meski ia tahu, menikah dengan Rony atau menjadi kekasih Abi, keduanya sama-sama palsu. 

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • GJX GN 21000000193   chapter 67

    a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a

  • GJX GN 21000000193   chapter 66

    “Do you have everything?” asked Xander.“I think so,” I replied.The kitchen was mostly done and mostly clean. We had two bedrooms painted and ready, the house was starting to take shape. We had decided that there was enough done for us to move into parts of the house. The main corridors were done, not all painted but at least primed.

  • GJX GN 21000000193   chapter 65

    The plane finally above ground and now I can feel the excitement rushing in, I get to travel for basically a month, maybe more. Me getting lost and finding cool things which, I don't mind at all, is probably the most exciting part of the trip.Not going to lie, I will miss everyone back home and walking down the street and getting my afternoon boba drink and eating pizza at the world fair garden but looking at a new scenary is also a good adrenaline rush.I got up from my seat since now it is safe to do so and walked over to the nearest flight attendant."Excuse me but can I sleep in the other room with the bed in it?"She looked over at me and gave me a smile."Of course you can. Was there anything you needed before falling asleep?"I looked at my phone that I was holding in my hand and looked at the bar behind her, more like the kitchen if you asked me."Yeah, could I get a small snack and a hot tea?""Sure. Anyth

  • GJX GN 21000000193   chapter 64

    Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife

  • GJX GN 21000000193   chapter 63

    A cidade já era visível a uns vinte quilômetros, ela ficava no pé da montanha, e o terreno só subia até chegar nela, o pântano permitia uma visão clara do horizonte, e era visível só longe o formato de prédios, algumas luzes muito fracas eram visíveis também.Chegando mais perto formas mais específicas começaram a se distinguir, quanto mais ao centro da cidade mais altos os edifícios, todos de corres parecidas, todos marrons, o mesmo marrom do pântano, o mesmo tipo de terra formava o pântano e era usada como base para construção.Andando em direção a ela não era visível mas do alto podia-se notar a típica forma de design urbano dos Ohla, nas laterais mais ao longe da cidade residências de trabalhadores de grande porte físico, casas altas com portas largas, feita para os lenhadores, quebradores de rocha entre outros, depois uma série de casas bem menores, feitas para os trabalhadores pequenos

  • GJX GN 21000000193   chapter 62

    Chapter 5: NightmaresAtheos POV

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status