INICIAR SESIÓNMalam ini, suasana di sudut kota Jakarta terasa dingin. Mungkin karena sedari pagi, kota ini sudah diguyur hujan. Berita lalu-lalang tentang banjir sudah tak asing lagi di media televisi jika kota ini sudah terkena rain syndrom. Kota yang malang.
Kota dengan tingkat kesenjangan sosial yang bisa dibilang cukup tinggi. Di mana kemiskinan dan kemakmuran terlihat jelas hidup berdampingan, seperti Romeo dan Juliet yang sangat romantis namun sebenarnya tragis.
Bagaimana tidak tragis? Jika keduanya berakhir dengan kematian. Lalu, di mana letak kisah romantis bahagianya? Sudah, lupakan dulu sejenak drama Romeo dan Juliet.
Back to Jakarta. Bagaimana mungkin kota ini tidak tergolong tragis, layaknya kisah Romeo dan Juliet? Coba pikirkan sejenak. Diantara gedung perkantoran pencakar langit dan gedung-gedung apartemen yang tumbuh seperti jamur di musim hujan, mari kita melongok sedikit ke belakang gedung-gedung cantik itu. Deretan rumah kumuh dan pemukiman sempit padat penduduk sudah seperti rumput liar yang tumbuh bebas. Jadi bagaimana? Benar bukan, romantis layaknya Romeo dan Juliet yang lengket seperti perangko? Tapi perbedaan derajat memisahkan dengan jelas kedua kasta dengan begitu tragis.
Kita tinggalkan dulu kisah pelik kota ini, karena di sudut sempitnya Jakarta, ada kisah yang jauh lebih tragis malam ini.
Gerimis yang enggan pulang sangat ampuh mengirimkan dingin yang menusuk tulang. Tapi itu tidak berlaku di salah satu kamar apartemen yang berdiri kokoh dekat pemukiman padat penduduk ini. Kehangatan bergelung dengan kerasnya nafsu, menghantarkan tragedi keji pada sesosok gadis belia bernama Neira. Bermula dari niat baik sang gadis, yang justru berujung petaka.
Gadis ranum berusia tujuh belas tahun itu, kini bagai anak rusa yang sedang meminta belas kasihan pada seekor singa jantan yang lapar. Harapan kosong dan konyol. Di belahan dunia manapun, tidak akan ada singa yang melepaskan makan malam apalagi sudah berada di mulutnya.
Kamar berwarna abu-abu itu menjadi saksi, isak tangis permohonan dan wajah ketakutan yang gadis itu tunjukan, tidak melunturkan niat sang singa untuk melahapnya. Tangan kiri yang kekar itu menahan tangan Neira di atas kepala gadis itu, sedangan tangan kanannya meraba liar pada perut dan juga dua gundukan ranum yang sesekali ia remas dengan tidak sabaran.
Bibirnya terus mengecap dengan fasih leher putih jenjang yang begitu memancing birahinya. Bercak-bercak merah seolah menjadi tanda sakral ritual keji yang akan terjadi malam ini. Rintihan; sedu sedan; bahkan caci maki sang rusa, bukanlah penghalang bagi sang singa jantan, justru terdengar merdu di telinganya.
Hanya dengan satu koyakan, deretan kancing seragam putih abu-abu itu sudah tercerai berai. Menampilkan bongkahan kenyal yang masih bersembunyi di balik bra hitam berenda.
Sang singa gelap mata. Bagai seorang psikopat, ia melepaskan buruannya hanya sekadar agar bisa dia kejar kembali untuk kesenangan permainan.
Neira yang polos. Gadis itu dengan tergesa beranjak dari ranjang lalu merangsek ke pintu, mencoba membukanya yang ternyata pintu itu telah terkunci. Tubuhnya menggigil ketakutan dengan tangan gemetar mencengkeram baju di depan dada. Gadis itu luruh ke lantai, membuat sang singa menyeringai penuh kemenangan.
Lelaki itu berjongkok tepat di hadapannya, menyeringai iblis dengan mata penuh amarah membuat lutut gadis itu semakin lemas.
"Memohon! Ayo ... Memohon." Suaranya tegas penuh penekanan.
Neira berdesis kesakitan, tangan besar lelaki itu mencengkeram rahangnya dengan cukup keras. Kuku-kuku gadis itu menancap di lengan sang singa jantan demi agar lelaki itu melepaskan cengkeramannya.
"MEMOHON!" bentaknya.
Spontan gadis itu terjengkit kaget. Dengan suara yang bergetar dan sisa isakkan tangis, gadis itu memohon.
"Ampun .... " Lirihnya.
Singa jantan tersenyum dengan sangat memukau. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya, lalu dengan lembut menuntun gadis itu untuk berdiri.
"Sakit ya?"
Ia membelai pipi cubie yang mulus itu, bertanya dengan suara sangat lembut seolah tanpa dosa.
Sedetik ....
Dua detik ....
Pria itu diam menatap bibir mungil gadis di hadapannya. Selanjutnya? Ia dengan ringannya mengangkat gadis itu, melemparkan dengan keras ke atas ranjang kembali.
Gadis itu panik, ia histeris. Sekuat tenaga Neira melawan, tapi tenaga tuan singa bukanlah lawan yang sebanding.
Dengan sangat cekatan pria itu melucuti apapun yang menempel di tubuh sang rusa perawan. Mulutnya berceloteh tentang banyak hal, penghianatan; cinta; pernikahan. Entahlah, hal-hal yang Neira sungguh tidak mengerti.
"Ampun ... Ampun ... Ampun ...." Si rusa kecil terus memohon pengampunan. Teriakan minta tolong dari bibirnya seolah hanya di dengar oleh dinding-dinding bisu ruangan ini.
Pria itu menggila, ia menikmati inci demi inci kulit mulus yang berada di bawahnya. Saat satu tetes buliran bening itu jatuh di atas wajah Neira, gadis itu membisu terpaku sejenak oleh wajah yang kini tepat berada di atas wajahnya.
Raut itu, bergambarkan begitu banyak rasa. Ada kesedihan yang teramat sangat di mata pria itu, ada buliran bening mengalir di sana. Tapi rahangnya yang kokoh bergemeretak penuh kemarahan.
Waktu seolah berhenti untuk keduanya. Hanya detik-detik dari jarum jam yang masih terasa berisik di telinga.
Setelahnya ....
Satu hujaman menyeruak masuk begitu saja. Neira terhenyak, ia memejamkan matanya rapat-rapat seiring rasa sakit yang teramat sangat. Bukan hanya pada tubuh intimnya, tapi juga pada lubuk hatinya. Hancur sudah.
Jiwa bagai tercabut dari raga. Gadis itu layaknya mati rasa. Tak ada tangis yang keluar dari matanya yang cantik; tak ada juga jeritan permohonan ampun. Matanya kosong, mulutnya terkunci rapat. Hujaman demi hujaman itu dia rasakan bagai ribuan pedang yang mencabik-cabik raganya, meluluhlantakkan jiwanya, hatinya teramat sakit untuk menangisi nasibnya malam ini. Neira ... Kosong!
Langit malam yang masih mendung; rintik hujan yang kian menderas; serta alunan sunyi detik jarum jam pada dinding yang mendingin, menjadi saksi bisu permainan takdir. Bahwa ia___Takdir___ telah menyulam kembali benang merah kusut antara dua insan, kisah yang terjeda mulai terajut kembali.
Babak baru dimulai. Petarungan antara Neira dan takdir. Kali ini, akankah Neira keluar menjadi pemenang? Time will tell.
***
- Deeta Pratiwi -
Dalam rangkaian kisah panjang ini. Ada begitu banyak hal baik dan buruk yang tersajikan. Keluarga, persaudaraan, cinta, ketulusan, pengorbanan, dan kesetiaan.
Ambil baiknya dan buang buruknya. Semoga nanti dilembar terakhir kisah ini, bisa menjadi alasanmu tersenyum menyambut kerasnya hidup.
Semua memang harus dilewati, dan semua akan baik-baik saja.
🌻 dee.
a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a
“Do you have everything?” asked Xander.“I think so,” I replied.The kitchen was mostly done and mostly clean. We had two bedrooms painted and ready, the house was starting to take shape. We had decided that there was enough done for us to move into parts of the house. The main corridors were done, not all painted but at least primed.
The plane finally above ground and now I can feel the excitement rushing in, I get to travel for basically a month, maybe more. Me getting lost and finding cool things which, I don't mind at all, is probably the most exciting part of the trip.Not going to lie, I will miss everyone back home and walking down the street and getting my afternoon boba drink and eating pizza at the world fair garden but looking at a new scenary is also a good adrenaline rush.I got up from my seat since now it is safe to do so and walked over to the nearest flight attendant."Excuse me but can I sleep in the other room with the bed in it?"She looked over at me and gave me a smile."Of course you can. Was there anything you needed before falling asleep?"I looked at my phone that I was holding in my hand and looked at the bar behind her, more like the kitchen if you asked me."Yeah, could I get a small snack and a hot tea?""Sure. Anyth
Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife
A cidade já era visível a uns vinte quilômetros, ela ficava no pé da montanha, e o terreno só subia até chegar nela, o pântano permitia uma visão clara do horizonte, e era visível só longe o formato de prédios, algumas luzes muito fracas eram visíveis também.Chegando mais perto formas mais específicas começaram a se distinguir, quanto mais ao centro da cidade mais altos os edifícios, todos de corres parecidas, todos marrons, o mesmo marrom do pântano, o mesmo tipo de terra formava o pântano e era usada como base para construção.Andando em direção a ela não era visível mas do alto podia-se notar a típica forma de design urbano dos Ohla, nas laterais mais ao longe da cidade residências de trabalhadores de grande porte físico, casas altas com portas largas, feita para os lenhadores, quebradores de rocha entre outros, depois uma série de casas bem menores, feitas para os trabalhadores pequenos
Chapter 5: NightmaresAtheos POV