Share

chapter 23

Author: gaojianxiong
last update publish date: 2023-12-01 20:00:03

Memasuki bulan ke 7 kehamilan. Dua bulan lagi, dan aku benar-benar akan menjadi seorang ibu.

Perutku makin membesar. Karena badanku mungil, tubuhku tidak terlalu seperti domba bulat. Walau perutku membesar dan membulat. Aku juga bisa melihat, ada urat-urat kecil menjalar di sepanjang perutku. Setelah melahirkan, perutku akan mengkerut dan bervarises. Semoga, Gerald tidak ilfeel lagi dengan tubuhku. Lagian, ini sudah menjadi kodrat setiap wanita yang melahirkan. Aku berencana melahirkan normal. Berharap saja lancar. Aku sudah menantikan detik-detik melahirkan.

Hari ini jadwal pemeriksaan, sekalian mengetahui posisi bayi. Semoga, sudah pada posisi yang semestinya. Aku takut, banyak drama seperti pengelaman ibu-ibu yang lain. Apalagi ini pengelaman pertamaku, yang bisa membuat aku tak bisa berbuat banyak kecuali pasrah dengan keadaan.

Aku dan Gerald memeriksa ke dokter hari ini, karena dia penerjemah otomatis. Salju masih saja turun, bahkan volumenya tak berkurang sama sekali. 2 bulan lagi, akan berakhir dan Kelsea akan lahir di musim semi. Semoga, anakku secantik musimnya. Walau tidak diragukan lagi, dia berasal dari bibit terbaik.

Aku tersenyum, membayangkan anakku yang lahir dengan rambut pirang, hidung mancung, dan muka blasteran, seperti artis-artis blasteran yang cantik-cantik. Pasti sangat cantik. Ya Tuhan, tidak sabar aku untuk memeluk anakku yang cantik. Dan ketika Kelsea besar, dia harus bisa menyesuaikan dua bahasa sekaligus, bukan hanya bahasa, tapi juga perbedaan budaya yang sangat jauh, tapi akan dijadikan sebagai banyak pengelaman untuk mereka.

"Nggak usah, senyum-senyum makin jelek."  tegur Gerald. Aku hanya manyun. Dia takkan suka melihatku bahagia. Mungkin Gerald senang melihatku menderita, apa Gerald psikopat? Tapi kenapa dia tidak membunuhku sedari dulu?

"Berarti selera kau jelek, kau kan suka sama aku?" jawabku tak mau kalah. Gerald membuat moodku yanh sedang bagus-bagusnya langsung merosot.

"Suka? Hah! Aku nggak suka, tapi cinta mati." aku langsung berhambur, memeluk pasangan hidupku. Lelaki-ku. My hero, and always be my hero. Bucin ketemu bucin, beginilah jadinya.

Lalu aku tersenyum, dan menutup mataku dan membentuk tangan dua jari membentuk huruf V. Seperti anak alay zaman sekarang. Walau kadang, kisah hidupku lebih norak dari orang lain. But hey, this is my life. My own life, that I was undergo. And I'm happy with that. I deserve to be happy. Just hope.

Hari ini, aku memakai jaket tebal berwarna hitam. Karena, masih musim dingin. Tapi aku tak lagi memakai celan atau leggings, karena rasanya sesak. Aku hanya memakai dress longgar agar tidak menjempit anakku dan tak juga merasa sesak.

"Gerald, pulang kamu ajak aku jalan-jalan dong. Sedih aku tuh, nggak pernah diajak jalan. Apalagi diromantisin. Aku mau kesini, mau jalan-jalan juga lihat negara orang yang cantik, bukan berkurung terus dalam kamar. Boleh ya, suami Rara yang tampan." aku membujuk Gerald. Walau respon wajahnya mengesalkan seperti biasa.

"Aku bukan lelaki seperti itu."

"Nggak mau tahu, pokoknya bawa aku jalan. Kapan lagi, bisa jalan berdua di negara orang."

"Ini negaraku!" jawabnya enteng. Tanpa mempedulikan perasaanku yang masih terluka, karena belum menerima Gerald lebih memilih Jerman daripada negaraku. Ingin kujambak rambutnya, dia terlalu sombong dengan negaranya. Aku sumpahin, Indonesia akan jadi negara maju dan bisa mengalahkan Jerman. Aku akan menggejek Gerald. Aku adalah rakyat yang pertama kali merayakannya, karena kesongongan Gerald yang terlalu berlebihan.

"Awas kau ke Indonesia, dan bangga sama kecantikan Indonesia."

"Indonesia juga negaraku."

"Serakah!"

"Aku bukan serakah. Tapi aku memiliki dua kewarganegaraan ganda. Jadi, aku cinta dua negara ini."

"Tapi, kamu memilih Jerman. Kamu memang nggak sayang aku 'kan?" suaraku melemah. Aku masih berharap Gerald berubah pikiran. Dan memilih kewarganegaraan Indonesia saja. Agar, bisa satu warga negara biar tak ribet. Karena jika beda, semua anak kami akan bernasib sama seperti Gerald, dan membuat mereka terombang-ambing.

"Jangan membahas sesuatu yang berujung pertengkaran. Kamu yang memulai semuanya, selanjutnya menyalahkan aku semua." ujar Gerald, penuh penekanan.

Aku jadi manyun. "kan cewek selalu benar."

"Bundamu selalu benar."

Aku menatap Gerald garang. "fuck you man! Jangan kau bawa-bawa bundaku sialan!"

Gerald menepuk mulutku. "Aku udah bilang, mulutmu jangan kasar. Mau jadi apa anaknya, kalau mulut ibunya lemes?"

"Aku benci kamu selalu menjelekan bundaku. Apa kamu pernah lihat, aku jelekan vater-mu? Nggak pernah! Malah aku selalu memuji vater kamu. Jadi, begitu hinanya bundaku di matamu?" kataku tenang, padahal dadaku bergemuruh siap meledak. Ingin menamparnya lagi. Dia seperti lelaki haus belaian, padahal tadi malam dia sudah mengambil jatahnya.

Cit...  Gerald menggerem mendadak. "Apa yang kamu maksud hina? Bukannya terbalik? Aku nggak pernah dianggap di mata bundamu? Semua kesialan yang terjadi dalam hidupmu karena berasal dari aku, begitukan aku di mata bundamu. Selalu penuh salah!" jawab Gerald tak mau kalah. Mood dia sedang senang untuk melayaniku. Baiklah, mari kita bereskan ini, alias ayo aku akan layanin mulut Gerald, mau sampai mana dia.

"Itu fakta sialan! Makanya, kau jangan jahat-jahat sama aku. Bunda itu memanjakan aku, dan saat kau hadir, kau selalu membuat hari-hariku buruk. Jadi, sangat wajar orang tua bersikap seperti itu." aku membela diri. Aku paling panas, dan paling tak bisa diterima, bundaku dijelek-jelekkan, tanpa bukti yang valid, alias semua hanya tuduhan semata. Bundaku melakukan semua ini karena bunda sayang sama aku.

"Oh, aku tahu. Karena, kamu nggak pernah mendapat kasih sayang orang tua. Makanya, kamu nggak tahu rasanya dimanja dan mendapat kasih sayang orang tua." tambahku lagi. Aku benar-benar gondok sekarang. Peduli setan, jika Gerald sakit hati mendengarnya. Dia selalu menjelekan bundaku.

"Kamu bodoh! Itu bukan kasih sayang, itu dikekang. Diatur semua hidupmu. Asal kamu tahu, hubungan yang terlalu diikut campuri oleh orang tua, biasanya berakhir pisah." jelas Gerald. Aku hanya diam, terkadang dia banyak benarnya. Tapi, aku tidak bisa menerima Gerald sialan ini menjelekan bundaku. Dia pasti tidak terima, aku menjelekan bundanya. Padahal, bunda mertua baginya. Orang tua baginya, sebagai pengganti bundanya.

Terjadi kesunyian, di dalam mobil. Aku sudah lelah berdebat. Karena, tidak ada akan menemukan hasil siapa benar siapa salah. Lebih drama dari sengketa pemilu di Indonesia dulu.

"Muka kamu pucat."  tegur Gerald. aku hanya menoleh ke arah Gerald, tanpa minat. Mengeluarkan kaca dan bercermin. Gerald bego! Gue hamil, jadi wajar kalau pucat. Apalagi hamil tua, wajahnya pasti pucat.

"Iya? Tuh kan. Karena, kamu mengajak berdebat yang nggak ada hasil, lihat nih, muka aku pucat. Besok-besok kamu ajak debat lagi, aku akan mati." ujarku sok dramatis, biar Gerald sedikit insyaf.

"Makin ngawur nih cewek!"

"Aku istrimu gila."

"Ok. Aku punya istri gila." jawab Gerald tanpa beban. Aku menatap tajam, ke arahnya. Aku merasa seperti ada asap-asap yang keluar dari telingaku. Layaknya kartun Tom & Jerry. Dan sebentar lagi meledak mobil ini. Aku masih memperhatikan Gerald, mengepalkan tanganku. Siap, sedi--

"Nggak, Rara paling cantik dan imut. Makanya aku mau samu dia." posisi duduk yang tegak tadi mau meledak, langsung lemah. Aku kembali menyandarkan belakangku.

"Aku harus mengingatkan kamu, bahwa dulu kamu yang mengejar-ngejar aku. Yang sok nyosor ke aku."

"Nggak nyambung Rara pendek."

"Aku nggak pendek lagi. Tapi pendek gendut, kayak ikan buntal. Puas kamu?"

"Kamu jangan membuatku tertawa. Nanti, kamu marah sama aku. Padahal kamu sendiri yang membuat lelucon." protes Gerald.  Sambil menahan tawanya. Dia sepertinya sangat senang, aku jelek dan kepayahn.

"Siapa suruh kau ketawa. Orang ini fakta juga. Makanya, kau jangan sering minta jatah! badanku jadi jelek semua sekarang."

"Justru sekarang lebih enak. Lebih empuk."

"Boleh, aku tendang kamu ke sungai Am Main suamiku yang tampan?" tanyaku, dengan sinis. Ingi mengeluarkan racun dari mulutku, tanganku sudah sangat siap menendang bokong Gerald jauh hingga planet Saturnus.

Cup!

Gerald mencium pipiku. Dia tahu aku tidak akan berkutik, jika dia mencium pipiku. Karena, aku akan malu-malu seperti ABG ingusan yang masih labil.

Aku hanya tersenyum, dan menatap keluar malu-malu, seperti orang yang baru kasmaran. Basi!

Dan Rara bersikal bodoh lagi. Yang membuat Gerald akan bersikap semena-mena padaku.

***

"Saat ini, posisi kepala bayi sudah berada di bawah panggul. Sudah mencari jalan keluarnya. Melakukan senam hamil atau olahraga lain seperti berjalan, berenang dan prenatal yoga agar badan tetap bugar hingga waktu persalinan." jelas dokter. Salah, kata Gerald karena dia yang menerjemahkan. Aku bisa melihat anakku di depan layar, sudah berbentuk manusia mini yang menggemaskan. Dia sedang bergerak-gerak. Cepat keluar Kelsea sayang. Mommy menantimu. Aku akan merasa menjadi ibu yang sempurna setelah anakku lahir.

"Kalau senam ranjang?" tanya Gerald. Ingin kutampol wajah Gerald di depan dokter ini.

"Boleh, asalkan tidak mengalami penyakit sebelumnya seperti : Memiliki riwayat kelahiran prematur. Memiliki riwayat keguguran. Pernah mengalami pendarahan selama masa kehamilan.

Memiliki riwayat ketuban pecah dini (kebocoran air ketuban). Mengalami plasenta previa yaitu sebuah kondisi di mana plasenta menutup jalan keluarnya janin (berada di sekitar pintu serviks). Mengalami inkompetensi serviks yaitu kondisi leher rahim (pintu serviks) terbuka lebih awal tanpa adanya kontraksi." aku suka dengan dokter di sini, Sangat jelas dan mendetail hal yang dijelaskan. Jadi, bagi orang awam dan pemula sepertiku. Langsung menangkap yang dimaksud.

"Saya pernah mengalami pendarahan sewaktu keguguran dan hampir keguguran." jelasku.

"Wah, saya sarankan jangan. Walau boleh, asal mengambil posisi menyamping. Dan bisa menanggung risiko yang terjadi nanti." bulu kudukku meremang. Jangan sampai Gerald nekat. Bisa bahaya anakku. Karena jika nafsu Gerald sudah datang, ia bisa kalap dan membahayakan nyawaku dan anakku.

"Harus juga perhatikan keadaan ibu dan anak. Jika ibu dan anak sehat boleh saja." tambah dokter.

Yes! Aku terbebas dari kukungan nafsu liar Gerald. Selamat berpuasa Gerald! Aku hanya tertawa puas dalam hati. Kau rasakan sekarang!

Tunggulah, tahun depan. Hahaha.

Entah kenapa, aku jadi mendadak gila happy. Gerald akan berpuasa panjang, dan aku bisa membayangkan bagaimana menderitanya wajah dia ke depan.

Sepanjang perjalanan, aku berbunga-bunga. Kontras sekali dengan manusia di sampingku yang hanya menekuk masam wajahnya. Kalian sudah tahu alasan yang tepatnya.

Dokter juga berpesan, agar sering memeriksa kandungan 2 minggu sekali. Jika, ada lagu bahagia yang bisa menggambarkan keadaan hatiku, lagu yang semangat dan gembira. Maka itu adalah keadanku sekarang. Aku bahagia dan Gerald menderita. Kau rasakan it. Mari kita rayakan bersama.

Aku merasa seperti baru terbebas dari, sebuah hukuman yang telah lama kujalani. Katakanlah aku jahat. Tapi semua ini demi kebaikanku dan keselamatan bayi kami.

"Jadi, kamu ngajak aku jalan kemana?" Gerald hanya diam.

"Gerald?"

"Satu... dua... ti..."

"Pulang!" tandas Gerald.

"Kamu udah janji. Aku nggak mau pulang sebelum kamu bawa aku jalan." renggekku seperti anak kecil.

"Ini di jalan."

"Ke tempat hiburan bodoh!"

"Ngomong sekali lagi kutampar mulutmu!" waoh, dia benar-benar marah.

"Maaf." cicitku pelan.

Aku mendadak takut dengan aura Gerald yang menyeramkan. Aku hanya memandang keluar. Melihat keluar, salju yang masih turun sedikit-sedikit. Walau tumpukan salju masih banyak. Aku sadar, kadang terlalu keterlaluan. Kurang ajarku kelewatan. Dia suamiku, seharusnya aku menghargainya. Jika bukan aku yang menghargai Gerald, siapa lagi. Pantas saja bunda tidak menghargai Gerald semua karena sikapku terhadap Gerald. Aku benar-benar istri yang durhaka dan tak berguna.

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku merutuki kebodohanku.

Jika, bersama orang lain pasti aku sudah dicampakkan. Apalagi manusia sesempurna ini yang dibandingkan dengan aku yang biasa saja. Bodoh kau Rara! Kenapa baru menyadari sekarang. Kemana aja, selama satu tahun ini. Sudah satu tahun Aku mengenal lelaki ini. Lelaki yang menjungkir balikan duniaku dan membuat duniaku berwarna yang awalnya duniaku hanya datar-datar saja.

Sadarlah Rara, jangan sampai sifat kasarmu membuatnya menjauh dan berpaling. Aku tak bisa bayangkan ini terjadi. Aku tidak bisa hidup tanpa lelaki ini. Dia separuh napasku.

Air mata, sudah berkumpul di pelupuk mataku. Aku menoleh ke arah Gerald. Lelaki tampan ini, sudah berapa kali aku menyumpahinya. Berkata kasar padanya, membuat kekerasan fisik padanya. Walau ia tak pernah berbuat kekerasa fisik padaku. Dia tak pernah balas dengan fisik jika aku kasar padanya, padahal dia bisa melakukannya dan banyak kesempatan. Tapi Gerald menahan semuanya, demi diriku. Tapi aku terlalu sering menjadi manusia yang tak pernah bersyukur.

"Gerald ...  maafkan Rara. Rara, sering kasar sama Gerald. Apalagi memaki-maki Gerald." air mataku banjir.

Gerald menepikan mobilnya. Aku masih sesenggukan. Ingatkan aku, agar tidak kasar lagi terhadapnya. Dia mengangkat daguku, aku hanya melihat ke arahnya dengan air mata yang masih meleleh. "Ayo kita." Gerald menggantungkan ucapannya, aku jadi penasarang sekaligus takut. Aku menatapnya dengan air mata penuh dan menggigit bibirku, aku takut.

"Kita apa?"

"Kita... " aku semakin takut, semua pikiran negatif merasuk dalam pikiranku. Pasti dia mau minta pisah. Gerald pasti sudah muak bersamaku.

Ok, harga diriku mahal. Harga diriku tak boleh jatuh di hadapannya. Biar aku yang memutuskan duluan.

"Ok, Rara yang mutusin duluan. Ayo kita pisah!"

____________________________________

Siapkan hati kalian nanti, karena banyak part yg nyesek sampe tamat nanti.

Karena aku sudah merancang ini cerita angst.

Kasih rate ya bebeh💖💖💖

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GJX GN 21000000194   chapter 67

    a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a

  • GJX GN 21000000194   chapter 66

    Things had gone relatively well for us since we’d moved in. I was spending a lot of my free time painting walls and ceilings.Xander had given me carte blanche when it came to decorating, which was nice, and not once did he say, or even appeared not to like my choices colours, so I went a little wild. I’m not really used to be given so much freedom, beyond that, he’s turning into a great enabler.

  • GJX GN 21000000194   chapter 65

    Zenobex Corporation "Young master, it's time for lunch," said Matias.

  • GJX GN 21000000194   chapter 64

    Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife.The night had given way for the day by the time Imose was through with sweeping the large compound. She went into her father's hut to greet him. She saw him seated on his rafter chair inhaling snuff

  • GJX GN 21000000194   chapter 63

    A cidade já era visível a uns vinte quilômetros, ela ficava no pé da montanha, e o terreno só subia até chegar nela, o pântano permitia uma visão clara do horizonte, e era visível só longe o formato de prédios, algumas luzes muito fracas eram visíveis também.Chegando mais perto formas mais específicas começaram a se distinguir, quanto mais ao centro da cidade mais altos os edifícios, todos de corres parecidas, todos marrons, o mesmo marrom do pântano, o mesmo tipo de terra formava o pântano e era usada como base para construção.Andando em direção a ela não era visível mas do alto podia-se notar a típica forma de design urbano dos Ohla, nas laterais mais ao longe da cidade residências de trabalhadores de grande porte físico, casas altas com portas largas, feita para os lenhadores, quebradores de rocha entre outros, depois uma série de casas bem menores, feitas para os trabalhadores pequenos,como coletores, pescadores entre outros, os prédios mais ao ce

  • GJX GN 21000000194   chapter 62

    Wizkid's samba started playing and Shewa started crooning her finger at me to get me to come and dance.I shook my head but she insisted and dragged me up from my seat.I quickly ran behind Titi and shouted that she should help me. She took mercy on me and shielded me from Shewa. Before long Shewa got distracted.During the 'Sare wa gba' part, Shewa would run forward and back, then she followed it up with whining down low. She stood still for a few seconds, then started kick turning during samba.Kemo took notice and quickly supplied a dance step that would follow after. She bent slightly and turned her knee inward, biting her tongue as she danced.We all started brain storming the dance steps that would look good but would still be simple enough for the majority to do.The song was played on repeat and by the third listen, we had constructed an entire choreo though it was still rough around the edges.We were no longer required to pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status