Share

chapter 41

Author: gaojianxiong
last update publish date: 2023-12-02 01:01:51

PoV. Author

Para tamu undangan telah pulang menyisakan keluarga inti mereka. Putri berpamitan dengan Ibu dan Ayah Azka. Berbeda dengan Rubbi yang justru mengambil kesempatan untuk mendekati Azka.

"Mas, besok jalan yuk?"

"Hmm besok? Nanti deh Mas kabarin lagi."

Senyum Rubbi melebar dengan sempurnanya sesaat mendengar jawaban tersebut. Ia merasa Azka masih mementingkan dirinya di bandingkan dengan Putri. Rubbi mengulas senyum tipis yang terlihat sangat berbeda dengan sikapnya saat ini.

Mamah Rama mendengus menatap Rubbi dengan sinis dari tempatnya. Ia sudah tahu ada hubungan terlarang antara sahabat anaknya itu dengan gadis licik itu, ia sempat melihat mereka saat sedang berlibur di UK bersama teman-temannya. Ia benar-benar tak suka dengan Rubbi yang berani bermain di belakang Putri, begitu juga Azka yang tega membohongi Putri. Mereka akan aku kasih pelajaran! Biar terbuka mata hatinya.

***

Suasana di dalam mobil Azka begitu sunyi. Putri terus menatap keluar jendela, sementara Azka sesekali melirik Putri seperti ingin mengatakan sesuatu. "Udah berhenti kerja di cafe itu, kan?" Tanya Azka akhirnya. Putri menoleh menatapnya tak suka. "Nggak lah, kalau aku berhenti ongkos, makan setiap hari dari mana," dengus Putri kesal. "Oh. Jadi cuma masalahnya uang?" Tanya Azka seolah-olah itu hanya hal remeh, dan itu berhasil membangkitkan rasa marah dalam diri Putri yang sudah ia tahan sejak tadi. "Ya iyalah!! Kamu segampang itu ngomong cuma.. kamu gak lupa kan udah motong gaji aku?!" Sembur Putri.

"Kamu tetap harus berhenti." Ujar Azka santai.

"Kamu nggak usah atur-atur aku!!" Bentak Putri dengan wajah yang memerah.

"Aku suami kamu!" Balas Azka sengit.

"Cuma diatas kertas." Ucap Putri sambil memalingkan wajahnya keluar jendela. Cit...!!! Azka dengan tiba-tiba menghentikan mobilnya. Ia tak suka yang Putri ucapkan barusan.

Putri menatap Azka yang kini terlihat sangat marah. Alis Putri mengernyit menatap bingung reaksi Azka yang di nilainya berlebihan.

"Kamu ngelawan terus!" Azka mencengkeram setir mobilnya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kenapa? Mau bilang, aku heran kalian saudara tapi kamu sama Rubbi itu bed...," Ucapan Putri terputus saat dengan tiba-tiba Azka mendekat kan wajah nya membuat Putri menegang, ia sangat gugup saat merasakan harum maskulin dari parfum yang di pakai Azka masuk ke indra penciumannya. Dengan mengandalkan nalurinya Putri memilih memejamkan matanya. Azka yang melihat Putri memejamkan matanya tersenyum sebelum kembali ketempat duduknya.

Putri masih memejamkan matanya menunggu apa yang akan dilakukan Azka selanjutnya, namun nihil. Suara mesin mobil menyadarkannya jika ia baru saja berhasil dikerjai Azka.

"Buka matamu," Azka terlihat menahan tawanya.

Putri merasakan dirinya sangat malu, dengan cepat ia alihkan pandangannya keluar jendela. Gilang mendengus lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa gugup yang berusaha ia tutupi. Kali ini ia harus tenang agar Putri mau mengikuti kemauannya. "Aku punya penawaran, aku bakal kasih kamu mobil dan karti kredit, asal kamu berhenti dari cafe itu dan balikin motor yang di kasih pinjam Rama itu," Azka menatap Putri serius. "Aku juga bakal berhenti motong gaji kamu, dan ingat kartu kredit itu bukan untuk belanja sembarangan. Hanya kebutuhan mendesak." Putri menatap Azka dengan tidak percaya. Ditariknya kedua telinganya, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya barusan.

"Kamu paham?!" Putri menatap Azka dengan takut, ini beneran Azka buka si? Kok seram ya?" Putri bertanya-tanya sendiri dalam hati. I_iya." Jawab Putri dengan nada tergagap ia pun langsung mengangguk cepat takut Azka berubah pikiran. Kapan lagi ia dapat tawaran bagus begini. "Ehm. Bagus!" Azka berucap.

***

Benar saja, keesokan harinya Azka benar-benar melakukan apa yang mereka sepakati semalam. Masih pagi-pagi sekali sebuah mobil berwarna merah sudah terparkir dengan anggunnya di parkiran gedung apartemen. Azka bahkan langsung memberikan kunci mobil nya ke telapak tangan Putri.

Dengan buru-buru Putri meraih ponselnya mengirimkan pesan singkat pada Dimas kalau ia berhenti bekerja, sesuai kesepakatannya oleh Azka. Tak ketinggalan ucapan terima kasihnya atas segala kebaikan Dimas selama ini. Putri jadi bertanya-tanya dalam hati, kenapa Azka bisa berubah sedrastis itu dalam semalam. Apa ada rencana balas dendam? Putri menggelengkan kepalanya, sepertinya ia terlalu banyak berpikir. Yang penting sekarang hidupnya sudah tidak susah lagi.

Putri bersenandung di setiap kegiatannya, ia merasa begitu lega. Seolah baru saja keluar dari penjara bawah tanah dan sekarang bisa menghirup udara bebas. Ia akan membeli kebutuhan sekolah anak jalanan yang masih kurang.

***

Putri melirik sebentar jam di tangannya yang menunjukan jam makan siang telah tiba. Putri menengok kubikel disebelahnya tempat Mitha bekerja. Ternyata Mitha masih begitu asyik dengan layar komputer di depannya. Putri bangun dari kursinya, namun suara seseorang yang baru saja masuk mengagetkannya. "Ya ampun Putri! Kamu kok kerja di bagian ini sih?!" Mata Mamah Rama mengitari sekeliling ruangan dengan kening berkerut tajam. Mitha yang sedang bersiap untuk makan siang pun kini berhenti dan menatap wanita paruh baya yang terlihat modis di dalam ruangan kerja mereka itu.

"Kamu gimana si Putri, kamu kan ist....," Putri langsung memegang lengan mamah Rama. Putri memberi sebuah kode dengan matanya untuk tidak mengatakan apapun. "Sst.. gak ada yang tahu aku istri Azka, Tante." Bisik Putri sekilas melirik Mitha yang masih menatap mereka penasaran. Mamah Rama langsung membentuk huruf O di mulutnya saking terkejutnya. Dasar Azka anak bodoh!, Maki Mamah Rama dalam hati. "Ya udah deh, kita makan siang aja, yuk?" Ajak Mamah Rama.  Putri langsung mengangguk mengajak Mitha yang sedari tadi hanya diam melihat ke arah mereka.

***

Ternyata Mamah Rama mengajak mereka makan di kantin khusus petinggi perusahaan. "Kalian pesan aja sepuas kalian, biar Tante yang bayar. Oke?!" Seru Mamah Rama ceria. "Oke Tante!" Balas Putri dan Mitha penuh semangat. Mamah Rama memang ajaib, tingkahnya seperti anak muda saja. Saat makan tiba mereka makan dengan diselingi obrolan dan sesekali tertawa.

Azka dan Rama masuk ke dalam kantin. Keduanya terlihat terkejut mendapati kehadiran Mamah Rama di sana. "Mamah?" Rama menghampiri Mamahnya. "Sayangnya Mamah." Mamah Rama mencium pipi anaknya dengan sayang. Mitha langsung membulatkan matanya, ternyata wanita paruh baya ini Ibunya Pak Rama. Pantas saja ia membawanya  dan Putri ke kantin ini, pikir Mitha.

"Mamah ngapain?" Tanya Rama yang di jawab langsung oleh Mamahnya, "ya makan dong sayang, udah deh sana kamu gabung sama Azka, ngomelnya nanti di rumah ya.." Rama menggeleng melihat tingkah Mamahnya dan segera bergabung dengan Azka yang duduk berjarak hanya dua meja saja dari meja Mamahnya.

Saat mereka mulai makan, suasana berubah hening saat Mamah Rama berbicara cukup keras. "Putri itu cocok ya sama Rama, ya kan Mith?" Ucap Mamah Rama sambil melirik Azka terang-terangan. Azka yang mendengarnya langsung meminum air di mejanya. "Iya kan, Mitha?" Tanya Mamah Rama lagi. Anggukan Mitha seketika membuat Azka membanting sendok di tangannya. Membuat Putri, Mitha, dan Mamah Rama menatap kearahnya. Azka tersenyum dengan sangat terpaksa lalu meminta maaf. "Maaf, silahkan di lanjutkan," ucapnya.

Sementara Rama merasa segan dan senang secara bersamaan, segan karena ia sadar perasaannya adalah salah, namun rasa senang juga begitu terasa jika saja semua perkataan Mamahnya bisa menjadi nyata. Putri juga heran dengan Mamah Rama yang terus mencocok-cocokannya dengan Rama di depan Azka. Alis Putri bertaut memikirkan ada alasan apa di balik sikap Mamah Rama yang unik ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GJX GN 21000000194   chapter 67

    a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a

  • GJX GN 21000000194   chapter 66

    Things had gone relatively well for us since we’d moved in. I was spending a lot of my free time painting walls and ceilings.Xander had given me carte blanche when it came to decorating, which was nice, and not once did he say, or even appeared not to like my choices colours, so I went a little wild. I’m not really used to be given so much freedom, beyond that, he’s turning into a great enabler.

  • GJX GN 21000000194   chapter 65

    Zenobex Corporation "Young master, it's time for lunch," said Matias.

  • GJX GN 21000000194   chapter 64

    Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife.The night had given way for the day by the time Imose was through with sweeping the large compound. She went into her father's hut to greet him. She saw him seated on his rafter chair inhaling snuff

  • GJX GN 21000000194   chapter 63

    A cidade já era visível a uns vinte quilômetros, ela ficava no pé da montanha, e o terreno só subia até chegar nela, o pântano permitia uma visão clara do horizonte, e era visível só longe o formato de prédios, algumas luzes muito fracas eram visíveis também.Chegando mais perto formas mais específicas começaram a se distinguir, quanto mais ao centro da cidade mais altos os edifícios, todos de corres parecidas, todos marrons, o mesmo marrom do pântano, o mesmo tipo de terra formava o pântano e era usada como base para construção.Andando em direção a ela não era visível mas do alto podia-se notar a típica forma de design urbano dos Ohla, nas laterais mais ao longe da cidade residências de trabalhadores de grande porte físico, casas altas com portas largas, feita para os lenhadores, quebradores de rocha entre outros, depois uma série de casas bem menores, feitas para os trabalhadores pequenos,como coletores, pescadores entre outros, os prédios mais ao ce

  • GJX GN 21000000194   chapter 62

    Wizkid's samba started playing and Shewa started crooning her finger at me to get me to come and dance.I shook my head but she insisted and dragged me up from my seat.I quickly ran behind Titi and shouted that she should help me. She took mercy on me and shielded me from Shewa. Before long Shewa got distracted.During the 'Sare wa gba' part, Shewa would run forward and back, then she followed it up with whining down low. She stood still for a few seconds, then started kick turning during samba.Kemo took notice and quickly supplied a dance step that would follow after. She bent slightly and turned her knee inward, biting her tongue as she danced.We all started brain storming the dance steps that would look good but would still be simple enough for the majority to do.The song was played on repeat and by the third listen, we had constructed an entire choreo though it was still rough around the edges.We were no longer required to pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status