Mag-log in"Dan sekarang ... aku akan membunuhmu, Sweetheart," bisik Freeze tepat di telingaku, yang entah sejak kapan ia sudah berdiri di belakangku. Sementara sebelah tangannya memeluk pinggangku, tangan yang lain sudah menodongkan sebuah pisau tepat di belakang punggungku.
---------------------------------
"Bercanda!" Dengan entengnya Freeze membuang pisaunya begitu saja. Ia membalik tubuhku hingga berhadapan dengannya.
"Bagaimana mungkin aku bisa membunuhmu?" gumamnya sebelum ia mendaratkan sebuah ciuman padaku.
Apa ini?
Apa maksud dia menciumku?
Apakah ia berniat mempermainkanku lagi?
Segera, aku mendorong tubuh Freeze. "Jangan.pernah.menyentuhku.lagi."
Entah perasaanku atau bukan, tetapi jelas sorot mata Freeze langsung berubah. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan tetapi tak lama kemudian ia menyeringai.
"Mana yang akan kau pilih? Menyerahkan diri dan keluar dari sini dalam kondisi baik atau ...," Entah dari mana Freeze sudah memegang handgun. Ia menodongkan senjata itu tepat ke arahku. " ... mati?"
Aku menggertakkan bibir. Kedua tanganku sudah mengepal erat. "Aku akan membunuhmu."
"Baby, itu bukan pilihan yang kuberikan." Freeze terkekeh kecil. Aku hanya diam.
"Jika boleh memberi saran, lebih baik kau memilih nomor satu—" ucapan Freeze menggantung. Ia menatapku sedikit lebih lama. "Tidak?" Ia menggeleng. "Jadi kau lebih memilih untuk mati?"
"Kau yang akan mati," jawabku singkat, membuat Freeze tertawa.
"Cobalah."
Aku terkejut saat Freeze melemparkan sebuah pisau lipat padaku. Refleks, aku pun menangkapnya.
"Kill me," seringainya. Ia bahkan tak segan membuang handgun-nya begitu saja.
"Sekarang, Vaea, sebelum aku berubah pikiran!"
Tepat setelah Freeze menyerukan kalimat itu, aku merangsek maju. Mencoba sekuat tenaga melawan pria itu.
"Kau menipuku," desisku di sela seranganku. "Kau bukan psikopat."
"Tentu saja bukan," jawab Freeze, dengan lihai terus menghindari seranganku.
Aku terus menyerangnya. Menendang, mencoba menusuknya, meninjunya tetapi Freeze bisa menghindar dengan baik.
"Hanya inikah kemampuanmu? Kau.sangat.payah."
"Diam kau!" Tubuhku memutar, menendangnya dan berhasil! Tendanganku mendarat tepat di ulu hatinya.
Freeze menggeram rendah. Ia menatapku lalu tersenyum miring. "Cukup bagus."
Lagi, aku merangsek maju. Bergerak ke sarung pahaku dan meraih pisau terakhirku yang berada di sana. Aku melempar ka arahnya tetapi Freeze lebih cepat menghindar.
Kini, hanya tersisa satu pisau dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Aku menusuknya di samping kanan, Freeze menghindar ke samping kiri.
Aku menusuknya ke samping kiri, Freeze menghindar ke samping kanan.
Aku menusuknya ke depan, ia menunduk.
'BUAGH!'
Aku menyeringai saat lututku berhasil mengenai dagu Freeze. Ia terjembab ke belakang lalu mengumpat. Ia segera berdiri saat aku berlari untuk langsung menusuknya.
"Baiklah, kali ini aku akan serius—"
"Brengsek kau, Grevio!" Teriakan Gabriel membuat aku langsung menoleh ke samping. Tak lagi mempedulikan ucapan Freeze yang menggantung di udara.
Mataku terbelalak sempurna melihat tubuh Xion ambruk ke lantai dengan kepala yang berlubang.
"Sial!" Aku hendak menyerang Grevio yang berada lebih dekat pada Gabriel tetapi Freeze menghalangi jalanku.
"Sudah kubilang urusanmu adalah denganku."
Tanganku mengepal kuat. Tanpa pikir panjang aku menyerang Freeze lagi. Aku memaksakan diriku untuk bergerak dan menyerangnya lebih cepat dan lebih kuat.
Aku harus bisa.
'BRAK!'
Gerakanku terhenti dan lagi-lagi terbelalak melihat Grevio telah memukul Gabriel dengan sebuah tabung kaca tebal.
Darah segar mengalir membasahi pelipis dan dahi Gabriel. Tetapi gadis itu terlihat tidak peduli.
Ia justru sibuk mengucapkan sesuatu pada Vernon dan menyentuh leher Vernon yang sejak tadi mengeluarkan darah.
Wajah Vernon semakin memucat. Ia menatap Gabriel dengan senyuman tipis dan mengatakan sesuatu.
Aku mencintaimu, El.
Tatapan Vernon meredup. Perlahan, ia menutup mata dan Gabriel menangis hebat.
Tanpa sadar, kakiku melangkah mundur. Tubuhku terasa lemas.
Tidak. Ini tidak benar. Ia tidak mungkin mati.
" ... Ea ... Va ... Vaea ... Sadarlah! Vaea!"
Aku tersentak. Freeze mengguncang tubuhku dengan keras. Ia menatapku penuh khawatir.
Dan detik itu juga kebencianku pada pria itu menumpuk.
Dengan cepat, aku melayangkan tusukan ke arahnya. Ia menghindar.
Terlambat.
Perut Freeze tergores panjang. Kaus hitamnya robek dan basah karena darah.
Aku kembali menyerangnya. Ia mencoba menghindar.
Aku sama sekali tidak peduli saat ia meringis kesakitan karena lukanya.
'Sreet'
"Akh!"
Freeze berhasil menangkap satu tanganku dan memelintirnya ke belakang. Pisauku terjatuh.
Mencoba menggerakkan tanganku yang lain, Freeze menangkapnya dan lagi-lagi memelintirnya ke belakang. Kini tubuhku benar-benar terkunci.
"Lepaskan aku," geramku sembari memberontak.
"Tidak," jawab Freeze dengan napas sedikit tersengal. Bau anyir darah segar tercium di indera penciumanku. Tetapi hal yang membuatku bingung adalah kali ini aku tidak menyukainya.
"Lepaskan aku, sialan!"
"Kenapa?" tanya Freeze. "Kau benar-benar ingin membunuhku?"
Aku tidak menjawab karena perhatianku teralih ke arah Gabriel yang masih terisak. Grevio, berjalan ke arah gadis itu dan mengangkat handgunnya.
"Tidak! Gabriel!"
DOR!
To Be Continued ...
******
Kupikir akan tamat di episode ini ternyata enggak bisa, saudara! Xixixixi ...
Closed:We are looking for books with good pace, exciting plottwists, fascinating cliffhangers, interesting characters,meaningful core struggle;Please be aware that we have zero tolerance for storiesinvolving extreme violence, child abuse, pedophilia orthose that may raise copyright concerns. Keep up thework and look forward to seeing better works of yours inthe future!Closed:We are looking for books with good pace, exciting plottwists, fascinating cliffhangers, interesting characters,meaningful core struggle;Please be aware that we have zero tolerance for storiesinvolving extreme violence, child abuse, pedophilia orthose that may raise copyright concerns. Keep up thework and look forward to seeing better works of yours inthe future!Closed:We are looking for books with good pace, exciting plottwists, fascinating cliffhangers, interesting characters,meaningful core struggl
Marcus came to visit us a few times, sometimes he would bring his wife Emily, but this time he was alone.I was in the kitchen preparing lunch, Eloim was on the floor and we had put on his ears a pair of wireless headphones connected to my phone, where I’d but on some music.It had been our best technique to allow us to have conversation with each other without him listening in, while still k
"Dan sekarang ... aku akan membunuhmu, Sweetheart," bisik Freeze tepat di telingaku, yang entah sejak kapan ia sudah berdiri di belakangku. Sementara sebelah tangannya memeluk pinggangku, tangan yang lain sudah menodongkan sebuah pisau tepat di belakang punggungku.---------------------------------
"We efface an hour by passionatelove, without twists, without aftertaste. When it is finished, it is not finished, we lie still in each other's arms lulled by our love, by tenderness -- sensuality in which the whole being can participate.Anais NinAfter Zander left six years ago, I tried to keep my head up even if that was a hard thing to do for a girl my age, skin and rebelliousness. I was 18 years old, and I just had the one person I could trust leave for school with his girlfriend and I was all alone, but I tried my best to say out of trouble, I really did.I found a job at a restaurant where the manager kept making unwanted passes at me and I ended up getting fired after I punched him in the face twice. Six months later, I was evicted from my house and I had to live on the streets.I was left
(Lily's POV)I was awakened by my thought that Icy might hurt by me. I am a type of chopper woman when sleeping. So, I get up to return in my own room. Is Jay not yet here? I stretched my arms. Yawn. All the lights were turned off. I am about to leave the room, when I stare at the corner of the room. There Seven, was still playing. Very wrong my baby boy. It is bad to your health."Seven, do you want me to confiscate your phone?” I am also mean sometimes. I approached him but he just turned his back at me. So, I can't think of other ways but to get his phone forcefully. But he is about to make a scream when I ha
Mum: time for school do you want me to drop you off to school or is Randy going to drop you off at schoolJacinta: well I want you drop me off to schoolMum: sorry honey but I have to go to work plus Randy's father is taking me to work since we both have the same job, how are you and randyJacinta: yeah we are fineMum: so you can get randy to pick you upJacinta: yeah sureScene randy was waiting outsideRandy: hello babeJacinta: hello randyScene: they were driving to schoolRandy: how is your mumJacinta: she is goodRandy: you better not tell her what happened or you will regret itJacinta: dont worry I didn't so cool downRandy: ok then I am going out with the boys tonightJacinta: but we were going to spend the night togetherRandy: that can waitJacinta: fine see you laterRandy: come back hereJacinta: no, enjoy your night with boys RandyScene