Home / All / Gn 001 book-00020 / Chapter 009

Share

Chapter 009

Author: GN001
last update publish date: 2023-12-02 06:56:12

"Astagaaaa... " teriak Nia lalu menutup mulutnya.

Dina yang berada di sebelah Nia pun terkaget melihat Nia.

"Kenapa Nia? Kok kaget gitu? " tanya Dina.

"ituu.. ituu.. itu Din.. tadi pagi sama aku. Dia.. aduh.. " jawab Nia tergagap. Nia berusaha menutupi wajahnya dari segerombolan siswa didepannya. Berharap tidak ada satupun dari mereka yang mengenalnya.

"Kamu ngomomg apaan sih Nia. Aku gak ngerti. Ngomong yang jelas dong Nia " sergap Dina yang makin penasaran dengan tingkah aneh Nia.

"laki-laki yang paling tinggi digank itu tadi pagi hampir tabrakan sama aku dijalan. Tadi pagi aku kebingungan nyari ojek buat kesekolah, terus aku numpang sama dia. Kebetulan dia juga siswa disini. Tapi tadi pagi sampai depan sekolah, aku main lari aja ninggalin dia, gak bilang terima kasih pula. Namanya aja aku gak tahu" jawab Nia setengah berbisik sambil memalingkan wajahnya ke arah dinding dan menutupi wajahnya dengan buku.

Tiba-tiba Dina menyikut tangan Nia berkali-kali.

"Apaan sih Din.. Aku gak bisa liat kesana. Aku malu din kalo aja dia ingat sama aku. Kita bisik-bisikan aja dulu ya" bisik Nia

"Nia.. Nia.. ituu.. anu.. " jawab Dina sambil terus menyikut Nia

"Din.. apaan sih.. itu apaan?" tanya Nia

"Hey.. Lu yang tadi pagi jalan kayak orang linglung itu kan? " tiba-tiba terdengar suara Laki-laki tepat didepan Nia.

"Eh.. suara itu kayak suara yang tadi pagi..." gumam Nia dalam hati.

Perlahan-lahan di turunkannya buku yang menutupi wajahnya dari tadi. Pelan-pelan dibalikkannya wajahnya. DEG.. Nia terkejut bukan main, sampai-sampai dia tak sengaja berteriak.

"HAHH..!!! " teriaknya lalu menutup mulutnya cepat.

Pemuda itu dan Dina sama-sama kaget karena teriakan Nia tiba-tiba.

"Andre.. Ayo cabut.. Daniel dikantin katanya" teriak teman genknya pemuda itu.

Daniel adalah nama teman sekelas Nia dan Dina, yang juga merupakan teman satu genk pemuda itu.

"Oke.. " jawab andre itu singkat sambil melihat Nia sebentar kemudian berjalan kearah temannya.

"Oh, namanya Andre ya.. Payah banget aku ini. Dia udah baik malah aku acuhkan begini" gumam Nia dalam hati.

Nia hanya menatap andre berlalu keluar dari kelas.

"kamu kenapa sih Nia dari tadi aneh. Padahal bagus loh tadi dia udah nyamperin kamu duluan" kata Dina

"Aku malu loh din karena tadi pagi aku main pergi aja. Aaaaaa.... aku memang payah" jawab Nia sambil menundukkan kepalanya ke meja.

"Ahh.. sudahlah.. nanti juga lupa. gak bakal sering ketemu juga. Memangnya siapa aku bagi dia. Gak penting." kata Nia dalam hati.

"Yok makan din. Udah mau bel masuk ini. Aku sudah lapar nih" kata Nia pada Dina.

"Ayok.. aku juga sudah lapar nih" jawab Dina.

Nia dan Dina segera menyantap makanan yang sudah mereka bawa. Selesai makan, tak berapa lama bel tanda masuk pun berbunyi.

"Wah pas sekali belnya berbunyi setelah kita selesai makan" kata Dina.

"Iya nih" jawab Nia singkat.

Siswa lainnya mulai berdatangan masuk ke dalam kelas.

Leon menjaadi siswa terakhir yang masuk kedalam kelas. Dengan postur tubuh bak model, wajah yang manis dan aura yang cool sukses membuat mata yang melihatya berjalan seakan terhipnotis.

"Wuih.. nih anak kayak artis korea ya.. col amat. Gak senyum aja bikin jantung berdebar-debar, apalagi kalau senyum. bisa mati kejang-kejang cewek dibuatnya" kata Dina tanpa berhenti melihat Leon berjalan. Matanya mengikuti gerak-gerik Leon sejak Leon masuk ke kelas sampai Leon duduk di tempat duduknya, tepat di depan Nia.

"Ihh.. apaan sih ngliatin orang sampe segitunya. Kamu naksir ya?" ledek Nia

"Ya amploppp Niaa.. pliss deh.. Cewek mana sih yang kecantol sama cowok seganteng dia. Gini ya Nia, kalaupun dia nyatain cinta ke aku sekarang pasti aku terima saat ini juga" jawab Dina

"Tapi kan kamu belum kenal karakter dia gimana. Kalau orangnya kasar gimana? atau cuek gitu. Lihat dinginnya dia gimana sejak masuk tadi pagi" kata Nia pelan. Dia takut kalau leon mendengar pembicaan mereka.

"Tahu gak tadi waktu kamu beli makanan dikantin, aku basa basi ramah ke dia sekalian kenalan eh di cuekin sama dia. Gondok banget tahu. Gak ramah banget orangnya" bisik Nia

"Beneran?? wuaahh.. cooll banget. sukaa.. sukaa" jawab Dina. Matanya berbinar melihat kearah Leon.

"Hadeuhh...sehat Din? sadar din sadaaarrr" kata Nia sambil menggoncang-goncangkan badan sahabatnya itu. Nia tak habis pikir dengan kelakukuan Dina yang makin aneh.

Guru pelajaran bahasa inggris pun masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran dikelas.

3 mata pelajaran sudah berlalu. Bel tanda waktu pulang pun berbunyi.

Setelah mengucapkan salam, semua siswa bergegas keluar kelas.

"Nia, kamu mau ikut les privat gak dirumahku? Mamaku memanggil guru privat kerumah untuk persiapan ujian akhir kelulusan kelas 3. Gak usah bayar. Mau yaa pliss.." tanya Dina sambil terus berjalan bersama Nia menuju gerbang sekolah.

Nia terdiam sejenak. Nia tahu sahabatnya ini benar-benar peduli dengannya. tapi ada perasaan seperti 'tidak tahu diri' dalam benak Nia bila dia terus menerus dibantu oleh sahabatnya ini.

"Aku mau banget Nia tapi aku belum bisa ikut. Aku masih harus membantu ibuku dirumah. Aku juga gak bisa kemana-mana setelah pulang sekolah. Gak ada yang bisa mengantarku Din. Maaf ya din " tolak Nia halus.

"Tenang Nia.. Nanti aku yang antar jemput kamu. Gak apa-apa. Oke yaa.. pliss" mohon Dina

"Aduh bukan itu maksudku Din. ehmm.. Aku harus membantu ibuku dirumah. Kan kamu tahu sendiri gimana aku kalau dirumah Din. Ehmm.. tapi makasih ya Din. Kamu selalu peduli sama aku" jawab Nia sambil tersenyum.

"Huuftt.. ya udah deh kalo gitu. Nanti kalau kamu udah bisa, kabarin aku ya. Kita belajar bareng" kata Dina

"Siaappp ibu perikuu" jawab Nia sambil mengacungkan 2 ibu jari kearah Dina.

"Kamu pulang naik apa Nia? dijemput ya?" tanya Dina.

"Aku naik angkot Din. Sebenarnya ibuku udah nitipin aku sama Pak Jamil kalau aku akan numpang bapak itu pulang dan pergi sekolah selama ibuku dikampung. Tapi tadi pagi kata ibu jamil, bapak kecelakaan semalam jadi gak bisa mengajar seminggu ini. Itu juga alasan sampai aku tadi pagi bisa dibonceng sama Andre itu." jawab Nia.

"Ya udah kamu pulang sama aku aja ya. Sekalian kita kerumahku dulu ambil sepatu kamu, terus nanti aku antar kamu pulang. Oke?" kata Dina.

Sumpah, ini anak kayak malaikat penolong banget di hidup aku. Paling mengerti keadaan dan perasaan aku. Entah bagaimana aku bisa membalas semua kebaikannya selama ini, gumam Nia dalam hati.

"Kamu pulang pergi sama aku aja selama ibu kamu dikampung ya. Gak usah segan. Aku tahu kamu dari tadi nolak aku karena gak enakan kan. Ngapain sih pake gak enakan sama sahabat sendiri. Kalo kali ini kamu nolak, aku bakalan tersinggung ya. Gak mau lagi aku berteman sama kamu" kata Dina sambil cemberut.

Nia tersenyum meihat sahabatnya itu.

"Oke ibu periku" jawab Nia.

"Gitu dong. Yok cuss.. Pak Tono sudah nunggu." kata Dina sambil menunjuk sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di depan gerbang sekolah. Pak Tono adalah supir pribadi khusus buat Dina. Kemanapun Dina pergi, Pak Tono selalu siap sedia mengantarkannya.

Dina adalah anak tunggal. Ayahnya pengusaha yang mengelola perusahaan konveksi yang sudah menggurita di berbagai kota. Ibunya seorang sosialita yang punya perkumpulan bergengsi. Dina begitu bergelimang harta namun selalu merasa kesepian, dan aku adalah satu-satunya sahabat yang dia punya. Begitupun denganku. bagiku, Dina adalah satu-satunya orang terdekat dalam hidupku. Mungkin karena itu kami seperti saudara yang saling melengkapi dan melindungi.

Pertama kali masuk sekolah ini, Nia dan Dina sudah satu kelompok ospek. Dina selalu jadi bulan-bulanan senior karena selalu salah dalam menjawab kuis dari senior. Kuis yang ditanyakan masih seputar pengetahuan pelajaran sekolah. Nia yang kasihan melihat Dina mencoba membantu Dina diam-diam tanpa ketahuan senior. Sejak itu Dina dan Nia menjadi dekat. Mereka juga selalu mendapatkan kelas yang sama setiap tahun.

Nia memilih masuk sekolah ini karena hanya sekolah ini yang terdekat dengan rumahnya dan nilai akhir sekolah Nia tinggi sehingga Nia bisa lolos beasiswa disekolah ini. sedangkan Dina masuk sekolah ini karena orangtua yang memasukkan Dina walaupun sebenarnya nilai Dina tidak mencukupi nilai standar sekolah ini. Sudah tentu karena gengsi. Rata-rata anak teman, tetangga dan kolega orangtua Dina bersekolah disini.

Dina dan Nia memasuki mobil. Sedang asyik-asyiknya mengobrol didalam mobil sambil tertawa, tiba-tiba pak Tono mengerem mendadak sehingga Dina dan Nia yang duduk dibelakang hampir saja tersungkur kedepan.

"Astaga.. Ini orang gimana sih bawa mobil. Maaf ya non. Non gak apa-apa?" teriak pak Tono panik.

"kamu gak apa-apa Nia?" tanya Dina pada Nia.

"Aku gak apa-apa din. Kamu gimana? Ada yang sakit?" tanya Nia balik.

"Aku gak apa-apa kok. Ada apa sih pak kok ngerem mendadak gitu?" tnya Dina pada pak Tono.

"ini non, mobil sport merah didepan itu tiba-tiba menyalib ngebut. Bapak kaget dan berusaha menghindar karena dia menyalib dekat benget dengan kita. Maaf ya non" kata pak Tono.

"Gak apa-apa pak. Itu orang lagi kebelet kali mesti bawa mobil kayak gitu. ya udah pak, kita jalan lagi" kata Dina pada pak Tono.

Mobil itu dari arah sekolah yang sama dengan kami. Pasti murid di sekolah ini juga, gumam Nia dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gn 001 book-00020   Chapter 003

    Chapter test, please forgive me A a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a B b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b C c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c D d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d E e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e F f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f G g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g H h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h I i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i J j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j K k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k L l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l M m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m N n n

  • Gn 001 book-00020   Chapter 055

    Chapter test, please forgive me A a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a B b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b C c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c D d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d E e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e F f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f G g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g H h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h I i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i J j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j K k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k L l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l M m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m N n n

  • Gn 001 book-00020   Chapter 022

    As the voice faded, a blurry white figure appeared in front of me. It reached out its hand and opened up the woman’s mouth. Once I was freed, I was told to move aside. I had no clue who the white figure was and why would he save me. To my surprise, it was actually the Mountain God! I thought he was dead? How was he still alive? I felt like I had just fallen into a wolf’s nest after escaping the tiger’s mouth. The Mountain God looked rather upset and was just wearing a raggedy white innerwear instead of his usual classy robe. He was covered in bloodstains and had messy hair, looking rather like a prisoner from the olden days. Liu Longting and I had destroyed his human vessel a few days ago—we set up a trap and he fell for it. I figured I was pretty much dead at that point and would probably experience a death that would be harsher than before. I was so desperate to escape that place. Mountain God held on to the woman’s head by his hand. Suddenly, a tail as thick as a water bucket emerg

  • Gn 001 book-00020   Chapter 047

    You can visit https://www.goodnovel.com, the GoodNovel writing platform can realize your creative dream for you, and use your words to connect readers all over the world.Chapter test, please forgive me A a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a B b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b C c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c D d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d E e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e F f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f G g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g H h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h I i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i J j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j K k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k

  • Gn 001 book-00020   Chapter 029

    As the voice faded, a blurry white figure appeared in front of me. It reached out its hand and opened up the woman’s mouth. Once I was freed, I was told to move aside. I had no clue who the white figure was and why would he save me. To my surprise, it was actually the Mountain God! I thought he was dead? How was he still alive? I felt like I had just fallen into a wolf’s nest after escaping the tiger’s mouth. The Mountain God looked rather upset and was just wearing a raggedy white innerwear instead of his usual classy robe. He was covered in bloodstains and had messy hair, looking rather like a prisoner from the olden days. Liu Longting and I had destroyed his human vessel a few days ago—we set up a trap and he fell for it. I figured I was pretty much dead at that point and would probably experience a death that would be harsher than before. I was so desperate to escape that place. Mountain God held on to the woman’s head by his hand. Suddenly, a tail as thick as a water

  • Gn 001 book-00020   Chapter 024

    [Switching to Kate's POV]Am I dreaming? I've asked myself this question for the umpteenth time. Ever since Ciel rescued me from that dark alley, I've been living a happy and comfortable life. Each day was filled with warmth, and love, that I felt that I was living in a dream.Sometimes, I wake up in the middle of the night drenched in sweat and tears. Afraid that the next time I opened my eyes, I would find myself back to that cold, and lonely street, under the mercy of the elements.Light flashed across my dark room as a streak of lightning illuminated the night sky. The thick blanket and soft bed were not able to give me any comfort. My body shivered in fear as the roar of thunder echoed inside my room."I hate thunderstorms."[I hate it too.]Yes, we hate thunderstorms. It reminded us of dark and desperate days; days when we were struggling to survive.My body stood up from the bed and headed towards th

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status