LOGINDavin's pov
Aku mulai mendampinginya dan berusaha menyuapinya serta merawatnya, untung saja ia menurut dan menerimanya sehingga ia dapat mendapat gizi dan energi... namun, aku masih merasa kuatir karena sewaktu waktu ia bisa saja menjadi diam kembali dan tak bergeming. Sekarang, perusahaan telah kuserahkan kendali pada adikku. Lagipula, ia terlihat ahli dalam menangani perusahaan dan membuatnya semakin maju...
"Makan ya Ta?" Ujarku padanya dan mulai menyedokkan sebuah alat makan yang telah terisi oleh nasi menuju mulutnya.
Ia membuka mulutnya dan langsung menelannya, hal itu terus terjadi hingga semangkuk nasi habis dan tak bersisa lagi. Namun, setelah selesai ia kembali diam dan menatap kosong ke depan. Ketika melihat keadaannya yang seperti ini, aku kembali meringis dan tiba tiba..
Krit...
Tap, tap, tap...
"Nak..."
Suara familiar itu memasuki telingaku dan membuatku menoleh ke sebelah. Ternyata ayahku yang datang, juga disusul oleh ibu. Aku mulai menaikkan bibirku sedikit dan menoleh ke istriku yang masih menatap kosong ke depan. Ia tak menoleh sedikit pun dan bibirnya datar..
"Ma, pa.. maafin Violetta ya.." ujarku pada mereka berdua.
"Gapapa nak, kami yang harus meminta maaf padanya. Telah membuatnya seperti ini.." ujar ayahku dan menatap pada istriku dengan mantap.
"Papa kenapa kesini? Biasanya dak datang tiba tiba.."
"papa dengar istrimu keguguran dari informasi bawahan. Jadi papa sama mama jenguk dia. "
"Gak taunya, huf... kondisi istrimu lebih parah daripada yang dijabarkan bawahan," lanjutnya dengan berat hati dan menepukku.
"Nak, ia adalah wanita yang baik.. jangan sia siakan dia. Jagalah dia."
Aku pun mengangguk dan menoleh kembali pada wanitaku yang tetap diam. Aku pun mulai membaringkannya dengan hati hati dan perlahan ia memejamkan matanya. Kulihat bahwa ia tertidur dengan tenang sekali, bahkan nafasnya kecil dan tak banyak..
"Kita bicara di luar aja ya nak.." saran ayahku dengan suara kecil dan keluar.
Aku pun mulai berjalan keluar dan menghampiri kedua orang tuaku yang mulai bertampilan serius. Keduanya menatapku dengan ragu dan bahkan sedih. Aku mulai tahu apa yang akan mereka bicarakan, mereka telah tahu siapa pelakunya..
Tap, tap, tap..
"Pa, tolong rahasiain ya.." pintaku padanya dengan penuh permohonan dan ditatap balik olehnya .
Haah....
"Baiklah, ini masalah pribadimu dengannya. Kami berdua tidak akan ikut campur," balas ayahku dengan senyum bijak setelah mendesah.
"Papa sama mama balik dulu ya.." ungkap wanita di sebelahnya dan memelukku dengan penuh kasih.
Tap, tap, tap..
***
Di tengah jalan, mama dan papa Davin membicarakannya dan mulai kasihan dengan Violetta.
"Ia mirip sepertiku saat muda, polos dan sangat ramah," jujur mama Davin dan menatap ke pria di sebelahnya yang telah berkerut.
"Iya.. mereka mirip seperti kita saat muda, hanya saja kita tak terlalu memiliki banyak masalah.." balas papa Davin.
"Iya.. anak kita telah tumbuh besar. Tak terkira sama sekali bahwa anak berandalan itu telah berubah menjadi kalem seperti ini."
"Mari kita serahkan semuanya pada mereka.."
Mereka berdua pun mulai melanjutkan pembicaraan dengan topik lain dan menuju rumah mereka dengan menempuh perjalanan yang agak jauh. Sebenarnya, rumah itu adalah rumah yang mereka bangun ketika saat menikah. Mereka hanya ingin pergi ke sana dan mengingat semuanya...
****
Davin's pov
Aku kembali ke kamar istriku dan memandang wajahnya. Dengan hati hati, kurubah posisi tidurnya agar lebih nyaman dan setelah itu mulai duduk. Kumakan masakan dari kantin rumah sakit yang agak dingin sembari memandangnya sesekali..
Setelah selesai makan, aku mulai membuangnya ke tempat sampah dan kembali ke istriku.
"Aku mau kamu sadar... tolong sadarlah.." mohonku padanya dalam hati. Aku mulai memejamkan mataku dan bersender di ranjangnya.
Tiba tiba, aku masuk ke sebuah tempat yang penuh dengan nuansa putih .
Aku melihat sebuah wanita yang sedang duduk dengan tenang yang dikelilingi oleh berbagai bunga. Ia adalah istriku.. dengan segera, kukejar ia dan mulai mendekatinya. Ketika ia dekat denganku, ia menyunggingkan senyumnya dan menanyakan sesuatu..
"Siapa kamu?...
a sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d dd d d da sd d f d d d d d d
Daisy found nobody in the room and the door was also closed. She was feeling dizzy and weak but still while staggering she managed to stand up from the bed. Taking slow careful steps, she started walking towards the door, supporting the bed. She was feeling that suddenly her body started feeling heavy. Even walking was difficult for her. The gown, she was wearing was not of her size. It was a little loose but she felt comfortable in it.S
On the the third floor, one of those lace barriers twitched. A shadow moved past, just a flicker of darkness, so fast it almost escaped Crook's enhanced scrutiny. The signet ring on his right finger hummed against his skin, hot and urgent.He glanced down at the ring.A hot, solid wave of energy slammed against his expanded thoughts. His head snapped back from the rush of power. His mind folded in on itself and his perceptions screeched down to normal speed so abruptly he almost stumbled. His ears rang. His jaw ached from clenching his teeth-and from- from what.A mental slap?Had somebody really slapped him? He rubbed the space between his right eye and his chin. Damned if it didn't burn.What the hell? Some kind of barrier. Some kind of elemental protections? The beast inside him wanted to snarl and retreat, but he couldn't let that happen. He was here in New York city, with his partner Andy, poking around on the ritualistic murder of a senator'
Taddeo, se encontraba en su casa, estaba triste por el castigo que le había impuesto su padre, aunque también estaba enojado, le parecía injusto que lo hubiese castigado sin oírlo, cuando no era culpable, no comprendía como se podía ser tan ligero a la hora de tomar decisiones sobre una persona sin escucharlo previamente, eso era inaceptable y todo por esa estúpida niña.Pero de nada valía lamentarse, no había nada que hacer, su padre se había ido con su hermano para La Toscana y no se lo había llevado, habían transcurrido diez días, en los cuales ellos estaban disfrutando y divirtiéndose mientras él se encontraba encerrado y aburrido, bueno realmente había estado entretenido con sus libros, pero lo que más le afectó fue
"I'm sorry, Tayla. If only I can make you stay in our house, I would. But you know our house is not that big and my Mom is a human Armalite, right?" Ella scratched her head and hold the edge of the map, glancing at me before she continued mopping the floor.We are again, in Talk and Chill. Tomorrow I wouldn't be here for the class will start and I need a place where I can stay. Unluckily, Ella, my best friend just told me that she's wasn't able to offer me a hand.I sighed. "I understand, Ella. Thanks for telling me early." I turned around and went towards the sink to wash the dishes, my lips twisting a bit as I thought...why are we getting paid under minimum wage when we do almost all kinds of things in this chill bar? We should at least have an increase."Tayla, I don't understand you. When your parents died, your Aunt Tanya stood as your guardian, but why are you planning to leave your own house?" She stood up and glanced at me with her bewildered, round eyes