LOGINAda apa dengan Budiman Rasyid, tukang kebun itu? Mengapa begitu mengganggu pikiranku akhir-akhir ini? Selain karena surat-surat bersampul hijau yang kalimat puitisnya begitu memuakkan itu, tapi juga sorot matanya bak telaga bening di dalam gua yang lengang, gerciknya senantiasa mengundang orang untuk datang dan menyelam pada kedalamanya yang menyejukkan.
Setiap kami bertemu, entah itu dia sengaja mencariku untuk menyampaikan surat, atau memang berpapasan di jalan, matanya yang dalam seakan memenjarakan gerak, membuatku terdiam tak bergeming.
“Tolong, jangan ganggu aku,” pintaku setengah memohon.
“Kenapa?” tanyanya.
“Aku nggak suka sama kamu.”
“Kamu yakin?”
Rasyid menatapku dalam, seolah mengunci semua syaraf di tubuhku. Sampai dia berlalu, aku masih terpaku tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Hari itu aku benar-benar galau. Semua materi pelajaran tak dapat masuk ke dalam otakku.
“Mulai linglung?” gurah Berliana. Disenggolnya bahuku keras-keras hingga membuatku terjerembab ke atas meja.
“Berli! Kira-kira dong!” bentakku. Berliana tertawa. Matanya membulan sabit.
“Mulai jatuh cinta ya sama Rasyid? Tukang kebun yang katamu nggak selevel itu?”
“Ih, mana mungkin? Aku belum gila.”
Berliana menepuk pundakku lagi, kali ini ringan sekali. “Matamu udah bilang gitu walau kamu mengelak kayak apa pun.”
**
“Ken! Niken! Sini deh!” seru Berliana di pagi berikutnya. Aku yang berjalan setengah limbung karena mengantuk pun menghampirinya.
“Ada gosip panas apaan?” tanyaku malas.
“Jangan buruk sangka dulu. Rasyid pergi.”
“Maksudnya apa? Trus hubungannya dengan aku apa?”
“Kata Bu Heni ....”
“Hmm ... Bu Heni lagi. Kenapa sih semua pada percaya sama ibu TU satu itu? Udah orangnya kemayu, sok wibawa, tukang gosip lagi. Dengar ya, gosip itu dibuat oleh orang iri, disebarluaskan sama orang bodoh, dan diterima dengan baik oleh orang idiot.”
“Niken! Kali ini Bu Heni lagi nggak bergosip. Rasyid menyerahkan surat pengunduran dirinya ke kepala sekolah kemarin siang.”
“Apa?”
“Kamu belum budeg, kan?”
Entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang hilang, sepertinya itu sebagian hatiku. Bagaimana mungkin? Sementara aku sama sekali tidak menginginkan laki-laki itu. Tanpa kusadari, air mataku bergulir.
“Kadang cinta datang di saat yang nggak tepat sehingga sering kita nggak menyadarinya. Kita baru merasa kehilangan setelah dia pergi,” ujar Berliana lagi. Dia kemudian memelukku erat-erat, membiarkanku melepaskan tangis di bahunya.
Sejak saat itu, hari-hariku bagai mendung tanpa hujan, kelabu dan sepi. Kubaca berulang-ulang lembar demi lembar surat bersampul hijau nan wangi dari Rasyid yang telah kuberi nomor mulai dari pertama hingga lembar ke tiga puluh. Surat-surat itu kukumpulkan begitu rapi dan kuikat dengan pita kecil agar tak berserakan. Setiap aku membaca ulang, selalu kupastikan tidak ada satu bagian pun yang hilang.
“Hmm, dasar norak, nggak bisa ya cari warna yang lebih anggun lagi? Kenapa harus hijau,” gumamku. Aku tersenyum kecut, menertawai kebodohan yang tak kumengerti. Kebodohan yang dahulu setengah mati kubenci dan sekarang malah bersarang di dalam otakku.
Sejujurnya, aku ingin mencari tahu di mana keberadaan Rasyid sekarang. Jika bukan untuk membalas suratnya, setidaknya untuk meminta maaf atas kecongkaanku selama ini.
Namun, harus ke mana kakiku melangkah mencarinya? Kota Malang begitu luas. Bisa jadi Rasyid sekarang tengah berada di kampung halamannya yang menurut Bu Heni, berada di sebelah selatan kota Malang. Dia pasti sibuk menggembalakan sapi-sapi ternaknya dan mengurus ladang. Atau mungkin dia sudah sukses menjadi seorang pegawai kantor, mengingat riwayat pendidikannya yang adalah seorang sarjana, lalu menikah dengan perempuan dewasa yang setara dengan usianya. Ah, aku cemburu.
**
Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Sudah setahun sejak Rasyid pergi, dan aku sudah hampir meninggalkan SMA. Tibalah saat kelulusan, dan sedianya, sekolahku akan mengadakan acara perpisahan.
“Kamu pasti jadi juara satu lagi, Ken,” ujar Baskoro, temanku sekelas. Aku dan Baskoro memang selalu kejar mengejar angka dalam pelajaran. Kalau bukan aku yang juara satu dan Baskoro juara dua, kami bertukar posisi. Dia yang juara satu, aku yang juara dua. Begitu seterusnya sepanjang kami duduk di bangku SMA.
“Ah, bisa jadi juga malahan kamu jawaranya,” balasku. Baskoro tertawa, dicubitnya pipiku kiri dan kanan.
“Sakit tau.”
“Biarin. Kapan lagi bisa godain kamu seperti ini? Sehabis lulus, mungkin kita nggak akan ketemu lagi.”
“Stop bikin mewek ya, Bas.”
“Hei, hei, seru amat nih ngobrolnya, nimbrung dong,” sembur Damita, teman sekelas yang kebaikannya setara dengan Berliana, tapi jarang ikut mengobrol setiap harinya karena dia sedikit pendiam. Entah apa sebabnya, hari ini Damita terkesan begitu lepas dan riang. Mungkin karena sebentar lagi kami berpisah.
“Temani aku ke Butik Luwes yuk,” ajakku pada Damita.
“Ngapain?” sambung Berliana yang ternyata sudah berada di belakangku.
“Kita kan mau acara perpisahan. Bukannya Pak Harno tadi udah mengumumkan, kalau semua murid perempuan beserta guru dan karyawan wanita diwajibkan memakai pakaian tradisional,” jelasku.
“Harus ke butik? Aku sudah punya beberapa stel kebaya dan kain batiknya di rumah. Warna dan modelnya juga kekinian kok,” bantah Berliana lagi.
“Sayang-sayangku semua, denger ya, aku yang bayarin. Itung-itung ini buat kenagan sebelum kita lulus. Siapa tau kan, di antara kita ada yang meninggalkan Malang untuk kuliah atau kerja. Siapa tau juga, kamu langsung nikah trus dibawa suamimu ke luar negri.”
“Hust! Ngaco!”
“Ayolah ....”
Berliana dan Damita akhirnya mengangguk setuju. Mereka tak punya pilihan lain lagi selain menuruti apa kataku. Aku tahu, Berliana sebenarnya sudah kehilangan respek terhadapku sejak penolakanku kepada Rasyid dulu, dan itu pun cukup membuatku lebih berhati-hati setiap berbincang dengannya.
“Aku dapat surjan dan blangkon nggak?” gurau Baskoro. Aku tertawa, tapi tak berani lebar-lebar. Semua semata-mata untuk menjaga harga diriku dari sebutan sombong dan norak di mata Berliana.
“Semua aku yang bayar. Bukan sombong, tapi ini hasil dari tabunganku sendiri. Aku udah janji mau kasih kenang-kenangan untuk teman-teman baikku,” jawabku.
Tiba-tiba Berliana memelukku. Dia sesenggukan, air matanya jatuh deras membasahi kerah jaketku.
“Jangan ngomong lagi, Ken. Seolah-olah kamu mau pergi jauh aja. Aku takut ...” bisiknya sedih.
“Iya nih, kayak mau mati aja,” timpal Baskoro.
“Hust! Jaga omonganmu, Bas!” bentak Damita.
Aku tertawa, lalu kupeluk mereka berbarengan. Hatiku rasanya pilu. Sebisa mungkin kucari bahan gurauan agar hari ini berlalu dengan penuh warna.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 ketika kami keluar dari Butik Luwes. Masing-masing dari kamu sudah menenteng sebuah tas kertas berisi kebaya, surjan, dan kain batik. Berliana memilih kebaya berwarna merah jambu dengan kain bermotif bunga dengan warna senada. Damita memilih kebaya putih berenda bordir warna-warni di sepanjang leher sampai bawah. Kain batiknya berwarna coklat klasik. Baskoro memilih beskap surabayan berwarna putih, lengkap dengan blangkon dan kain batik warna senada.
Aku memilih apa? Sebuah kebaya berwarna hijau, warna amplop surat kesukaan Rasyid, beserta kain batik berwarna dasar hitam. Kebayaku polosan, tanpa pernak-pernik asesoris. Hanya saja, bahannya terbuat dari sutera lembut yang membuat tampilan kebaya itu lebih elegan dibanding kebaya yang lain.
“Niken mirip Nyai Roro Kidul,” celetuk Damita.
“Oya? Emangnya kamu pernah ketemu langsung dengan dia?” sanggahku.
“Alaa ... palingan tau lewat buku komik aja,” seloroh Berliana.
“Ssst, aku lapar. Mampir ke Griya Dhahar yuk. Kali ini aku yang traktir,” ujar Baskoro kemudian.
“Beneran nih?” tanyaku. Baskoro mengangguk. Spontan tangan kekarnya merengkuh bahuku ketika kami berempat menyeberang jalan, menuju resto Griya Dhahar yang letaknya persis di depan Butik Luwes.
Ketika baru sampai di tengah jalan, aku menangkap sebuah bayangan seseorang, berkelebat dengan cepat di hadapanku. Seseorang itu ....
“Rasyid!” teriakku.
Teman-temanku menggelandangku menepi, masuk ke dalam resto, lalu membantuku duduk. Aku masih lemas, tubuhku gemetar.
“Ngapain sih, tadi?” tanya Berliana.
“Ada Rasyid tadi,” jawabku.
“Mana? Aku nggak liat,” ujar Berliana.
“Tapi dia ada. Tadi jalan ke situ tuh,” protesku.
“Hmm ... jangan-jangan kamu cuma halusinasi. Saking terobsesinya sama dia,” tukas Damita.
“Aku bener-bener ngeliat dia. Mata kami sempat berserobok.”
“Udahlah, kita pesan makanan dulu,” kata Baskoro, kemudian memanggil seorang pramusaji.
Mataku masih nyalang, mencari-cari keberadaan Rasyid. Aku yakin tadi benar dia yang lewat di depanku. Oh Tuhan, sudah gilakah aku, sementara teman-temanku tidak ada yang mengetahui akan apa yang aku lihat dengan jelas tadi?
“Ayo, habiskan makanmu,” pinta Berliana ketika pesanan makanan sudah hadir di meja. Aku menyuapkan nasi dan potongan bebek panggang ke dalam mulutku yang hambar. Pikiranku hanya tertuju pada Budiman Rasyid.
“Antar aku pulang,” kataku pada Baskoro sebelum nasi di depanku habis.
“Loh, kita belum selesai makan,” sahutnya.
“Badanku tiba-tiba meriang.”
“Tunggu sebentar lagi. Liat tuh, Berli dan Damita juga masih belum selesai.”
“Aku mau sekarang, Bas!”
Semua teman terdiam. Mereka menatapku dengan heran. Dengan kerling matanya, Damita mengisyaratkan pada Baskoro untuk memanggil taksi dan pergi dahulu untuk mengantarku pulang.
“Kamu sebenarnya kenapa?” tanyanya ketika taksi sudah meluncur. Dengan hati-hati, Baskoro mengambil kepalaku untuk direbahkan di dadanya. Aku menurut dan sedikit memejamkan mata.
Ciiit! Tiba-tiba sopir taksi mengerem mobilnya.
“Ada apa, Pak?” tanyaku gusar.
“Hampir aja nabrak orang.”
“Haah?”
Aku melongokkan kepala ke luar, dan aku melihat seseorang jatuh terduduk di aspal, tak jauh dari taksi yang kutumpangi bersama Baskoro.
“Rasyid! Itu Rasyid!” seruku tak tertahan. Aku segera membuka pintu taksi dan berlari keluar.
“Ken! Niken!”
Aku tak peduli teriakan Baskoro. Aku tetap berlari menghampiri sosok itu. Namun ....
“Mbak mencari apa? Ada barang-barang Mbak yang jatuh di sini?” tanya seorang pedangan koran yang kebetulan melintas.
“Tadi taksi yang saya tumpangi nyaris menabrak orang, Pak. Orang itu tadi duduk di sini,” jelasku.
“Orang? Dari tadi nggak ada orang di sini selain saya.”
“Bapak jangan bohong.”
“Niken! Ayo cepat naik. Sudah mulai hujan ini, nanti kalau kamu kehujanan, aku yang disemprot ayahmu!” Teriakan Baskoro memekakkan telinga. Aku menoleh kanan kiri dengan bingung, lalu lemas lagi.
(bersambung)
哦,我男朋友来了,回聊nnnnnwChapter test, please forgive me A a a a a a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a B b b b b b b b b b b b bb b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b C c c c c c c c c c c c c c c c c c cc c c c c c c c c c c c c c c c c c D d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d dE e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e eF f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f G g g g g g g g g g g g g g gg g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g H h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h I i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i J j j j j j j j jj j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j K k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k L l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l M m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m
d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d.
ALIS P.O.VI looked at the clock on the wall and saw that it was 3:30. I never did ask Matthew what time my shift is finished. The only thing he did tell me was that I would start work at 7:30. Ugh! I wonder if I'll have enough time to get ready for the party Im going to with Mark tonight. I mean...I still have to meet up with Dillion at his house to help him and his sister Dina move their stuff to my apartment.
Daisy found nobody in the room and the door was also closed. She was feeling dizzy and weak but still while staggering she managed to stand up from the bed. Taking slow careful steps, she started walking towards the door, supporting the bed. She was feeling that suddenly her body started feeling heavy. Even walking was difficult for her. The gown, she was wearing was not of her size. It was a little loose but she felt comfortable in it.S
"Sixty-third. Sixty-third." Andrea Myles squinted through oversized sunglasses as she wedged the Crown Vic through New York traffic. "We're here. And I didn't say Anna was weird. I said she was unconventional."Crook Kingsman struggled to keep the growl out of his voice. "Some kind of psychic, isn't she? Anna Dumain. Sounds like a television tarot reader.""She's not a tarot reader." Andy braked and slipped into a rare parking space alongside Central park. "She's a scientist who studies... unusual things. She and her two cousins. They're like private investigators."Crooks gut tightened at Andy's I'm-holding-a-few-things-back tone. "And?" "And she's my friend, so you better be nice to her." "And?" He drummed his fingers on two thin, unmarked folders stacked between them on the Crown Vics seat.
Sebastián regresó a la habitación para acompañar a su hijo, empezó a hablarle mientras el niño permanecía inconsciente, diciéndole —Te amo hijo. Perdóname por haberte castigado sin razón. Perdóname por no saber acercarme a tí y por no poder decirteque estoy muy orgulloso de ti, como no estarlo, con un hijo que toca el violín desde los tres años, conoce y habla más de cuatro idiomas con menos de seis años, es campeón infantil de competencias automovilísticas, maneja el computador y sus programas mejor que yo —manifestó con una sonrisa—me muestra mis errores esperando que los corrija, me deja sin palabras con su fluidez. Prometo no volver a juzgarte sin oírte. Soy imperfecto Taddeo, me equivoco y lamentablemente no hay un manual que me indique como ser un buen padre, se