LOGIN"Cilup ... ba ..."
"Cilup ... ba..."
"Cilup ... ba..."
Berkali-kali, aku bermain bersama Kelsea. Walau, responnya tidak terlalu serius. Bayi dua bulan, belum terlalu memahami ketika diajak bermain. Setahuku, jika sudah 6 bulan atau mungkin 4 bulan, akan meresponnya. Malah ikut tertawa. Kelsea hanya bayi dua bulan, yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur.
"Ugh... gemasnya. Kapan kamu besar nak? Mommy nggak sabar mau ngajak kamu jalan-jalan dan mengajarkan kamu masak," aku mencium seluruh wajah anakku, sambil mengoceh. Respon Kelsea hanya menggerekan, tangan dan kakinya. Dia berusaha, memasukan tangan dalam mulutnya. Aku membiarkan saja, karena menurut artikel yang aku baca, malah bagus untuk pertumbuhan bayi. dan itu pertanda bahwa bayinya sehat. Padahal, setahuku banyak orang tua risau, jika bayi mengemut tangan dan kakinya sendiri. Ternyata ilmu parenting itu penting. Bukan, bukan aku sok tahu dan sok pintar. Dengan secuil limu yang kudapat tak lantas membuatku terlihat sombong di mata orang. Tapi, semua untuk kebaikan dan pertumbuhan anakku. Apapun, gerak gerik dan perlakukan Kelsea langsung kupelajari. Kenapa bisa terjadi, apa yang menjadi penyebabnya. Hal-hal sepeleh ini sudah kupelajari semuanya.
Seperti, para orang tua melarang anaknya main hujan mati-matian. Padahal, air hujan itu sangat bagus. Termasuk, menjaga kekebalan tubuh dan membuat kulit menjadi sehat. Setelah anakku besar, aku akan membebaskan anakku mau berbuat apa. Selagi itu, baik untuk dirinya sendiri. Aku akan mendukung dan menjadi orang tua yang open minded. Karena, menjadi orang tua yang terlalu mengekang anaknya, justru akan membuatnya tumbuh menjadi seorang anak yang pembohong.
Kubiarkan anakku main, dan aku mandi. Aku sudah memahami, bagaimana mengurus anak dan mengurus rumah tangga. Jadi, aku terlalu merasa kewalahan seperti awal melahirkan. Aku membiarkan tubuhku dialiri air hangat. Membiarkan air menyapu lembut tubuhku, melepas sedikit penat.
Aku berhati-hati, sambil mendengar Kelsea nangis atau tidak.
Malah, aku mendengar suara anakku. Yang aaa ... aaa ... aaa ... aku menjamin, pasti ilernya penuh sampai lehernya. Aku tersenyum sendiri, di kamar mandi mengingat tingkah putri kecilku. Ocehannya itu, seperti melodi indah untuk merilekskan tubuhku sambil mandi.
Tiba-tiba, aku mendengar suara orang dewasa. Kelsea masih saja ngoceh, dengan suara khas bayinya. Ya ampun, menggemaskan sekali.
Sambil tersenyum di kamar mandi, aku menyudahi mandiku. Dengan memakai bathrobe, aku keluar.
Aku membuka pintu kamar mandi.
"Aku baru sadar, anak Rara imut gini," Kata Gerald, ketika menyadari kehadiranku. Aku jengah, mendengar ocehan jelek itu. Aku mendekati ranjang, dan melihat wajah tembem putriku. Benar saja, air liurnya penuh. Dengan lembut, aku membersihkan lehernya dengan tisu basah."Lihat ada iler anak gini, dilap. Nanti kulitnya bisa lecet."
"Aku nggak tahu, nanti aku lap merah-merah kulitnya," jawab Gerald santai, naik ke atas tempat tidur. Membaringkan tubuh jakungnya. Baring di sebelah anaknya.
"Bayi memang kulitnya merah. Makanya belajar, kamu ayah sekarang. Kelsea bukan adikmu, tapi anak. Kalau adikmu masih wajar kalau kamu jijik melihat kotorannya." aku suka mengomel sekarang. Aku ingin ada campur tangan Gerald untuk mengurus anaknya sendiri, tapi ada saja alasannya. Sampai aku bosan sendiri mendengarnya.
"Aku takut, ganti popok. Pantatnya lecet juga," banyak aja ngelesenya manusia satu ini.
"Pelan-pelan daddy. Buka pempers Kelsea, setelah itu dilap pakai tisu. Lepas itu, pakaikan lagi yang baru. Tidak susah, seperti kamu menyakiti aku setiap saat," aku tahu, ini topik sensitif. Lagian, biar dia sadar. Supaya, ada sedikit ada campur tangan darinya. Jangan, cuman pandai buat aja. Ngurus tak mau.
"Daddy mau tidur," elak Gerald. Dia paling ogah-ogahan ketika disuruh menjaga anaknya sendiri. Alasannya tidak pandai. Selalu alasan tidak pandai. Entah sampai kapan mau pandai. Aku membiarkan Kelsea bermain, menendang-nendang dengan kaki kecilnya.
Aku melihat, baju apa yang cocok kupakai. Mataku tertuju, pada baju terusan favoritku ketika belum hamil. Baju terusan, warna putih motif bunga-bunga. Baju, pembelian Gerald.
Sudah lama, dress ini menganggur. Aku mecoba, kembali. Dan rasanya pas. Walau, sedikit ketat. Karena, badanku belum berkurang sepenuhnya, setelah melahirkan. Tapi, justru aku lebih menyukai tubuhku yang sekarang. Terasa lebih montok dan berisi.
Serasa jadi muda lagi. Dan aku mengenang memori, memakai baju ini ditemani sifat absurd Gerald yang menyebalkan. Sekarang, lebih menjengkelkan.
Aku berkaca dan melihat lagi tubuhku. Aku tidak menyangka, sudah satu putri kecil mengemaskan yang telah keluar dari perutku. Aku tidak menyangka juga, sudah menjadi ibu dan sudah punya anak. Anak? Ah, anakku sangat menggemaskan. Membuatku, bersyukur setiap saat. Anak itu anugerah.
Kulihat, payudaraku besar dan bulat. Itu hal wajar, karena aku sedang menyusui. Wajahku, tidak lagi tampak muda. Sudah tampak seperti mamah muda. Baiklah, aku tidak muda lagi. Usia 24 tahun, umur yang wajar untuk mempunyai seorang putri. Suamiku yang papa muda, yang tidak becus mengurus anak. Jangankan becus, mengendong anaknya saja tidak pernah.
Aku mendekati, anakku dan mendekapnya. Aku sangat menyayangi anakku. Kelsea segalanya bagiku sekarang. Aku mencium lagi, pipi gembulnya.
"Mommy udah wangi. Kelsea, kalau udah besar nggak boleh melawan orang tua, harus jadi anak yang berani dan harus jadi anak mommy yang cantik." aku selalu mengatakan ini pada Kelsea setiap saat. Agar tertanam di memorinya dan terbawa hingga ia dewasa. Aku ingin semua anakku berguna, sukses. Dan tidak melawan orang tua, dalam artian tidak kurang ajar.
"Kelsea, kalau udah besar. Jangan suka sama om-om karena om-om bisa jadi perusak. Suka merebut milik orang," timpal Gerald entah kapan, bangun.
"Nak, jangan dengarin nasihat sesat daddy. Anakku, masih dua bulan. Dan kamu sudah meracuni otaknya." balasku sengit pada Gerald. Dia masih memyimpan dendam kesumat pada Mas Rangga rupanya.
"Aku nggak mau anakku, sukanya sama-sama om-om."
"Nak, besar nanti jangan suka brondong. Percayalah sama mommy. Brondong itu menyusah, dan egois. Kamu harus cari yang lebih tua, agar dia dewasa dan mengerti kamu. Lagian, lihat mommy, mana ada orang mau ngurus kamu. Mommy sendiri yang ngurus. Belajar dari pengelaman mommy. Cari lelaki yang lebih dewasa, matang, dan yang penting menyayangi kamu dan keluarga." aku mengelus rambut anakku. Dan melotot garang ke arah Gerald. Dia menopangkan kepalanya di tangan.
Bukan bermaksud untuk membuat Gerald tersingung lagi. Tapi cukup aku yang merasakan, bagaimana tergerus hati menghadapi sifat brondong yang mau seenaknya apalagi mesum akut seperti Gerald. Sangat melelahkan batin dan fisik. Minimal, anakku harus mencari lelaku dewasa, matang dan bertanggung jawab seperti Mas Rangga, agar hidupnya tenang.
Maafkan aku, bayiku masih 2 bulan. Sudah banyak rancangan yang kususun di otakku, bagaimana Kelsea besar nanti, ketika ia sekolah. Sudah banyak sekali rencanaku. Dan aku memang tak berniat untuk bekerja, aku ingin fokus mengurus anak, agar ia merasa diabaikan. Kelsea harus mendapata perhatian khusus selama 24 jam, dan tak kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Aku akan memastikan itu. Karena anak yang tumbuh dengan kasih sayang orang tua, banyak sekali sisi positifnya. Aku ingin, Kelsea tumbuh dalam lingkungan yang positif, kelak besar ia akan menjadi anak yang berguna.
Suara jelek Gerald, membuyarkan lamunanku. "Kelsea, anak daddy. Kamu boleh suka sama brondong. Karena, bersama brondong, hidupmu lebih berwarna. Sama om-om monoton terus. Lagian, foto bareng pasti nanti kamu dibilang, 'ya ampun kasian kakeknya jadi cover buku yasin'."
Ingin kutendang Gerald dari atas tempat tidur. Aku memeletkan lidahku kesal ke arahnya. Mengajak perang. Kami, orang tua yang berlaku kekanakkan.
"Cium nanti." ancamnya pelan. Aku ingin ngakak, melihat wajahnya.
"Nggak mau, kamu brondong jelek," aku mengejeknya balik.
"Tahu lah, om-om yang nggak laku itu yang paling ganteng." jawab Gerald skeptis.
"Jiah... daddy cemburu nak. Nggak-papa, nanti mommy kenalkan sama Om Rangga. Dia sangat baik, nanti Kelsea dibelikan hadiah ya," aku suka membuat Gerald panas. Percayalah, ini tidak serius. Aku tak ingin berhubungan dengan siapapun orang di masa lalu. Aku ingin fokusku ke keluarga kecilku. Terutama, perkembangan bayiku. Yang membuatku semakin takjub semakin hari karena pertumbuhan Kelsea dan tingkahnya.
"Dia, cocoknya dipanggil kakek. Aku aja, manggilnya om," protes Gerald.
"Bodo!" kataku pelan, tak mau terdengar anakku. Walau dia belum paham apa-apa.
"Daddy tidur dulu ya Kelsea. Cepat besar, biar daddy buat adik lagi. Udah lama, daddy puasa nih," aku terenyuh mendengar curhatan Gerald. Kebutuhan lelaki itu beda. Aku tahu, dia tersiksa. Sebenarnya, jahitanku sudah dilepas. Tapi, aku masih takut. Walau kata dokter, sudah boleh berhubungan. Aku masih merasa ngilu dan ngeri saat milikku masih luka. Dan juga, aku selalu merasa parno kalau milikku sekarang sudah sangat jelek, yang membuat Gerald tak berselera. Tapi kusimpan semuanya sendirian. Sampai aku benar-benar memastikan bagaimana bentuk milikku sekarang.
Kulihat, Gerald menutup lagi matanya. Aku mengamati, wajah suamiku. Tidak ada yang berubah dari wajahnya. Walau sudah menjadi ayah, tingkah remajanya belum hilang. Entah, kapan dia akan dewasa.
Aku mengangkat, Kelsea dan menyusukan anakku. Tumben sekali, dia tidak rewel dan main terus. Aku mencium pucuk kepalanya dan mencium ubun-ubunnya yang masih sangat lembek. Masih terasa sekali, denyutan di ubun-ubunnya. Aku yakin, anakku akan sangat cantik nanti.
Kruk ... kruk ... kruk ...
Perutku berbunyi.
"Ya ampun nak. Mommy lapar. Ayo temanin mommy makan."
Aku membawa Kelsea keluar, sambil Kelsea terus menyusu. Aku makan gandum. Karena sangat bagus, untuk melancarkan air susu. Aku memakan roti, yang memang telah dikemas khusus ibu menyusui. Kebanyakan makan gandum begini, membuatku cepat enek. Tapi, kutahan demi air susuku lancar.
"Mommy makan. Kelsea juga makan."
Aku membantu memasukan roti dengan bantuan air.
Kulihat anakku, sudah terlelap. Walau masih menyedot-nyedot susunya. Bibir mungilnya, sangat mengemaskan. Bibir kecil dan sempit yang memang khusus untuk puting saja. Aku juga, minum susu khusus ibu menyusui dengan rasa strawberry. Kuteguk habis susu itu. Apapun, aku tidak boleh egois demi anakku sekarang.
"Mommy udah kenyang. Kelsea, bobo di ranjang ya. Ada daddy, nanti kena tindih daddy pula. Daddy nggak pandai ngurus kamu nak."
Badanku terasa hangat, setelah minum susu. Aku mengendong bayiku, dan meletakan di ranjang bayi miliknya berwarna pink. Aku melihat suamiku yang mendengkur halus. Tanpa sadar, tanganku terulur untuk mengelus wajahnya. Dia bikin kesal, bikin sayang. Tapi aku mencintainya sangat.
Handphone-ku bergetar. Aku membuka pesan itu. Menebak-nebak siapa yang mengirim pesan itu.
Nomor asing. Nomor tidak dikenal.
Seseorang : temui aku di ****** dan jangan sampai Gerald tahu. Ada hal penting yang mau disampaikan, sekarang!
____________________________________Coba tebak itu siapa? Jawab sebanyak-banyaknya dan skreatif mungkin.
Konfliknya berasal dari isi pesan misterius ini.
Sudah siap konflik? Badan emak lemas duluan 😭😭😭☹☹☹☹☹☹☹. Demi apapun, emak sampai terbawa mimpi, terbangun di tengah malam, gegara konflik mereka☹☹☹☹☹☹. Kayak menyuruh biar gak boleh buat konflik itu😖😖😖😖. Mereka terlalu menyatu dengan emak.
Emak minta jangan kabur please, kalau gak kuat dengan konfliknya. Kalian bisa refresh dulu. Pas hati kuat boleh baca.
哦,我男朋友来了,回聊nnnnnwChapter test, please forgive me A a a a a a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a B b b b b b b b b b b b bb b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b b C c c c c c c c c c c c c c c c c c cc c c c c c c c c c c c c c c c c c D d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d d dE e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e e eF f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f f G g g g g g g g g g g g g g gg g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g H h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h h I i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i J j j j j j j j jj j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j j K k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k k L l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l M m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m m
d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d. d d d d d d d d d d.
ALIS P.O.VI looked at the clock on the wall and saw that it was 3:30. I never did ask Matthew what time my shift is finished. The only thing he did tell me was that I would start work at 7:30. Ugh! I wonder if I'll have enough time to get ready for the party Im going to with Mark tonight. I mean...I still have to meet up with Dillion at his house to help him and his sister Dina move their stuff to my apartment.
Daisy found nobody in the room and the door was also closed. She was feeling dizzy and weak but still while staggering she managed to stand up from the bed. Taking slow careful steps, she started walking towards the door, supporting the bed. She was feeling that suddenly her body started feeling heavy. Even walking was difficult for her. The gown, she was wearing was not of her size. It was a little loose but she felt comfortable in it.S
"Sixty-third. Sixty-third." Andrea Myles squinted through oversized sunglasses as she wedged the Crown Vic through New York traffic. "We're here. And I didn't say Anna was weird. I said she was unconventional."Crook Kingsman struggled to keep the growl out of his voice. "Some kind of psychic, isn't she? Anna Dumain. Sounds like a television tarot reader.""She's not a tarot reader." Andy braked and slipped into a rare parking space alongside Central park. "She's a scientist who studies... unusual things. She and her two cousins. They're like private investigators."Crooks gut tightened at Andy's I'm-holding-a-few-things-back tone. "And?" "And she's my friend, so you better be nice to her." "And?" He drummed his fingers on two thin, unmarked folders stacked between them on the Crown Vics seat.
Sebastián regresó a la habitación para acompañar a su hijo, empezó a hablarle mientras el niño permanecía inconsciente, diciéndole —Te amo hijo. Perdóname por haberte castigado sin razón. Perdóname por no saber acercarme a tí y por no poder decirteque estoy muy orgulloso de ti, como no estarlo, con un hijo que toca el violín desde los tres años, conoce y habla más de cuatro idiomas con menos de seis años, es campeón infantil de competencias automovilísticas, maneja el computador y sus programas mejor que yo —manifestó con una sonrisa—me muestra mis errores esperando que los corrija, me deja sin palabras con su fluidez. Prometo no volver a juzgarte sin oírte. Soy imperfecto Taddeo, me equivoco y lamentablemente no hay un manual que me indique como ser un buen padre, se