Masukletta menendangi kerikil-kerikil kecil yang ada di depan sepatunya sambil terus menyerapah.
"Sialan itu HRD. Giliran ada yang bening dikit aja gue langsung ditolak mentah-mentah. Padahal dia lulusan kemaren sore. Belum ada pengalaman kerja. IPK juga ga lebih gede dari gue tapi kenapa dia yang diterima? Emang bener berarti bunyi pasal keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good looking karena ga seluruh rakyat Indonesia diperlakukan adil dan baik cuma gara-gara komuknya doang," maki Aletta masih sambil menendangi kerikil-kerikil itu dengan bersungut-sungut.
Aletta sadar bahwa wajahnya tidak cantik. Mata sipit, hidung tidak mancung meski tidak bisa dibilang pesek, rambut panjang yang nyaris seperti ijuk karena kaku meski sudah dikeramas (tapi khusus wawancara kerja hari ini dia mencepolnya), serta tubuh tinggi besarnya memang tidak menarik terutama bila melamar untuk bekerja sebagai customer service atau posisi-posisi lain yang berhubungan dengan banyak orang. Hanya kulit putihnya yang jadi kelebihan. Mantan manajernya dulu malah pernah dengan terang-terangan mengatakan bahwa postur tubuhnya itu "mengintimidasi" alih-alih mendatangkan rezeki. Tapi bos besarnya menjadikannya anak emas karena Aletta bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan bagus. Sayangnya, akibat banyak orang yang tidak suka dengannya, posisi Aletta di perusahaan itu dijegal oleh orang-orang yang iri padanya. Hasilnya Aletta terpaksa harus menganggur karena dikeluarkan dari pekerjaannya. Kini dia pun terpaksa harus mencari kerja sana sini dengan susah payah.
Tubuh Aletta memang tak semolek Anya Geraldine, wajahnya tak secantik Raisa Andriana, suaranya tak semerdu Isyana Sarasvati, dan follower-nya tak sebanyak Ria Ricis tapi Aletta tetap berpegang teguh bahwa dia memiliki kemampuan yang bisa membuatnya bersaing dengan pelamar kerja yang lain. Tapi Aletta lupa bahwa zaman sudah berubah. Kini segalanya butuh privilege.
"Aw!" Suara seseorang terdengar gaduh. "Siapa yang lempar batu sembunyi tangan?" tanya suara itu.
Aletta mencari sumber suara tapi dia tak menemukan siapapun di sekitarnya.
"Hii, jangan-jangan setan lagi." Aletta mulai merinding dan memeluk tubuhnya sendiri. "Tapi ini kan masih siang. Masa sih setan muncul tengah hari gini?" Aletta masih berusaha mencari sumber suara. Siapa tahu ada manusia sedang berkamuflase sehingga manusia itu luput dari pandangannya.
"Jij nyari ik?" tanya suara itu lagi.
Aletta masih celingukan mencari suara itu. Nihil. Dia masih tak menemukan sosok empunya suara di sekelilingnya.
"Jij liat kemana sih? Liat ke atas sini!" Perintah suara itu yang tanpa disadari Aletta langsung diikutinya. Aletta mendongak ke atas, ke arah rerimbunan pepohonan. Dia menemukan sosok manusia sedang nangkring di atas pohon dengan kedua sayap mengepak-ngepak tak santai. Kedua sayap itu seketika membuat Aletta sadar bahwa makhluk itu sudah jelas bukan manusia. Manusia tidak ada yang bersayap kan?
"Jij mau lempar batu sembunyi tangan ya?" tuduh makhluk itu.
Aletta justru ketakutan begitu melihat penampakan di atasnya itu. Dia buru-buru melepas sepatunya lalu berlari secepat yang dia bisa. Tak dia hiraukan panasnya aspal jalanan karena terpapar teriknya sinar matahari.
"K-KUNTIIIIIII!!!" Jerit Aletta. "EH, PEMBALUUUTTT!!"
"Eh, eh, eh." Sosok itu mengejarnya lalu tiba-tiba saja makhluk itu sudah ada di hadapan Aletta, menghadangnya. "Jij mau kemana, hah?"
Aletta ingin berlari lagi tapi kakinya seolah terpaku ke aspal jalanan. Dia makin ketakutan karena dia merasa terjebak, tak bisa menemukan jalan keluar.
Gimana ini? Batin Aletta galau.
Dua kesialan harus Aletta hadapi dalam tempo yang singkat. Sudah ditolak kerja, kini harus bertemu makhluk yang tidak jelas klasifikasinya ini. Dibilang kunti tapi kenapa bersayap dan muncul di siang hari. Dibilang pembalut tapi kenapa mirip kunti. Ah, katanya sih malaikat bersayap tapi masa malaikat ngondek? Pake bajunya warna-warni pula. Ini malaikat abis ngisi acara dangdut?
"Jij harus menebus dua kesalahan jij. Udah lempar batu kena kepala ik, sekarang ngatain ik kunti. Ik bukan kunti tau!" Sosok itu cemberut. "Apalagi dikatain pembalut. Nay, nay, nay. Masa ik disamain sama penadah darah." Sosok itu bergidik dengan gaya khasnya.
Sosok itu bertubuh layaknya manusia. Dia mengenakan setelan dengan warna pelangi berbahan glossy persis seperti penyanyi dangdut kalau lagi manggung. Oh, tentu saja Aletta tidak menyuarakan pikirannya lagi kali ini karena takut sosok di hadapannya itu tersinggung disamakan dengan penyanyi dangdut yang menurut makhluk itu bisa saja norak. Wajahnya rupawan dengan dagu lancip dan kulit putih bersih. Bibirnya disapu oleh lip tint merah muda yang juga glossy. Hidungnya mancung. Rambutnya hitam cepak. Dia memakai sepatu pantofel pink dari kulit dengan aksen bulu-bulu. Terlihat imut sekali. Andaikan Aletta sedang tidak dalam kondisi ketakutan pasti Aletta menganggap sosok di hadapannya ini adalah model sebuah majalah sedang cosplay menjadi malaikat. Kedua sayapnya yang mengepak terlihat lucu. Mungkin dia memakai sejenis tuas untuk membuat sayap-sayap itu mengepak. Tapi, bagi Aletta, kedua sayap itu terlihat asli.
"Nama ik Angelou. Ik itu malaikat. Ik bukan kunti apalagi pembalut," katanya sambil memamerkan kuku-kukunya yang bersih berkilau dengan gerakan gemulai.
Waduh, gue abis lempar batu kena bencong terus sekarang bencongnya langsung ngehalu gini? Gimana dong ini? Batin Aletta kalut.
"Hey, Manusia!"
"Eh, iya iya." Aletta otomatis terkejut begitu mendengar sentakan sosok yang mengaku malaikat itu.
"Jij tuh kebanyakan ngelamun makanya sial mulu," kata sosok yang mengaku malaikat itu. "Jij udah ngelamar kerja kesana kemari tapi ditolak terus kan?"
Aletta terpana. Bagaimana makhluk di depannya itu bisa tahu?
"Jij udah berusaha nurunin berat badan, nontonin video tutorial make up, sampe belajar make up tapi tetep ngerasa ga cantik juga kan?"
Aletta terpana lagi. Bagaimana makhluk itu bisa tahu juga?
"Jij suka iri kalo liat model-model cantik di majalah, di TV, dan cewek-cewek yang dilihat di pusat perbelanjaan karena mereka punya tubuh yang bagus kan?"
Aletta menganga kali ini. Bagaimana dia bisa tahu sejauh itu? Dia cenayang kah? Doppelganger-nya kah? Alter ego-nya kah? Tapi mana mungkin Doppelganger dan alter ego-nya adalah seorang pria gemulai?
"Jij terkejut?" tanya makhluk itu sambil tersenyum. "Ik juga terkejut pas baca isi kertas ini!" Makhluk itu melemparkan selembar kertas berisi data dirinya, segala kelebihan, dan kekurangan, termasuk kebiasaan, tanda lahir, dan sebagainya yang bahkan dia sendiri tidak tahu. Siapapun yang menulis kertas ini sepertinya lebih tahu tentang Aletta daripada dirinya sendiri. Tapi siapa yang menulis di kertas itu?
"Ik tadi bacain isi kertas itu doang by the way bukan ngeramal," kata makhluk itu lalu terkekeh. Mungkin dipikirnya lelucon itu lucu. Oh, mungkin di dunia malaikat memang lucu. Sayangnya dia belum belajar lelucon receh ala manusia.
"Lo- Lo dapetin kertas itu dari mana? Siapa yang nulis itu?" Aletta mencecar makhluk itu.
Makhluk itu memutar bola matanya malas. "Jij ga perlu tau siapa yang nulis. Intinya kredensial si penulis itu sudah jelas lah. Terpercaya."
"Iya, tapi siapa? Dia punya kredensial apa?" Aletta masih tak puas dengan jawaban sosok itu.
Makhluk itu mendesak sebal. "Jij itu jadi orang ngeyel. Pantes susah dapat kerja."
Aletta mendengus. Tapi dia tak protes karena memang kenyataan berkata begitu. Dia sudah berbulan-bulan mencari pekerjaan baru setelah didepak oleh perusahaan tempat dia bekerja dulu dengan alasan pemangkasan tenaga kerja akibat pandemi padahal Aletta tahu betul bahwa ada permainan kotor di dalam perusahaan itu untuk menyingkirkannya. Dia membuat CV baru semenarik mungkin, ikut bursa kerja, dan melamar pekerjaan sana sini tapi tetap tak ada hasil.
"Jij ga penasaran kenapa ik ada di sini? Kenapa malah mikirin siapa yang nulis di kertas itu?"
Ah iya. Kenapa Aletta justru sibuk mempertanyakan siapa penulis kertas itu alih-alih mempertanyakan siapa makhluk yang mengaku malaikat di hadapannya ini?
"Lo- Lo siapa?" tanya Aletta dengan gerakan defensif.
"Astaga. Ik kan tadi udah perkenalan. Ik Angelou. Malaikat. Jij ga dengerin ik tadi?" ucapnya dengan sebal. "Udah ngeyel, budek juga deh jij!" umpat Angelou.
Meski Aletta sebal karena dikatai ngeyel dan budek, toh Aletta sadar dia sudah salah sehingga Aletta harus minta maaf.
"M-maaf. Abisnya lo nongol tiba-tiba gitu jadi gue takut. Oh iya, gue minta maaf karena tadi gue ga sengaja lempar batu terus kena ke lo," kata Aletta pelan.
Angelou mengibaskan jemari lentiknya. "Huh, ga papa. Anggep aja ik lagi berbaik hati sama jij."
"Oh, sama gue juga minta maaf karena udah ngatain lo kunti dan pembalut tadi," lanjut Aletta lagi. "S-soalnya gue ga ngerti lo itu apa dan siapa. Karena lo bisa terbang dan punya sayap jadi gue bilangnya kunti dan pembalut."
"Ya, ya. Anggep aja ik lagi baik kali ini."
Aletta tersenyum. "M-makasih."
Angelou tersenyum tipis. "Jadi gini, Manusia. Ik kesini karena diutus untuk memberitahu jij sesuatu."
Aletta mengernyit. "Sesuatu apa?"
Angelou tersenyum. "Yang jelas sesuatu ini akan bikin jij senang."
Aletta makin tertarik karena penasaran. "Apa itu?"
"Jij mau tau?" Angelou bertingkah sok misterius membuat Aletta makin penasaran.
"Mau, mau, mau!" Aletta langsung mengangguk dengan semangat.
"Tapi ada syaratnya."
Aletta ingin berteriak saja. Angelou ini membuatnya habis kesabaran.
"Apa?" Namun, alih-alih marah, Aletta justru berusaha menahan kesabarannya agar Angelou tak buru-buru kabur lalu dia meninggalkannya bertanya-tanya penasaran hingga tak bisa tidur.
"Bawa ik ke tempat jualan es krim lalu traktir ik sepuasnya." Angelou nyengir jahil.
"Hah?" Aletta langsung berteriak. "Mana ada-"
"Jij mau tau ga?" goda Angelou.
Aletta menimbang-nimbang keputusan yang akan dibuatnya. Seingatnya dia masih menyimpan uang dua ratus ribu di kantong roknya. Sepertinya cukup kalau untuk membelikan Angelou es krim beberapa porsi. Tapi itu uang terakhir yang dia punya dari hasil memecah celengannya. Itu sebenarnya uang untuk ongkos dia melamar kerja kesana kemari. Kalau uang itu dipakai sekarang bagaimana besok dia pergi melamar kerja?
"Jadi ga nih?" Angelou masih menggoda Aletta, membuat gadis itu makin bimbang.
"Duit gue tinggal dua ratus. Itu duit terakhir yang gue punya. Kalo gue pake buat traktir lo-"
"Tenaaaang. Kalo jij ikut ik, jangankan dua ratus ribu, dua milyar pun bisa jij dapat dalam semalam," rayu Angelou membuat mata Aletta berbinar cerah.
"D-dua milyar?" Aletta membelalak. Iming-iming mempunyai uang dua milyar terasa memabukkan.
Angelou mengangguk. "Syarat dan ketentuan berlaku tentu saja."
Aletta langsung waspada. "Lo bukan MLM kan?"
Angelou tertawa. "Apa itu MLM? Ik bahkan ga tau apa itu MLM."
"MLM itu- Ck, ga usah dibahas. Tapi beneran nih?" Aletta mulai goyah lagi.
"Malaikat ga pernah bohong, Aletta. Come with me and lucky will be your middle name. Oh, dengan syarat dan ketentuan berlaku ya, jangan lupa!" Angelou menjelaskan dengan gaya gemulai khasnya.
Aletta berpikir sejenak lalu katanya. "Oke. Ayok!"
Angelou tersenyum senang. Diikutinya langkah gadis tambun itu dengan riang.
Es krim, es krim. Senandung Angelou sepanjang jalan.
***
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théolog
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intention