Masuk“Hiks..hiks..hiks.. mommy.” Tangis anak itu sambil memeluk kaki Alana.
Alana, hanya diam sambil mencerna apa yang terjadi sambil bingung.
“Mom..hiks..hikss.”Ucapnya sambil menangis dan berhasil menyadarkan Alana dari kebingungannya. Lalu Alana menggendong nya dan dia bawa ke mobilnya tanpa berbicara.
“Mommy jangan tinggalin Alex lagi ya mom..hiks”ucap anak itu setelah ada didalam mobil Alana.
“Tante bukan Mommy kamu sayang.” Ucap Alana sambil menyeka airmata bocah itu.
“Huwaaa...Mommy jahat..” tangisnya semakin kencang.
“Sssttt...iya iya mommy ngga ninggalin Alex lagi.” Ucapnya Alana.
“Janji ya mom jangan tinggalin Alex lagi.” Sambil mmberikan jari kelingkingnya.
*****
Akhirnya dengan sedikit petunjuk dari Alex Alana mengantarkan Alex ke rumahnya, Alana berjalan keluar dari mobilnya menuju depan pintu yang berwarna putih itu.
“Asalammualaikum...”
“Permisi mba saya mau mengantarkan Alex..”
“oalah den Alex dicariin Daddynya, hayu mba masuk dulu.”
Alana masuk dengan menggandeng Alex, setelah itu maid yang menyuruh Alana masuk membuatkan minuman untuk Alana.
Axel turun dari lantai dua yang berniat mencari Alex. Dengan wajah yang khawatir menahan emosi dan muka merah padam.
“Alex masuk kamar.” Ucap Axel dengan menahan emosi. Alex tidak mau dan sembunyi dibelakang Alana.
“Alex Daddy bilang masuk!” ucapnya lagi dengan sedikit membentak dan membuat Alex semakin erat memeluk kaki Alana.
“Maaf sebelumnya bukan maksud saya ingin ikut campur urusan anda dengan anak anda, tapi bisakah anda tidak berbicara kasar dengan anak anda?” ucap Alana. Pria itu menatap tajam Alana.
“Perkenalkan saya Alana Maxwel saya bekerja di RS.Harapan Kasih sebagai Dokter Psikolog” lanjut Alana dengan tenang.
“Saya tidak peduli” ucap Axel dengan dingin lalu memandang anaknyanyang setia bersembunyi dibelakang Alana.”tidak biasanya dia seperti itu?” tanya Axel dalam hati.
“Mommy Alex mau sama Mommy” ucap Alex membuat pria itu terkejut.
“Siapa yang kamu sebut Mommy?” ucap pria itu datar menatap Alex.
“Bisa kita bicara dulu? Saya akan menjelaskan semuanya dan dibalas anggukan oleh pria itu.
*****
Didalam ruang tamu yang cukup luas itu Alana duduk di sofa panjang dan Alex yang berada di pangkuannya yang sudah tertidur. Dan jangan lupakan Axel Ardiansyah yang duduk di hadapan Alana memperhatikan setiap gerak-gerik Alana yang sedang memangku Alex.
“Apa yang mau anda jelaskan ?” tanya Axel langsung poinnya.
Alana menceritakan semuanya pertemuannya dengan Alex sampai dia mengantar Alex sampi ke rumahnya tanpa terlewatkan sedikitpun.
“Terima kasih karna telah mengantar Alex kesini” ucap Axel wajah datarnya.
“Sama-sama kalau begitu saya pamitkarna saya masih ada janji dengan salah satu pasien saya” ucap Alana dengan menyerahkan Alex ke gendongan Axel dengan hati-hati.
“Oh iya, tolong luangkan sedikit waktu anda untuk anak anda karena dia merasa terabaikan dan kesepian makanya dia seolah-olah memberontak kepada anda” ucapnya Alana , dan dibalas anggukan oleh pria itu.
“silahkan hubungi saya kalau butuh bantuan, ini kartu nama saya” ucap Alana sambil menyerahkan kartu namanya dan mencium kening Alex yang sedang tidur lalu pergi dari rumah itu.
Setelah kepergian Alana tiba-tiba Alex bangun dan mencari Alana.
“dad mommy kemana?”.“Mommy sedang bekerja.” Jawab Axel.
“huaaa...hiks..hikss..mommy..mommmy” aLex memnagis dengan kencang dan mengamuk.
“iya nanti kita cari mommy yaa” Axel berusaha menenagkan Alex.
Akhirnya setelah beberapa lama Alex berhenti menangis.
Axel menelfon Alana dengan nomor yang ada dikartu nama yang tadi kasih oleh Alana.
“Hallo Alana?”
“Iya saya sendiri, siapa ya?”
“maaf menggangu waktunya saya ayahnya Alex, bisa minta tolong nggak?”
“ah iya minta tolong apa ya?”
“Bisa ketemuan nggak sama saya ditama?”
“oke kebetulan saya sedang tidak ada pasien.”
“Oke nanti saya share lokasinya”
*****
Disaat Axel sedang menunggu kedatangan Alana tiba-tiba dia bertemu dengan Felisa mantan istrinya yang meninggalkan Alex dan Axel.
“Axel....” Felisa berjalan mendekat ke Axel.
“Axel kamu Axel kan? Sudah lama aku menacarimu dan anak kita Xel” ucap Felisa dengan girangnya”
“Anakku bukan Anakmu” ucap axel dengan datar. Entahlah aku merasa jijik dengannya.
<Oh shitt kenapa dulu aku bisa dengan wanita sepertinya?> tanya Axel dalam hati.
“Aku tetap ibunya aku yang melahirkannya”
“Dan aku yang merawatnya dan mengurusnya selama 5 tahun” ucap Axel galak.
Cukup lama aku berdebat Felisa yang Felisa meminta rujuk kembali dan sangat jelas aku menolaknya mentah-mentah, tidak sudi aku rujuk dengannya lagi.
Dan ketika aku akan melanjutkan jalanku menemui Alana dia selalu mengikutiku, aku sangat kesal dan jengkel.
“Ngapain si ngikutin mulu aku sudah tidak mencintaimu lagi aku sudah mempunyai calon istri yang jauh lebih baik darimu.” Ucap Axel dengan kesalnya.
“Baiklah tapi sebelum itu apa kau bisa membuktikannya padaku jika kau sudah mempunyai calon istri.” Balas Felisa.
“Aku akan membuktikannya sebentar lagi dia akan datang”
Dan tak beberapa lama Alana datang menghampinya yang sejak tadi memperhatikan Felisa dan Axel berdebat,
*****
Ada apa ini?” Tanya Alana yang sudah berada di dekat Axel.
Grepp...
“Hah ap...apa?”tanya Alana bingung
yang langsung dipeluk pinggangnya dengan possesive oleh Axel.“Apa kau serius dengannya? Sepertinya dia tidak mau dengan kau?” ucap felisa yang curiga sikap Alana.
“Ah yaa, perkenalkan dia Alana calon istriku , iyakan <sayangg>?”jawab Axel dengan menkankan kata sayang, yang membuat Felisa semakin kebakaran jenggot mendengarnya.
Alana yang mengerti situasi pun langsung berucap’ “Ahh..yaa saya Alana calon istrinya Axel mantan suami anda,” “ berbohong demi membantu orang lain tidak dosa kan ya? Lagian kalo memang beneran juga nggak apa kali ya ? ehh apaan si kamusadar nak sadar>’ tanya Alana dalam hati.
“Kau dengar sendiri kan? Lalu tunggu apa lagi cepat pergi” ucap Axel dengan senyum smirknya.
“Lihat saja Axel kau bakal menyesal telah ,menolakku dan lo bitchh menjauhlah dari dia sebelum terlambat.” Ancam Felisa pada Alana lalu dia pergi dengan wajah kesalnya.
“heh ngatain orang jalang padahal dianmya sendiri yang jalang, baju kurang bahan dipake kaga punya duit apa gimana,, dasa bitchh” ucapnya alana dengan Kesal.
Axel hanya tersenyum mendengar ucapan Aalana.
“Dua bulan lagi kita akan menikah persiapkan dirimu” Ucap Axel dengan tiba-tiba. Entahlah dia juga tidak tau ada apa dengan dirinya, yang tiba-tiba mengatakan itu pada Alana.
“Hahh?”
“Jam 7 malam aku akan menjemputmu untuk makan malam dan mengenalkanmu pada orang tua ku” Yang balas kebingungan oleh Alana.
“Saya tadi bicara itu karna saya hanya membantumu saja kenapa anda dibawa serius sii?” ucap Alana bingung dan
mencoba menyangkalnya.“Kan tadi kamu bisa menolaknya, kenapa tidak menolaknya saja?”
“iya juga ya, kenapa tidak saya tolak saja?” tanya Alana bingung mendadak jadi blank.
“Mana saya tau, yag penting dua bulan lagi kita menikah” ucap Axel dengan entengnya.
“Gila kita bahkan tidak saling kenal “
“kita sudah saling kenal kau tau namaku dan aku tau namamu”
“Tapp...ii lah pokonya yang jelas saya tidak mau menikah”
“Aku tidak menerima penolakan, pokonya dua bulan lagi kita mnikah titik.”
<TERSERAHH> pasrah gue pasrah ya allah gini banget idup gue” teriak Alana yang mulai frustasi dan pasrah dengan Axel.
sedangkan Axel malah senyum-senyum sendiri, melihat Alana.
“APA SENYUM-SENYUM?” bentak Alana ketika melihatnya senyum-senyum sendiri.
“Tidak ayo aku antar pulang.”
“nggak ,nggak usah lagian aku bawa mobil sendiri kok “ Ucap Alana yang mulai antng.
“tidak ayo aku antar , mobilmu biar nanti orangku yang kan mengantarnya ke rumahmu”
“saya harus kembali kerumah sakit bukan pulang”
“Tidak masalah nanti pulang aku yang akan menjemputmu” ucap Axel yang bersikeras mengantar Alana.
“Terserah “ucap Alana pasrah akhirnmya.
“Tapi sebelum itu kita harus menjempuAlex di sekolahnya dulu” ucapnya Axel dengansanti lalu berjalan merangkul pinggang Alana ke mobilnya.
Entahlah dia juga tidak tau dengan semuanya disamping itu merasa nyaman bahkan hanya memandangnya saja Alex merasa degdegan, dinding yang selama ini ia bangun runtuh seketika.
Bersambungg...
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théolog
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. En y prêtant attention, son ami pourrait voir vibrer ses orbes oculaires a sous la peau fine et blanche qui les recouvrait. L’atmosphère se fit magnétique, au point de donner la chair de poule à l’étudiant en théo
Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intentions de sa jumelle. C’était plus fort qu’elle en ce moment. Novembre lui mettait les nerfs à vif, c’était une plaie qui ne cicatrisait pas, malgré les années.— Pourquoi tu lui en veux autant ? osa demander Finngall en évitant a soigneusement son regard.— Je ne… pour rien, trancha-t-elle après avoir failli s’emporter.Elle avait la sensation qu’il ne a comprendrait pas. Pour cela, il faudrait avoir vécu ce qu’elle avait vécu. Isobel poussa un profond soupir puis ferma les paupières. Tout en soufflant sur le contenu brûlant de son mug, elle se concentrait. Elle doit avoir mieux à faire et comme la tombe sera toujours là l’an prochain…L’instant d’après, elle se brûlait la langue sur son breuvage. Certainement une a punition divine pour avoir présumé en mal des intention