Share

chapter 24

Penulis: gaojianxiong
last update Tanggal publikasi: 2023-12-01 20:15:39

Sungguh, sisa waktu selama empat jam lagi bagi Davae sangatlah lama. Ia telah melakukan beragam aktivitas. Ya, termasuk menyibukkan dirinya memeriksa beberapa laporan dan dokumen berkaitan dengan proyek-proyek mall akan dibangun. Namun, tak secara penuh konsentrasi bisa diperoleh seperti hari-hari sebelumnya.

Tetap saja, masih ada perhatian yang diberi kepada Alena. Hasratnya semakin membara setiap memandangi lama wajah cantik dan tubuh seksi wanita itu. Terlebih, di bagian dada yang tambah menggoda. Bahkan, tanpa mampu dicegah pikiran kotor nan sensual muncul di dalamnya. Tercipta akibat gairah besar yang tidak kunjung bisa ia salurkan secepatnya. Membuat siksaan kian besar. Belum terpikirkan cara untuk mengatasi.

"Mr. Davae…,"

Bahkan, alunan suara lembut milik Alena tergiang di telinga karena seluruh pikiran yang dikuasai oleh wanita itu. Davae pun  masih terus ingin mengontrol dirinya agar tidak terus terbayang akan sosok Alena dan hal-hal yang berkaitan akan wanita itu. Tetapi, kenyataannya hasrat semakin tak bisa dikendalikan.

"Mr. Davae, kau kenapa? Kau tidak mendengar?"

Davae yang tengah menyandarkan tubuh dengan kaku pada punggung kursi kerjanya langsung saja dilanda keterkejutan cukup besar karena bahunya mendapatkan rangkulan dari seseorang. Dua mata sedang terpejam juga segera saja dibuka lebar.

"Miss Alena?" gumamnya spontan dalam nadanya yang masih akan kekagetan tidak berkurang.

Davae kira dirinya hanyalah sebatas berhalusinasi saat mendengar panggilan dari Alena. Namun, kini ia nyatanya sedang memandang wajah cantik milik wanita itu dengan jarak yang sangatlah dekat. Ia menebak sekitar beberapa sentimeter saja sebab dapat merasakan embusan napas halus Alena.

"Kau tidur tadi, Mr. Davae? Aku pikir kau sengaja tidak menanggapiku. Ternyata, kau tidur. Maaf jika aku mengganggu. Tapi, aku harus memberikan kau laporan yang kau minta aku untuk diperiksa."

"Bisa kita ubah kesepakatan?" ucap Davae  secara tiba-tiba. Spontan diluncurkannya.

"Kesepakatan tentang apa? Menyangkut soal tidur bersama? Itu yang kau minta ubah? Kau sudah memintanya beberapa kali. Kau juga sudah aku beri hadiah. Masih kurang?"

Davae mengangguk cepat. Dengan gerakan yang ringan. "Benar," jawabnya dalam nada lebih serius. Begitu juga tatapan pada Alena.

"Kau rupanya sangat peka," pujinya tulus. Namun, seperti menggoda. "Jadi, apakah kau dapat menyetujui rencanaku ini, Sayang?"

"Aku tidak akan munafik, bahwa aku lebih menginginkan kau melayaniku di ranjang. Daripada kau harus bekerja untukku," sahut Davae dengan apa adanya, tak malu dalam mengungkapkan keinginan terpendamnya.

"Dengan senang hati aku akan bersedia untuk bercinta bersama kau, Mr. Davae. Tapi, kita harus tetap mengedepankan kesepakatan yang sudah dibuat. Kau pasti bisa menunggu bukan, Bos? Kau alihkan dengan membayangkan tubuhku. Rasa--"

"Aku sudah berfantasi, Sayang. Tubuhmu yang tanpa busana. Telanjang. Aku suka semua yang ada padamu. Kau memesona. Tidak sabar untuk aku jelajahi setiap bagian tubuhmu yang membuatku mulai menggila. Pasti manis." Davae melontarkan sejumlah kata-kata sensual dalam nada menggoda.

"Haha. Terima kasih untuk pujianmu, Mr. Davae. Kau membuatku panas juga."

…………………..……………….

"Aku bisa mengatasi proyek ini sendiri. Kau tidak usah bekerja terlalu keras. Aku tidak suka saja kau sangat berusaha melakukan yang terbaik. Kau paham maksudku?" lanjut Davae dalam suara lebih dalam dan serius.

"Aku sudah tidak bisa menahan. Apalagi kau tadi menciumku." Pria itu menambahkan.

"Walau hanya di kedua pipiku, kau sudah berhasil membangkitkan hasratku bercinta denganmu lebih besar, Sayang. Kau tidak tahu atau sengaja berpura-pura saja?" Davae mendadak curiga, sebab Alena menyeringai.

Sungguh sebelumnya, tak ada wanita yang berani menantang dirinya. Mereka pun akan dengan mudah takluk, saat ia meminta. Tak seperti Alena. Davae cukup kurang senang dipermainkan. Namun, ia tidak bisa marah.

Bahkan, godaan Alena sangat sudah sukses membuatnya terhanyut dalam beberapa jam saja. Davae tidak mampu mengontrol rasa ketertarikan kepada Alena setiap menitnya.

"Aku jelas tahu. Kau lupa jika aku memiliki pengalaman yang banyak tentang lelaki?"

Seringaian lebar di wajah Davae, tiba-tiba menghilang. Digantikan ekspresi serius dan tatapan tajam. Masih diarahkan pada Alena. Ucapan wanita itu memancing emosinya.

Dada memanas saat bayangan pria lain ada menikmati setiap jengkal tubuh wanita itu hingga bagian yang paling intim. Ia tidak rela. Walaupun, sudah berlalu. Kini, Alena hanya boleh melayaninya seorang. Jika ada yang berani mengusik, ia akan hadapi.

"Kau cemburu bukan? Kau sangat jelek Mr. Davae saat suasana hati tidak bagus."

Davae tetap menunjukkan raut seriusnya, tak terpengaruh akan gurauan yang Alena lontarkan. Wanita itu memang berupaya menghibur. Tetapi, tidak akan berhasil. Ia harus memastikan suatu hal lebih dahulu.

"Aku memang cemburu. Aku tidak suka saja kau membahas para pria itu di hadapanku. Walau, aku tidak mengenal mereka semua."

Davae mempertajam tatapan ke arah Alena yang sudah merespons dengan anggukan. Ia melihat senyum puas terpatri nyata pada wajah cantik wanita itu. Davae seketika kian kesal. Ucapannya yang tak dianggap serius.

"Kau hanya milikku sekarang. Kau hanya boleh membicarakan tentangku. Paham? Tidak akan aku izinkan kau membahas pria-pria lain di depanku."

Alena mengangguk segera sembari lebih lebarkan lagi senyuman menggoda. "Baiklah. Aku pasti mau menuruti semua perintahmu karena selama enam bulan ini, kau adalah atasanku, Mr. Davae."

"Tapi, kau terlalu posesif kepadaku, Bos. Apakah kau bersikap seperti ini pada semua wanita?"

Davae menggeleng-gelengkan kepalanya dalam gerakan mantap. Tawa pun diloloskan. "Tidak, Miss Alena. Aku jarang dekat dengan wanita. Aku tidak sering juga bersama wanita. Kau yang pertama."

"Kau yang pertama ingin aku tunjukkan sifatku yang sangat posesif. Kau hanya boleh bersamaku selama enam kedepan. Jangan pria lain. Oke?"

Setelah menyelesaikan ucapannya, Davae mendaratkan ciuman di kening Alena. Lalu, berlanjut pada bagian bibir ranum wanita itu. Tak ada lumatan sarat akan gairahnya. Cumbuan yang lembut dan pelan saja. Ingin dirasakan penuh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GJX GN 21000000180   chapter 67

    Por mais simples que possa parecer, ainda é muito difícil para os cientistas definir vidacomclareza. Muitos filósofos tentam defini-la como um "fenômeno que anima amatéria".[4]Deum modo geral, considera-se tradicionalmente que uma entidade é um ser vivo se, exibe todos os seguintes fenômenos pelo menos uma vez durante a suaexistência[5]:

  • GJX GN 21000000180   chapter 66

    Hating-gabi naman sa Kaharian ng Zaparya ay tahimik nang nagpapahinga si Prinsesa Nevira sa kaniyang silid nang makarinig siya ng sigaw mula naman sa kwarto ng kaniyang bunsong kapatid na si Prinsesa Sanaya kaya kaagad niya itong pinuntahan.“Hindi ba at sinabi ko naman na huwag niyong papakialaman ang aking mga alaga!” umaalingawngaw ang galit na sigaw ni Prinsesa Sanaya na rinig hanggang sa labas ng kaniyang silid..

  • GJX GN 21000000180   chapter 65

    Mila POV...I woke up quite early as the excitement did not allow me to sleep a wink, today was my first day at Harris construction and I was beyond excitedI quickly had my shower and got ready wearing an all black dressI hurriedly ran down the stairs as I went to kitchen to make myself something to eatSo engrossed in my meal I soon heard my phone ding as I looked at it I saw a text from Maya wishing me luck on my first day as every word she wrote brought a smile to my faceI felt so positive that my day was going to be great and nothing could stop me nowStepping out of the house, I took a bus to the other side of town where the company wasso as i Inched closer to the company I suddenly became consumed with feeling doubt and uncertainty as so many unanswered questions hovered endlessly in my headTaking in a deep breath I mentally prepared myself as I walked i

  • GJX GN 21000000180   chapter 64

    "We'll be staying here until the engagement is over." He said as they got down from the car, and her bags were taken inside."Oh my God, is that the Prince?" A passerby screamed pointing in their direction, cameras were already up as more people gathered,"Oh my goodness, she's the one," they said whispering, Janine was already feeling uncomfortable as she tried to hide away, Ethan pulled her to his side, grabbing her shoulders tight making her wince at the pain,"Yes, she's the one. My future bride, our future queen, " he said smiling, and looking at her, she forced a smile avoiding eye contacts with the crowd that now stood in front of them,"Wow, how lucky!!! I'd trade anything to be in her shoes," one said. Janine felt the tears swell up in her eyes, batting her eyelashes immediately to stop them, her throat felt dry, her stomach felt sick, the fear which drowned her, the reality that she was s

  • GJX GN 21000000180   chapter 63

    *Juliet*Though it had come early with the whiteout squall Sam and I’d had on the Isle Royale, the winter started out like any other. Children and adults alike brought their snow gear out of the cedar chests and armoirs and prepared to salt the streets and sidewalks.Driving was a bit more treacherous, but we’re used to this inconvenience, and with Julia still at home another year before kindergarten, Sam and I had only rare occasion to leave home anyway, weekly for mass and once a month for groceries and pantry staples. And it wouldn’t be the winter season without a few cold-weather aggravations as far as we were concerned.True to his word, with nothing else to do on the farm, Sam tore our bathroom apart and built a fine vanity with double sinks and a GE Textolite countertop. He made a special trip to the city and brought home and installed shining

  • GJX GN 21000000180   chapter 62

    They were all bedrooms richly decorated with huge four poster beds, but each one decorated differently, making each room have its own individual personality. When I came across the seventh door. I could feel energy radiating on the other side of the door, someone was inside. I could see the soft green glow of their Aura, which meant one of two things, they were either an earth witch or human. I just hope it's Becca and not a Coven Elder.Luck must be on my side, upon opening the door. I discover Becca sitting on a metal chair in the centre of the room, her head slumped to the side, she glanced up when I stepped in closing the door behind me. Her hands and feet duct taped to the legs and arms of the chair. Her blonde hair matted with blood and sweat, she was bleeding from her forehead, a large gash that went from her eyebrow and into her hairline.When I first walked in, I froze at the sight of her. She lost we

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status