Share

chapter 24

Author: gaojianxiong
last update publish date: 2023-12-01 20:15:44

"Dia benar-benar seksi. Bagaimana aku bisa menahan diri lebih lama tidak bercinta?"

Alena terkekeh dengan cukup kencang. Ya, diakibatkan oleh ucapan sang atasan dalam nada menggoda yang begitu kentara kedua telinganya mendengar. Sebagai respons, ia pun langsung berhenti berjalan. Dan dengan cepat membalikkan badan ke belakang guna melihat sosok Davae, terutamanya ekspresi pria itu. Ia ingin tahu juga tatapan pria itu bagaimana.

"Kau cantik, Miss Alena."

Alena menambah kuluman senyum di wajah dan mengangguk. Sekali saja. "Aku tahu, Mr. Davae. Banyak juga yang sudah memujiku seperti kau katakan," jawabnya santai.

"Benarkah? Siapa saja mereka? Apa lebih banyak pria dibandingkan wanita?"

Alena hanya membalas dengan senyuman lebar hingga memerlihatkan deretan giginya yang putih. Seperkian detik saja. Kemudian, ia kembali melangkah memasuki area ruang tamu apartemen sang atasan tanpa memberi jawaban atas pertanyaan pria itu lontarkan.

Sengaja dilakukan untuk membuat Davae Hernandez menjadi semakin penasaran. Pasti menyenangkan. Ia suka saat pria itu punya keingintahuan yang besar. Ia yakin sang atasan akan bertanya kembali padanya.

"Siapa saja mereka? Bisakah beri tahu aku? Apa lebih banyak pria dari wanita, ya?"

"Miss Alena...,"

Tanpa menoleh ke belakang lagi, Alena terus berjalan ke arah ruang tamu. Harus ia lewati tempat tersebut terlebih dahulu untuk menuju ke areal dapur yang terletak paling ujung, berjarak sepuluh meter lagi. Langkah kaki-kakinya berjalan pun semakin dipercepat.

Panggilan dari sang atasan pun memang dengan penuh kesengajaan Alena abaikan. Sebab, ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Davae Hernandez. Dan guna menghindari perdebatan tidaklah penting, seharusnya tidak menanggapi pria itu memanggil.

"Miss Alena, tunggu aku..."

"Miss Feyord. Tunggu aku. Jangan cepat berjalan. Tidak bisakah ka--"

"Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti saja, Bos." Alena memotong cepat. Tetap tak berhenti seperti yang diperintahkan sang atasan. "Aku berat membawa barang belanjaan."

"Aku bisa membantumu, Sayang. Jadi, berhentilah. Aku yang akan membawa."

Alena mendengar jelas karena alunan suara dari Davae mengeras. Namun, ia tetap memilih tidak memedulikan. Melangkah dengan lebih gesit. Tinggal dua meter saja, ia akan sampai di kitchen set. Tepatnya meja keramik yang hendak ditujunya guna menaruh barang-barang baru dibelinya.

Target waktu ditetapkan Alena tidak meleset, dalam hitungan dua puluh detik, ia sudah mencapai meja. Plastik-plastik berukuran besar berwarna hitam di kedua tangan pun langsung diletakkannya di meja. Lantas, diputar badan langsingnya dan juga kepala guna dapat melihat sosok Davae di belakang.

Tidak cukup jauh bentangan jarak di antara mereka. Ia pun bisa jelas mengabadikan bagaimana raut wajah kekesalan pria itu. Membuatnya ingin tertawa. Namun, berusaha untuk tak dikeluarkan. Memasang raut wajah yang biasa-biasa saja. Tersenyum pun lebih ditipiskan.

Kedua tangan dilipatnya di depan dada. "Aku bisa membawa sendiri. Aku bukanlah wanita lebih atau manja yang akan meminta bantuan pria untuk menolongku setiap waktu."

"Kau keras kepala sekali, Miss Alena. Sudah aku katakan aku bisa membawa semua belanjaan, kau malah ingin membantu juga. Kau tidak percaya jika aku kuat? Hmm, kau jangan meragukanku."

Alena akhirnya tak kuasa menahan tawa melihat bagaimana ekspresi jengkel diperlihatkan oleh sang atasan bertambah, saat mata mereka sudah saling menatap. Pria itu masih berjalan, sekitar satu meter di depannya. Tak segan ditunjukkan seringaiannya kepada Davae yang terus saja mendekat. Ingin memberikan kesan menantang. Sang atasan menyukai sikapnya yang seperti ini. Binaran mata pria itu pun lebih menyala menatap dirinya. Ya, sarat akan gairah.

"Apa alasanmu meragukan kekuatanku untuk membantu, Miss Alena?"

Alena menggeleng cepat. Kaki-kakinya pun dengan refleks dilangkahkan mundur, saat Davae sudah berdiri di hadapannya. Masih dipertontonkan seringaian jahil sarat akan godaan kepada pria itu. Tetap ingin melihat cara sang atasan dalam menanggapinya.

"Aku meragukanmu? Tidak pernah berani sekalipun aku meragukanmu, Mr. Davae. Aku yakin kau sangat hebat di ranjang."

Alena tak bisa menolak manakala Davae menunjukkan aksi. Pria itu mengangkatnya. Langsung saja kedua kaki disilangkannya di tubuh Davae. Tangan kanan dan kiri juga melingkar mesra di leher pria itu. Mereka saling memandang, tatapan yang sama-sama menunjukkan sedang memiliki gairah besar.

"Kau pasti tidak akan mau malam ini tidur denganku. Tapi, kau selalu menggodaku, Miss Alena. Aku harus bagaimana? Aku ini pria dengan rasa senang untuk bercinta."

"Hahaha. Bagaimana jika kita pemanasan dulu, Mr. Davae? Apa menurutmu bagus?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GJX GN 21000000181   chapter 67

    Por mais simples que possa parecer, ainda é muito difícil para os cientistas definir vidacomclareza. Muitos filósofos tentam defini-la como um "fenômeno que anima amatéria".[4]Deum modo geral, considera-se tradicionalmente que uma entidade é um ser vivo se, exibe todos os seguintes fenômenos pelo menos uma vez durante a suaexistência[5]:

  • GJX GN 21000000181   chapter 66

    Isang umaga, sa Kaharian ng Vireo ay abala muli ang lahat. Hindi uso ang pagpapahinga sa palasyong ito kaya naman hindi nakapagtatakang patuloy ang pag-unlad. Tahimik na kumakain si Reyna Verina, kasama ang kanang kamay niyang si Luna at dalawa niyang anak na sina Prinsesa Alora at Prinsesa Manorah. Nagkataon kasing wala na roon si Prinsipe Zeus at Prinsesa Aleyah dahil maaga silang umalis. Nilapitan sila ni Althea.“Kamahalan, kasalukuyan na pong isinasagawa ang paglalagay ng matataas na pader sa paligid ng palasyo. Sa ngayon ay naghahanap pa si Lancelot

  • GJX GN 21000000181   chapter 65

    Mila POV"People say new year marks a new beginning and new beginnings brings about happiness while that wasn't my case when I walked into the companyA mixture of emotions churned deep inside me as i took a deep breath, breathing in all the uncertainty that surrounds me" I didn't know what would become of me now that Mr Harris was retired , as the office felt empty without his presence but I chose to be positiveMaybe his son wasn't that bad, maybe he was just like his father and the company needs a fresh young face anyways, " I said to myself comforting myself with each wordI quickly greeted Jolie at the lobby as I hurriedly made my way up to the last floorToday was the day, the day the new CEO starts and I don't want him to get there before meReaching to the office and seeing no one, I became overly curious as to why he wasn't here yet so I decided to

  • GJX GN 21000000181   chapter 64

    Once she came out of her room, she handed the room keys to the receptionist and dragged her luggage to the bus. She boarded the bus and kept her luggage in the compartment of the single seat reserved for her. Ensured that it was safe and stepped out. She had some light morning breakfast of two slices of bread, some fruits, and a glass of herbal tea. She bought some bananas and guavas and kept them in her backpack. Just in case she needed to munch, she would have the fruits.One by one all of them boarded the bus. Tanisi boarded it the last and sat at her place. Varidhi had instructed to keep all valuables with them since they would leave the luggage in the bus.They set out to the hills. The morning was still dark, and the weather quite chilly. Tanisi had expected this and was wearing a jacket on her T-shirt. This ensured she was comfortably warm. After an hour's journey they reached the foothill.

  • GJX GN 21000000181   chapter 63

    Caroline stuck to the shadows as she looked grimly at her scrying map. The red marker shone brighter the closer she got to her mark and for a moment she was tempted to send for the elder council. But the abundance of bad leads made the high priestess pause, and reconsider her position, loathing to rouse them from their beds on a chance that this time her locator had worked. Stepping nimbly through the brambles with a grace that belies her age, Caroline gave a sigh of relief as she exited the forest and gazed upon violet field. The gates to the pack pyres were open on the far end and she squinted her eyes in confusion, "They should be shut," She murmured and muttered " el gatus closeth" a simple spell to close doors, but nothing happened.

  • GJX GN 21000000181   chapter 62

    I rubbed my stomach. I try not to stress because it will affect my fetus. Yes, I should be grateful for the pregnancy I have been waiting for, but it complicates the situation. It would be a lie if I said I was fine. The problem is, I don’t know the father of my baby. Harvey? Or Sean?“Angel.”I found a woman who 3 days ago I was worried about childbirth. Yes, he is Renata. The nurse handed Renata to me, who was sitting in the garden area of the hospital.“Hey, Renata,” I said, glad that I finally had someone I could talk to. “How are you and your baby?”“We’re good, thanks to you,” Renata answered. “Thank you for praying for us and being

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status