Compartilhar

chapter 27

Autor: gaojianxiong
last update Data de publicação: 2023-12-01 21:06:22

Luna sama sekali tidak mengatakan apa pun, saat Dominik menggantikan gaunnya menjadi gaun tidur yang tentu saja akan nyaman digunakan untuk tidur. Sebelumnya, Dominik juga membantu Luna membersihkan semua darah yang terciprat pada lehernya dan melumuri kedua tangannya yang puti bersih. Saat ini, Dominik mendudukkan Luna di tepi ranjang dan meminta Luna untuk meminum dua buah obat berukuran kecil sembari berkata, “Minumlah. Setidaknya, ini bisa membuatmu lebih tenang.”

Luna menurut dan meminum obat tersebut dengan bantuan Dominik. Setelah itu, Dominik pun membuat Luna berbaring dengan nyaman di tengah ranjang mereka. Dominik juga ikut berbaring di samping Luna dan memeluknya dengan erat. Seakan-akan ingin menunjukkan jika Dominik ingin melindungi Luna dari apa pun yang kemungkinan akan melukainya. Luna masih tidak mengatakan apa pun, dan membiarkan keheningan meraja di dalam kamar tersebut. Dominik pun pada awalnya tidak ingin mengatakan apa pun.

Namun, setelah beberapa saat, Dominik pun berkata, “Jika ingin menangis lagi, kau bisa melakukannya. Kau bisa menunjukkan ekspresi seperti apa pun di hadapanku, Luna.”

Tidak ada jawaban apa pun dari Luna. Namun, Luna menatap jemari Dominik yang saat ini tengah memeluk perut Luna dengan erat. Awalnya, Luna berusaha untuk melupakan semua yang sudah terjadi. Sayangnya, rasa bersalah menggerogoti dirinya dari dalam. “A, Aku menusuknya,” ucap Luna mulai terisak.

Dominik mencium bahu Luna yang mengintim dari balik gaun yang dikenakan oleh Luna. Gaun tersebut memang agak tersingkap hingga membuat Dominik bisa melihat bahu mulus Luna, walaupun tidak sepenuhnya. Dominik tidak akan mengatakan apa pun, sebelum Luna selesai dengan apa yang akan ia ceritakan. Apa yang Dominik tebak memang benar, ternyata Luna melanjutkan ceritanya. “Meskipun dia berusaha menusukku, harusnya aku tidak berusaha untuk membalasnya. Aku hanya perlu menghindar, dan meninggalkannya,” ucap Luna kembali.

Luna yang baru saja menyelesaikan hajatnya untuk buang air kecil, segera ke luar dari bilik kamar kecil dan melihat wanita seksi kekasih Ignor tengah membenarkan riasannya. Wanita itu tampak melirik Luna dari sudut matanya yang tajam. Luna mendapatkan firasat buruk, tetapi Luna berusaha untuk berekspresi senormal mungkin. Ia tidak boleh menunjukkan jika saat ini dirinya mulai merasa terintimidasi atas kehadiran dirinya di ruangan yang tak seberapa luas tersebut. Karena itulah, Luna melenggang mendekat pada wastafel dan mencuci kedua tangannya dengan gerakan senormal mungkin. Namun tetap berusaha untuk tidak memulai interaksi apa pun dengan wanita seksi itu.

Sayangnya, wanita itu tidak memiliki pemikiran yang sama dengan Luna. Ia berkata, “Kita sudah bertemu tatap berapa kali, tapi kau tidak berniat untuk menyapaku? Betapa arogannya.”

Meskipun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, Luna pun memilih untuk menatapnya dan tersenyum. “Tapi aku tidak merasa jika menyapamu adalah keharusan bagiku. Kita bahkan tidak saling mengenal, jadi rasanya sangat tidak pantas bagimu menilaiku sebagai orang yang arogan,” ucap Luna dengan penuh percaya diri.

Ternyata, apa yang dikatakan oleh Luna tersebut menyulut emosi si wanita seksi itu. Tiba-tiba, wanita itu mengeluarkan pisau lipat dari pouch make up yang memang ia bawa dan menatap Luna dengan tatapan yang begitu tajam. “Apa saat ini kau tengah bertingkah di hadapanku? Apa kau merasa jika kau lebih cantik dariku, kau merasa bangga sudah menjadi istri dari Dominik Yakov? Apa kau masih tidak merasa puas dengan apa yang kau miliki hingga masih berani menggoda pria lain?” tanya wanita itu sembari membuka pisau lipatnya.

Luna awalnya berusaha untuk berdiri dengan penuh percaya diri di hadapannya. Sayangnya, Luna mulai merasa terintimidasi karena wanita itu mengacungkan pisaunya tepat pada dada Luna. Meskipun mengambil langkah antisipasi dengan mundur menjauh, Luna tetap berusaha untuk memberikan perlawanan dan berkata, “Jangan melakukan hal yang macam-macam. Aku bisa membuatmu menyesal.”

“Kalau begitu, buat aku merasakan hal itu. Di sini, kita bisa melakukan apa pun. Termasuk membunuh seseorang. Jadi, bagaimana kalau kita saling menunjukkan kemampuan kita dan berhenti saat salah satu di antara kita mati?” tanya wanita itu sembari menyeringai.

Saat itulah, Luna menyibak rok gaunnya dan meraih gagang pisau cantik yang tersembunyi di pahanya. “Apa kau pikir aku sama sekali tidak memiliki senjata? Jika kau berusaha untuk mengintimidasi atau melukaiku, kau sebaiknya berhenti saja. Karena aku juga bisa melakukan hal yang sama padamu,” ucap Luna.

Sayangnya, wanita yang berada di hadapan Luna itu sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan apa yang dikatakan oleh Luna. Ia malah tertawa dan berkata, “Apa kau yakin jika kau bisa menggunakan pisau itu dengan benar untuk melukai seseorang? Aku sendiri tidak yakin. Tapi aku bisa menunjukkan cara yang benar.”

Setelah itu, wanita itu berderap dan berniat untuk melukai Luna dengan memberikan goresan atau menusuk dadanya. Sayangnya, wanita itu sama sekali tidak tahu, jika Luna sudah mendapatkan pelatihan yang sangat baik mengenai membela dirinya menggunakan pisau. Tentu saja Luna memiliki keuntungan dalam pertarungan jarak dekat. Atas semua pelatihan yang ia terima dari Dominik, Luna tidak bisa menahan reflek tubuhnya yang melihat celah dan menusuk celah itu dengan tepat. Bukan hanya wanita seksi itu yang terkejut dengan serangan balik Luna yang tepat, tetapi Luna sendiri merasakan keterkejutan yang sama. Luna melepaskan genggamannya pada gagang pisau dan mundur dengan kedua tangan yang dilumuri darah.

“Ma, Maaf, aku benar-benar tidak sengaja melakukan hal itu,” ucap Reina lalu berusaha menolong wanita yang kini terkapar dengan darah yang mengucur deras dari luka tusuk pada dadanya.

Dominik mengeratkan pelukannya. “Kau hanya membela diri. Jadi kau bukanlah seorang penjahat. Kau hanya membela diri, dan kau sama sekali tidak bersalah, Luna,” bisik Dominik setelah mendengar kronologi kejadian berdarah yang terjadi di dalam toilet tersebut.

Luna yang mendengar hal tersebut memang sedikit merasa tenang, tetapi tangisannya belum juga reda. Luna masih merasa bersalah karena sudah menusuk seseorang yang memang berniat untuk melukainya, bahkan berniat untuk membunuhnya. Sebenarnya, Luna sendiri tidak berniat untuk melukai wanita itu, tetapi tubuh Luna sudah memiliki refleks yang tajam karena semua latihan yang diberikan oleh Dominik. Jadi, pada akhirnya Luna tidak bisa mencegah dirinya untuk memberikan perlawanan terhadap wanita itu. Luna sendiri berharap, jika wanita itu tidak mengalami luka yang terlalu parah.

Merasakan tubuh Luna yang bergetar karena tangisnya, Dominik pun kembali mencium bahu Luna dan berkata, “Tenanglah, semuanya baik-baik saja.”

Setelah mendengar perkataan Dominik tersebut, secara perlahan tubuh Luna melemas. Napas Luna mulai teratur dan ternyata Luna jatuh tertidur. Dominik memang berharap Luna tertdir saja. Itu lebih baik bagi Luna. Setidaknya, tidur bisa membuatnya beristirahat. Dominik kembali mencium bahu Luna dan menghela napas pendek. Sepertinya, hari ini terlalu mengejutkan bagi Luna. Setelah mengetahui identitas asli dari suaminya, Luna bahkan harus mendapatkan ancaman hingga memaksanya untuk melukai orang lain. Karena pada dasarnya Luna memang tidak memiliki jiwa seorang penjahat yang tidak akan merasa menyesal setelah melakukan tindak kriminal, pada akhirnya Luna terguncang walaupun dirinya hanya memberikan luka tusuk pada orang lain.

Hingga saat ini, Dominik memang belum mencari tahu bagaimana kondisi wanita yang sudah Luna tusuk. Namun, Dominik merasa itu tidak penting. Toh, Dominik sebisa mungkin harus menyembunyikan fakta apa pun mengenai orang itu dari Luna. Dominik tidak ingin kondisi Luna ini semakin memburuk dan berkepanjangan. Dominik tidak ingin sampai Luna terus menyalahkan dirinya sendiri. Tentu saja Dominik tidak memberikan semua pelatihan ini hanya untuk membuat Luna berakhir pada kondisi seperti ini. Tidak, Dominik tidak akan membiarkan hal itu. Dominik harus menempa Luna menjadi sosok yang lebih kuat daripada ini, untuk menjadi seorang nyonya besar dalam klan Yakov ini.

.

.

.

Hayo. jangan lupa apa?

Jangan lupa tinggalkan jejak kaliannn

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • GJX GN 21000000185   chapter 67

    аешь, как я переживала??— Мне просто понравился шарик одного мальчика, вон он, — она указала на маленького мальчика, похоже, её возраста. Я прищурилась.— Шарик со СпанчБобом? Серьёзно?! Я бы его купила тебе!— У этого мальчика такой красивый брат, — она засмущалась, и щеки окрасились в какой-то лиловый оттенок. Я даже вздёрнула брови.— Какой ещё брат? — я снова посмотрела в ту сторону. Я не сразу заметила, что с тем мальчиком кто-то стоит. Это был какой-то высокий блондин в модных черных очках. Что-то мне казалось в нём знакомым, но я не придала волю подобным мыслям и каким-то размышлениям. Переживания за жизнь родной сестры растворили и хорошее настроение, и желание дальше гулять в воздухе. Внезапно она только и рванула к ним, сверкая пятками. Кто-то уже нарушил своё обещание, сказанное пару минут назад. — Лили, куда побежала? — я пошла за ней, не желая сжечь ещё миллион нервных клеток.— Подари

  • GJX GN 21000000185   chapter 66

    KEDATANGAN Vino pagi ini cuma numpang cuci muka dan makan pisang goreng yang disuguhi Umi. Kemudian pamit berangkat. Dan disinilah Khika sekarang, disebelah Vino di dalam mobilnya yang Vino kemudikan menuju Sekolah. Suasana hening. Kata candaan 'aku juga suka kamu' yang sempat Vino lontarkan tadi tak ada tapaknya sama sekali. Vino nyatanya tetap cuek dan ketus seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Khika seperti buang-buang tenaganya saja tadi, karena sempet deg-degan tak karuan mendengarnya.Sesampainya di sekolah. Dimulai dari keluar

  • GJX GN 21000000185   chapter 65

    Rhea’s POV“I have the exact coordinates of the demon lair. When shall we attack them?” Artemis asked. She looked ready for the hunt. She was the Goddess of the hunt, after all.“We should wait and plan properly. I think we should ask Mercy to join us. She is extremely powerful, and having her on our side will help us win against the demons. If she is okay with it, we shall plan the attack at twilight because after that time they would get out of their lairs and lurk in the streets. We have to catch them before they go out,” I said.I frowned when I saw Adrian and Artemis both looking at me with identical expressions of disbelief. Were these two long-lost siblings or something? And why were they looking at me like that? Did I say something stupid again? I thought over what I had spoken and didn’t feel anything wrong with it.“What?” I asked in exasperation.

  • GJX GN 21000000185   chapter 64

    The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha neve

  • GJX GN 21000000185   chapter 63

    "A-aku... pulang dulu," kata Elsa. Arya menganggukkan kepala, tersenyum, lalu tangannya refleks terangkat dan mengacak rambut Elsa. Dan setiap pergerakannya itu tidak luput dari pengamatan Leon di balik kaca hitam mobil.Elsa tampak memaksa seyum walaupun dia merasa sangat gugup sekarang, lalu dengan tergesa dia masuk ke dalam mobil. Elsa langsung merasa kecil, kecil sekali sampai dia tidak berani mendongakkan kepalanya. Beberapa saat dalam keheningan dan Leon tidak juga menyalakan mesin mobil."Sore, kak Leon." Elsa menyapa canggung, melirik Leon hati-hati, namun Leon tidak menyahut. "Kenapa?" tanya Elsa heran.Leon pun menyalakan mesin mobil dan menggerakkan rodanya menjauh dari tempat itu. setelah memasuki jalan raya yang rama

  • GJX GN 21000000185   chapter 62

     DG?Me chamo Diego ta ligado ,conhecido como DG .Sofri muito pode pá,para me chegar onde eu tô hoje ,sou o gerente dos vapor ,o patrão confiar em mim.Nem tenho palavras para descrever o tanto que o RR vulgo Patrão me ajudou,ele me deu a mão é confio em mim quando ninguém estendeu a mão pra mim ,papo reto.Considera ele para caraí .Ele sabe da minha história é nunca explanou pra ninguém,sigilo total.Sou uns dos principais que fica na casa dele de vigiar.Tenho um mulher que eu chamei de mãe um dia ,já não vejo ela a uns 10 anos e espero que nunca mais vejo essa mulher.Pai ? Agora tu me fude ,ele fui embora quando descobriu que a mulher lá traia ele na própria cama.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status