เข้าสู่ระบบ"A-aku... pulang dulu," kata Elsa. Arya menganggukkan kepala, tersenyum, lalu tangannya refleks terangkat dan mengacak rambut Elsa. Dan setiap pergerakannya itu tidak luput dari pengamatan Leon di balik kaca hitam mobil.
Elsa tampak memaksa seyum walaupun dia merasa sangat gugup sekarang, lalu dengan tergesa dia masuk ke dalam mobil. Elsa langsung merasa kecil, kecil sekali sampai dia tidak berani mendongakkan kepalanya. Beberapa saat dalam keheningan dan Leon tidak juga menyalakan mesin mobil.
"Sore, kak Leon." Elsa menyapa canggung, melirik Leon hati-hati, namun Leon tidak menyahut. "Kenapa?" tanya Elsa heran.
Leon pun menyalakan mesin mobil dan menggerakkan rodanya menjauh dari tempat itu. setelah memasuki jalan raya yang ramai namun tetap renggang, Leon menoleh ke arah Elsa, dan gadis itu yang sedari tadi menatapnya dalam diam, langsung mengalihkan pandang.
"Yang tadi siapa?" tanya Leon.
Elsa tampak berpikir. "Yang tadi? Arya?"
"Arya," dengus Leon pelan. "Siapa? Pacar kamu?"
Wajah Elsa langsung memerah. "Bu-bukan."
Tanpa melihat ke arahnya, Leon berkata; "Muka kamu merah. Berarti benar, kan?"
Elsa menggelengkan kepala kuat-kuat. "Bukan! Arya itu anak baru di sekolah. Dia ngajak aku ngobrol terus kita kenalan. Dan dia juga minta tolong untuk dikenalin ke lingkungan sekolah." Setelah mengucapkannya, Elsa melirik Leon lagi, namun raut di wajah pria itu tidak mengisyaratkan apapun.
"Hmm. Kenapa kamu?"
"Hee?"
"Kamu punya ketua kelas, kan?"
Elsa mengiyakan, tapi masih tidak mengerti.
"Seharusnya sebagai perwakilan dari kelas, dia yang memiliki tugas itu."
"Ketua kelas aku cowok, anaknya cuek. Biasanya kalo disuruh guru aja dia kerja," Elsa berkata, masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini mengalir.
Setelah jeda yang cukup lama, Leon pun kembali membuka suara. "Hm, aku harap kamu gak lupa sama status kamu sebagai seorang istri sebelum kamu mutusin untuk main-main sama temen cowok kamu."
Elsa ingin membantah kalau dia tidak pernah main-main, dan dia juga tidak punya teman. Namun semua kata itu menyangkut di tenggorokan dan tidak pernah terucap oleh lidah. Leon pasti tidak tahu bagaimana kehidupannya di sekolah, dan itu lebih baik. Jika Leon sampai tahu, Elsa takut lelaki itu akan malu, malu memiliki istri sepertinya.
"Iya. Aku ngerti,," jawab Elsa kemudian.
Beberapa saat setelahnya mereka telah sampai di rumah. Leon memasuki gerbang yang bergerak secara otomatis, lalu menurunkan Elsa di depan teras.
Elsa baru saja hendak membuka pintu ketika menyadari Leon tidak juga mematikan mesin mobil. Elsa pun berbalik. "Kak Leon nggak turun."
Dengan nada dinginnya Leon menjawab singkat. "Nggak."
Lagi-lagi, Elsa menahan protesannya. Padahal dia sudah merencanakan untuk masak masakan spesial hari ini yang kemarin telah Mami ajarkan. "Tapi kak Leon pulang kan nanti malam?" tanya Elsa dengan sedikit ragu.
Leon mencengkram kuat kemudi. "Cepat turun, Elsa! Aku nggak punya waktu seharian untuk dengerin permintaan manja kamu!"
Elsa menegang. Manja? Kapan dia bersikap seperti itu? Apakah secara tidak sadar?
Elsa pun segera turun dari mobil dengan pikiran yang terganggu dan rasa aneh di dadanya. Lalu secepat Elsa menutup pintu mobil, secepat itu pula benda itu bergerak pergi dengan suara gas yang menderum tajam.
Elsa masih berdiri di tempatnya. Dia benar-benar tidak suka dikatai manja. Oleh karena itu, dia bertekad untuk membuktikan kepada suaminya, bahwa dia bukanlah istri atau gadis yang manja. Dia tidak pernah seperti itu.
***
Dia tidak sabar melihat respon Leon nantinya, ketika lelaki itu mencicipi setiap hidangan dan mengetahui bahwa Elsa yang memasak dan menyiapkannya. Tidak semua sih, karena Mami mertua juga ikut membantu.
Namun, ketika tidak sengaja mendengar percakapan sang Mami dengan Leon di telepon, saat itu juga Elsa merasakan kekecewaan yang cukup dalam. Mami terdengar marah-marah dan menyuruh Leon pulang, dari itu Elsa sudah dapat menebak bahwa Leon tidak akan pulang.
Apa ini karena kemarin malam? Ciuman itu? Elsa tidak bisa berhenti memikirkannya. Apa Leon kini merasa jijik padanya?
Mungkin iya. Karena kemarin malam pun, Leon tidak tidur di rumah. Mungkin malam ini juga sama.
Elsa menghela napas pasrah.
Mami mertua kemudian kembali ke dapur dan sepertinya menyadari bahwa Elsa telah menguping, dari raut kecewa gadis itu yang terlihat sangat jelas.
"Kak Leon gak pulang, Mi?" tanya Elsa.
Mami berkata jengkel, "Dasar memang anak itu! Mami sudah minta dia pulang, tapi dia ini sama seperti ayahnya, sama-sama gila kerja dan keras kepala. Maafin Mami ya sayang, malam ini sepertinya Leon memang nggak pulang ke sini, dia menginap di apartemennya."
Elsa mengangguk. "Iya, Mi, nggak apa," jawabnya, sambil memaksa senyum, lalu menatap nanar hidangan menggiurkan di meja makan yang telah ia siapkan sejak sore.
Maya pun mendekatinya dan mengusap kepala Elsa ringan. Turut sedih melihat kekecawaan pada menantunya itu, dan sangat kesal oleh keputusan yang dibuat oleh Leon. Lalu sebuah ide pun muncul dalam kepala Maya.
"Kamu jangan khawatir! Bagaimana kalau malam ini kamu datang ke apartemen Leon dan mengantarkan makan malam untuknya?"
Elsa langsung mendongak dengan mata berbinar.
"Kamu mau, kan?"
Elsa mengangguk kuat. "Iya, Mi, mau!"
[to be continued]
аешь, как я переживала??— Мне просто понравился шарик одного мальчика, вон он, — она указала на маленького мальчика, похоже, её возраста. Я прищурилась.— Шарик со СпанчБобом? Серьёзно?! Я бы его купила тебе!— У этого мальчика такой красивый брат, — она засмущалась, и щеки окрасились в какой-то лиловый оттенок. Я даже вздёрнула брови.— Какой ещё брат? — я снова посмотрела в ту сторону. Я не сразу заметила, что с тем мальчиком кто-то стоит. Это был какой-то высокий блондин в модных черных очках. Что-то мне казалось в нём знакомым, но я не придала волю подобным мыслям и каким-то размышлениям. Переживания за жизнь родной сестры растворили и хорошее настроение, и желание дальше гулять в воздухе. Внезапно она только и рванула к ним, сверкая пятками. Кто-то уже нарушил своё обещание, сказанное пару минут назад. — Лили, куда побежала? — я пошла за ней, не желая сжечь ещё миллион нервных клеток.— Подари
KEDATANGAN Vino pagi ini cuma numpang cuci muka dan makan pisang goreng yang disuguhi Umi. Kemudian pamit berangkat. Dan disinilah Khika sekarang, disebelah Vino di dalam mobilnya yang Vino kemudikan menuju Sekolah. Suasana hening. Kata candaan 'aku juga suka kamu' yang sempat Vino lontarkan tadi tak ada tapaknya sama sekali. Vino nyatanya tetap cuek dan ketus seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Khika seperti buang-buang tenaganya saja tadi, karena sempet deg-degan tak karuan mendengarnya.Sesampainya di sekolah. Dimulai dari keluar
Rhea’s POV“I have the exact coordinates of the demon lair. When shall we attack them?” Artemis asked. She looked ready for the hunt. She was the Goddess of the hunt, after all.“We should wait and plan properly. I think we should ask Mercy to join us. She is extremely powerful, and having her on our side will help us win against the demons. If she is okay with it, we shall plan the attack at twilight because after that time they would get out of their lairs and lurk in the streets. We have to catch them before they go out,” I said.I frowned when I saw Adrian and Artemis both looking at me with identical expressions of disbelief. Were these two long-lost siblings or something? And why were they looking at me like that? Did I say something stupid again? I thought over what I had spoken and didn’t feel anything wrong with it.“What?” I asked in exasperation.
The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha neve
"A-aku... pulang dulu," kata Elsa. Arya menganggukkan kepala, tersenyum, lalu tangannya refleks terangkat dan mengacak rambut Elsa. Dan setiap pergerakannya itu tidak luput dari pengamatan Leon di balik kaca hitam mobil.Elsa tampak memaksa seyum walaupun dia merasa sangat gugup sekarang, lalu dengan tergesa dia masuk ke dalam mobil. Elsa langsung merasa kecil, kecil sekali sampai dia tidak berani mendongakkan kepalanya. Beberapa saat dalam keheningan dan Leon tidak juga menyalakan mesin mobil."Sore, kak Leon." Elsa menyapa canggung, melirik Leon hati-hati, namun Leon tidak menyahut. "Kenapa?" tanya Elsa heran.Leon pun menyalakan mesin mobil dan menggerakkan rodanya menjauh dari tempat itu. setelah memasuki jalan raya yang rama
 DG?Me chamo Diego ta ligado ,conhecido como DG .Sofri muito pode pá,para me chegar onde eu tô hoje ,sou o gerente dos vapor ,o patrão confiar em mim.Nem tenho palavras para descrever o tanto que o RR vulgo Patrão me ajudou,ele me deu a mão é confio em mim quando ninguém estendeu a mão pra mim ,papo reto.Considera ele para caraí .Ele sabe da minha história é nunca explanou pra ninguém,sigilo total.Sou uns dos principais que fica na casa dele de vigiar.Tenho um mulher que eu chamei de mãe um dia ,já não vejo ela a uns 10 anos e espero que nunca mais vejo essa mulher.Pai ? Agora tu me fude ,ele fui embora quando descobriu que a mulher lá traia ele na própria cama.