LOGINKEDATANGAN Vino pagi ini cuma numpang cuci muka dan makan pisang goreng yang disuguhi Umi. Kemudian pamit berangkat. Dan disinilah Khika sekarang, disebelah Vino di dalam mobilnya yang Vino kemudikan menuju Sekolah. Suasana hening. Kata candaan 'aku juga suka kamu' yang sempat Vino lontarkan tadi tak ada tapaknya sama sekali. Vino nyatanya tetap cuek dan ketus seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Khika seperti buang-buang tenaganya saja tadi, karena sempet deg-degan tak karuan mendengarnya.
Sesampainya di sekolah. Dimulai dari keluar mobil sampai ke depan gerbang, tatapan anak-anak Pratiwi tak lepas dari dirinya dan Vino.
Padahal Khika sudah berusaha untuk membuat jeda dengan mempercepat langkahnya supaya mengaburkan fakta kalau mereka datang bersama. Tapi ya dasar Vino. Entah ada angin apa, dia terus menempeli langkah Khika hingga sejajar, persis kayak permen karet yang nempel di sepatu. Susah lepas.
Dumel-dumel kecil terdengar sayup ditelinga Khika. Dan isinya pun sangat beragam, dari mulai keterkagetan sampai ungkapan penuh sebal pada dirinya. Atau nada-nada sarkastik seperti:
"Loh, Vino berangkat bareng si boncel lagi!"
"Gila si bonsai!"
"Si boncel lagi-lagi nempelin Vino!"
Namun perlu diperjelas lagi. Bukan Khika yang gila. Bukan Khika juga yang nempel-nempel. Tapi Vino yang jadi aneh. Iya, bener-bener jadi aneh. Terutama pas jam istirahat mulai datang.
"Hatciiih!" Pada jam istirahat itu Khika diserang bersin-bersin tak karuan. Ditambah ia tak berani keluar karena takut di labrak kak Vio soal kejadian berangkat barengnya lagi tadi pagi. Hal itu mengundang tatapan iba dari teman sebangkunya, Zahra.
"Kenapa?" tanya Khika yang sadar ditatapi aneh oleh Zahra.
"Sabar ya, Ka, lo bersin-bersin gini kayaknya karena lagi diomongin deh sama satu sekolah. Mana bersin-bersin lo lama banget, berarti banyak banget yang ngomongin," ucap Zahra dengan intonasi iba yang sangat amat mengharukan, berhasil membuat Khika panik.
"Serius? Emangnya iyaya, Ra? Satu sekolah ngomongin gue?" Khika meratap polos nan pilu.
"Sabar ya namanya juga hidup ... Sekalinya Gerald lepas, eh, lu malah dapet Vino, yang ganteng tapi si buahmalakama,"
"Apaan tuh?"
"Nggak di makan, sayang. Kalo di makan, nanti di gigit kutu," jawab Zahra asal benar-benar tak menenangkan hati.
"Diiih siapa yang sayaaaaang!"
Zahra malah menepuk-nepuk punggungnya menatap Khika penuh maklum seolah-olah dia mengerti segalanya.
"Hai! Ngomongin gue ya?!" Gerald datang saat namanya disebut. Zahra memutar bola matanya kesal.
"Pede!" tungkas Zahra disambut Gerald dengan ketawa ketiwi geli.
"Nih buat lo!" Gerald memberikan sebungkus batagor untuk Zahra, "dan inih buat lo!" Dia menyodorkan juga sebungkus batagor pada Khika ditambah sekaleng minuman pocary.
"Ih buat gue kok nggak ada minumannya!" protes Zahra.
"Iyalah, lu kan yang ngasih si Iwan, dananya pas-pasan, nah kalo elu.." Gerald memandang Khika penuh selidik tengil, "dari Vino nih,"
Khika bergidik. Vino ngirimin makanan? Yang bener aja? Ada peletnya ngga nih, pikir Khika. Gerald sengaja memperhatikan raut wajah Khika---yang kaget---minta penjelasan, namun Khika diam saja. "Ciyeee, udah jujur aja, jadian kan?" tebak Gerald bikin Khika melotot.
"Sssst! Jangan bikin gosip! Enak aja!" elak Khika galak sambil berbisik berusaha tak menarik perhatian teman sekelasnya.
"Udah! Jangan malu-malu, jadian juga nggak pa-pa, malah sekelas pada seneng,"
Seneng apanya! Khika memandang setiap sudut kelasnya, kepada cewek-cewek yang sudah nggak sudi memandang Khika semenjak kejadian kemarin. Khika mendengus sedih.
"Eh sweety," Gerald memandang satu cewek yang baru muncul di muka kelas. Sang pacar kesayangannya Gerald, si Dewi.
"Sini-sini, ini buat lo," panggil Gerald sambil memberikan gadis cantik itu sekantong kresek besar, dengan isi camilan beraneka rasa berjumlah sangat banyak hingga sebagian menyembul keluar.
Zahra menahan tawa saat dilihatnya raut wajah Dewi mendadak jengkel. Nampaknya Dewi malu sendiri dikasih sekantung besar camilan, kesannya dia rakus banget gitu, bertolak belakang dengan perawakanya yang ramping dan pembawaannya yang anggun.
"Kok banyak banget sih, kamu pikir aku makan sebanyak ini," rutuk Dewi kemudian melangkah pergi meninggalkan Gerald.
"Makanya cari cowok tuh kayak gue, setia, ganteng dan nggak pelit," bisik Gerald sambil menyindir Zahra dikata-kata terakhirnya. Zahra mengacungkan bogemnya ke udara tanda kesal. "Wi, tau nggak, si Khika jadian loh sama Vino!"
"Ih enggak Gerald! Enggak!" teriak Khika tanpa sahutan karena Gerald dan Dewi sudah melangkah keluar.
"Hmm, gue boleh nanya nggak, Ka?"
"Apa, Ra?"
"Tapi jawab jujur,"
"Iya, apaan?"
"Lo jadian ya sama Vino?"
"Enggak!" Khika menjawab tanpa jeda dan tanpa ragu. Semua orang kenapa sih nganggep dia jadian.
🍀🍀🍀
From : Vino
Cepet
Khika yang sedang merencanakan konsep mading untuk kelasnya bersama Sarah, Sinta, dan Reza, dibuat bingung dengan sms itu. Dari koridor sekolah tempat dia duduk sekarang, matanya mencari sumber pengirim sms ini. Dari sebrang lapangan, Vino nampak mengangkat tangannya kalem pada Khika.
Apa?
Send.
Balas Khika akhirnya saat sosok itu masih tetap berdiri disana, menunggunya. Beberapa detik saja balasannya muncul.
From : Vino
Lama. Yuk pulang.
Khika makin cengok. Ya Tuhan sejak kapan sumber bibit musuh dalam hidupnya menawarkan dia pulang bersama dengan tanpa dosa, setelah sukses menjadikanya punya sebutan cewek boncel yang di benci ratusan orang. Khika menghela napas, tentu saja akan menolak ajakan Vino. Khika mengirimkan alasannya melalui balasan.
Tapi gue lagi rapat mading kelas. Nggak enak kalo ninggalin gitu aja.
Send.
Panggilan masuk dari Vino muncul membelalakan mata Khika yang diserang panik. Cukup lama tak Khika angkat karena ragu. Sampai Reza menegurnya. "Ka, angkat ih berisik,"
Khika mengangkat akhirnya, sambil mendengus kesal agak ogah-ogahan.
"Halo,"
"Cepet,"
"Bentar,"
"Saya kesana ya minta izin ke Reza?"
"Jangan!"
"Yaudah cepet, saya nggak punya banyak waktu."
"Yaudah duluan aja, lagian kita nggak janjian pulang bareng kan?"
"Emang perlu janjian? Penting banget kayak presiden."
"Iiih!"
"Saya kesana nih!"
"Jangan! Haaah, yaudah bentar tiga menit aku susul ke mobil."
"Oke!"
Sarah memandang Khika penuh selidik. "Janjian pulang sama siapa, Ka? Udah punya pacar ye lu?" goda Sarah. Khika hanya tersenyum ketir.
"Tuhkan, Sar, kata gue juga apa, si Khika mah udah punya pacar. Jadi nggak mungkin dia sama Vino." sahut Sinta yang berhasil mengucurkan keringat dingin Khika jadi aura kecemasan.
"Ka-kalo gitu gue duluan yah, udah be-beres kan ya? Thank you ya, makasih banyak, assalamualaikum, salam sejahtera bagi kita semua." balas Khika gugup sambil membereskan alat tulisnya dan ngibrit pergi.
"Kata siapa nggak mungkin," Reza berkomentar setelah Khika pergi sambil tetap berkutat pada gambar konsep mading mereka, "Vino bilang sendiri, kalau Khika itu pacarnya."
Omongan Reza itu seketika membuat dua gadis lainnya menganga.
"Sum-pah-nya-de-mi-a-pa!!!" pekik Sarah terkejut.
🍀🍀🍀
Esok pagi, di cuaca yang cerah dan damai. Khika sudah rapih dengan pulasan lip balm tipis. Kakinya melangkah keluar dari kamar. Diambilnya secangkir teh hangat yang sudah Umi siapkan di atas meja ruang tamu. Tumben sekali Uminya membuat secangkir teh lagi, persis seperti ketika Bang Ardy masih sehat dulu. Udara dingin menyapanya melalui hembusan tenang dari pintu depan yang terbuka. Suara ayahnya mengikis senyap yang biasanya menyelimuti suasana pagi di rumah Khika. Ia seruput teh nya sambil melangkah keluar menikmati butiran embun pagi di udara Bandung yang dingin. Semuanya indah, semuanya sempurna, sampai akhirnya satu sosok membuat tegukan tehnya salah masuk, bukan ke kerongkongan tapi malah ke hidung.
"Uhuk!" Khika tersedak, pandangannya tertumpu pada pada seorang yang tak asing baginya. Vino berdiri ketus di depannya. Persis kayak preman mau malak.
"Pergi bareng!" katanya dengan nada memaksa.
"Ih nggak mau." Khika geleng-geleng sambil terbayang keganasan fansnya. Nggak deh.
"Harus!"
"Please nggak mau! Nggak nggak nggak!"
Dan beberapa menit kemudian, Khika ada disini. Dibelakang dashboard mobil, disebelah Vino yang mengemudi menuju Sekolah. Memasrahkan dirinya untuk jadi bahan bullyan fans Vino--lagi. Pasrah se pasrah-pasrahnya.
🍀🍀🍀
Pelajaran kedua kali ini kosong, karena guru mereka yang bernama Bu Hani tidak bisa masuk. Beliau sedang hamil muda jadi sepertinya tak tahan kena serangan muntah-muntah di pagi hari, sehingga absen mengajar. Tapi bukan Bu Hani namanya kalau nggak ngasih tugas menumpuk sebagai pengganti jam kosong pelajarannya. Beliau dengan berbaik hati memberikan tugas kelompok membuat poster penyuluhan anti rokok yang harus di kumpulkan paling lambat sepulang sekolah nanti.
Setelah di kocok di depan kelas, Khika akhirnya resmi sekelompok dengan Wati---yang setengah mati benci padanya, dengan Sarah---yang dari tadi menatapnya sinis, dengan Sinta---yang tak sudi menatapnya barang sedetik, dan dengan Iwan---sang penyelamat. Ingin menangis rasanya dihadapkan dengan perempuan-perempuan penggemar Vino yang sedang getol-getolnya membenci dia. Mereka berdiri membundar di meja persegi empat di kelasnya. Auranya rada asing disekitar, sama sekali tak bersahabat.
"Wan, gue berterimakasih sama Tuhan karena telah menciptakan lo ke dunia, dan sekelompok sama gue sekarang," bisik Khika pada Iwan yang mengerutkan dahinya segera.
"Gue yang nggak bersyukur, gue pengennya sama Zahra, bukan elo si bonsai," balas Iwan ikutan berbisik.
"Enak aja lu bonsai-bonsai," Khika mengerling galak pada Iwan, "Dengerin, gue janji comblangin lo lagi sama Zahra, asalkan gue selamat dari tiga cewek ini,"
"Emang mereka kenapa?" tanya satu suara dari belakang, dan sukses membuat tiga wanita yang memusuhi Khika itu mesem-mesem manja salah tingkah. "Betah amat bisik-bisiknya non," ucap Vino kepada Khika bikin tiga cewek itu kontan memandangi Khika dengan tatapan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Khika merinding.
"Emang kenapa? Hak gue dong mau bisik bisik mau jungkir balik," balas Khika ketus mencoba mengaburkan pandangan kalau ada romantisme diantara dia dan Vino.
"Ooh!" jawab Vino ketus. "Wan, jangan deket-deket dia. Udah ada yang punya." ucap Vino simpel tapi meledakan.
"Iya siap pak bos, gue paham betul!" Sambut Iwan bercanda sambil hormat. Vino terkekeh pada Iwan, menepuk pundak Iwan dan kembali ke ke kelompoknya yang berisikan kaum hawa yang mengerubuni seperti semut.
"Ciye Khika punyanya Vino," goda Iwan di ikuti aura-aura nggak enak yang langsung membalut udara disekitar. Tiga pasang mata itu melemparkan sembilu permusuhan pada Khika terang-terangan. Khika makin merinding. Ada apa sih dengan Vino ini. Gila apa.
аешь, как я переживала??— Мне просто понравился шарик одного мальчика, вон он, — она указала на маленького мальчика, похоже, её возраста. Я прищурилась.— Шарик со СпанчБобом? Серьёзно?! Я бы его купила тебе!— У этого мальчика такой красивый брат, — она засмущалась, и щеки окрасились в какой-то лиловый оттенок. Я даже вздёрнула брови.— Какой ещё брат? — я снова посмотрела в ту сторону. Я не сразу заметила, что с тем мальчиком кто-то стоит. Это был какой-то высокий блондин в модных черных очках. Что-то мне казалось в нём знакомым, но я не придала волю подобным мыслям и каким-то размышлениям. Переживания за жизнь родной сестры растворили и хорошее настроение, и желание дальше гулять в воздухе. Внезапно она только и рванула к ним, сверкая пятками. Кто-то уже нарушил своё обещание, сказанное пару минут назад. — Лили, куда побежала? — я пошла за ней, не желая сжечь ещё миллион нервных клеток.— Подари
KEDATANGAN Vino pagi ini cuma numpang cuci muka dan makan pisang goreng yang disuguhi Umi. Kemudian pamit berangkat. Dan disinilah Khika sekarang, disebelah Vino di dalam mobilnya yang Vino kemudikan menuju Sekolah. Suasana hening. Kata candaan 'aku juga suka kamu' yang sempat Vino lontarkan tadi tak ada tapaknya sama sekali. Vino nyatanya tetap cuek dan ketus seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Khika seperti buang-buang tenaganya saja tadi, karena sempet deg-degan tak karuan mendengarnya.Sesampainya di sekolah. Dimulai dari keluar
Rhea’s POV“I have the exact coordinates of the demon lair. When shall we attack them?” Artemis asked. She looked ready for the hunt. She was the Goddess of the hunt, after all.“We should wait and plan properly. I think we should ask Mercy to join us. She is extremely powerful, and having her on our side will help us win against the demons. If she is okay with it, we shall plan the attack at twilight because after that time they would get out of their lairs and lurk in the streets. We have to catch them before they go out,” I said.I frowned when I saw Adrian and Artemis both looking at me with identical expressions of disbelief. Were these two long-lost siblings or something? And why were they looking at me like that? Did I say something stupid again? I thought over what I had spoken and didn’t feel anything wrong with it.“What?” I asked in exasperation.
The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha neve
"A-aku... pulang dulu," kata Elsa. Arya menganggukkan kepala, tersenyum, lalu tangannya refleks terangkat dan mengacak rambut Elsa. Dan setiap pergerakannya itu tidak luput dari pengamatan Leon di balik kaca hitam mobil.Elsa tampak memaksa seyum walaupun dia merasa sangat gugup sekarang, lalu dengan tergesa dia masuk ke dalam mobil. Elsa langsung merasa kecil, kecil sekali sampai dia tidak berani mendongakkan kepalanya. Beberapa saat dalam keheningan dan Leon tidak juga menyalakan mesin mobil."Sore, kak Leon." Elsa menyapa canggung, melirik Leon hati-hati, namun Leon tidak menyahut. "Kenapa?" tanya Elsa heran.Leon pun menyalakan mesin mobil dan menggerakkan rodanya menjauh dari tempat itu. setelah memasuki jalan raya yang rama
 DG?Me chamo Diego ta ligado ,conhecido como DG .Sofri muito pode pá,para me chegar onde eu tô hoje ,sou o gerente dos vapor ,o patrão confiar em mim.Nem tenho palavras para descrever o tanto que o RR vulgo Patrão me ajudou,ele me deu a mão é confio em mim quando ninguém estendeu a mão pra mim ,papo reto.Considera ele para caraí .Ele sabe da minha história é nunca explanou pra ninguém,sigilo total.Sou uns dos principais que fica na casa dele de vigiar.Tenho um mulher que eu chamei de mãe um dia ,já não vejo ela a uns 10 anos e espero que nunca mais vejo essa mulher.Pai ? Agora tu me fude ,ele fui embora quando descobriu que a mulher lá traia ele na própria cama.