LOGINSyafa masih saja terlihat gelisah. Kenapa tidak, hari ini adalah hari pertama dia bekerja. Dia tidak mau membuat kesan yang buruk di tempat kerja nya hanya karena dia datang terlambat.
Taksi pun sudah berhenti di depan kantor. Dengan cepat Syafa langsung berlari kearah kantor nya.
Brukkk
Syafa menabrak seseorang. Dengan merasa bersalah, Syafa langsung meminta maaf.
"Maaf pak saya gak sengaja."
Orang tersebut menatap tajam kearah Syafa. Namun emang dasarnya Syafa yang tidak pernah takut malah membalas tatapan orang tersebut.
"Hei pak, kenapa bapak natap saya seperti itu? Ada yang salah?"
"Iya, memang ada yang salah. Anda sudah membuat pagi saya menjadi buruk."
"Apa maksud bapak bilang kayak gitu, saya tidak pernah punya masalah sama bapak." Ucap Syafa tak mau kalah.
"Anda sudah menabrak saya dan itu adalah masalah anda."
"Pak, apa bapak tidak sadar, bapak itu berjalan sambil sibuk memainkan ponsel tanpa memperhatikan jalan. Jadi bapak juga bersalah dalam hal ini." Ucap Nayla tak mau kalah.
Orang tersebut menjadi semakin kesal kepada Syafa yang tidak mau disalahkan.
"Kenapa anda malah menuduh saya, jelas-jelas anda yang sudah menabrak saya.""Hei pak, kalau gak mau di tuduh itu, bikin jalan sendiri aja biar gak ada yang nabrak bapak lagi."
"Lama-lama pusing saya hadapin orang seperti anda. Mending saya pergi aja."
"Kalau mau pergi, ya pergi aja pak. Gak usah ngomong segala kali."
"Lama-lama nih orang bikin saya emosi aja." Ujar orang tersebut geram. Dia pun meninggal kan Syafa.
"Dasar orang aneh." Ujar Syafa pelan tapi masih didengar oleh orang tersebut.
"Saya dengar."
"Bagus deh kalau dengar."
Syafa pun melanjutkan langkahnya lagi.***
Para karyawan di kumpulkan oleh Deni selaku menejer di perusahaan ini. Hari ini ia mewakili CEO nya untuk memperkenalkan sekretaris baru untuk CEO mereka.
"Baiklah, maksud saya mengumpulkan kalian disini yaitu untuk memperkenalkan sekretaris baru di perusahaan ini." Ujar Deni.
"Dia adalah saudara Syafa Sidqyah." Lanjut nya lagi."Sekarang kalian semuanya boleh berkenalan dulu." Ujar Deni.
Satu persatu karyawan datang menghampiri Syafa untuk berkenalan.
"Hallo Syafa, aku Rianti, salam kenal ya."
"Hallo Rianti, salam kenal juga."
"Hai Syafa, aku Fina."
"Ha juga Fina."Dari begitu selanjutnya mereka saling berkenalan.Dan emang dasarnya Syafa itu orangnya mudah akrab dan cepat beradaptasi dengan orang baru, jadi dengan cepat ia langsung nyaman aja bicara dengan teman-teman barunya itu.Setelah acara perkenalan selesai, Syafa dan karyawan lainnya pun mulai bekerja.
"Syafa ini ruangan kamu ya." Ujar Deni menunjukkan ruangan Syafa.
Dan kebetulan ruangan itu juga sedikit terbuka, jadi Syafa masih bisa saling kontak dengan karyawan lainnya."Oke, terima kasih pak." Ujar Syafa.
"Sama-sama. Semoga betah ya.""Insyaallah pak.""Yaudah, kalau gitu saya permisi dulu. Selamat bekerja."
"Baik pak."Setelah Deni pergi, Syafa pun memulai pekerjaannya.
"Hai Syafa, semoga kamu betah ya kerja disini." Ujar Rianti terkekeh.
"Insyaallah mbak."
"Eits, jangan panggil aku mbak, panggil Rianti aja."Syafa sedikit tersenyum.
"Baiklah Rianti." Jawab Syafa."Eh, kalau boleh tau kamu udah pernah ketemu belum dengan CEO kita." Tanya Fina yang juga ikut nimbrung.
Syafa menggeleng.
"Belum pernah.""Kami harap nih ya, kalau kamu ketemu sama CEO nanti, kamu harus punya kesabaran ekstra." Ujar Rianti.
"Emangnya kenapa?" Tanya Syafa bingung.
"Soalnya, dia itu orang nya galak." Jawab Fina dengan membuat ekspresi seperti orang marah."Dia itu kerjaannya suka marah-marah Mulu." Tambah Rianti lagi yang semakin mengompori.
"Kalian ini ada-ada aja deh. Masa bos sendiri di bilang gitu." Ujar Syafa.
"Tapi ini beneran Lo Fa." Ujar Rianti lagi.
"Udah lah, gak baik ngomongin bis sendiri nanti orangnya dengar. Ayo kerja." Ujar Syafa mengingatkan.
"Hehe iya deh Fa, kami kerja lagi nih." Ujar Rianti dan Fina.
Belum beberapa lama Syafa memulai pekerjaannya, tiba-tiba Deni datang untuk memanggil nya.
"Syafa!" Panggil Deni.
"Iya pak."
"Kamu di suruh Devan ke ruangannya.""Baiklah pak, saya akan kesana."
"Cepat ya, kamu sudah ditunggu.""Baik, terima kasih pak."Syafa pun mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan Devan.
Devan Mahendra Pramana, dia adalah CEO di perusahaan D'Pramana Group, perusahaan tempat Syafa bekerja sekarang.
Tok...tok...tok
"Masuk!"
Syafa yang mendengar suara itu pun langsung membuka pintu dan memasuki ruangan tersebut.Terlihat seseorang yang sedang duduk membelakangi pintu.
"Bapak memanggil saya?" Tanya Syafa setelah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Iya. Silahkan duduk."
Syafa pun langsung duduk didepan meja bosnya tersebut."Ada apa ya bapak memanggil saya kesini?" Tanya Syafa lagi.
"Apakah anda sekretaris baru itu?" Tanya Devan yang masih membelakangi Syafa.
"Iya pak."
Orang tersebut membalikkan kursinya agar duduk menghadap ke Syafa.
Seketika mata Syafa membulat melihat siapa orang yang ada didepannya ini.
Jadi dia bos aku?
Tanya Syafa dalam hati.
Devan tersenyum mengejek ketika melihat ekspresi Syafa.
"Oo, jadi kamu yang menjadi sekretaris saya?"
"I...iya pak." Jawab Syafa yang entah sejak kapan mulai terlihat gugup.
"Tapi sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, tapi dimana ya." Devan mengetok-ngetok jarinya diatas meja dengan gaya arrogannya seperti orang yang sedang berfikir.
Mati lah diriku
Ujar Syafa dalam hati.
"Oh ya, kamu wanita yang tadi pagi bukan?""Benar pak."
"Wah, ternyata wanita seceroboh seperti mu yang jadi sekretaris saya.""Maksud bapak apa?"
"Ya pikir saja sendiri." Jawaban Devan berhasil membuat Syafa menahan kesal nya.
"Ngeselin banget sih punya bos kayak dia." Ujar Syafa pelan.
"Kamu bilang apa?"
"Eh, enggak ada kok pak."
Setelah itu wajah Devan berubah menjadi serius.
"Perkenalkan nama kamu!" Ujarnya tegas."Nama saya Syafa Sidqyah pak."
Devab mengangguk kan kepalanya."Sekarang kamu sudah mulai bekerja. Tapi ingat jangan sekali-kali bikin kesalahan kalau kamu gak mau di pecat." Ujar Devan tegas.
"Baiklah pak. Kalau begitu saya pamit dulu."
"Silahkan."
Syafa pun keluar dari ruangan Devan dengan rasa kesal yang sedari tadi ia tahan.
"Kamu kenapa Fa?" Tanya Fina.
"Aku gak nyangka aja kalau pria itu yang jadi bos kita."
"Siapa maksud kamu? Pak Devan?"
"Ya siapa lagi."
Fina terkekeh."Emang kenapa? Apa ada yang salah sama pak Devan?""Menurut aku ya, dia itu cowok yang ngeselin banget tau gak." Ujar Syafa.
"Hahah, emang kamu baru tau ya. Pak Devan itu emang kayak gitu orangnya." Ujar Fina yang ketawa melihat wajah kesal Syafa.
"Awas aja ya kalau tuh orang berani-beraninya sama aku, bakal aku jadiin peyek dia." Ujar Syafa yang membuat Fina bergidik ngeri.
"Siapa yang kamu maksud?"
Ujar seseorang dari belakang Syafa.a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a
Things had gone relatively well for us since we’d moved in. I was spending a lot of my free time painting walls and ceilings.Xander had given me carte blanche when it came to decorating, which was nice, and not once did he say, or even appeared not to like my choices colours, so I went a little wild. I’m not really used to be given so much freedom, beyond that, he’s turning into a great enabler.
Zenobex Corporation "Young master, it's time for lunch," said Matias.
Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife.The night had given way for the day by the time Imose was through with sweeping the large compound. She went into her father's hut to greet him. She saw him seated on his rafter chair inhaling snuff
A cidade já era visível a uns vinte quilômetros, ela ficava no pé da montanha, e o terreno só subia até chegar nela, o pântano permitia uma visão clara do horizonte, e era visível só longe o formato de prédios, algumas luzes muito fracas eram visíveis também.Chegando mais perto formas mais específicas começaram a se distinguir, quanto mais ao centro da cidade mais altos os edifícios, todos de corres parecidas, todos marrons, o mesmo marrom do pântano, o mesmo tipo de terra formava o pântano e era usada como base para construção.Andando em direção a ela não era visível mas do alto podia-se notar a típica forma de design urbano dos Ohla, nas laterais mais ao longe da cidade residências de trabalhadores de grande porte físico, casas altas com portas largas, feita para os lenhadores, quebradores de rocha entre outros, depois uma série de casas bem menores, feitas para os trabalhadores pequenos,como coletores, pescadores entre outros, os prédios mais ao ce
Wizkid's samba started playing and Shewa started crooning her finger at me to get me to come and dance.I shook my head but she insisted and dragged me up from my seat.I quickly ran behind Titi and shouted that she should help me. She took mercy on me and shielded me from Shewa. Before long Shewa got distracted.During the 'Sare wa gba' part, Shewa would run forward and back, then she followed it up with whining down low. She stood still for a few seconds, then started kick turning during samba.Kemo took notice and quickly supplied a dance step that would follow after. She bent slightly and turned her knee inward, biting her tongue as she danced.We all started brain storming the dance steps that would look good but would still be simple enough for the majority to do.The song was played on repeat and by the third listen, we had constructed an entire choreo though it was still rough around the edges.We were no longer required to pe