LOGINB A Y I B U N G K U S ( .5. )
Based True Story
T E R T U T U P S E M E N T A R A
--- ---- --- ---- ---- --- ---- ----- ---- ---- ----
Dear Diary.
Hari ini tanggal 11 April 2020. Kutulis kisah terakhir masa kecilku. Setelah ini, lembar demi lembar tubuhmu akan kupenuhi kisah pertemuanku dengan Ibu. Ya, Ibu ... kau akan mengenalnya nanti. Dia yang berparas ayu. Berpakaian ningrat jawa. Bertutur halus dan berperangai lemah lembut.
Kehadirannya seumpama embusan semerbak harum dari melati. Wujudnya tampak ayu terbalut memori lalu. Berpejar indah selayaknya emerald. Dia yang selalu berdiri di samping kananku ...
Dia yang memanggilku dengan panggilan, Nduk.
Dan, dia pulalah yang berdiri di hadapanku, malam ini ....
***
1994.
"Pak, Ibu setuju kalau mau pergi ke orang pintar," putus Sri.
Sapardi yang duduk di tepi ranjang, langsung berdiri. Usulannya membawa Tiara ke orang pintar untuk kesekian kalinya disetujui Sri.
Tiga ... lima ... atau delapan? Entahlah, sudah berapa kali ia dan sang istri mengetuk kediaman yang dikata orang pintar. Berbagai jenis jompa-jampi, doa-doa atau pusaka-pusaka telah menemani sang buah hati selama satu tahun terakhir. Tiga di antaranya begitu melekat di ingatan lelaki berperawakan gempal itu. Pusaka keris yang ditempelkan di dahi sang putri. Kalung yang berisi rapalan doa. Dan, kertas bertuliskan ajian yang dimasukkan ke dalam air. Sayang, dari ketiga orang pintar yang kata sebagian orang ampuh, hanya bertahan satu bulan pada Tiara.
"Yakin, Bu?" Keyakinan Sri-lah yang dibutuhkan. Ada teman satu pabriknya yang mengatakan, sebanyak apa pun orang pintar yang kamu datangi, jika salah satu dari kalian, kamu atau istrimu tak yakin maka akan aber (hambar/tak berfungsi)
"Terakhir, ya, Pak ... untuk terakhir kalinya."
"Iya, Bu ... semoga yang ini berhasil, ya?"
Sri mengangguk, lantas kembali menimang Tiara yang masih meringik. Sekarang pukul setengah tiga pagi. Sebentar lagi ... sebentar lagi azan Shubuh berkumandang. Sampai saat itu datang, ia mesti bertahan pada tingkat kesadarannya yang semakin menipis. Tubuhnya mulai doyong. Netranya pedas. Tak terhitung berapa kali ia menguap. Demi buah hatinya, Sri mesti terjaga.
Pernah suatu malam, Sri maupun Sapardi tertidur selagi menjaga Tiara yang sudah bisa ditenangkan. Suara bising perkakas dapur, bercampur gemericik air---seperti sedang dicuci---membangunkan Sri. Aroma wangi masakan terdeteksi sel reseptornya. Gurih. Menggugah selera. Sempat terpekur beberapa saat, mencerna tetangga mana yang memasak tengah malam begini. Sampai akhirnya Sri menyadari Tiara tak ada di sampingnya.
Ia panik. Secepatnya turun dari ranjang. Menyisir area rumah petaknya. Berlari ke luar ketika tak didapatinya Tiara di dalam rumah. Sri tersentak saat menemukan sang putri duduk di tengah jalan. Seorang diri. Tertelan malam yang sepi dan pekat. Membelakanginya. Menggoyang-goyangkan tangannya, seolah tengah bermain dengan seseorang. Tiara mengomel khas bayi. Nadanya ceria. Sri pun mendengar suara lain. Tawa yang samar. Tawa mungil milik balita. Bukan Tiara, suara itu tinggi.
Mengendap Sri mendekat. Berjongkok di belakang sang putri. Lalu, ketika biji matanya tertuju pada ruang hampa di depan Tiara, Sri melihat bayangan itu. Balita laki-laki duduk memegang mainan karet. Matanya hitam pekat dengan darah mengucur deras dari dahinya.
Sri terpental mundur. Napasnya disesap rasa takut. Deru jantungnya naik turun tak teratur. Pertama kalinya ... pertama kali dalam hidupnya, makhluk astral itu menampakkan diri.
Ayat kursi terapal. Sri mengatupkan matanya rapat-rapat. Berharap detik selanjutnya saat ia kembali melihat ke arah yang sama, makhluk itu tak lagi ada.
Satu ... dua ... hitungan dalam hati Sri berhenti di angka tiga, kemudian membuka matanya cepat. Kini Tiara duduk menghadapnya. Tak ada suara lain selain ocehan putrinya yang meminta gendong. Tak ada sosok lain yang berada di tengah mereka. Makhluk itu lenyap. Dan, ini kesempatan bagus untuk membawa Tiara pergi.
------- ----- -----
Mulutnya berkecumik melantunkan doa. Tangannya yang keriput memeluk gelas air. Sri dan Sapardi duduk di sofa depan seorang kakek yang tengah menggendong Tiara. Namanya Mbah Dulah. Orang pintar yang rumahnya hanya terpisah jarak satu desa dengan kontrakan Sapardi. Mbah Dulah terkenal mahir "nimbul bayi". Dibandingkan orang pintar yang didatangi mereka sebelumnya, Mbah Dulah termasuk yang tak neko-neko. Tak ada anjuran membeli bunga, menabur garam krosok ke area sekitar rumah atau lain sebagainya. Hanya meminta setiap menjelang maghrib pintu rumah ditutup rapat. Lantunan ayat suci Alquran jangan sampai terputus satu hari pun. Medianya pun tak ada yang ganjil. Hanya air putih yang dibacakan doa, lalu dibasuhkan ke wajah Tiara.
Saat prosesi itu, Tiara menangis sejadinya. Wajahnya sampai merah. Dan, masih seperti sebelum-sebelumnya, tak ada air mata. Pada bilasan terakhir, Mbah Dulah hanya membasuhkannya pada area dahi, lalu mengusapnya satu arah dari kanan ke kiri.
"Tak tutup sementara. Mengkok lak wes baliq, bakal kebuka maneh. Aku ora isa nutup terus mergo iki gowoan bayi," ujarnya. (Aku tutup sementara. Nanti kalau sudah baliq, akan kebuka lagi. Aku tidak bisa menutupnya terus karena ini bawaan bayi)
***
a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a
Things had gone relatively well for us since we’d moved in. I was spending a lot of my free time painting walls and ceilings.Xander had given me carte blanche when it came to decorating, which was nice, and not once did he say, or even appeared not to like my choices colours, so I went a little wild. I’m not really used to be given so much freedom, beyond that, he’s turning into a great enabler.
Zenobex Corporation "Young master, it's time for lunch," said Matias.
Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife.The night had given way for the day by the time Imose was through with sweeping the large compound. She went into her father's hut to greet him. She saw him seated on his rafter chair inhaling snuff
A cidade já era visível a uns vinte quilômetros, ela ficava no pé da montanha, e o terreno só subia até chegar nela, o pântano permitia uma visão clara do horizonte, e era visível só longe o formato de prédios, algumas luzes muito fracas eram visíveis também.Chegando mais perto formas mais específicas começaram a se distinguir, quanto mais ao centro da cidade mais altos os edifícios, todos de corres parecidas, todos marrons, o mesmo marrom do pântano, o mesmo tipo de terra formava o pântano e era usada como base para construção.Andando em direção a ela não era visível mas do alto podia-se notar a típica forma de design urbano dos Ohla, nas laterais mais ao longe da cidade residências de trabalhadores de grande porte físico, casas altas com portas largas, feita para os lenhadores, quebradores de rocha entre outros, depois uma série de casas bem menores, feitas para os trabalhadores pequenos,como coletores, pescadores entre outros, os prédios mais ao ce
Wizkid's samba started playing and Shewa started crooning her finger at me to get me to come and dance.I shook my head but she insisted and dragged me up from my seat.I quickly ran behind Titi and shouted that she should help me. She took mercy on me and shielded me from Shewa. Before long Shewa got distracted.During the 'Sare wa gba' part, Shewa would run forward and back, then she followed it up with whining down low. She stood still for a few seconds, then started kick turning during samba.Kemo took notice and quickly supplied a dance step that would follow after. She bent slightly and turned her knee inward, biting her tongue as she danced.We all started brain storming the dance steps that would look good but would still be simple enough for the majority to do.The song was played on repeat and by the third listen, we had constructed an entire choreo though it was still rough around the edges.We were no longer required to pe