LOGINMendengar penolakan Feng Xian Wu, semua orang mengubah ekspresi mereka masing-masing.
Feng Tian Yi yang paling dekat dengan Feng Xian Wu merasakan bahwa perasaan tak mengenakkan itu makin bertambah. Kenapa ia menolak? apakah Wu-er ingin terus menjadi pasangan Mo-apalah itu?!
Suhu disekitarnya mulai turun beberapa derajat lagi.Mo Lian Yi sudah mempertimbangkan berbagai macam kemungkinan, tapi tak mengharapkan kenihilan ekspresi Feng Xian Wu setelah semua.
Mo Lian Yi ingin mengatakan sesuatu untuk membalasnya, tapi Feng Xian Wu telah membuka mulutnya terlebih dahulu.
"Tapi yang mulia tenang saja, Objek ini setuju untuk pembatalan pertunangan," jelas Feng Xian Wu. Feng Xian Wu merasakan emosi negatif dalam tubuhnya telah berkurang sedikit. Apakah ia* ingin dirinya membalaskan perbuatan Mo Lian Yi sebelumnya?
*Jiwa Feng Xian Wu yang pertama, sebelum Feng Xian Wu yang sekarang menempati tubuhnyaMendengar penjelasannya, perasaan tak mengenakkan yang misterius itu perlahan menghilang. Suhu disekitar Feng Tian Yi menjadi normal kembali, melanjutkan memainkan tangan Feng Xian Wu dengan perasaan ringan.
Disisi lain mendengar penjelasan Feng Xian Wu, Mo Lian Yi hanya bisa terdiam sesaat menatap Feng Xian Wu. Kulit putih, rambut hitam kelam yang indah, wajah indahnya yang tak bisa dideskripsikan hanya dengan serangkaian kata-kata, dan matanya yang jernih dan kelam membuatnya seperti tak ada hal yang bisa bersembunyi dari mata itu, keseluruhan momentumnya sangat mantap, indah dan misterius, tapi lalu apa? Ia hanyalah nona yang baik untuk tidak apa-apa. Feng Xian Wu tak pantas menjadi istrinya di masa depan.
"Baiklah, jika itu maumu. Kuharap Miss Feng tak melupakan perkataanmu. Karena ini masih terhitung pembatalan pertunangan resmi, Ben Wang telah memutuskan untuk mengumumkan itu lusa, karena akan diadakan perjamuan kerajaan untuk menyambut beberapa tamu kehormatan. Kuharap Miss Feng beserta Li Wang* dapat menghadiri perjamuan ini," Kata Mo Lian Yi sambil menyuruh ajudannya menyerahkan undangan pada Feng Li.
*Gelar yang diberikan raja terdahulu kepada Feng Li"Tentu saja yang mulia," jawab Feng Li menundukkan sedikit kepalanya terhadap Mo Lian Yi.
Setelah beberapa beberapa basa-basi, Mo Lian Yi lalu meninggalkan manor Feng.
Feng Xian Wu berniat untuk kembali, tapi ditahan oleh Feng Li.
"Wu'er, kenapa kau menolak tawaran putra Mahkota?"
Mendengar pertanyaan Feng Li, Feng Xian Wu terdiam sesaat. Kenapa ia menolak tawaran Mo Lian Yi? Karena ia tak membutuhkan pengobatan itu, dirinya sudah bisa berkultivasi!
Feng Xian Wu menatap Feng Li sejenak, terdapat rasa khawatir dan kasih sayang murni seorang kakek terhadap cucunya terpampang jelas di mata Feng Li, sesuatu yang tak pernah bisa ia dapatkan di kehidupan lalunya."Aku sudah bisa berkultivasi, aku bukanlah sampah atau nona muda tak berguna seperti yang dibicarakan orang-orang diluar," jelas Feng Xian Wu menatap lurus kearah Feng Li, matanya yang jernih tanpa sedikit pun noda di dalamnya membuat siapapun ingin melihatnya lebih lama lagi... Mata yang terlihat begitu indah dan murni itu. Jelas tak ada jejak kebohongan di dalamnya.
Mendengar itu Feng Li merasakan kegembiraan sekaligus kebingungan yang mendalam.
"Tapi kenapa kakek tak bisa merasakan energi apapun darimu?"
Feng Xian Wu tak membalas, tapi menutup matanya dan berkonsentrasi. Beberapa saat berikutnya, energi putih tebal mengelilingi tubuh Feng Xian Wu, sebelum menghilang tapi Feng Li masih bisa merasakan tekanan tak terlihat dari cucunya itu.
Mata Feng Li dipenuhi kegembiraan dan keterkejutan murni. Energi yang dikeluarkan Feng Xian Wu, membuat Feng Li terkesan dan merasakan kebanggaan mengembang dalam hatinya. Lihatlah! Ini adalah cucunya! Apakah masih ada yang akan mengatakannya sampah dimasa depan? Ini jelas adalah seorang jenius yang jarang ditemukan dalam ribuan tahun!
Feng Li ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi Feng Xian Wu sudah mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu tak membiarkan kakeknya menggali informasi lebih banyak lagi. Ini belum waktunya untuk menceritakan semuanya.
Menyadari niat Feng Xian Wu, Feng Li hanya bisa menghela nafas sebelum tersenyum lembut tanpa ada lagi tekanan atas masalah cucu kesayangannya itu.
Feng Xian Wu lalu berbalik dan pergi bersama Feng Tian Yi dan Bai Ze di bahunya.
Feng Li melihat sosok belakang mereka dengan sedikit rasa linglung, sosok yang ramping dan tinggi saling berjalan bersama matahari sore menyinari siluet mereka membuat itu seperti sebuah lukisan indah yang terlihat tak nyata. itu adalah pemandangan indah tanpa sedikit pun cacat di dalamnya.
Feng Li merasakan perasaan bahwa hubungan Feng Xian Wu dan Feng Tian Yi, saudara angkat barunya itu terlalu sedikit baik. Dia samar-samar merasakan bahwa cucunya akan diculik oleh Feng Tian Yi sebagai pasangan nantinya.
Memikirkan hal itu, Feng Li tertawa pelan. Itu tak mungkin terjadi, mereka baru saja bertemu, lagipula ini adalah cucu kesayangannya ia tak akan membiarkan orang lain begitu mudah mengambilnya darinya ditambah... Walaupun tanpa hubungan darah, mereka masih tetap dihitung sebagai saudara kan?°°°
Bai Ze melirik kearah wajah Feng Xian Wu yang tanpa ekspresi seperti biasa, memperlakukan Feng Tian Yi yang terus memainkan tangannya seperti angin lalu dan Feng Tian Yi yang memiliki ekspresi yang sama jika kau mengabaikan matanya yang bersinar bahagia saat memainkan tangan Feng Xian Wu.
Saat tiba di depan kamarnya, Feng Xian Wu melirik Feng Tian Yi.
"Sudah puas?" Tanya Feng Xian Wu.
Feng Tian Yi melihat kearah Feng Xian Wu, sedikit kebingungan. Puas? Akan apa? Saat Wu-er menolak Mo-apalah itu?
Feng Xian Wu tak berniat menjelaskan lebih jauh, dan menarik tangannya dari genggaman Feng Tian Yi. Merasakan kehangatan yang melepaskan diri dari genggamannya, Feng Tian Yi mengerutkan kening sesaat sebelum mengambilnya kembali.
"Belum! Aku belum puas," jawabnya tanpa rasa malu sedikitpun sambil terus memainkan jari jemari Feng Xian Wu.
"Lepaskan, aku ingin mandi," Feng Xian Wu berusaha melepaskan tangannya dari Feng Tian Yi tapi tak bisa.
Mendengar perkataan Feng Xian Wu, Feng Tian Yi tersenyum penuh makna.
"Ya, Wu-er benar. Kau pasti lelah setelah seharian ini. Kalau begitu, biarkan kakakmu ini yang memandikanmu," Jelas Feng Tian Yi lalu menarik Feng Xian Wu kedalam pelukannya dan membuang Bai Ze yang sedang tidur di bahu Feng Xian Wu, tentu saja dengan bayaran tusukan jarum disekitar lehernya setelah itu.
Feng Xian Wu melihat Feng Tian Yi dengan datar, walaupun ia tak terlalu mengerti hubungan pria dan wanita tapi ia tahu bahwa itu tak benar. Ia lalu melihat ke leher Feng Tian Yi dan mendapati ada darah yang mengalir keluar dari tusukan jarum itu. Secercah cahaya melintas di mata Feng Xian Wu.
"Pertama jauhkan dirimu dariku dan bersihkan dirimu sendiri," Feng Xian Wu membuat alasan tak membiarkan Feng Tian Yi mengambil keuntungan lebih jauh lagi dari dirinya.
Mendengar Feng Xian Wu, Feng Tian Yi menyipitkan matanya. Apakah kucing kecil ini sedang membuat alasan untuk melepaskan diri darinya?
"Karena sudah begini, kenapa tak sekalian mandi bersama, hm..." Feng Tian Yi tersenyum tapi itu tak mencapai mata Feng Xian Wu.
Mendengar itu, Bai Ze yang linglung karena terjatuh(?) Dari bahu tuannya melihat sekeliling dengan linglung. Apakah sudah waktunya makan?
Tapi setelah itu, ia mendengar perkataan Feng Tian Yi dan langsung melompat dari tempatnya dan melihat dengan garang kearah Feng Tian Yi yang sedang memeluk Feng Xian Wu dengan darah segar yang mengalir di lehernya."Meow!!" Menjauh dari nonaku, kau bajingan tak tahu malu!
Bai Ze ingin mendekat dan mencakar Feng Tian Yi, tapi tak berani. Aura disekitar Feng Tian Yi sangat menakutkan. Hua (╥﹏╥)... Nona, pria itu sangat menakutkan.
"Tidak, aku tak suka mencium bau darah" Feng Xian Wu mencoba menjauhkan dirinya dari Feng Tian Yi tapi ia seperti tembok yang tak bisa dipindahkan. Wajahnya masih sedatarbsebelumnya tapi jejak rasa kesal melintas di matanya.
Melihat kekesalan Feng Xian Wu, Feng Tian Yi tak mengejar Feng Xian Wu lebih jauh lagi dan akhirnya mengalah lalu membiarkan Feng Xian Wu keluar dari pelukannya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar, disusul suara seorang pelayan yang tak asing di telinga Feng Xian Wu, "Nona muda, air mandinya sudah siap"
Feng Xian Wu, langsung berjalan cepat keluar meninggalkan Feng Tian Yi sendirian dikamarnya.
Feng Tian Yi hanya bisa tertawa kecil melihat sikap Feng Xian Wu. Feng Tian Yi lalu mencabut jarum dari lehernya lalu membersihkan darah yang mengalir. Ia melihat ke sekeliling kamar beberapa saat sebelum keluar dari kamar Feng Xian Wu.
"Tuan" kata Feng San yang muncul entah darimana menyapa Feng Tian Yi.
"Mn, apakah kau sudah menemukannya?" Tanya Feng Xian Wu tanpa melihat kearah Feng San.
"Maafkan ketidakbergunaan bawahanmu ini ya tuan, bawahan rendahan ini masih belum dapat menemukan 'itu' tuan," jawab Feng San dengan penuh hormat kepada orang didepannya, tapi setelahnya ia mencium bau darah samar dari Feng Tian Yi dan jejak kejutan melintas diwajahnya. Siapa yang bisa membuat tuannya berdarah?
"Tuan! Kau berdarah!" Seru Feng San dengan nada penuh kekhawatiran, ia lalu mengambil salep obat berniat memberikannya kepada Feng Tian Yi tapi tak diterima olehnya.
"Tak apa, ini hanyalah hukuman darinya karena telah mencoba mengambil sedikit keuntungan dari Wu-er" kata Feng Tian Yi tanpa ekspresi di depan Feng San, tapi matanya dipenuhi rasa memanjakan saat mengatakan nama Feng Xian Wu.
Mendengar perkataan tuannya, Feng San hanya bisa diam. Awalnya ia mengira, nona muda Feng ini akan menjadi korban menggenaskan tuan selanjutnya tetapi setelah membaca beberapa buku refrensi dari kenalannya ia menyadari bahwa tuannya tak sedang memainkan peran untuk masa depan suram Miss Feng tapi Tuannya sepertinya telah jatuh hati kepada nona muda Feng ini. Awalnya Feng San ragu akan hipotesisnya tapi melihat tuannya hari ini, ia yakin bahwa tuannya memang sedang jatuh cinta apalagi lawannya adalah nona muda keluarga Feng ini. Sebanyak yang ia tahu tuannya tak pernah bersikap selembut itu kepada siapapun sebelumnya, dan nona Feng adalah pengecualian.
Melihat perjuangan tuannya dalam mendapatkan nona muda Feng yang akan menjadi nyonya mereka di masa depan. Feng San hanya bisa menyemangati tuannya dari belakang. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain membantu tuannya dalam mencari informasi dan sebagainya.
"Lanjutkan mencarinya," perintah Feng Tian Yi dengan dingin, benar-benar seperti orang yang berbeda saat di depan Feng Xian Wu.
"Baik tuan" jawab Feng San dengan khidmat sebelum menghilang tanpa meninggalkan satupun jejak.
Ini harus bisa didapatkan sebelum ulang tahun Wu-er, karena aku sudah berjanji untuk memberikan 'itu' padanya. Pikir Feng Tian Yi sambil menatap kearah bangunan tempat Feng Xian Wu sedang mandi.
a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a aa a a a
Things had gone relatively well for us since we’d moved in. I was spending a lot of my free time painting walls and ceilings.Xander had given me carte blanche when it came to decorating, which was nice, and not once did he say, or even appeared not to like my choices colours, so I went a little wild. I’m not really used to be given so much freedom, beyond that, he’s turning into a great enabler.
Zenobex Corporation "Young master, it's time for lunch," said Matias.
Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife.The night had given way for the day by the time Imose was through with sweeping the large compound. She went into her father's hut to greet him. She saw him seated on his rafter chair inhaling snuff
A cidade já era visível a uns vinte quilômetros, ela ficava no pé da montanha, e o terreno só subia até chegar nela, o pântano permitia uma visão clara do horizonte, e era visível só longe o formato de prédios, algumas luzes muito fracas eram visíveis também.Chegando mais perto formas mais específicas começaram a se distinguir, quanto mais ao centro da cidade mais altos os edifícios, todos de corres parecidas, todos marrons, o mesmo marrom do pântano, o mesmo tipo de terra formava o pântano e era usada como base para construção.Andando em direção a ela não era visível mas do alto podia-se notar a típica forma de design urbano dos Ohla, nas laterais mais ao longe da cidade residências de trabalhadores de grande porte físico, casas altas com portas largas, feita para os lenhadores, quebradores de rocha entre outros, depois uma série de casas bem menores, feitas para os trabalhadores pequenos,como coletores, pescadores entre outros, os prédios mais ao ce
Wizkid's samba started playing and Shewa started crooning her finger at me to get me to come and dance.I shook my head but she insisted and dragged me up from my seat.I quickly ran behind Titi and shouted that she should help me. She took mercy on me and shielded me from Shewa. Before long Shewa got distracted.During the 'Sare wa gba' part, Shewa would run forward and back, then she followed it up with whining down low. She stood still for a few seconds, then started kick turning during samba.Kemo took notice and quickly supplied a dance step that would follow after. She bent slightly and turned her knee inward, biting her tongue as she danced.We all started brain storming the dance steps that would look good but would still be simple enough for the majority to do.The song was played on repeat and by the third listen, we had constructed an entire choreo though it was still rough around the edges.We were no longer required to pe