Masuk"Kami pamit ya tante" pinta Aldi seraya mencium tangan Linda.
"Aku janji, akan jaga Indah dan pulang tepat waktu" ucap nya dengan sopan.
Setelah 30menit lamanya perjalanan, Aldo pun berhenti di sebuah resto ternama di daerah Bandung yang terletak di tengah perbukitan hijau, tepat di sebuah danau, membawa kesan yang sangat Romantis, denga bentuk bangunan yang menyerupai pinisi, yang paling menjual dari tempat itu tentunya dengan panorama alamnya yang sangat menawan dan suasana damai yang menenangkan.
"Wooow, Al ini sangat indah" ucap nya matanya seketika membulat dan sesekali memutar sambil melangkah berjalan k arah danau, mengangkat merentangkan ke dua tangannya dan dan sesekali menarik napas lalu menghembuskan nya secara perlahan "Udaranya pun segar dan sejuk" sahut nya
Aldo pun berjalan menghampiri dan berhenti tepat di samping nya, "Bagaimana apakah kamu suka"
"Aku suka, ini begitu indah" , jawabnya dengan senyum manis yang terurai dari bibir ranum nya.
"Kamu mau pesan apa, kamu mau makan dan minum apa" biar aku pesankan" tawar Aldi
"Apapun yang kamu pesan, pasti aku makan ko, asalkan jangan kau beri aku racun" godanya dengan menyeringai
Aldi pun membalas dengan senyuman jahil nya dan hidung Indah pun menjadi sasaran ke jahil nya.
"iisshh km yah" wajahnya menunduk dan pipinya pun mulai memerah karna malu.
Aldi pun pergi untuk memesan makanan.
Tak lama pesananpun datang, dan sudah tertata rapi di sebuah meja yang tepat berada di depan sebuah danau.
Ada nasi goreng pete, ayam penyet,tumis kangkung, tak lupa dengan sambal nya dan Dua jus alpukat. Yang merupakan menu kesukaan Indah.
"Eeemp, kayanya kamu selalu tau apa yang aku suka" godanya sesekali meneguk ludah masih dengan senyum ranum nya.
Aldo pun membalas senyumnya sesekali mengangkat bahu nya, "Pasti dong" sahut nya
Akhir nya acara makan pun sudah selesai.
Aldo pun menarik kedua tangan indah k atas meja sesekali menggerakan ibu jari nya ke punggu atas tangan indah dengan beraturan.
Aldo menarik napas dan menghembuskan nya secara perlahan, dan meneguk ludah nya dan leher nya pun mulai mengeras.
"Ndah, aku ingin memberitahu kamu sesuatu"
Indah pun mulai menatap Aldo dengan tatapan serius, seolah olah ingin mengintrogasinya.
"Apa itu" jawab nya
Aldo menarik napas nya kembali.
"Minggu depan aku, Akan pergi ke Surabaya untuk melanjutkan study ku di sana, Aku harap kamu mengerti" Lirihnya
Perlahan Indah melepas kan tangan nya dari genggeman Aldi. Senyum merekahnya pun mulai berubah menjadi tak menentu,
"Lantas bagai mana dengan hubungan kita Al, katanya kamu akan selalu ada buat aku, jagain aku, akan selalu ada di saat suka mau pun duka, dan sekarang kamu akan pergi ninggalin aku di sini" Tanya nya dengan nada sedik lugas
Aldo pun beranjak dari kursinya menghampiri Indah dengan merengkuh dan mencium puncak kepala Indah,
"Aku akan kembali setelah study ku selesai, dan aku berjanji akan menikahimu" lirihnya. Dengan nada meyakinkan
Lalu Indah pun beranjak dari kursinya, dan berdiri tepat di depan Aldi.
"Tapi Al di sana kan pasti banyak wanita yang lebih cantik, menarik, dari pada aku,? Terus kamu lupain aku, dan bener-bener ninggalin aku? helanya dengan nada menyinggung
Aldi pun tersenyum sedikit menggoda," Cewek cantik, disini pun juga banyak, yang lebih dari mu, yang lebih manis, lebih lucu, ga perlu di Surabaya, Tapi hanya satu yang bisa membuat ku nyaman, bisa buat aku jatuh hati sedalam ini yaitu kamu Ndah".
Indah pun memukul manja dada bidang Aldi, dengan senyum ranum nya, "Ikh Al kamu gombal" sahutnya
Aldi pun merangkul dan memeluk Indah dengat erat dan mencium puncak kepalanya.
"Janji ya, aku tunggu kamu sampai kamu lulus Study mu," Tanya Indah
Aldi melepaskan pelukan nya dan tertuju ke saku jaket yang ia kenakan, ia pun merogok sebuah kotak perhiasan berwarna merah terang yang ada di sana, dan membukanya ada sebuah kalung emas putih di sana dengan di padukan sebuah cincin dengan satu permata yang bertuliskan hurup A di sana yang menajdi liontin nya, Terpadu begitu indah.
Aldo pun mencoba mengalungkan kalung itu ke lehernya.
"Apakah kamu suka?" Tanya nya menggoda
"Ini bagus Al" ujarnya tersipu malu
"Aku suka"
Sambil menyentuh ke dua bahu Indah dan berakhir di genggaman tangan nya, dengan lugas "Kalung ini semoga bisa mewakili aku, di saat aku tidak ada di sisimu, Dan semoga kalung ini menjadi satu ikatan antara aku dan kamu, dan semoga kalung ini bisa mengingat kan mu terhadap ku".
a a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a a a a a a a a a aa a a a a
I heard the small wail of the kitten coming from Eloim’s room. I moved up the creaking stairs.“What happened?” I asked. “You have to be careful with pets, they don’t like it when you play rough,” I told Eloim as I walked in.He had a couple of small scratches on his hands, so I took him downstairs and cleaned them properly. I found it odd that he didn’t cr
After two weeks Ani's uncle, Yangmi decided to have a talk with her about her future plans. He went to her room and saw Ani was holding his dad's portrait staring at that. He sat beside her and caressed her head."Ani, do you want to go back to Seoul or do you want to be here?," asked Yangmi.
Imose woke up to the crow of the Cock. The room was dimly lit. The oil lamp glowed lazily. Getting up she picked the broom made from Palm fronds laying beside the mud bed and walked out of her hut to sweep her father's compound.Imose was an only child. Her mother had died at her birth, and her father, Chief Idemudia, had refused to marry another wife for he loved his wife dearly. He raised Imose with the help of his sister who later died of a strange ailment. People called Imose cursed but to Chief Idemudia, she was his priceless jewel. The symbol of the love between him and his late wife.The night had given way for the day by the time Imose was through with sweeping the large compound. She went into her father's hut to greet him. She saw him seated on his rafter chair inhaling snuff. She went on her knees and greeted "Lamogun baba". Chief Idemudia smiled and signaled for her to get up and asked about her night. She returned the smile, telling him she slept like
I feel someone pick me up and instantly open my eyes. I see that I'm in Damien's arms. "Good to see that you're awake." I can tell that he is teasing me from the tone of his voice. I start to squirm for him to put me down.Once he puts me down I stretch and look around the room. I see that Xavier is still at his desk doing work. I groan at the thought of being in this
Jenna's POVI rushed upstairs as the anger was stronger and more powerful than my judgement, not thinking about the repercussions that would follow. Who the fuck he thinks he is asking me to wear that slutty dress like I was a scarlet paid by the hour to satisfy his dirty needs? I wasn't going to stick with that no matter what he would say. I allowed him too much already and that was the last drop. I found him outside, measuring the garden with his eyes, probably thinking about the setup for the party tomorrow.“Hey, asshole!” I shouted throwing the dress in his face.” What the fuck should I do with that?” I asked ferociously, pointing to the clothe that was now in his hands. ” You can take it and shove it up your ass. I’m not wearing that.” I stated feeling my face burning from the blood rushing through me. He looked like he got struck by the lighting for a moment but that was only temporary as he quickly closed