FAZER LOGINPerjalanan menuju ke pemakaman nenek dan kakek Lisa, yaitu kedua orang tua Yoona yang sangat dia sayangi walau terkadang Yoona harus dituntut untuk bisa pintar dalam segala bidang namun dibenci atau tidak sukanya Yoona kepada orang tuanya mereka tetaplah orang yang harus Yoona hormat dan selalu berjasa dalam kehidupannya yang masih panjang.
Yoona masih merenungkan ucapan para klien yang selalu menanyakan kabar Heejin yang hingga saat ini belum pernah Yoona publikasikan pada teman-teman ataupun mereka yang ikut kursus di kelas ‘flowers lovely’ dia memang seorang anak model yang terkenal tapi hubungannya tidak sebaik yang mereka lihat dan mereka dengar.
Yoona sendiri bahkan tidak pernah berbicara dengan Heejin lebih dari 10 kalimat, jika ada kesempatan barulah mereka bisa bertemu padahal mereka tinggal di satu atap yang sama dan hanya perlu memberanikan diri untuk saling mencoba lebih dekat, namun sekali lagi ketidak beranian Yoona membuat jarak antara dirinya dan Heejin seperti tebing yang terpecah oleh lautan dan tidak akan bisa bersatu lagi.
Harus menyalahkan siapa?
Perubahan Heejin atau ketidak berdayaan Yoona untuk merangkul putrinya kembali.
“Mom ...”
“mom, baik-baik saja?” tanya Lisa, dia sangat mengerti tentang perasaan ibunya jika suasana tiba-tiba menjadi lebih hening dan sepi, Lisa memang seperti anak kecil di mata Yoona dan orang lain tapi bukan berarti dia tidak mengerti tentang perasaan ibunya jika sedih dan ketika sang ibu kehilangan semangatnya, Lisa-lah satu-satunya harapan bagi Yoona untuk terus berdiri sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi kedua putrinya.
“ya, Lisa butuh sesuatu?” tanya Yoona, dia sedang menyalakan lilin untuk kedua orang tuanya setelah meletakkan buket bunga. Yoona menghela nafas saat dirinya belum bisa menjelaskan apapun pada Lisa tentang kehidupan masa lalu dan juga masalah Heejin yang berubah, Yoona terlalu membebani semua ini hingga menjadi perasaan yang rumit untuknya.
“boleh Lisa bertanya?”
“hm… katakanlah”
Lisa sedikit menggeser posisinya untuk menghadap kearah Yoona, sebenarnya pertanyaan ini sudah sangat lama ingin sekali Lisa tanyakan dan ingin dia ketahui kenapa kakaknya baru kembali setelah dia dewasa.
“Mom, apakah Lisa memiliki ayah? Selama ini Lisa hanya bisa melihat fotonya tapi Lisa tidak pernah bertemu dengannya”
Seperti dugaan Yoona sebelumnya, cepat atau lambat Lisa akan mengajukan pertanyaan itu pada dirinya, tapi kenapa harus sekarang? Yoona hanya takut semua akan menyulitkan dirinya ketika Lisa tahu segalanya, apalagi saat ini Yoona terus didesak oleh Tuan Kang yang ingin menjodohkan putranya dengan Heejin yang jelas-jelas sudah beberapa hari ini menghilang.
Seharusnya Yoona tidak menjanjikan hal itu pada rekan bisnis lamanya. Tapi ibarat kata nasi telah menjadi bubur, Yoona tidak bisa menarik lagi janji-janji yang sudah diucapkan pada Tuan Kang.
“kenapa Lisa bertanya seperti itu? Bukankan Lisa sudah pernah bertanya tentang ayah?”
“Mom, Lisa ingin bertemu dengan ayah, jika kakak Heejin saja bisa tinggal bersama, kenapa Lisa dilarang bertemu dengan ayah?”
“Lisa! Mom sudah berkata berhenti bertanya tentang ayahmu!” ucap Yoona, dia menaiki suara hingga bisa dikatakan itu adalah bentakkan pertama yang Yoona lakukan pada Lisa, hingga akhirnya hanya ada penyesalan ketika Lisa mulai terdiam.
Lisa, gadis lugu itu tentu saja terkejut sekaligus takut, dia sampai tidak berani untuk menatap wajah sang ibu, Lisa lebih memilih untuk bungkam dan mencoba untuk tidak menangis ketika rasanya begitu menyakitkan mendengarkan sang ibu meninggikan suaranya, padahal Lisa hanya bertanya tapi kenapa ibunya begitu marah seakan-akan Lisa telah melakukan kesalahan besar dengan mengajukan pertanyaan itu.
“Lisa, maafkan Mom, sayang”
Yoona benar-benar tidak mengerti kenapa dia begitu kesal saat Lisa mengatakan ingin bertemu dengan ayahnya, belum lagi anak itu mengebutkan kata Heejin yang membuat Yoona semakin merasa bersalah dengan kedua putrinya, dengan lembut Yoona menarik putrinya kedalam pelukannya, mencoba membuat Lisa tidak menangis karena perbuatannya.
“kenapa Mom? Lisa hanya bertanya, tapi kenapa Mom marah?”
“Mom tidak marah sayang, Mom terlalu banyak masalah hingga tidak sadar melukaimu, Lisa mau memaafkan Mom?”
Dalam pelukan Yoona, Lisa menangis namun dengan mudah anak itu langsung memaafkan kesalahan sang ibu, benar-benar gadis lugu dan penurut yang menjadi idaman kaum adam dalam menginginkan dirinya, namun akan mudah dipengaruhi oleh orang yang salah.
“ayo kita kembali, Lisa ingin membeli cake Red velvet atau ingin Mom buatkan sup ayam?”
Lisa langsung mengangkat kepalanya untuk menatap sang ibu, jika sudah berbicara dengan makanan Lisa akan langsung benar-benar bersikap seperti anak kecil, “Lisa ingin makan ramen dengan kimchi boleh? Dan Mom bisakah membelikan Lisa permen coklat?”
Yoona tersenyum dan mengangguk pada Lisa, dia menggandeng tangan sang putri untuk segera kembali pulang karena hanya dengan langit yang begitu panas bisa membuat Lisa pingsan jika terlalu lama berdiri dibawah teriknya sinar matahari.
“Mom, aku masih memiliki satu minggu hari libur, tidak bisakah Mom mengajak Lisa jalan-jalan ke taman bermain? Atau kita bisa berkunjung ke pantai mungkin?” ucap Lisa.
Yoona dan Lisa sedang dalam perjalanan kembali pulang.
“baiklah, kemana Lisa ingin pergi?”
“apakah kita bisa pergi ke pulau jeju? Sangat menyenangkan jika di musim panas berkunjung kesana”
“oke”
“Hore !!!” Lisa langsung bersorak gembira, gadis lugu itu benar-benar bahagia seperti anak kecil dan mengemaskan dalam satu waktu, “Thanks Mom”
“you're welcome honey, kita mampir ke supermarket dulu”
“siap Mom, Lisa bisa beli permen coklat?”
“belilah sebanyak yang Lisa mau”
Dengan penuh bahagia dan senang Lisa memeluk tubuh sang ibu penuh kasih sayang.
*******
Malam hari …
Jika sudah malam tiba, ketidaksukaan Han semakin menjadi ketika dia tidak bisa memilih antara kembali pulang kerumah atau membuat seribu alasan untuk bisa menghindar pulang ke rumahnya.
Han lebih suka jika dia tidur di kantornya atau di hotel, daripada harus kembali ke rumahnya dimana dia bisa bertemu dengan sang ayah, bukan Han tidak mau tinggal bersama mereka tapi tekanan untuk menikah akan semakin ayahnya berikan ketika Han berada dirumah.
Pria itu bahkan tidak akan betah berada dirumah walau hanya setengah hari atau bahkan hanya sekedar untuk tidur.
Namun hari ini sang ayah mengancam Han jika pria itu tidak kembali malam ini, ayahnya berkata keesokan harinya Han akan mendapatkan kabar kematian karena dirinya tidak mau kembali pulang, dan ancaman itu cukup memaksa Han harus segera bertemu dengan sang ayah.
Di Ruang tamu yang hampir didominasi oleh warna merah maroon dan emas, belum lagi jantungan lampu yang begitu mewah yang berada tetap diatas sofa-sofa dan meja ruang tamu memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang menyukai gaya klasik dan mewah.
Dengan wajah lelah dan ingin segera membersihkan diri, Han hanya bisa pasrah ketika sang ayah menyeretnya untuk duduk di sofa yang akan menjadi kursi panas bagi Han, karena seperti orang penjahat Han akan terus diberikan pertanyaan hingga dia mengakui kejahatannya.
Dihadapan Han sudah ada sang ayah, dan disampingnya ada Sean dengan permen yang tidak pernah lepas dari genggaman tangannya, benar-benar membuat Han tidak punya kesempatan untuk melarikan dari sana, dengan gelisah Han terus menarik nafas dan mengeluarkan secara berulang-ulang seperti dia sedang menunggu jawaban dari seorang yang dia cintai.
“kau akan segera bertemu dengan seseorang yang sudah ayah pilih” ucap Tuan Kang dengan tegas tanpa ada keraguan dalam setiap satu kalimat, sudah bertahun-tahun dia terus mengikuti keinginan putranya kini giliran dirinya yang harus menegaskan Han dalam hal pernikahan dan warisannya.
“what? Ayah tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak! Bagaimanapun aku punya hak untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri”
“mau sampai kau akan terus menghindar? Apa kau Gay?”
“ayah! Aku menghindar bukan karena aku Gay tapi aku punya alasan tersendiri!”
“kalau begitu kau harus mau bertemu dengan orang pilihan ayah! Jika kau tidak mau aku benar-benar menggantung diriku”
Dengan malas Han mengusap wajahnya dan menghela nafas untuk beberapa menit, “terserah, aku menyerah!”
Tanpa mau mendengar apapun penjelasan sang ayah, Han segera menaiki anak tangga dan meninggalkan ruang tamu setelah perdebatan yang diakhiri secara sepihak, sekeras apapun Han mencoba menjelaskan apapun pada sang ayah, tidak akan bisa menghindari dirinya dari pernikahan.
“Han!!” teriak Tuan Kang, namun teriakkan itu benar-benar diabaikan oleh Han, dengan sabar Tuan Kang mengelus dadanya agar jantungnya tidak kembali melemah karena terus memaksakan dirinya.
“ayah, Sean bantu kembali ke kamar? Ayah tidak boleh sakit lagi” ucap Sean, pria gangguan mental itu memang tidak mengerti apa yang menjadi perdebatan antara ayah dan kakaknya namun Sean mengerti jika sang ayah tidak boleh terlalu marah dan terlalu kecapean, itu bisa mengganggu pergerakkan jantungnya yang mudah lemas.
Tuan Kang mengangguk, dia membiarkan Sean membantunya kembali ke kamar, seharusnya Tuan Kang masih bisa menikmati indahnya hidup dimasa tuanya namun semakin memikirkan umurnya yang tidak panjang ditambah lagi dia harus memiliki putra yang satu sulit sekali untuk membuatnya mengerti ucapannya dan satu putra yang tidak bisa melakukan apapun selain meminta dibelikan permen terus.
Por mais simples que possa parecer, ainda é muito difícil para os cientistas definir vidacomclareza. Muitos filósofos tentam defini-la como um "fenômeno que anima amatéria".[4]Deum modo geral, considera-se tradicionalmente que uma entidade é um ser vivo se, exibe todos os seguintes fenômenos pelo menos uma vez durante a suaexistência[5]:
Isang umaga, sa Kaharian ng Vireo ay abala muli ang lahat. Hindi uso ang pagpapahinga sa palasyong ito kaya naman hindi nakapagtatakang patuloy ang pag-unlad. Tahimik na kumakain si Reyna Verina, kasama ang kanang kamay niyang si Luna at dalawa niyang anak na sina Prinsesa Alora at Prinsesa Manorah. Nagkataon kasing wala na roon si Prinsipe Zeus at Prinsesa Aleyah dahil maaga silang umalis. Nilapitan sila ni Althea.“Kamahalan, kasalukuyan na pong isinasagawa ang paglalagay ng matataas na pader sa paligid ng palasyo. Sa ngayon ay naghahanap pa si Lancelot
Mila POV"People say new year marks a new beginning and new beginnings brings about happiness while that wasn't my case when I walked into the companyA mixture of emotions churned deep inside me as i took a deep breath, breathing in all the uncertainty that surrounds me" I didn't know what would become of me now that Mr Harris was retired , as the office felt empty without his presence but I chose to be positiveMaybe his son wasn't that bad, maybe he was just like his father and the company needs a fresh young face anyways, " I said to myself comforting myself with each wordI quickly greeted Jolie at the lobby as I hurriedly made my way up to the last floorToday was the day, the day the new CEO starts and I don't want him to get there before meReaching to the office and seeing no one, I became overly curious as to why he wasn't here yet so I decided to
Once she came out of her room, she handed the room keys to the receptionist and dragged her luggage to the bus. She boarded the bus and kept her luggage in the compartment of the single seat reserved for her. Ensured that it was safe and stepped out. She had some light morning breakfast of two slices of bread, some fruits, and a glass of herbal tea. She bought some bananas and guavas and kept them in her backpack. Just in case she needed to munch, she would have the fruits.One by one all of them boarded the bus. Tanisi boarded it the last and sat at her place. Varidhi had instructed to keep all valuables with them since they would leave the luggage in the bus.They set out to the hills. The morning was still dark, and the weather quite chilly. Tanisi had expected this and was wearing a jacket on her T-shirt. This ensured she was comfortably warm. After an hour's journey they reached the foothill.
Caroline stuck to the shadows as she looked grimly at her scrying map. The red marker shone brighter the closer she got to her mark and for a moment she was tempted to send for the elder council. But the abundance of bad leads made the high priestess pause, and reconsider her position, loathing to rouse them from their beds on a chance that this time her locator had worked. Stepping nimbly through the brambles with a grace that belies her age, Caroline gave a sigh of relief as she exited the forest and gazed upon violet field. The gates to the pack pyres were open on the far end and she squinted her eyes in confusion, "They should be shut," She murmured and muttered " el gatus closeth" a simple spell to close doors, but nothing happened.
I rubbed my stomach. I try not to stress because it will affect my fetus. Yes, I should be grateful for the pregnancy I have been waiting for, but it complicates the situation. It would be a lie if I said I was fine. The problem is, I don’t know the father of my baby. Harvey? Or Sean?“Angel.”I found a woman who 3 days ago I was worried about childbirth. Yes, he is Renata. The nurse handed Renata to me, who was sitting in the garden area of the hospital.“Hey, Renata,” I said, glad that I finally had someone I could talk to. “How are you and your baby?”“We’re good, thanks to you,” Renata answered. “Thank you for praying for us and being