FAZER LOGINSetelah memutus sambungan telepon, sang atasan pun langsung pergi dari kamarnya tanpa memberikan penjelasan apa-apa. Dan hal tersebut membuat dirinya kian dilanda rasa penasaran. Tidak akan bisa tenang.
Pria itu bahkan tak berkata apa-apa dan juga menanyakan perihal jawabannya. Jelas jadi bertambah merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan oleh Davae. Entah pria itu memang sengaja melakukan atau tidak.
Meski demikian, lebih baik mengonfirmasi ke atasannya langsung malam ini agar bisa ditarik kesimpulan yang benar dan jelas. Tak sekadar menerka-nerka saja dengan asumsi negatif. Ia kurang menyukai hal tersebut. Tidak mencerminkan saja sifat dewasanya.
Diputuskan untuk segera berganti pakaian. Mengenakan jubah tidur yang panjangnya hanya sampai selutut. Ia harus mengakui jika tampilannya termasuk seksi. Tentu bisa mudah merangsang gairah Davae. Namun, ia enggan memusingkan lebih jauh.
Tak dapat disalahkan reaksi sang atasan akan benar begitu nantinya. Godaan-godaan nyata juga pasti pria itu lontarkan. Bukanlah sebuah rahasia lagi. Ia sudah menyiapkan diri. Paling tidak harus bisa meladeni.
"Hai, Sayang." Alena langsung meloloskan sapaan, ketika melihat sosok sang atasan.
Dorongan pada pintu kamar tidur Davae semakin dipercepat hingga terbuka semua. Ia lalu berjalan dengan perlahan ke dalam, menuju ke meja kerja pria itu. Sang atasan sedang duduk di kursi. Membelakanginya.
Meski demikian, Davae pasti tahu jika ia datang. Suara yang dialunkan tadi cukup kencang. Walau, pria itu tak segera menyapa balik dirinya. Tetap berpikiran positif.
"Apa yang sedang kau lakukan, Mr. Davae? Apakah aku mengganggumu?" tanya Alena dalam nada lembut. Terkesan menggoda.
Arah pandang tetap terpusat ke sosok Davae yang masih tak menunjukkan respons apa pun. Sedangkan, tangan kanan dan kirinya bergerak cekatan menaruh botol wine, juga dus gelas kaca dibawa di atas meja kerja.
"Kemarilah, Sayang."
Alis sebelah kiri Alena spontan naik. Tidak disebabkan oleh panggilan sangat mesra yang terluncur dari mulut Davae, melainkan buket bunga merah berukuran besar dan sebuah kotak kado dengan warna yang sama, dihiasi juga oleh pita kuning.
Senyuman lebih lebar dibentuk sudut-sudut bibirnya. Senang melihat hadiah disiapkan Davae. Sebenarnya belum terlalu yakin jika akan pria itu persembahkan secara khusus padanya. Namun, mustahil saja ada wanita lain sebagai penerima, selain dirinya.
"Untukku bukan, Sayang?" Bertanya dalam nada menggoda yang semakin menjadi.
"Sudah jelas untukmu kekasih hatiku."
Alena menggeleng pelan sembari berjalan lebih dekat ke arah Davae. "Belum kekasihmu. Aku belum memberi jawaban."
"Tapi, kau tidak akan menolak, Sayang? Kau pasti mau. Tanpa harus aku meminta ja--"
"Bukan tidak mau karena keinginan pribadi, Mr. Davae. Ada etikat dan aturan kerja di perusahaan Miss Geovant yang harus aku patuhi." Alena melontarkan penjelasan.
"Dilarang menjalin asmara secara resmi dengan klien. Tapi, tidak ada batasan tidur bersama. Miss Geovant menyerahkan pada kami masing-masing." Alena menambahkan.
"Hahaha. Baiklah. Aku akan mengikuti juga. Hmm, berarti kita baru menjalin asmara jika kontrak kerja sama kita sudah berakhir?"
Alena mengangguk mantap. "Benar begitu, Mr. Davae. Bisakah kau menunggu?"
"Tidak masalah. Yang tidak bisa aku tahan terus adalah keinginan tidur denganmu."
Alena tertawa. "Haha. Aku pun senang hati bersedia bercinta bersamamu, Mr. Davae. Tapi, tetap setelah tugasku selesai. Oke?"
"Oke, Sayang. Aku sudah paham aturan. Nah ayo sekarang kau lihat dulu hadiahku."
Alena segera mengambil buket bunga dari tangan Davae. Sungguh cantik warna merah dilihatnya. Dapatlah memanjakan matanya. Sangat indah juga. Ia pun suka setiap kali diberikan bunga. Apa saja jenis bunganya, tidaklah masalah. Tetap selalu bagus.
Lantas, ditariknya pita pada kotak hadiah. Dilanjutkan dengan meraih bagian penutup guna dibuka. Penasaran akan isinya. Tangan kanan bergerak cepat untuk mengambil. Ia pun langsung membelalakan mata, setelah dapat mengenali barang telah dipegangnya.
"Kau suka? Atau kurang banyak?"
Alena mengalihkan cepat pandangan pada sosok Davae yang menyeringai nakal. Ada pancaran kepuasaan sangat nyata. Tawa pun diloloskan oleh pria itu dengan kencang. Ia merasa reaksinya tadi yang mengakibatkan sang atasan tergelak begitu senang. Rasa malu menyergapnya. Mengantarkan panas ke wajah. Yakin jika pipi-pipinya merona.
"Kau tidak ingin mencoba di depanku? Atau aku perlu membantumu memakainya, Miss Alena? Aku rasa pas di tubuhmu nanti."
Alena merasa semakin memanas mendengar setiap kata yang dilontarkan Davae Hernandez dengan nada menggoda. Mereka pun tetap saling memandang. Dapat dilihat jelas bara gairah di sepasang manik biru laut pria itu.
Kalimat balasan masih dipikirkannya, tentu harus bisa menjadi perlawanan yang cukup sengit bagi Davae. Ia tidak dapat kalah dari sang atasan. Pria itu pasti akan senang jika sampai menang. Tak dibiarkan terjadi.
"Kau ingin melihat aku memakai lingerie yang kau berikan sekarang? Tidak masalah. Aku akan menerima tantanganmu, Sayang."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Alena menaruh buket bunga di meja. Lalu, segera melepaskan jubah tidur. Gerakannya cukup pelan karena tahu sang atasan tengah memerhatikan dengan detail, tak berkedip. Kilatan hasrat di mata pria itu bertambah. Memang harus demikian respons Davae.
Dan, ketika hendak memasangkan lingerie ke leher guna dikenakannya, tangan kanan sang atasan justru merampas benda tersebut. Tentu kaget. Tetapi, tak ingin merebus balik.
Dibiarkan Davae terus memandangnya yang hanya mengenakan bra dan celana dalam. Tatapan pria itu semakin terbakar. Sudah pasti memberikan efek baginya juga. Tetapi, tidak akan tercipta malam panas di antara mereka. Percintaan tetap ditundanya.
"Kau melakukan apa, Sayang? Beri padaku, ayo. Tadi, kau memintaku untuk me--"
Alena tidak mampu menuntaskan apa yang harus diucapkan karena menerima remasan kedua tangan kekar Davae di masing-masing buah dadanya. Dilakukan pria itu dari luar bra. Namun tetap, membuatnya menikmati.
Lutut terasa lemas seketika. Tak kuat lebih lama lagi berdiri. Beruntung, Davae segera merengkuhnya dalam dekapan posesif. Ia menyukai sentuhan telapak tangan kanan sang atasan di punggungnya yang terbuka. Sedangkan, tangan kiri turut bergerak ke balik bra. Membelai bagian puncak salah satu buah dadanya dengan begitu lembut.
"Kau mau kita melakukan sedikit permainan panas, Miss Alena? Aku jamin tidak akan sampai kita benar-benar bercinta. Hanya berniat memberimu sedikit kepuasaan. Kau mau, Sayang? Aku akan beri yang terbaik."
аешь, как я переживала??— Мне просто понравился шарик одного мальчика, вон он, — она указала на маленького мальчика, похоже, её возраста. Я прищурилась.— Шарик со СпанчБобом? Серьёзно?! Я бы его купила тебе!— У этого мальчика такой красивый брат, — она засмущалась, и щеки окрасились в какой-то лиловый оттенок. Я даже вздёрнула брови.— Какой ещё брат? — я снова посмотрела в ту сторону. Я не сразу заметила, что с тем мальчиком кто-то стоит. Это был какой-то высокий блондин в модных черных очках. Что-то мне казалось в нём знакомым, но я не придала волю подобным мыслям и каким-то размышлениям. Переживания за жизнь родной сестры растворили и хорошее настроение, и желание дальше гулять в воздухе. Внезапно она только и рванула к ним, сверкая пятками. Кто-то уже нарушил своё обещание, сказанное пару минут назад. — Лили, куда побежала? — я пошла за ней, не желая сжечь ещё миллион нервных клеток.— Подари
KEDATANGAN Vino pagi ini cuma numpang cuci muka dan makan pisang goreng yang disuguhi Umi. Kemudian pamit berangkat. Dan disinilah Khika sekarang, disebelah Vino di dalam mobilnya yang Vino kemudikan menuju Sekolah. Suasana hening. Kata candaan 'aku juga suka kamu' yang sempat Vino lontarkan tadi tak ada tapaknya sama sekali. Vino nyatanya tetap cuek dan ketus seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Khika seperti buang-buang tenaganya saja tadi, karena sempet deg-degan tak karuan mendengarnya.Sesampainya di sekolah. Dimulai dari keluar
Rhea’s POV“I have the exact coordinates of the demon lair. When shall we attack them?” Artemis asked. She looked ready for the hunt. She was the Goddess of the hunt, after all.“We should wait and plan properly. I think we should ask Mercy to join us. She is extremely powerful, and having her on our side will help us win against the demons. If she is okay with it, we shall plan the attack at twilight because after that time they would get out of their lairs and lurk in the streets. We have to catch them before they go out,” I said.I frowned when I saw Adrian and Artemis both looking at me with identical expressions of disbelief. Were these two long-lost siblings or something? And why were they looking at me like that? Did I say something stupid again? I thought over what I had spoken and didn’t feel anything wrong with it.“What?” I asked in exasperation.
The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha neve
"A-aku... pulang dulu," kata Elsa. Arya menganggukkan kepala, tersenyum, lalu tangannya refleks terangkat dan mengacak rambut Elsa. Dan setiap pergerakannya itu tidak luput dari pengamatan Leon di balik kaca hitam mobil.Elsa tampak memaksa seyum walaupun dia merasa sangat gugup sekarang, lalu dengan tergesa dia masuk ke dalam mobil. Elsa langsung merasa kecil, kecil sekali sampai dia tidak berani mendongakkan kepalanya. Beberapa saat dalam keheningan dan Leon tidak juga menyalakan mesin mobil."Sore, kak Leon." Elsa menyapa canggung, melirik Leon hati-hati, namun Leon tidak menyahut. "Kenapa?" tanya Elsa heran.Leon pun menyalakan mesin mobil dan menggerakkan rodanya menjauh dari tempat itu. setelah memasuki jalan raya yang rama
 DG?Me chamo Diego ta ligado ,conhecido como DG .Sofri muito pode pá,para me chegar onde eu tô hoje ,sou o gerente dos vapor ,o patrão confiar em mim.Nem tenho palavras para descrever o tanto que o RR vulgo Patrão me ajudou,ele me deu a mão é confio em mim quando ninguém estendeu a mão pra mim ,papo reto.Considera ele para caraí .Ele sabe da minha história é nunca explanou pra ninguém,sigilo total.Sou uns dos principais que fica na casa dele de vigiar.Tenho um mulher que eu chamei de mãe um dia ,já não vejo ela a uns 10 anos e espero que nunca mais vejo essa mulher.Pai ? Agora tu me fude ,ele fui embora quando descobriu que a mulher lá traia ele na própria cama.