LOGINSang ibu sudah pamit pulang hampir tiga jam lalu, namun perubahan pada sikap Alena tak ada dirinya kunjung lihat. Sudah diperhatikan secara saksama dan teliti hampir setiap menit wanita itu, tentu saja.
Rasanya, Alena tidak menunjukkan sama sekali tanda-tanda bahwa akan kembali ke sifat yang dikenalinya. Ya, cerewet dan cukup banyak bicara. Alena menjadi lebih banyak diam dalam kurun waktu beberapa jam, persis setelah kedatangan ibunya.
Davae sudah berupaya mencari topik supaya dapat membuat wanita itu mau menanggapi bahasan ia buat. Akan tetapi, hanya dengan kalimat-kalimat singkat saja. Bahkan, pancingan berupa godaan pun tidak seperti biasa dibalas oleh wanita itu. Ia jelas kurang nyaman dengan sikap dari Alena. Akan terus dilakukan cara untuk membuat wanita itu mau memberitahukannya masalah tengah dipikirkan.
"Miss Alena...," panggil Davae dengan nada yang pelan saja, ia berdiri di ambang pintu kamar tidur Alena sembari mengedarkan pandangannya.
"Kau di mana, Miss Alena? Apa kau sudah tidur? Maaf, jika aku mengganggumu. Apakah kita bisa bicara sebentar, ada yang ingin aku katakan ke--"
Davae tidak bisa menyelesaikan kata hendak ia lontarkan karena tiba-tiba terpaku. Pemandangan manis sosok Alena tengah mengenakan midi dress warna merah sungguh mampu menyita perhatian dirinya dalam sekejap. Wanita itu baru keluar dari walk closet.
Berjalan ke arahnya dengan senyum simpul. Debaran jantung yang sudah tidak normal pun semakin berdegup kencang karena menyaksikan penampilan menawan Alena. Ia sungguh dibuat terpesona. Bahkan, kedua mata dengan lebar memandang ke arah Alena.
"Kau kenapa, Bos? Apa aku terlihat aneh?"
"Kau sangat cantik, Miss Alena. Aku suka." Davae meloloskan pujian dalam tatapan begitu memuja. Kepalanya pun terus digeleng-gelengkan. Benar-benar takjub.
Kaki-kakinya melangkah cukup gesit ke arah Alena yang melambaikan tangan. Ekspresi wanita itu sudah berubah. Memerlihatkan seringaian dan tatapan menggoda. Ekspresi tersebut ia sukai. Yakin jika Alena telah kembali menjadi sosok wanita yang dikenalnya.
"Tadi kau mengatakan apa, Mr. Davae? Aku tidak dengar. Bisakah kau ulangi lagi?"
Davae mengangguk dengan ringan sembari meraih pinggang Alena agar wanita itu mendekat. Lalu, dekapan yang erat diberikannya. "Kau sangat cantik, Sayang. Akan selalu begitu."
"Haha. Kau memujiku bukan karena menginginkan sebuah imbalan bukan?"
Davae terkekeh. Rengkuhan semakin dieratkan. "Menurutmu sendiri bagaimana, Sayang? Kau pasti sudah tahu apa yang sangat aku inginkan darimu," godanya dalam nada mesra.
Alena membiarkan wajah sang atasan kian dekat sehingga terpaan napas halus pria itu pun terasa di bagian pipi kirinya. Mata juga spontan tertutup saat bibir hangat Davae menyentuh lehernya. Diberi ciuman.
Tak pernah sekalipun sentuhan dilakukan oleh pria itu yang membuat dirinya menjadi gagal bergairah. Bara hasrat pun dengan bisa mudah bangkit. Dalam hitungan detik saja. Bahkan, tanpa cumbuan yang panas.
Sayang, semua harus diredam mati-matian. Tak akan bisa bercinta hingga dua minggu kedepan, sesuai kesepakatan. Dan, bukanlah mudah dalam mengendalikan keinginannya untuk tidur dengan Davae, disaat pria itu terus saja berupaya menggoda.
"Aku ingin minta maaf, Sayang."
Alena segera menggeleng, sudah tahu arah pembicaraan mereka. "Aku tidak mau."
"Aku kesal kau bersandiwara tentang kita adalah pasangan kekasih, Mr. Davae. Kau tidak mengatakan sebelumnya kepadaku."
"Permintaan maaf tidak akan bisa terlalu berguna, setelah kau menghadapkanku pada situasi menegangkan. Apalagi, tidak ada di kontrak yang sudah kita berdua sepakati."
Alena melekatkan tatapan. Berupaya untuk mengubah pancaran matanya. Menunjukkan sorot kejengkelan. "Aku tidak akan pernah mudah bisa kau permainkan, Mr. Davae."
"Mempermainkan apa? Tidak pernah aku berkeinginan seperti yang kau bilang, Miss Alena. Aku hanya ingin orangtuaku tahu tentang kau. Walau, harus berbohong."
Dilepaskan kedua tangan Davae dari badan, lalu melangkah menjauh. Dan apa yang ia sedang tunjukkan, mendapat reaksi negatif sang atasan. Kekagetan pria itu tampak jelas pada sepasang mata semakin membulat.
Alena memasang ekspresi serius. Percayalah semua hanya bagian dari rencananya untuk mengerjai Davae. Tidak akan mungkin rasa marah dan kesal disimpannya lama. Sang atasan juga sudah meminta maaf. Ia bukan anak kecil yang suka membuat masalah jadi lebih runyam. Lebih bagus cepat selesai.
"Aku salah, Sayang. Aku harusnya meminta persetujuanmu soal aksiku dulu. Pantas jika kau marah padaku. Tapi, tolong jangan jauhi atau diami aku. Kau adalah wanita ya--"
Alena tak membiarkan Davae melanjutkan ucapan. Sudah ditaruh jari telunjuk di bibir pria itu. Sang atasan pun menurut, langsung diam sembari memandangnya intens tanpa berkedip. Mungkin heran dengan senyuman lebar yang sedang dipamerkannya.
"Oke, Mr. Davae. Aku memaafkanmu. Tapi bukan jaminan aku akan mau ikut terlibat dalam pemenuhan janji yang kau buat pada Mrs. Hernandez tentang menikah. Mengerti?"
Alena menyeringai, kali ini. "Dan jika kau ingin aku menjadi bagian dari hidupmu, ada tantangan. Tidak semudah yang kau kira."
"Hahaha. Tantangan apa Sayang? Membuat kau hamil? Aku rasa kita berdua hanya akan perlu dua kali saja bercinta, maka kau bisa mengandung calon pewarisku, Miss Alena."
Alena tak sempat menjawab karena Davae sudah menggendongnya. Dalam waktu beberapa detik saja, tubuhnya mendarat di atas kasur dengan nyaman. Sang atasan pun menindihnya. Mereka saling tersenyum. Ia lalu memejamkan mata, saat Davae mulai menyatukan bibir mereka. Dipagut lembut.
eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu
Sejak kejadian di perpustakaan rasa kesal Mika menguap hilang entah kemana. Tetapi ucapan manis Daffa itu hanyalah ucapan manis belaka. Mungkin hanya untuk membuatnya senang. Buktinya sampai sekarang Daffa sama sekali tidak pernah memberitahukan keinginannya. Terhitung sudah beberapa hari semenjak Daffa mengatakan bahwa dirinya akan bilang ke Mika kalau ingin makan masakannya. Kenyataannya Mika-lah yang selalu mengirim pesan duluan untuk menanyakan apakah Daffa ingin dibawakan bekal atau tidak.Dan tidak.Sampai hari ini Mika tidak pernah membawakan Daffa bekal lagi.Mika memandang ke arah lapangan basket yang tidak jauh darinya. Sekarang dia, Siska, dan Michelle sedang duduk di bangku bawah pohon beringin samping kelasnya sambil melihat Daffa dan Rendy yang sedang melatih junior-junio
"This is your baby's heartbeat."From the monitor screen connected to the transducer on my stomach, I could see that my baby was still tiny. Maybe I can say it looks like a lump of meat. Over there is the source of my baby's heartbeat. This miracle had not happened in last month's examination."Your baby's heart rate is normal." Doctor Luke said."Really? How do you know?"In a reclining position, I glanced at Sean. At first, he refused to take me to the hospital, but he suddenly agreed, and now asked questions as if he cared. Sean folded his arms, and his expression looked worried too. Why is Sean worried?"The frequency is stable, 145. You can listen carefully too." Doctor Luke loo
The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha never left his pack wit
Elsa terbangun merasakan pegal di sekujur tubuhnya, namun juga ringan di dadanya. Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar dalam diam. Ketika berhasil meraih semua kesadarannya, ingatan mengenai kejadian semalam membuat darahnya mendidih dan naik ke wajah. Elsa mencengkram selimut semakin erat dan menaikkannya ke dagu, menggigit bibir ketika setiap momen itu berputar di kepalanya bagai sebuah film.Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan. Sudah bukan lagi seorang gadis. Di usia 16 tahun, ya tuhan, apa yang dirinya pikirkan?!Elsa memikirkan bagaimana semalam Leon menyentuhnya, menyebar gelenyar panas ke seluruh tubuh, dan mengenalkannya ke sensasi yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Terasa seperti, tubuhnya bukanlah miliknya. Karena Leon mengenal setiap jengkalnya l
CHAPTER 15He had gotten her flowers.Sara stared at the large beautiful bouquet of flowers Ariel had given her, she had brought it with her from work.Along with a carefully hand written note on a pink slip, her friend had said, "Christian said I should give you this, he is so anticipating you guys date, like seriously that was all he could talk about, he revealed some details which he said I should keep a secret from you, and all those stuffs,mehn babe you so lucky.""I'm lucky? In what way." She'd asked looking at the bouquet of red roses adorably, smiling and swooning profusely."Girl, you just walked down the streets one day, meet an handsome guy who now loves you like no man's business, and you're asking me why I say you are lucky, oh God when?" Ariel had answered looking up and raising her hands mockingly in an apologetic gesture.