MasukElsa terbangun merasakan pegal di sekujur tubuhnya, namun juga ringan di dadanya. Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar dalam diam. Ketika berhasil meraih semua kesadarannya, ingatan mengenai kejadian semalam membuat darahnya mendidih dan naik ke wajah. Elsa mencengkram selimut semakin erat dan menaikkannya ke dagu, menggigit bibir ketika setiap momen itu berputar di kepalanya bagai sebuah film.
Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan. Sudah bukan lagi seorang gadis. Di usia 16 tahun, ya tuhan, apa yang dirinya pikirkan?!
Elsa memikirkan bagaimana semalam Leon menyentuhnya, menyebar gelenyar panas ke seluruh tubuh, dan mengenalkannya ke sensasi yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Terasa seperti, tubuhnya bukanlah miliknya. Karena Leon mengenal setiap jengkalnya lebih baik dari yang Elsa tahu. Elsa benar-benar bingung sekarang harus merasa bagaimana.
Beruntung Leon tidak berada di sana ketika Elsa bangun karena sudah pasti Elsa akan sangat malu berhadapan dengannya. Namun sedikit kekecewaan menyelip juga.
Elsa mencoba menggeliatkan tubuhnya yang pegal ketika suntikan rasa sakit itu terasa menyengat selangkangannya. Elsa langsung membeku.
Dia terdiam dalam keheningan cukup lama, memikirkan perasaan berbeda yang terasa terlalu nyata. Ya, ada yang terasa salah dengan tubuhnya. Perlahan, Elsa pun beringsut bangkit sambil meringis turun dari ranjang. Dia melilitkan selimut di dadanya dan secara tidak sengaja matanya melihat noda merah di atas ranjang.
Mata Elsa melebar. Apakah itu darahnya?
Kengerian langsung merayapinya bagai api. Apakah benar itu darahnya? Jika ya, mengapa? Berhubungan intim terasa jauh dari rasa sakit, namun kenapa dirinya berdarah? Mungkin ia memasuki masa periodenya, pikir Elsa. Tapi menurut jadwal, menstruasinya seharusnya datang minggu depan.
Dengan bingung sekaligus malu, Elsa menarik seprai itu sampai terlepas dan membawanya ke kamar mandi untuk dicuci.
Beberapa saat kemudian, Elsa mengisi perutnya dan sedikit melakukan bersih-bersih di apartemen yang luas itu, lalu kembali ke dalam kamar. Duduk di ranjang dengan seprai baru dan bingung harus melakukan apa.
Apakah pulang saja? Pikir Elsa. Tapi setelah apa yang terjadi di antara dirinya dengan sang suami, Elsa berharap hubungan mereka menjadi lebih baik. Yah, setidaknya Leon tidak lagi marah-marah padanya dan membuat Elsa ketakutan. Akan tetapi, bagaimana dia bisa menghadapi Leon nanti? Elsa sangat malu. Tidak pernah ada seorang pun yang menatapnya terlalu lama seperti yang Leon lakukan semalam. Tidak pernah ada seorang pun yang menyentuhnya terlalu banyak seperti yang Leon lakukan semalam. Elsa merasa dirinya sudah tidak punya muka lagi jika dihadapkan dengan lelaki itu.
Tidak, pasti akan sangat memalukan!
Terlebih... terlebih dengan suara-suara memalukan yang keluar dari bibirnya yang sudah pasti didengar jelas oleh Leon.
Elsa mengerang frustasi dan hampir saja benar-benar berlari pulang jika suara nada dering familiar tidak terdengar. Elsa pun mengambil ponsel jadulnya dari dalam tas dan melihat si pemanggil dalam layar ukuran kecil itu.
Mama
Jantung Elsa langsung mencelos sebelum berdetak begitu kencang seolah menghentak-hentak relung dadanya.
Ya tuhan! Dia nyaris lupa pada mamanya sendiri dan apa yang perempuan itu perintahkan padanya di hari pernikahan.
Dengan tangan gemetar, Elsa memencet tombol hijau lalu meletakkan hapenya di dekat telinga.
"Ha-halo, Ma."
"Elsa! Kemana saja kamu, hah?! Ini sudah beberapa hari dan kamu belum juga kabarin Mama tentang apapun. Apa kamu lupa sama keluarga kamu sendiri? Hanya dengan sedikit harta dari mereka itu kamu gampang sekali terlena. Dasar anak nggak tau diuntung!"
Elsa membenarkan ucapan mamanya dalam diam. Bahwa memang benar dia telah terlena pada apa yang keluarga Fernandez berikan padanya beberapa hari ini.
"Maaf, Ma," sahut Elsa pelan.
Terdengar suara decakan kesal di ujung telepon. "Hari ini mama mau ketemu. Di taman kota, satu jam lagi. Jangan lupa untuk bawa dompet kamu dan semua isinya."
Elsa mengiyakan dengan tatapan kosong, sebelum sambungan telepon itu terputus secara sepihak.
Mama ingin bertemu dengannya. Jika orang lain mendengar mungkin mereka akan berpikir bahwa Diandra sedang merindukan Elsa, tapi Elsa tahu lebih baik, dan dia juga tahu akan lebih baik lagi untuk tidak membantah.
***
Siang ini, udara sangat panas, sinar matahari terasa begitu menyengat, belum lagi polusi dari kendaraan yang lewat. Taman kota tampak sepi karenanya. Elsa bersyukur. Dia duduk di sebuah bangku panjang sambil meremas erat dompetnya. Peluh membanjiri pelipis Elsa. Di hari yang panas ini, dia mengenakan selendang panjang berwarna hitam yang melilit lehernya, guna untuk menutupi bercak-bercak kemerahan yang Elsa sendiri tidak tahu dari mana asalnya.
Sudah lebih satu jam semenjak Mama menelepon, namun wanita itu belum juga datang, dan diam-diam Elsa berdoa semoga dia memang tidak akan datang. Elsa tidak tahu bagaimana harus menghadapi Mama-nya. Ketika di rumah dulu, dia jarang sekali bertemu dengan Mama. Mama tidak bekerja dan lebih sering berada di luar bersama teman-temannya, menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Sedangkan Elsa terkurung di rumah seorang diri. Sedangkan ayahnya, Ayah selalu pergi ketika Elsa sedang di sekolah dan pulang ketika Elsa sudah tidur, dini hari.
Elsa tidak memiliki teman, dia juga tidak akrab dengan para tetangganya, seolah dunia terisolasi hanya untuknya. Rasa ketidakpercayaan diri itu terlalu besar sehingga daripada bergaul dengan teman sebayanya, Elsa lebih memilih mengurung diri di rumah.
Tapi sekarang, dia berada di keluarga Fernandez. Kehidupannya tidak lagi sama. Dan jika disuruh memilih, tentu saja dia akan lebih memilih untuk terus berada di keluarga ini. Sekalipun kedengarannya egois dan serakah, tapi memang begitulah kenyataan yang Elsa rasakan.
Suara langkah kaki membuat Elsa mendongak dan melihat seorang perempuan dengan pakaian mahal, tas branded terkenal, rambut ikal berwarna pirang, make-up tebal, serta kacamata hitam besar yang bertengger di hidung mancungnya. Diandra memang sangat cantik, sekujur tubuhnya dirawat dengan sangat baik, namun tanpa dandanan seperti itu, Elsa pikir Mamanya akan terlihat jauh lebih cantik lagi.
Elsa berdiri ketika Diandra sudah sampai di hadapannya. Diandra melepas kacamata dengan kasar, lalu mengeluh tentang udara yang panas.
"Mungkin lebih baik kita ketemu di café aja, Ma. Di sini panas."
Diandra langsung mendelik padanya. "Gak perlu, Mama lagi buru-buru."
Elsa pun mengangguk mengerti.
"Mana dompet kamu?"
Elsa menyerahkan dompetnya. Diandra mengambilnya dengan kasar lalu membuka isinya dan matanya langsung berbinar ketika melihat lembaran-lembaran uang yang cukup banyak di sana, dan Diandra pun mengambil semuanya lalu mengembalikan dompet itu pada Elsa.
Elsa hanya diam dan tidak memprotes ketika Mamanya juga menguras habis isi dompetnya.
Diandra memasukkan semua uang itu ke dalam tasnya lalu menatap Elsa dengan seyuman puas. "Mama bakal kirim nomor rekening Mama lewat sms nanti. Setiap kali Mama minta dikirim uang, kamu harus ada, ngerti?"
Elsa mengangguk lagi. "Ngerti."
"Bagus."
Lalu Diandra pun berbalik pergi, namun belum sampai beberapa langkah dia kembali lagi dan tiba-tiba saja menarik selendang di leher Elsa dengan kasar. Elsa tertarik ke depan dan meringis sambil mengusap lehernya dengan terkejut. Sang Mama tidak menatapnya, melainkan ke bercak merah di lehernya.
Lama terdiam dengan kernyitan tipis di dahinya, Diandra pun melepas selendang hitam itu ke tangan Elsa, tersenyum sinis. "Kamu sudah berhasil berhubungan seks dengannya, kan?"
Elsa nyaris ternganga pada istilah blak-blakan yang diucapkan Diandra. Wajah Elsa pun langsung memerah padam, membuat Diandra semakin yakin pada dugaannya.
"Well, pastikan Leon membayarmu banyak untuk itu."
Membayar? Elsa membatin. Aku bukan pelacurnya.
"Apa kamu bilang?"
Elsa mendongak dan melihat wajah sang Mama yang diliputi amarah. Elsa tidak sadar bahwa dia baru saja mengucapkan kata hatinya dengan suara.
Tapi perkataan Mama memang sangat kejam. Elsa memberikan tubuhnya pada lelaki itu bukan karena uang, namun semata-mata bahwa itulah yang dia inginkan, yang mereka berdua inginkan, dan itu juga sudah menjadi kewajibannya sebagai istri.
"Aku bukan pelacurnya kak Leon, aku istrinya," sahut Elsa dengan suara lebih jelas dan berani. Lalu sedetik setelah kata-kata itu meluncur keluar dari mulutnya, tamparan keras mendarat di pipi Elsa.
"Berani kamu ya!" geram Diandra, menatap berang pada Elsa.
Elsa terdiam, menunduk, tidak berani lagi membuka suara. Dia menggigit bibir menahan sakit yang memanas di wajahnya, dan juga ulu hatinya.
Diandra melangkah mendekat. "Ingat, Elsa, kalau bukan karena Mama, kamu gak bakal ada di tempat kamu sekarang. Kamu seharusnya berterima kasih sama Mama karena sudah menikahkan kamu dengan pria seperti putra tunggal Fernandez. Anggap saja ini sebagai penebusan selama 16 tahun Mama ngerawat kamu, kamu gak mau kan dicap sebagai anak durhaka, hm?" Diandra mencengkram dagu Elsa kuat, kuku-kukunya yang tajam menekan kulit pipi dan leher Elsa.
Elsa pun mengangguk, hanya untuk membuat sang Mama melepaskannya.
Diandra tersenyum puas, lalu mengenakan kembali kacamatanya. "Ayah kamu belum tahu mengenai hal ini, jadi jangan paksa Mama untuk memberitahunya." Lantas wanita itu pun berbalik pergi.
Elsa berdiri di tempatnya, menatap kosong pada udara. Tatapannya buram oleh air mata, yang kemudian diusapnya kasar. Sambil kembali mengingat-ingat, dia menyeret kakinya pergi dari sana, bahwa pernikahan ini memang sejak awal adalah sebuah bencana, bukan anugrah.
[to be continued]
eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu
Sejak kejadian di perpustakaan rasa kesal Mika menguap hilang entah kemana. Tetapi ucapan manis Daffa itu hanyalah ucapan manis belaka. Mungkin hanya untuk membuatnya senang. Buktinya sampai sekarang Daffa sama sekali tidak pernah memberitahukan keinginannya. Terhitung sudah beberapa hari semenjak Daffa mengatakan bahwa dirinya akan bilang ke Mika kalau ingin makan masakannya. Kenyataannya Mika-lah yang selalu mengirim pesan duluan untuk menanyakan apakah Daffa ingin dibawakan bekal atau tidak.Dan tidak.Sampai hari ini Mika tidak pernah membawakan Daffa bekal lagi.Mika memandang ke arah lapangan basket yang tidak jauh darinya. Sekarang dia, Siska, dan Michelle sedang duduk di bangku bawah pohon beringin samping kelasnya sambil melihat Daffa dan Rendy yang sedang melatih junior-junio
"This is your baby's heartbeat."From the monitor screen connected to the transducer on my stomach, I could see that my baby was still tiny. Maybe I can say it looks like a lump of meat. Over there is the source of my baby's heartbeat. This miracle had not happened in last month's examination."Your baby's heart rate is normal." Doctor Luke said."Really? How do you know?"In a reclining position, I glanced at Sean. At first, he refused to take me to the hospital, but he suddenly agreed, and now asked questions as if he cared. Sean folded his arms, and his expression looked worried too. Why is Sean worried?"The frequency is stable, 145. You can listen carefully too." Doctor Luke loo
The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha never left his pack wit
Elsa terbangun merasakan pegal di sekujur tubuhnya, namun juga ringan di dadanya. Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar dalam diam. Ketika berhasil meraih semua kesadarannya, ingatan mengenai kejadian semalam membuat darahnya mendidih dan naik ke wajah. Elsa mencengkram selimut semakin erat dan menaikkannya ke dagu, menggigit bibir ketika setiap momen itu berputar di kepalanya bagai sebuah film.Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan. Sudah bukan lagi seorang gadis. Di usia 16 tahun, ya tuhan, apa yang dirinya pikirkan?!Elsa memikirkan bagaimana semalam Leon menyentuhnya, menyebar gelenyar panas ke seluruh tubuh, dan mengenalkannya ke sensasi yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Terasa seperti, tubuhnya bukanlah miliknya. Karena Leon mengenal setiap jengkalnya l
CHAPTER 15He had gotten her flowers.Sara stared at the large beautiful bouquet of flowers Ariel had given her, she had brought it with her from work.Along with a carefully hand written note on a pink slip, her friend had said, "Christian said I should give you this, he is so anticipating you guys date, like seriously that was all he could talk about, he revealed some details which he said I should keep a secret from you, and all those stuffs,mehn babe you so lucky.""I'm lucky? In what way." She'd asked looking at the bouquet of red roses adorably, smiling and swooning profusely."Girl, you just walked down the streets one day, meet an handsome guy who now loves you like no man's business, and you're asking me why I say you are lucky, oh God when?" Ariel had answered looking up and raising her hands mockingly in an apologetic gesture.