Share

chapter 34

Author: gaojianxiong
last update publish date: 2023-12-01 23:04:04

Ervin mengikuti ke mana Rena pergi. ia kini tengah menunggui Rena di depan toilet khusus perempuan. dan selama ia menunggu Rena di sana, ia sudah berhasil menjadi tontonan para cewek. sebenarnya bukan style Ervin yang menjadi perhatian para gadis-gadis itu, melainkan ketampanan pria tersebut.

mereka seolah tak punya malu, memperhatikan Ervin sedetail mungkin bahkan sampai ada yang dada dada dengan Ervin, membuat pria itu risih seketika.

ia kembali mengintipkan wajahnya, dan tepat saat itu Rena keluar.

"Na.." panggil Ervin yang langsung menghampiri Rena.

melihat keberadaan Ervin di sana, Rena seketika terkejut, "Lo ngapain di sini?" tanya Rena sambil melirik ke sekelilingnya. dan sama dengan Ervin, Rena dibuat risih dengan tatapan para cewek-cewek di sekeliling mereka.

"Kenapa lihat-lihat mbak?" tanya Rena sinis.

"Itu pacarnya ya mbak?" ucap salah seorang cewek dengan nada centilnya.

Rena seketika melotot, "Bukan. dia bukan pacar saya.." tolak Rena. sedangkan Ervin hanya menatap Rena lalu tertawa miring. ia mendekatkan mulutnya ke telinga Rena, "Tapi katanya tadi pas di depan Dinar anggap gue pacar, masa di sini udah nggak pacaran lagi.." goda Ervin dengan nada yang begitu menyebalkan bagi Rena.

"Apaan sih Vin. berisik lo?"

Ervin seketika tertawa lalu merangkul rena, "Dia pacar saya mbak. hanya saja dia malu ngakuin.." ucap Ervin santai tanpa melirik bagaimana ekspresi Rena setelahnya.

"Ya ampun mbak, masa pacarnya ganteng gitu nggak diakui sih. kalau gitu buat saya aja deh mbak.."

"Ih, ganteng dari mananya.. ambil aja mbak.." Rena mencoba terus melepaskan rangkulan Ervin, "Apaan sih Vin, lepasin nggak!"

Ervin tak menggubris, ia justru menarik Rena menjaduhi keramaian dan berjalan menuju parkiran mobil.

"Gue belum mau pulang!" teriak Rena kesal, namun Ervin tetap saja menariknya. Saat mereka sampai di mobil, Dengan cepat Ervin membuka pintu dan membawa Rena masuk ke dalam.

Walaupun terus memberontak, Rena tetap dipaksa masuk oleh Ervin sampai akhirnya Rena pasrah.

Perjuangan bagi Ervin untuk melunakkan hati Rena. Apalagi mood nya yang saat ini hancur.

"Kenapa sih lo nggak bisa dengerin ucapan gue?" geram Ervin menghadap Rena.

"Ucapan yang mana? Emang ada li ngomong sama gue?"

"Ck! Dasar gadis keras kepala..!"

Ervin memutar kembali tubuhnya menghadap depan. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan langsung melajukan mobil tersebut keluar dari basecame mall tersebut.

Di dalam mobil, Rena hanya diam. Ia tak bicara sedikit pun. Dalam hatinya ia begitu kesal. Apalagi jika ia mengingat Dinar yang tadi mencium bibirnya. Ingin sekali Rena menghajar Dinar lebih buas lagi daat tadi di Mall. Namun ia keburu malu.

Alhasil ia tak bisa berkutik apa-apa sampai Ervin yang turun tangan.

Ngomong-ngomong soal Ervin, Rena seketika melirik cowok tersebut dan melihatnya dalam. Wajah serius Ervin menyetir membuat Rena tertegun. Walaupun pakaian Ervin selengekan, namun ketampanan pria itu tak bisa ditutupi.

Pantas saja, gadis gadis di mall tadi tak mempermasalahkan penampilan Ervin, karena mereka melihat wajah tampan Ervin.

"Gue tahu Na kalau gue tampan.." Ucap Ervin secara tiba-tiba, membuat Rena seketika gugup dan kelimpungan.

"A..Apa-aapaan sih lo! pede banget.." gugup Rena. setelah kepergok Ervin memandanginya.

Ervin hanya tertawa geli melihat Rena yang gugup. setelah insiden kepergok tersebut, tak ada lagi suara yang terdengar kecuali suara mussik yang dihasilkan dari audio mobil dan juga suara mesin mobil yang terdengar pelan.

Ervin mengumpat pelan saat ia yang berniat mengejar cepat lampu hijau, namun harus terhenti karena saat jaraknya tinggal lima meter lagi, lampu berumah menjadi merah. Alhasil ia harus menunggu sampai lampunya hijau kembali.

Ervin melirik Rena yang masih terdiam di sebelahnya, "Lo kenapa lagi?" tanya Ervin yang curiga dengan kediaman Rena.

Rena menggeleng, "Gue emosi Vin. Gue pengen hajar si Dinar kampret itu." kesal Rena sambil mengepalkan tangannya dan aura wajah Rena juga mendadak menggelap.

Ervin mengernyit, "Yakin lo? Tadi aja pas dicipokin lo diam.." ejek Ervin. Rena menatap Ervin tajam.

"Bahasa lo bisa diperhalus nggak?" rutuk Rena tajam.

Ervin tersenyum miring, "Bahasa gue nggak salah kok. Emang begini adanya.."

"Sialan lo!" rutuk Rena. Lagi-lagi Ervin hanya membalas dengan tawa pelan namun terdengar menyebalkan.

"Emang kalau lo mau balas, lo mau balas dia apa?" Ervin kembali bertanya.

Rena tampak berpikir, "Gue mau potong burungnya sampai habis biar nggak bisa lagi mesumin cewek cewek .." geram Rena dengan ekspresi yang membara, namun lain Rena lain lagi raut wajah Ervin.

Ervin justru horor melihat Rena seperti itu. Mendengar ucapan Rena ia seketika merasakan ngilu di pangkal pahanya. Tak terpikirkan olehnya jika nanti dirinya yang diperlakukan Rena seperti itu.  Bisa habis masa depannya.

Oh Nooooo..

Ervin menggeleng tanpa sadar. Membuat Rena heran, "Kenapa lo?" tanya Rena. 

"Nggak..nggak kenapa-napa.. Hehe.." jawabnya cemas.

Beruntung lampu kembali hijau dan Ervin bisa kembali fokus pada menyetirnya. Ia memutuskan mengantarkan Rena pulang, walaupun Rena tak mau, tapi apa boleh buat, Rena harus mengiyakan saja.

Tak berapa lama, mobil yang Ervin kendarai masuk ke dalam gerbang rumah gadis itu.

"Turun lo!" usir Ervin tanpa rasa kasihan.

"Dih! Kenapa gue yang lo usir. Ini rumah gue kali!"

"Lo gue usirnya dari mobil gue.."

"Dih! Nggak lo usir gue juga udah mau turun.." kesal Rena.

"Bagus deh. Buruan!"

Rena berdecih, namun baru satu kakinya turun, ia kembali menaikkan kakinya dan memutar tubuhnya menghadal Ervin.

"Apa lagi?" tanya pria tersebut.

"Lo nggak ada niatan gitu temenin gue?" ucap Rena dengan wajah memohon.

"Nggak! Turun lo!"

"Sama sekali?"

Ervin mengangguk, "Sama sekali. Udah turun! Gue ngantuk Na! Gue mau pulang.."

Rena kembali membuka pintu, namun saat ia kembali memutar tubuh ke belakang, Ervin langsung menahan tubuh Rena untuk naik ke mobilnya.

"Gue nggak bakal temenin. Udah! Jangan naik turun naik turun terus..gue mau pulang dan gue ngantuk.." titah Ervin tegas.

"Lo bisa tidur di sini.."

"Gue punya rumah Na.."

"Tapi tidur bentar aja kan bisa.."

"Nggak bisa. Udah lah turun. Perlu gue tendang?"

Rena berdecak, "nggak ngerti perempuan banget sih lo. Pantesan lo jomblo.." celetuk Rena kesal.

Ervin tak menanggapi, ia hanya menatap punggung Rena.

"Padahal gue butuh teman. Mana tadi si Dinar nyium segala. Jijik gueee.." rengek Rena sembari turun dari mobil Ervin. Namun rengekan Rena terdengar jelas oleh pria itu.

Rena membanting pintu kesal. Ervin bisa melihat Rena berjalan pelan masuk ke dala rumah sambil mengusap bibir kasar. Mungkin Rena tengah menghapus jejak bibir Dinar di sana.

Sedangkan Rena masih terus mengutuk tak karuan, "Ciuman gueee.. Kenapa bisa diambil sama cowok sialan itu sih. Gue jijik. Udah macam di sinetron gue jadinya.. Aku jijik mas, aku ji..."

Celotehan tak mutu Ren seketika terhenti saat tubuhnya diputar oleh seseorang.

"Ervin, ngapain lo di sini...bukannya tadi lo bilang lo mau pulang? Tapi kenapa masih ngatem di sini lo! Pulang sana. Cowok nggak peka.." 

Ervin menarik nafas dengan kesal, "Jangan usap bibir lo lagi, nanti luka. Oke!"

"Terserah gu..."

Rena melotot seketika. Waktu serasa berhenti, ia mematung tak berkutik saat Ervin menyatukan bibir mereka. Ciuman itu tak lama, namun ditutup dengan sedikit lumatan oleh Ervin.

Ervin mengusao bibir Rena lembut dan tersenyum, "Sekarang, bukan bibir Dinar lagi di sini, tapi gue. Jadi jangan mengoceh lagi. Paham!!? Gue pulang.."

Ervin langsung berbalik arah dan masuk ke dalam mobilnya, dan keluar dari rumah Rena. Jantungnya berdetak tak karuan, namun dengan cepat ia membantah semua itu. Ia hanya ingin membantu Rena, tidak lebih.

Sedangkan Rena, gadis itu seketika menyentuh bibirnya lalu memegang dadanya yang juga berdetak gila-gilaan.

*****

Jangan lupa bintang limanya ya teman2...^^

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GJX GN 21000000189   chapter 67

    eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu

  • GJX GN 21000000189   chapter 66

    Sejak kejadian di perpustakaan rasa kesal Mika menguap hilang entah kemana. Tetapi ucapan manis Daffa itu hanyalah ucapan manis belaka. Mungkin hanya untuk membuatnya senang. Buktinya sampai sekarang Daffa sama sekali tidak pernah memberitahukan keinginannya. Terhitung sudah beberapa hari semenjak Daffa mengatakan bahwa dirinya akan bilang ke Mika kalau ingin makan masakannya. Kenyataannya Mika-lah yang selalu mengirim pesan duluan untuk menanyakan apakah Daffa ingin dibawakan bekal atau tidak.Dan tidak.Sampai hari ini Mika tidak pernah membawakan Daffa bekal lagi.Mika memandang ke arah lapangan basket yang tidak jauh darinya. Sekarang dia, Siska, dan Michelle sedang duduk di bangku bawah pohon beringin samping kelasnya sambil melihat Daffa dan Rendy yang sedang melatih junior-junio

  • GJX GN 21000000189   chapter 65

    "This is your baby's heartbeat."From the monitor screen connected to the transducer on my stomach, I could see that my baby was still tiny. Maybe I can say it looks like a lump of meat. Over there is the source of my baby's heartbeat. This miracle had not happened in last month's examination."Your baby's heart rate is normal." Doctor Luke said."Really? How do you know?"In a reclining position, I glanced at Sean. At first, he refused to take me to the hospital, but he suddenly agreed, and now asked questions as if he cared. Sean folded his arms, and his expression looked worried too. Why is Sean worried?"The frequency is stable, 145. You can listen carefully too." Doctor Luke loo

  • GJX GN 21000000189   chapter 64

    The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha never left his pack wit

  • GJX GN 21000000189   chapter 63

    Elsa terbangun merasakan pegal di sekujur tubuhnya, namun juga ringan di dadanya. Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar dalam diam. Ketika berhasil meraih semua kesadarannya, ingatan mengenai kejadian semalam membuat darahnya mendidih dan naik ke wajah. Elsa mencengkram selimut semakin erat dan menaikkannya ke dagu, menggigit bibir ketika setiap momen itu berputar di kepalanya bagai sebuah film.Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan. Sudah bukan lagi seorang gadis. Di usia 16 tahun, ya tuhan, apa yang dirinya pikirkan?!Elsa memikirkan bagaimana semalam Leon menyentuhnya, menyebar gelenyar panas ke seluruh tubuh, dan mengenalkannya ke sensasi yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Terasa seperti, tubuhnya bukanlah miliknya. Karena Leon mengenal setiap jengkalnya l

  • GJX GN 21000000189   chapter 62

    CHAPTER 15He had gotten her flowers.Sara stared at the large beautiful bouquet of flowers Ariel had given her, she had brought it with her from work.Along with a carefully hand written note on a pink slip, her friend had said, "Christian said I should give you this, he is so anticipating you guys date, like seriously that was all he could talk about, he revealed some details which he said I should keep a secret from you, and all those stuffs,mehn babe you so lucky.""I'm lucky? In what way." She'd asked looking at the bouquet of red roses adorably, smiling and swooning profusely."Girl, you just walked down the streets one day, meet an handsome guy who now loves you like no man's business, and you're asking me why I say you are lucky, oh God when?" Ariel had answered looking up and raising her hands mockingly in an apologetic gesture.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status