Se connecterVioletta's pov
Seketika , aku mulai menoleh ke belakang dan mengangguk dengan ragu. Kulihat Davin yang mulai tersenyum dan mengacak rambutku saat mendekat. Ia pun mulai berjalan ke depan dan tertawa kecil.
"Aku hanya bercanda. Jangan terlalu dianggap serius," timpalnya dan membuatku mulai langsung merasa gregetan. Aku pun mulai menghadangnya dan mengatakan sesuatu secara gamblang dimana perkataan yang telah dikeluarkan itu akan membuatku menyesal di kemudian saat.
"Baik, kita sekamar!"
Ia yang awalnya tertawa tiba tiba merubah wajahnya menjadi serius dan memandangku dengan bingung. Ia pun mulai menyentuh dahiku dan membuatku semakin kesal....
"Apa kau sakit?" Tanyanya dengan santai dan dengan segera kugelengkan kepalaku. Setelah itu, aku baru menyadari bahwa aku salah ngomong. Dengan segera, aku tersenyum maaf dan mulai berusaha menarik perkataanku.
"Gak bisa dong..." ujarnya dan membuatku mulai ketar ketir. Ia tak peduli dan mulai ke atas dan masuk ke kamarnya. Aku pun terdiam dan mulai menepuk kepalaku karena telah berkata yang tidak tidak.
"Duh..." keluhku dan mulai menaiki tangga dengan tubuh yang terasa lemas.
Davin's pov
Aku awalnya hanya ingin menggodanya dan bercanda dengannya. Namun, ketika aku sedang bersiap siap mandi terdengar ketukan pintu dari luar. Aku pun mulai berjalan dan membuka pintu tersebut yang menampakkan seorang wanita membawa bantal guling serta handphonenya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku dengan bingung dan mulai mengulang kembali kejadian tadi dalam benakku.
"Em.. boleh balik ya?" Tanyanya dengan polos dan membuatku tersenyum diam diam dan mulai merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuannya.
"Gak boleh. Lo disini, mau mandi dimana?" Tanyaku dengan berpura pura serius. Aku pun melihat tingkahnya yang gelagapan dan bergerak keluar sedikit.
Aku mulai mengambil bantal gulingnya ke dalam kamar dan ketika melihat kembali ke posisinya berada, ia telah menghilang. Aku terkekeh sebentar dan menutup pintu.
Setelah itu, aku mulai melanjutkan kegiatanku yang tertunda. Ketika selesai, aku pun mulai menggosok rambutku yang masih basah dan bertelanjang dada.
Klik!
"Astaga!!!"
Teriakan itu membuatku menoleh sebentar ke arah suara dan setelah itu masih melanjutkan aktivitasku dengan santai sembari mendekat padanya. Ketika ia akan keluar lagi, dengan segera kutarik tubuhnya yang telah bersih dan wangi itu ke dekatku.
"Bila telah berkata sesuatu, tidak boleh ditarik," ujarku dengan suara yang direndahkan dan mulai menatap wajahnya yang kelimpungan.
Aku mulai menarik dagunya menghadapku dengan lembut dan memandanginya dengan serius. Kueratkan peganganku dan membuatnya semakin dekat dan jarak di antara kita semakin memendek hingga berjarak 3 inchi.
Aku mulai memandangnya yang memerah dan menunduk ke bawah dengan pandangan gemas.
Dengan segera, aku mencubit pipinya yang telah merah dengan pelan dan mulai melepaskan eratan tadi. Aku pun berjalan pergi ke lemari bajuku dan mengambil 1 kaos kasual lalu mulai pergi ke kasur. Setelah di kasur, aku mulai berbicara memecah keheningan.
"Gak tidur? Nanti kecapaian," ujarku sembari menepuk kasur di sebelahku. Kulihat ia yang malu malu mulai duduk dengan jarak sedikit dan mulai berbaring dengan kaku.
"Kalau tidak aku akan pindah ke lantai saja, " saranku setelah melihat dengan teliti gerak geriknya. Ketika aku akan pindah, tanganku tertarik dan kutolehkan kepalaku ke istriku ini.
"Ga usah. Ngerepotin.." ujarnya singkat dan mulai memejamkan matanya.
Aku pun mulai menutup mata dengan pelan dan mulai merasakan bahwa istriku sepertinya bergerak terus dari tadi. Dengan pelan, kubuka mataku dan memandangnya yang masih bolak balik berputar.
Aku mulai bergerak perlahan dan menjalankan aksiku. Kudekatkan diriku padanya dan mulai mendekat ke istriku. Aku melihatnya yang mulai sadar dan dengan segera, aku memeluk tubuhnya yang masih harum.
"Vin... kenapa?" Tanyanya balik dan mulai menatapku.
"Kamu bergerak terus dari tadi. Tidak bisa tidur?" Balasku dan menatapnya dengan dalam. Hal ini membuatnya mulai tegang dan menjauh sedikit. Aku dengan segera mengeratkan lenganku dan mulai melumat bibirnya dengan pelan.
Ia mulai memberontak perlahan namun mulai menerima lumatanku setelah bersikeras beberapa saat.
eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu
Sejak kejadian di perpustakaan rasa kesal Mika menguap hilang entah kemana. Tetapi ucapan manis Daffa itu hanyalah ucapan manis belaka. Mungkin hanya untuk membuatnya senang. Buktinya sampai sekarang Daffa sama sekali tidak pernah memberitahukan keinginannya. Terhitung sudah beberapa hari semenjak Daffa mengatakan bahwa dirinya akan bilang ke Mika kalau ingin makan masakannya. Kenyataannya Mika-lah yang selalu mengirim pesan duluan untuk menanyakan apakah Daffa ingin dibawakan bekal atau tidak.Dan tidak.Sampai hari ini Mika tidak pernah membawakan Daffa bekal lagi.Mika memandang ke arah lapangan basket yang tidak jauh darinya. Sekarang dia, Siska, dan Michelle sedang duduk di bangku bawah pohon beringin samping kelasnya sambil melihat Daffa dan Rendy yang sedang melatih junior-junio
"This is your baby's heartbeat."From the monitor screen connected to the transducer on my stomach, I could see that my baby was still tiny. Maybe I can say it looks like a lump of meat. Over there is the source of my baby's heartbeat. This miracle had not happened in last month's examination."Your baby's heart rate is normal." Doctor Luke said."Really? How do you know?"In a reclining position, I glanced at Sean. At first, he refused to take me to the hospital, but he suddenly agreed, and now asked questions as if he cared. Sean folded his arms, and his expression looked worried too. Why is Sean worried?"The frequency is stable, 145. You can listen carefully too." Doctor Luke loo
The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha never left his pack wit
Elsa terbangun merasakan pegal di sekujur tubuhnya, namun juga ringan di dadanya. Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar dalam diam. Ketika berhasil meraih semua kesadarannya, ingatan mengenai kejadian semalam membuat darahnya mendidih dan naik ke wajah. Elsa mencengkram selimut semakin erat dan menaikkannya ke dagu, menggigit bibir ketika setiap momen itu berputar di kepalanya bagai sebuah film.Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan. Sudah bukan lagi seorang gadis. Di usia 16 tahun, ya tuhan, apa yang dirinya pikirkan?!Elsa memikirkan bagaimana semalam Leon menyentuhnya, menyebar gelenyar panas ke seluruh tubuh, dan mengenalkannya ke sensasi yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Terasa seperti, tubuhnya bukanlah miliknya. Karena Leon mengenal setiap jengkalnya l
CHAPTER 15He had gotten her flowers.Sara stared at the large beautiful bouquet of flowers Ariel had given her, she had brought it with her from work.Along with a carefully hand written note on a pink slip, her friend had said, "Christian said I should give you this, he is so anticipating you guys date, like seriously that was all he could talk about, he revealed some details which he said I should keep a secret from you, and all those stuffs,mehn babe you so lucky.""I'm lucky? In what way." She'd asked looking at the bouquet of red roses adorably, smiling and swooning profusely."Girl, you just walked down the streets one day, meet an handsome guy who now loves you like no man's business, and you're asking me why I say you are lucky, oh God when?" Ariel had answered looking up and raising her hands mockingly in an apologetic gesture.