LOGIN° ° °
Sehabis menelpon Tante Laura –adik Mama dan Tante Lydia yang paling bungsu– dan membicarakan mengenai kehamilanku serta kondisiku, lalu menyambung kepada beberapa tips darinya untuk kehamilan muda aku langsung mengeluarkan isi perutku yang tiba - tiba saja meminta ingin dikeluarkan.
Lelah sekali rasanya keluar masuk kamar mandi lalu memuntahkan isi perut yang bahkan tak bisa terisi oleh apapun. Jika seperti ini terkadang aku sedikit merindukan kehadiran Mario.
Memang lelaki itu sudah menyakitiku sedemikian rupanya hingga kemungkinan besar tak dapat kulupakan seumur hidupku, namun dampak kehadiran yang dia miliki selama ia masih menjadi milikku dulu sangat besar karena jika ia tak bersama wanita itu saat ini mungkin saja dia akan menkhawatirkan diriku setengah mati lalu membuatkan teh manis hangat sembari memijit tengkukku disaat aku mengeluarkan isi perutku di toilet, sedangkan diriku hanya akan bersikap seadanya saja bahkan tak akan bermanja - manja kepada dirinya walaupun dalam hati diriku merasa senang dengan perhatian kecil semacam ini.
Suara bel menghancurkan lamunanku yang akhir - akhir ini terasa sedikit mengganggu dan segera kutepis perasaan sedih sesaat itu lalu meninggalkan rotiku yang telah meninggalkan sisa gigitan kecil dan ditinggalkan dengan menyedihkan begitu saja serta beranjak menuju pintu utama sebelum akhirnya indera penglihatanku menemukan sesosok lelaki tersebut. Fiore.
Sejenak aku terdiam layaknya orang bodoh lalu mempersilahkan dirinya masuk setelah ia melihatku seperti mengindikasikan kalimat 'apa kau tak akan mengizinkanku masuk?' sembari tersenyum tipis dan mengangkat sebelah alisnya yang terbentuk rapih, tak begitu tebal namun tak begitu tipis juga.
"Ini, Ludovica tadi menitipkan kepadaku, katanya semoga kau suka dengan Bündner Nusstorte buatannya dan ia berkata bahwa tak sabar agar dapat segera bertemu dengan dirimu... Ia sangat merindukanmu" Tangannya menyodorkan sepiring kue bundar yang hampir mirip seperti kue pai dengan sentuhan taburan kacang Almond diatasnya sebagai garnish yang terlihat begitu menggiurkan sehingga membuatku tak ragu untuk segera menerimanya. Ucapannya begitu cepat sehingga diriku yang masih lemas dan terlebih terkejut karena kedatangannya yang mendadak tak begitu bisa mencerna dengan cepat segala perkataannya.
"B-baik, terimakasih, ucapkan salamku kepadanya katakan aku juga rindu dengan dirinya.." Jawabku sembari memijit kepalaku yang terasa berdenyut, mungkin karena efek jet lag yang masih muncul di hari kedua aku menetap disini.
"Oh ya aku hampir lupa silahkan duduk, kau mau minum apa?" Tanyaku berbasa - basi walaupun tak begitu ingin ia duduk dan berlama - lama disini mengganggu ketenanganku.
"Tidak perlu, aku masih ada urusan lain dan sepertinya kau sedang tidak enak badan, apa ingin kuantar ke klinik terdekat?" Terdengar sarat nada khawatir dari dirinya walaupun kini wajahnya menampakkan raut datar. Sepertinya terlihat sangat jelas bahwa aku sedang dalam kondisi tak baik saat ini.
"Aku tidak apa - apa hanya sedikit mual"
"Apakah itu karena kandunganmu?" Deg. Tahu darimana dia kalau aku hamil?
Sepertinya ia dengan cepat dapat membaca raut tanyaku karena dengan cepat ia segera menjelaskan.
"Tantemu yang menetap disini kebetulan mengenal diriku karena kedekatanku dengan Nana, ia mengabariku begitu mendengar bahwa kau akan tinggal di rumah Nana dan meminta bantuanku untuk menjaga dirimu yang tinggal sendirian di rumah ini, mungkin karena rumah kita yang berdekatan jadi tante Lydia memutuskan untuk memintaku dan adik - adik agar menjaga dirimu" Ujarnya terburu - buru menjelaskan agar tidak muncul kesalahpahaman yang tidak diperlukan, aku hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasannya yang bisa dibilang kalimat terpanjangnya selama bertemu denganku saat ini.
Nana, sebutan untuk nenekku, sudah lama tak mendengarnya..
"Jadi.. Apakah kandunganmu baik - baik saja? Kalau memang sakit sebaiknya kita segera ke dokter" Lanjutnya.
Aku menggeleng pelan. "Sekarang sudah membaik, ini adalah tanda - tanda morning sickness dan merupakan hal yang biasa bagi setiap ibu hamil, aku dapat mengatasinya sendiri" Aku berusaha menenangkan dirinya walaupun kutahu rasa khawatirnya hanya sekadar karena sikap spontannya yang terbiasa bertanggung jawab, bahkan sedari dulu sikap itu tak pernah berubah sama sekali.
"Tapi kondisimu saat ini tidak seperti ibu hamil biasanya, kau sendirian dan tak ada yang menjagamu selama dua puluh empat jam di rumah sebesar ini, terlebih kau baru saja berce-"
Ucapannya terpotong begitu ia menyadari bahwa kata - katanya hampir kelewatan, dalam hati sebenarnya aku mengiyakan peringatannya walaupun tanpa bisa ditahan perasaan sedih itu menyeruak seketika hingga sampai kepada dirinya yang wajahnya kini terlihat tak enak, menyadari bahwa kata - katanya mengingatkan diriku akan kesendirianku yang sebenarnya tak perlu diingatkan lagi karena aku berusaha mati - matian melupakan fakta tersebut. Mungkin terdengar kekanakan, tapi sejujurnya dari lubuk hatiku yang paling dalam tujuanku pindah ke rumah nenek tidak lebih hanya sekadar ingin lari dari kenyataan, dan ia, lelaki dihadapanku kembali mengingatkanku akan kenyataan yang ingin kulupakan tersebut. Sebut aku cengeng namun ini yang kurasakan.
"Maaf, bukan maksudku.."
"Tidak apa - apa, aku tahu tujuanmu baik tapi aku cukup yakin bisa menjaga diriku sendiri dengan baik" Raut tak yakin dan kesal sedikit terpatri di air mukanya sebelum pada akhirnya ia mengubahnya kembali menjadi ekspresi senyum, senyuman tipis yang tak sampai ke hati.
"Baiklah kalau memang benar seperti itu, aku balik dulu ya" Aku hanya mengiyakan perkataannya dengan sebuah gumaman namun tubuhnya berbalik sehingga sedikit mengejutkanku dan setelahnya ia berkata. "Ludovica mengganti resep kacangnya dengan kacang Almond, katanya itu bagus untuk gejala morning sickness. Makanlah selagi masih hangat"
° ° °
Fiore Pov
Betapa bodohnya diriku. Ujarku sendiri memaki diri dalam hati sembari berjalan kembali menuju rumah. Sebenarnya aku tak memiliki urusan apapun yang membuatku haru cepat kembali dari rumah gadis itu, namun entah dorongan dari mana sehingga aku memutuskan untuk tak berlama - lama disana sebelum terjadi hal - hal yang tak disangka.
Tadinya aku datang ke rumah gadis- ah tidak, wanita itu, hanya untuk sekadar mengirim kue yang barusan dibuat oleh adikku sebelum akhirnya ia berangkat kerja part time di café yang dikelola oleh tante Lydia dan menyambut kedatangan dirinya itu, namun tak kusangka bahwa kedatanganku malah memperburuk kondisinya yang kini terlihat lemah dan menyedihkan dengan wajah kuyu serta tubuh semakin kurus yang dapat kutebak karena stres akibat rasa lelah dari pekerjaan, kehamilan, terlebih perceraiannya yang kudengar dari tante Lydia baru usai tiga hari yang lalu lewat persidangan yang telah ia jalani selama dua bulan.
Tante Lydia tak menjelaskan sebab akibat mengapa wanita itu bercerai dengan pasangannya namun dapat kutebak hal tersebut membebani Tara secara mental dan fisik. Aku tak tega dan sedih melihat dirinya yang saat ini berbeda jauh dengan kondisi terakhirnya yang kulihat dua belas tahun lalu dimana Tara, si gadis dari Indonesia yang ceria nan manis, sehingga malah menyakitinya dengan mengingatkan dirinya akan peristiwa menyakitkan yang baru dilaluinya tersebut.
Sebenarnya aku bisa saja meminta Fabio untuk mengantar kue ini kepada Tara, bahkan sebenarnya sebelumnya Ludo- panggilan kecil untuk adik ketigaku-telah meminta Fabio untuk memberi kue tersebut kepada Tara, namun entah ide darimana sehingga aku yang biasanya tak terlalu peduli dengan urusan ramah tamah terhadap orang lain malah berinisiatif untuk memberikan kue itu sendirian dan beralasan bahwa aku ingin menyambut Tara karena gadis itu dulunya memiliki hubungan persahabatan yang cukup erat dengan diriku.
Begitu gadis itu membuka pintu rumahnya ingin rasanya kupeluk erat dan kutanyakan banyak hal yang selama ini tak dapat tersampaikan, seperti mengapa gadis itu memilih meninggalkan kehidupannya yang telah tertata baik disini dan lebih memilih pergi meninggalkan segala kebahagiaannya di tempat ini, ingin kutanya apakah dia baik - baik saja selama di Indonesia, apakah kondisinya telah membaik selepas sampai disini dua hari yang lalu, dan wacana hanya tinggal menjadi wacana.
Begitu wajah pucat nan kuyu tersebut menyambut kedatanganku perasaan marah dan tak terima menyeruak di dalam diriku sehingga membuatku tak mau repot - repot untuk beramah tamah dengan dirinya, perasaan tak rela karena ia meninggalkan diriku tanpa kata itulah yang menjadi penyebab utama mengapa diriku menjaga jarak dari gadis tersebut, aku tahu aku tak berhak untuk marah padanya karena bagaimanapun juga itu semua merupakan keputusannya yang ia ambil untuk kebaikan hidupnya sendiri, namun jika mengingat rasa kosong yang mendadak itu kembali membuatku kembali marah.
Dan kudapati dari sikapku hanya bisa terdiam, berpura - pura, sembari mengatakan hal bodoh yang membuat dirinya semakin sedih.
"Argh! Bodoh" maki ku mengerang kecil sambil menendang kerikil di jalanan yang terlapisi aspal berwarna kelabu terang.
"Sepertinya ada yang sedang kesal, eh?" Sudut mataku menemukan Fabio –adik bungsuku– yang kini secara tiba - tiba berjalan beriringan di sisi kananku menuju rumah dengan tentengan bungkusan kertas yang sepertinya berisi kebutuhan makanan untuk dua hari kedepan dilihat dari sayuran yang mengintip malu dari balik bungkus tersebut. Aku mengacuhkan ucapannya dan malah mempercepat jalanku agar dapat menghindar dari ejekannya yang sudah membuat panas telingaku hampir seharian ini.
"Nah, bagaimana jadinya brother? Apakah perasaan itu masih sama seperti dahulu?"
"Bukan urusanmu" Seperti sudah terbiasa dengan ucapan ketusku yang sering kulontarkan padanya hampir seharian ini, dia malah tersenyum seperti orang gila. "Jadi kurasa seperti dugaanku, lalu kenapa kau tak memutuskan Alba saja kalau tahu seperti ini?" Enak saja bocah ini.
"Dugaan bodohmu itu tak masuk akal dan jelas salah! Lagipula siapa juga dirimu seenaknya menyuruhku untuk memutuskan Alba, hubungan kita tidak hanya sebulan dua bulan dan berlandaskan cinta. Beda dengan dirimu yang senang menebar pesona dimana - mana" Omelku kesal mendengar ucapan tak bertanggung jawab yang dilontarkan oleh dirinya. Heran, bagaimana sikapnya bisa seperti ini padahal wajahnya sama persis seperti Ibu yang memiliki sifat serius dan kuat.
"Ups! Maaf kalau begitu. Aku duluan ya!" Ia mengangkat kedua tangannya di sisi kepalanya seperti memohon dengan nada sarkastik lalu segera berjalan mendahuluiku, bagus sepertinya dia peka dengan mood burukku saat ini.
Namun sebelumnya ia membalikkan kepalanya sambil tersenyum nakal "selamat berjuang menelaah perasaanmu sendiri! Semoga kau bisa mengambil keputusan yang terbaik bro!!"
Dasar sialan. Makiku.
° ° °
eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu
Sejak kejadian di perpustakaan rasa kesal Mika menguap hilang entah kemana. Tetapi ucapan manis Daffa itu hanyalah ucapan manis belaka. Mungkin hanya untuk membuatnya senang. Buktinya sampai sekarang Daffa sama sekali tidak pernah memberitahukan keinginannya. Terhitung sudah beberapa hari semenjak Daffa mengatakan bahwa dirinya akan bilang ke Mika kalau ingin makan masakannya. Kenyataannya Mika-lah yang selalu mengirim pesan duluan untuk menanyakan apakah Daffa ingin dibawakan bekal atau tidak.Dan tidak.Sampai hari ini Mika tidak pernah membawakan Daffa bekal lagi.Mika memandang ke arah lapangan basket yang tidak jauh darinya. Sekarang dia, Siska, dan Michelle sedang duduk di bangku bawah pohon beringin samping kelasnya sambil melihat Daffa dan Rendy yang sedang melatih junior-junio
"This is your baby's heartbeat."From the monitor screen connected to the transducer on my stomach, I could see that my baby was still tiny. Maybe I can say it looks like a lump of meat. Over there is the source of my baby's heartbeat. This miracle had not happened in last month's examination."Your baby's heart rate is normal." Doctor Luke said."Really? How do you know?"In a reclining position, I glanced at Sean. At first, he refused to take me to the hospital, but he suddenly agreed, and now asked questions as if he cared. Sean folded his arms, and his expression looked worried too. Why is Sean worried?"The frequency is stable, 145. You can listen carefully too." Doctor Luke loo
The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha never left his pack wit
Elsa terbangun merasakan pegal di sekujur tubuhnya, namun juga ringan di dadanya. Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar dalam diam. Ketika berhasil meraih semua kesadarannya, ingatan mengenai kejadian semalam membuat darahnya mendidih dan naik ke wajah. Elsa mencengkram selimut semakin erat dan menaikkannya ke dagu, menggigit bibir ketika setiap momen itu berputar di kepalanya bagai sebuah film.Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan. Sudah bukan lagi seorang gadis. Di usia 16 tahun, ya tuhan, apa yang dirinya pikirkan?!Elsa memikirkan bagaimana semalam Leon menyentuhnya, menyebar gelenyar panas ke seluruh tubuh, dan mengenalkannya ke sensasi yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Terasa seperti, tubuhnya bukanlah miliknya. Karena Leon mengenal setiap jengkalnya l
CHAPTER 15He had gotten her flowers.Sara stared at the large beautiful bouquet of flowers Ariel had given her, she had brought it with her from work.Along with a carefully hand written note on a pink slip, her friend had said, "Christian said I should give you this, he is so anticipating you guys date, like seriously that was all he could talk about, he revealed some details which he said I should keep a secret from you, and all those stuffs,mehn babe you so lucky.""I'm lucky? In what way." She'd asked looking at the bouquet of red roses adorably, smiling and swooning profusely."Girl, you just walked down the streets one day, meet an handsome guy who now loves you like no man's business, and you're asking me why I say you are lucky, oh God when?" Ariel had answered looking up and raising her hands mockingly in an apologetic gesture.