MasukAndrea tertawa melihat ekspresi Ludwina, lalu ia geleng-geleng sendiri sambil membereskan kopernya di lemari.
"Kita nggak usah suit. Biar aku yang tidur di lantai, tapi aku minta bantal dan selimut duvet ya..."
Ludwina membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi. Ia tidak tahu skenario apa yang terbaik. Dia sih senang karena Andrea secara gentleman mengambil bagian yang sulit dengan tidur di lantai, tapi dalam hati ia merasa kasihan... Lebih baik tadi mereka menginap di hotel lain...
"Ayo, kemana kita sekarang?"
"Hmm... karena sudah sore kita langsung jalan kaki menyusuri sungai Seine dan ke Trocadero ya... Dari situ bisa lihat Menara Eiffel pada malam hari dengan lampu-lampunya yang keren. Besok kita bisa naik ke atas towernya kalau mau. Bisa makan malam romantis juga di Menara Eiffel, tapi biasanya penuh dan harganya juga terlalu mahal. Lebih seru piknik di lapangan dekat Menara Eiffel besok."
Ludwina banyak bercerita tentang kota Paris sambil mereka berjalan-jalan menyusuri jalanan kota Paris yang ramai oleh turis. Mereka melintasi para pelukis di tepi sungai Seine yang menjual lukisannya, dan ada juga para pedagang buku bekas, musisi jalanan, para gypsy, penduduk Paris yang mencoba berjalan buru-buru sepulang kerja, gerombolan turis Asia, dan turis Amerika yang ribut, serta banyak lagi.
Karena melihat Ludwina hampir terpisah di tengah arus manusia, Andrea mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan kanan gadis itu.
"Kamu yang jalan tentukan kecepatan kita jalan, ya, aku mengikuti." kata Andrea.
Ludwina tersenyum lebar dan mengangguk. Kamu kok pengertian banget sih? tanyanya dalam hati.
Andrea sadar karena ia jangkung, kakinya yang panjang otomatis berjalan jauh lebih cepat dari Ludwina yang mungil. Karena itu ia yang mengikuti kecepatan gadis itu, agar mereka tidak terpisah.
Untuk pertama kalinya mereka berdua berada di dekat Menara Eiffel yang sedang memainkan cahaya lampu indah sekali.
"Kamu nggak ambil foto?" tanya Andrea. Ludwina menggeleng.
"Percuma. Soalnya pemerintah Prancis masih memegang hak cipta atas gambar Menara Eiffel malam hari dengan lampu. Jadi kalaupun aku ambil foto, nggak kan bisa diposting. Kalau Menara Eiffel siang hari, sudah tidak ada hak ciptanya... jadi bebas saja kalau mau foto."
"Oh, begitu ya?"
Andrea mengangguk-angguk paham. Mereka menikmati pemandangan sore kota Paris sebelum akhirnya kembali ke hotel untuk menikmati makan malam gratis dari Hotel Pullman karena salah memberikan tipe tempat tidur kepada mereka.
Setelah makan enak, keduanya duduk berbincang-bincang di lobi tentang rencana petualangan mereka besok. Ludwina juga memamerkan foto-foto hasil bidikannya selama beberapa hari terakhir.
Jam 10 malam akhirnya matahari terbenam, keduanya mulai merasa mengantuk. Andrea dan Ludwina pun ke kamar untuk tidur, agar esok bisa menjelajah Paris lagi dengan tubuh segar.
"Are you sure with this?" tanya Ludwina saat menyerahkan selimut dan bantal kepada Andrea. "Aku nggak apa-apa lho kalau kita gantian. Nanti jam 3 pagi aku bangun dan gantian tidur di lantai."
"Ahahaha... nggak apa-apa, kok, Win. Ini cuma segini saja kok. Kamu nggak usah pusing. Tidur saja. Besok kita jalan lagi." jawab Andrea. Ia mengatur posisi selimut dan bantalnya, lalu berbaring dengan tenang. Ia memejamkan mata sejenak kemudian dan mengucap selamat tidur. "Selamat tidur, Wina."
"Selamat tidur, Andrea."
Susah sekali bagi Ludwina untuk memejamkan mata malam itu. Ia tahu tidur di lantai pasti bikin sakit badan. Dia sebenarnya tidak keberatan berbagi tempat tidur yang besar itu dengan Andrea.
Mereka bisa membuat semacam batas, atau apalah... Lagipula, dia bisa kembali memakai masker wajah, bahkan beberapa lapis, biar pemuda itu sama sekali tidak tergoda untuk berbuat macam-macam...
Dengan pikiran-pikiran itu, akhirnya Ludwina pun tertidur saat jam menunjukkan pukul dua pagi.
***
a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a a a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a
“Hey,” said Xander to a police officer.We had left Eloim at Xander’s parents for the day, which Eloim was not happy about, but he had gone with Miki, which made him feel a little better.We came to the police station. This was the county he had grown up in, and also where Enola was heading that fateful day. People here had been the one to respond to the call.
RAJA AMPAT – PAPUA"Terimakasih." Aku bergegas membuka pintu mobil. Vasco memang mengantarku sampai tujuan, dari Jakarta sampai ke Raja Ampat—benar-benar sampai di depan pintu mansion Gabriel. Dia memang selalu seperti ini.
Chapter 47Leviathan’s POVI should’ve seen it. I should’ve fucking seen the signs.I can’t believe it. I have been blind all these time and so is Beelzebub. We didn’t know until it was totally confirmed by the chaos with the sudden rift in the balance. Fates had been toying with me and my husband.Yes. Husband.Beelzebub is my husband and Crocell… or who we know as Trent Easton, this lifetime’s reincarnation of Crocell is our son and as of now, he doesn’t know anything yet. He’s as blind as a bat with the tru
Xavier pulled me by my hair all the way to a dark room. This room isn't that torture room from earlier; this one just has handcuffs on the bed. I'm confused about what we were doing here. I was sure that he would have taken me to that torturing room.I regret what I said about his parents earlier. I just know that he is mad at me for that. I wish that everything that i
Emma Green had been waiting her entire adult life to experience how it felt to be really and truly in love with someone. To love and be loved in return. To find out how it felt to be really connected to someone. To fall in love in a way that completely sweeps you off your feet. She had always loved the idea of meeting someone, falling madly in love, getting married and living happily ever after. She had seen a lot of romantic movies and read a lot of romantic novels. It was always amazing when the actors in the movie found each other and were all lovey dovey at the end. And at the end of it all she always wondered if she could ever have something that beautiful. One other thing she really wanted to experience - Great sex. Sex that included lots of slow, deep kisses and long, lingering touches. Sex that stole her breath away and zapped her common sense. Sex that made her toes tingle and her skin prickle and her body actually throb