로그인RAJA AMPAT – PAPUA
"Terimakasih." Aku bergegas membuka pintu mobil. Vasco memang mengantarku sampai tujuan, dari Jakarta sampai ke Raja Ampat—benar-benar sampai di depan pintu mansion Gabriel. Dia memang selalu seperti ini.
"Tunggu!" Vasco tiba-tiba menarik lenganku. Aku mengernyit heran padanya.
Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menutup kembali pintu mobil yang kami sewa di bandara tadi.
"Apa?" tanyaku sembari menaikkan sebelah alis.
"Apa kau sengaja melupakan bahwa kau masih berhutang padaku?" Vasco balik bertanya.
Aku mendengus sembari memutar bola mata jengah. "Tentu saja aku ingat."
Vasco menyeringai. Ia segera meraih belakang tengkukku dan mendaratkan ciuman di bibirku. Aku membalasnya, hingga ciuman tersebut semakin dalam.
"Kita bisa melakukannya di sini," bisik Vasco dengan napas tersengal. Dahi kami masih menempel satu sama lain. "Kita bisa melakukannya dengan cepat."
"Sex kilat, hm?" seringaiku.
Kedua sudut bibir Vasco terangkat. "Tepat sekali." Ia kembali melumat bibirku, semakin dalam dan dalam. Hingga tanpa sadar aku telah berpindah ke atas pangkuannya.
"Vasco ...," desahku saat ciumannya telah turun ke leherku. Ia mendaratkan ciuman-ciuman kecil di sana, meninggalkan jejak basah yang tak berarti.
"Vasco, kaca mobil ini tembus pandang."
Sumpah, aku menahan tawa geli yang ingin menyembur keluar dari bibirku saat tubuh Vasco langsung membeku. Terdengar geraman rendah beberapa saat sebelum ia mendongak menatapku.
Aku menyunggingkan senyuman mengejek ke arahnya sebelum menatap kaca mobil yang memang tembus pandang. Vasco mengikuti arah pandangku lalu mendengus keras.
"Sial!" umpatnya kesal. Ia mencengkeram rambutnya frustrasi.
"Kita bisa melakukannya nanti malam," ujarku mencoba menghiburnya. Mengelus rahang kokohnya aku berbisik tepat di telinganya. "Malam yang sangat ... panjang."
Vasco tersenyum miring. Ia menangkup wajahku dan melumat bibirku lagi. "Aku tidak bisa," gumamnya. Aku menatapnya penuh tanya.
"Aku ... ada beberapa hal yang harus kuurus nanti malam—"
BIIIP BIIIP BIIIP ...
Smartwach milik Vasco tiba-tiba berbunyi, memotong kalimatnya. Pria itu hanya melirik benda itu sekilas lalu menghela napas. "Sepertinya aku harus segera pergi."
"Baiklah," anggukku mengerti. Vasco segera membukakan pintu mobil dan akupun segera turun. Ia mengikutiku sejenak.
"Sampai bertemu lagi," ucap Vasco. Tangannya terulur untuk mengusap lembut pucuk rambutku. Ia tersenyum.
Setelah itu ia kembali lagi ke mobil. Aku sudah bersiap memasuki pintu mansion Gabriel saat tiba-tiba ia berteriak.
"Dan Vaea, aku tak suka kau dekat-dekat dengan pria itu!"serunya sebelum mobil itu akhirnya melesat meninggalkan mansion Gabriel.
Untuk sesaat, aku bergeming. Memikirkan siapa pria itu yang dimaksud oleh Vasco. Lalu tiba-tiba aku tau, jika maksudnya adalah Freeze.
Aku mendengus singkat, mengabaikan perkataan Vasco dan langsung memasuki mansion Gabriel. Lagipula, aku memang tidak berniat untuk bertemu dengan pria bernama Freeze itu lagi.
~
"Yo, El. Miss me?" Aku langsung menyapa Gabriel saat memasuki ruang kerjanya. Wanita yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya itu pun langsung menoleh ke arahku.
Ia mendengus. "Aku benar-benar memikirkan keadaanmu sampai stress dan merasa harus membeli maid-bot class A untuk menyelamatkanmu karena kondisimu yang parah. Bukan untuk mendapat perlakuan bodohmu yang seenak jidat justru bermain di luar sana!" umpatnya kesal.
"Sorry, El," jawabku sembari tersenyum lebar. Bukankah aku gadis yang baik hati dan ramah?
"Bunuh saja jika dia tidak berguna, Sayang." Aku segera menoleh ke sudut ruangan di mana suara berat itu berasal dan sedikit terkejut saat melihat seorang pria berambut cokelat gelap berdiri di sana. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok dengan kedua tangan berada di saku celananya.
Aku langsung memicingkan mata. Wajahnya tampak familier.
"Kau sia—astaga, kau si tampan itu," gumamku, menyadari jika pria tersebut adalah orang yang sama yang aku lihat beberapa menit yang lalu lewat videocall. Tepatnya, ketika Gabriel menghubungiku hanya untuk mengganggu kesenanganku dan menyuruhku pulang.
Tak kusangka dia setampan itu.
Pikiranku terus melayang, bertanya-tanya siapa dia. Apa hubungannya dengan Gabriel? Bagaimana dia tiba-tiba ada di sini karena selama dua tahun aku mengenal Gabriel, aku tau jika gadis itu tak mengenal siapapun, well—kecuali mungkin sesama hacker yang berada dalam satu organisasinya.
Itu dia! Pasti pria ini berada dalam satu organisasi dunia hacker dengan El. Mustahil jika tidak, mengingat Gabriel tidak pernah keluar dan tidak mengenal seorang pun langsung dari dunia nyata.
"Apa kau teman Gabriel?" tanyaku antusias. "Jika iya, aku akan masuk organisasi hacker saat ini juga." Pernyataan itu terlontar begitu saja. Otakku hanya dipenuhi dengan kalimat jika semua hacker pria setampan dan sekeren ini, aku juga harus masuk. Setidaknya setiap hari aku bisa berbicara dengan pria tampan.
"Aku kekasihnya." Tiba-tiba pria itu menjawab, menunjuk Gabriel dengan dagunya. Aku menatapnya tak percaya. Sejak kapan Gabriel mempunyai kekasih?
"Dan untuk masalah bergabung atau tidaknya, kami tidak menerima anggota baru. Sekian dan terimakasih," lanjutnya.
Saat itu juga, ingin ku berkata kasar. Menunjuknya. Tepat. Di depan. Mukanya.
FUCK YOU!!
"Hentikan ocehan tidak jelas kalian," interupsi Gabriel. "Vernon, cepat ajari aku dan V, kau urus Lightly di ruang kesehatan. Atau kau bisa melakukannya dengan Xion."
Masih setengah ingin mengumpat pada pria yang akhirnya kuketahui bernama Vernon, aku mendengus keras mendengar perintah Gabriel. Dan sebelum emosiku tak terkendali karena kekesalan yang kurasakan tiba-tiba, aku memilih untuk berbalik. Meninggalkan Gabriel bersama pria menyebalkan tersebut.
Aku menyesal sempat mengatakan dia tampan.
Dan aku bersumpah akan terus mengutuknya dalam hati. PRIA BRENGSEK SIALAN!
***
Meninggalkan ruang kerja Gabriel, aku langsung menuju ke ruang kesehatan yang terletak di bagian barat mansion. Baru saja aku memasuki ruangan tersebut saat sebuah maid-bot milik Lightly—Lean—menyambut kehadiranku.
"Nona Vaea," ucapnya membungkukkan setengah badan.
"Dimana Ly?" tanyaku tanpa basa-basi. Mataku menyapu ruangan yang didominasi warna putih tersebut. Beberapa alat medis berbunyi konstan ketika aku masuk ke dalam ruangan itu.
Tanpa banyak bicara, Lean segera mengantarku. Ia berjalan lebih dahulu di depanku. Tak lama kemudian, maid-bot tersebut berhenti di sebuah tirai putih yang tampak menutupi sesuatu. Ia menyibaknya dan tampaklah sosok Lightly yang sedang tertidur lelap dengan napas teratur.
Pandanganku langsung mengarah ke beberapa bagian tubuhnya yang terpasang beberapa selang. Tangan kirinya pun tersambung dengan cairan infus yang tergantung di sisi tempat tidurnya.
Kondisi Lightly terlihat buruk, tubuhnya dipenuhi memar berwarna hitam keunguan. Aku tidak tau, yang mana lebam di tubuh gadis itu yang merupakan hasil karyaku dan yang mana yang merupakan hasil karya Freeze.
Aku pun mendekatinya dengan penuh rasa penasaran. Jujur saja, aku tidak pernah melihatnya dalam kondisi seperti ini. Dia terlihat sangat ...
"Mengenaskan," gumamku tanpa sadar.
"Tch." Aku sedikit terkejut saat tiba-tiba gadis itu berdecih dan membuka matanya. Ia melirikku sinis. Penuh dendam.
"Tak kusangka kau masih hidup," cibirku kemudian, sementara Lean menekan sebuah tombol di dinding sehingga sebuah kursi tiba-tiba muncul dari lantai. Aku pun langsung duduk di sana.
Lightly mendengus kasar dan ia semakin melirikku tajam. "Lean, siapa gadis menyebalkan ini? Aku tidak mengenalnya," desisnya, kentara sekali dengan nada tak sukanya.
"Ha ha ha. Lucu sekali," tukasku sembari memutar bola mata. Pandanganku beralih ke brankar tak jauh dari tempat Lightly berada dan mendapati sosok laki-laki terbaring di sana. Ia memejamkan mata tampak tak terganggu.
Aku menoleh ke arah Lean meminta penjelasan, dan beruntung maid-bot tersebut tau maksudku. "Xion," jawabnya. "Sedang dalam mode hold untuk memulihkan dirinya sendiri."
"Dia bisa memulihkan diri sendiri?" tanyaku menaikkan sebelah alis. Mataku masih terus menatap robot kelas A tersebut.
"Ya," jawab Lean.
Aku mengangguk mengerti lalu kembali menatap Lightly. Lean tampak membantu pemiliknya tersebut duduk. Setelah berbicara beberapa hal dengan Lightly—aku tidak mengerti apa yang dibicarakan, hanya sesekali melihat Lightly mengangguk dan menjawab 'cukup baik' dan Lean yang mengangguk mengerti sebelum akhirnya ia mencabut semua selang dari tubuh Lightly, menyisakan selang infus saja.
"Kondisi Anda sudah membaik, Profesor. Namun Anda harus istirahat total selama satu sampai dua minggu untuk benar-benar pulih ke kondisi normal," jelas Lean.
Lightly mengangguk dan menggumamkan kata terimakasih. Dan setelah itu, Lean sudah meninggalkan ruangan.
Aku terus memperhatikannya selama itu, dan mungkin karena merasa risih, Lightly berkata, "What?!"
"Tch, kupikir kau benar-benar hilang ingatan," cibirku. Ia mendengus sebal.
"Go a way!" usirnya.
Aku memutar bola mata. "Ya ya ya, aku akan pergi setelah mengurusmu—"
"Aku tidah butuh," tandas Lightly memotong ucapanku. "Go a way!"
"No no no, kau tidak bisa mengusirku karena Gabriel yang menyuruhku ke sini." Aku menggelengkan kepala penuh sesal. "Jika kau ingin protes, kau bisa protes langsung padanya. Tetaoi sepertinya apapun protesmu tidak akan didengar oleh Gabriel karena—"
"Apa kau tuli? Kubilang pergi dari sini," desis Ly sembari melipat kedua tangannya ke depan dada. Ia semakin menatapku sinis, bahkan bola matanya sudah hampir berubah menjadi merah.
Berdecak, aku membalas tatapannya tak kalah sinis. "Oke ... sebenarnya aku juga malas untuk—"
"Kau bahkan tidak merasa bersalah dan meminta maaf padaku," tunjuknya gusar tepat di depan wajahku.
Apa?
"Sorry," tukasku cepat. Aku menarik kedua bibirku ke atas sedikit paksa.
Apa-apaan dia? Mengagetkanku saja.
Oke, ingatkan aku lagi bahwa gadis di depanku ini memang sangat menyebalkan. Ditambah lagi mood-ku sudah sangat buruk sejak bertemu dengan pria bernama Vernon si-Brengsek-Menyebalkan-Yang-Sangat-Sialan-Itu.
Lagi-lagi Lightly mendengus. Ia membuang muka ke samping lalu mengumpat pelan. "Bitch."
Aku sedikit terkejut, tak percaya jika gadis itu bisa mengumpat.
Memiringkan kepala, aku tersenyum miring. "Tk kusangka ternyata kau bisa mengumpat juga."
Mendengarnya, Lightly langsung menolehkan kepala padaku kembali dan menatapku tajam. "Tentu saja aku bis—"
"WARNING! WARNING! INTRUDER DETECTED! INTRUDER DETECTED!"
Serentak, aku dan Lightly tersentak. Alarm mansion Gabriel berbunyi nyaring memekakkan telinga.
"Kau tunggu di sini aku akan mengecek keadaan!" teriakku pada Lightly berusaha agar bisa menyaingi bunyi alarm tersebut.
Lean dan Lian memasuki ruang kesehatan tepat saat aku keluar. Aku pun segera berlari ke ruang kerja Gabriel.
Sial, apa yang terjadi?
To Be Continued ...
***
Nggak sempat edit ini, maaf kalau tata bahasa, typo atau anu-nya banyak yang salah. Hihihi ...
Thank's for raading.
a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a a a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a
“Hey,” said Xander to a police officer.We had left Eloim at Xander’s parents for the day, which Eloim was not happy about, but he had gone with Miki, which made him feel a little better.We came to the police station. This was the county he had grown up in, and also where Enola was heading that fateful day. People here had been the one to respond to the call.
RAJA AMPAT – PAPUA"Terimakasih." Aku bergegas membuka pintu mobil. Vasco memang mengantarku sampai tujuan, dari Jakarta sampai ke Raja Ampat—benar-benar sampai di depan pintu mansion Gabriel. Dia memang selalu seperti ini.
Chapter 47Leviathan’s POVI should’ve seen it. I should’ve fucking seen the signs.I can’t believe it. I have been blind all these time and so is Beelzebub. We didn’t know until it was totally confirmed by the chaos with the sudden rift in the balance. Fates had been toying with me and my husband.Yes. Husband.Beelzebub is my husband and Crocell… or who we know as Trent Easton, this lifetime’s reincarnation of Crocell is our son and as of now, he doesn’t know anything yet. He’s as blind as a bat with the tru
Xavier pulled me by my hair all the way to a dark room. This room isn't that torture room from earlier; this one just has handcuffs on the bed. I'm confused about what we were doing here. I was sure that he would have taken me to that torturing room.I regret what I said about his parents earlier. I just know that he is mad at me for that. I wish that everything that i
Emma Green had been waiting her entire adult life to experience how it felt to be really and truly in love with someone. To love and be loved in return. To find out how it felt to be really connected to someone. To fall in love in a way that completely sweeps you off your feet. She had always loved the idea of meeting someone, falling madly in love, getting married and living happily ever after. She had seen a lot of romantic movies and read a lot of romantic novels. It was always amazing when the actors in the movie found each other and were all lovey dovey at the end. And at the end of it all she always wondered if she could ever have something that beautiful. One other thing she really wanted to experience - Great sex. Sex that included lots of slow, deep kisses and long, lingering touches. Sex that stole her breath away and zapped her common sense. Sex that made her toes tingle and her skin prickle and her body actually throb