LOGINHappy Reading and Enjoy~
Luna terbangun dengan tubuh kaku, kebas tidak bisa digerakkan. Sakit yang sangat menjulur dari setiap inci tubuhnya yang memar. Ia mengerang ketika membalikkan tubuhnya untuk menatap sekitar. Tidak ada siapapun, kamar itu kosong dengan pencahayaan yang minim.
Ah, sudah jam berapa ini? Ia tidak bisa melihat apapun dalam keadaan gelap. Kepalanya berdenyut hingga menambah daftar penderitaanya. Syukurlah ketika dirinya terbangun Allard tidak berada di dekatnya.
Tangan dan juga kakinya sudah terbebas, Luna bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya saat ini. Pasti nampak kacau sekali, seolah belum sampai disana, pusat dirinya luar biasa perih.
Apa ini tengah malam? Sudah berapa lamakah ia tertidur? Ia mencoba duduk dengan meringis kesakitan. Tubuhnya telanjang dan hanya dibalut selimut putih yang tebal, ada bau obat menyengat yang berasal dari sekelilingnya. Sepertinya dirinya juga belum bisa mengenakan pakaian, mengingat terlalu banyak memar yang bisa mengakibatkan rasa sakit di tubuhnya bertambah parah.
Ketika Luna memutuskan untuk duduk, di saat itulah ia melihat sosok Allard yang duduk diam di sofa, tidak jauh dari ranjangnya. Lelaki itu menatapnya dengan sorot tajam, bagaikan harimau yang mengincar mangsa di malam hari. Matanya berkilat, tetapi bukan karena gairah.
Luna sendiri tidak bisa mengartikan apa yang dipikirkan lelaki itu di balik matanya yang menyorot tajam. Sekujur tubuhnya menggigil, kenangan mengerikan tentang perbuatan lelaki itu membuatnya membeku dan tanpa sadar membuatnya beringsut mundur, memeluk tubuhnya sendiri.
Ada senyum sinis yang tersungging di bibir Allard ketika melihat Luna yang ketakutan, matanya sendiri kini mulai berkilat senang.
Melihat Allard belum mengenakan baju kemungkinan masih dini hari, ternyata ia tidak pingsan terlalu lama. Sayangnya apa yang dipikirkannya tidak benar, sebab lelaki itu berjalan perlahan menghampirinya seraya berucap. "Akhirnya kau sadar juga, pernikahan kita tertunda, kau sudah pingsan selama dua hari."
Ketika Allard memutuskan duduk di pinggir ranjang, lelaki itu melanjutkan dengan nada mencibir, "payah."
Jika bisa ... ia ingin tidur selamanya, tenggelam dalam kegelapan lebih menyenangkan dari pada harus memandang sorot abu yang membuat dadanya ditikam perasaan sesak. Luna menarik selimutnya lebih tinggi, menutup tubuhnya yang polos.
Dan kini semakin terlihat jelas, ternyata bau obat yang tadi diciumnya berasal dari tubuhnya sendiri. Luna tidak ingin berada di hadapan pria ini, ia menggeser tubuhnya meski setiap kali digerakkan rasa perih menyengat.
Walaupun Allard tidak menyentuhnya dan hanya duduk di pinggir ranjang sembari menatapnya intens, tetapi Luna merasa resah. Ia menjauhkan tubuhnya hingga berada di pinggir ranjang, menurunkan kedua kakinya sebelum menyentuh ambal beludru berbahan lembut itu.
Ia ingin berlari dan menghindar sejauh yang dia bisa, tetapi belum saja melangkahkan kakinya tubuhnya sudah terjatuh. Tidak kuat menopang berat badannya dengan kedua kakinya yang melemah dan tidak sehat.
Luna mendengar Allard berdecak dengan nada jengkel, lelaki itu menghampirinya dengan sorot marah. Oh, kapan wajah pria itu tidak berkerut. "Bodoh! Apa yang kau lakukan? Mencoba menjauh dariku, eh? Tubuhmu saja tidak cukup kuat untuk berjalan."
"Jauhkan tangan kotormu dariku," ucap Luna dengan kedua bibir yang bergetar. Di saat-saat seperti ini terkutuklah perutnya yang terasa lapar.
Kedua mata Allard menyipit dengan pandangan tajam. "Aku lagi tidak ingin berdebat denganmu tentang apapun, sebaiknya kau bersikap lembut dari pada tubuhmu semakin hancur."
***
Pria itu membungkuk untuk menyelipkan satu tangannya di lipatan antara pahanya, sementara satu tangan lain di punggungya yang telanjang. Menggendong Luna dan meletakkan wanita itu di atas ranjang.
Luna mengetapkan kedua bibirnya, bagaimana cara agar mengisi perutnya yang terasa lapar tanpa meminta bantuan iblis ini. Oh, jangan lagi ia mempermalukan dirinya sendiri. Sekujur tubuhnya sendiri terasa memanas saat melihat Allard tak kunjung mengalihkan tatapannya, pria itu tanpa tahu malu meneliti setiap inci dari tubuhnya.
Lalu yang membuatnya terlonjak, telapak tangan pria itu yang dingin mendarat di dahinya yang terasa panas.
"Kau demam."
"Karena siapa aku demam," ujarnya sinis, menatap Allard dengan mencibir.
Plak
Allard memukul dahinya pelan. "Karena dirimu sendiri, lihat perbuatan siapa ini." Pria itu menunjuk perban yang bertengger manis di bawah perutnya. "Kau yang memulai perang dan aku menyambutnya, tidak ada yang salah disini."
"Aku katamu!? Siapa yang lebih dulu memulai perang dengan membunuh kedua orangtuaku?" Ia berteriak sengit, suaranya meninggi meskipun terdengar lemah dan pelan akibat seluruh tubuhnya yang terasa sakit.
"Tentu saja kedua orangtua palsumu itu yang memulai perang. Kau terlalu polos, Luna. Dan sepertinya tidak ada gunanya aku memberitahumu siapa orangtua yang kau anggap paling berharga itu, rasa sayang konyol yang ada di hatimu untuk mereka akan menutup semua keburukan yang pernah mereka lakukan."
Allard mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik tepat dihadapan wajahnya. "Kau tidak akan bisa menerima kebenaran dan akan selalu menyangkalnya. Mereka berhasil membuatmu menganggap mereka sebagai orang yang baik, dan aku tidak bisa banyak membantu kecuali dengan memusnahkan mereka."
Jarinya yang kuat mencengkram dagu Luna erat. "Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari tangan iblis."
"Kau tidak pernah berkaca? Bukan keselamatan yang kudapat, melainkan kehidupan yang lebih parah. Aku merasa berada di neraka dengan hidup denganmu!" Ia menggelengkan kepalanya, membuat tangan Allard terlepas dari dagunya yang mungil.
Jangan menangis ... jangan menangis ... ia berkata pada diri sendiri dan sayangnya gagal. Kedua matanya berair. "Mereka tidak pernah memukuliku hingga sakit, mereka selalu bersikap lembut, bajingan! Aku membencimu dengan hati dan jiwaku! Kau tidak akan pernah mendapatkan apapun dariku kecuali ... kecuali tubuhku."
Allard tergelak hingga tubuhnya berguncang, matanya bersinar geli. "Aku memang tidak butuh apapun kecuali tubuhmu, karena aku tidak butuh hati untuk memuaskan hasratku. Selama kau hidup dan bernapas, dan selama tubuhmu masih menggairahkan, maka itu sudah cukup. Kau pikir dirimu siapa hingga berpikir aku mengharapkan hatimu, hah?"
Rasa malu yang menyengat melingkupi wajahnya, membuat pipinya yang memerah akibat demam semakin terbakar hingga menjalar ke lehernya. "Sialan kau!" makinya pelan.
Makiannya tidak membuat Allard merasa bersalah, pria itu malah menatapnya dengan terkejut ketika mendengar perut Luna yang berbunyi. Rasa lapar memang bukan suatu kesalahan, tetapi apabila kau lapar dan membuat perutmu berbunyi itulah yang menjadi kesalahan.
Alih-alih mendengar ejekan dari kedua bibir Allard, Luna malah melihat pria itu menegakkan tubuhnya dengan kaku. Pundaknya menegang sementara wajahnya menjadi dingin tanpa ekspresi. Luna menggigil, oh ya Tuhan ... sekarang apalagi?
Jangan bilang Allard ingin memukulnya, sebab ketika ingin menyakitinya ekspresi pria itu memang selalu seperti ini.
"Aku lupa kau tidak sadarkan diri selama dua hari, tunggu disini." Pria itu membalikkan tubuhnya dan menghilang di ambang pintu, sebelum memakai kaos untuk menutupi tubuhnya terlebih dahulu.
Bersambung...
a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a a a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a
“Hey,” said Xander to a police officer.We had left Eloim at Xander’s parents for the day, which Eloim was not happy about, but he had gone with Miki, which made him feel a little better.We came to the police station. This was the county he had grown up in, and also where Enola was heading that fateful day. People here had been the one to respond to the call.
RAJA AMPAT – PAPUA"Terimakasih." Aku bergegas membuka pintu mobil. Vasco memang mengantarku sampai tujuan, dari Jakarta sampai ke Raja Ampat—benar-benar sampai di depan pintu mansion Gabriel. Dia memang selalu seperti ini.
Chapter 47Leviathan’s POVI should’ve seen it. I should’ve fucking seen the signs.I can’t believe it. I have been blind all these time and so is Beelzebub. We didn’t know until it was totally confirmed by the chaos with the sudden rift in the balance. Fates had been toying with me and my husband.Yes. Husband.Beelzebub is my husband and Crocell… or who we know as Trent Easton, this lifetime’s reincarnation of Crocell is our son and as of now, he doesn’t know anything yet. He’s as blind as a bat with the tru
Xavier pulled me by my hair all the way to a dark room. This room isn't that torture room from earlier; this one just has handcuffs on the bed. I'm confused about what we were doing here. I was sure that he would have taken me to that torturing room.I regret what I said about his parents earlier. I just know that he is mad at me for that. I wish that everything that i
Emma Green had been waiting her entire adult life to experience how it felt to be really and truly in love with someone. To love and be loved in return. To find out how it felt to be really connected to someone. To fall in love in a way that completely sweeps you off your feet. She had always loved the idea of meeting someone, falling madly in love, getting married and living happily ever after. She had seen a lot of romantic movies and read a lot of romantic novels. It was always amazing when the actors in the movie found each other and were all lovey dovey at the end. And at the end of it all she always wondered if she could ever have something that beautiful. One other thing she really wanted to experience - Great sex. Sex that included lots of slow, deep kisses and long, lingering touches. Sex that stole her breath away and zapped her common sense. Sex that made her toes tingle and her skin prickle and her body actually throb