MasukHari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina.
"Ha
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"
"Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp
Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama
Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal