INICIAR SESIÓNThe book very happy good book book good good good night good good morning good day work for a book
Ver más"Rick, apa gue boleh tanya sesuatu sama lo?" tanya Tama saat sedang istirahat makan siang. Dia mendatangi teman satu rumah sakitnya seorang dokter bedah bernama Erick. Kebetulan hari itu sedang ada perayaan ulang tahun seorang dokter bedah jadi tersedia banyak makanan dan minuman di ruangan operasi.
"Nanya apaan?" tanya Erick. Lelaki itu sedang menyeruput kopi hangatnya wajahnya terlihat merah matanya juga ikut merah, sepertinya dia memang kurang tidur atau tidak tidur sama sekali malam ini.
"Nanya apaan?" ulang Erik lagi, karena Tama masih terdiam.
"Gue cuman mau nanya satu hal, lu suka kasih kado apa sama istri lu Rick?" Tanya Tama lagi dengan wajah sedikit kikuk. Pertanyaan Tama ini sangat mengagetkan Erick. Tama seorang lelaki dengan sikap yang dingin melebihi gunung es ini mendadak bertanya kado apa yang harus diberikan kepada seorang wanita. Erick berpikir sebentar, dia memikirkan istrinya yang bernama Luna. Istrinya sungguh wanita yang sangat baik, Luna tidak pernah bermasalah dengan kado apapun yang diberikan bahkan kalau Erik hanya membawakan 1 lembar daun pun, rasanya Luna akan senang. Istrinya memang sungguh baik.
"Rick?" panggil Tama, bingung, karena temannya itu malah senyum-senyum sendiri.
"Istri gue tuh baik, manis, perhatian dan enggak pernah neko-neko. Dia nggak pernah bisa macem-macem, dia cuman pengen gue dan anak-anak kita ada selamanya untuk dia itu udah kado terbaik buat Luna" jawab Erick dengan wajah berseri-seri.
Tama mengerutkan keningnya, aneh sekali, batin Tama. Dia sedikit menyesal bertanya kepada Erick untuk memberikannya saran pada dirinya, Erick memang terkenal sebagai lelaki pemuja istri. Banyak yang bilang Erick termasuk suami takut istri saat dia merasa cemas karena terlambat pulang karena operasi tertunda, atau tidak ikut kumpul-kumpul dengan kru OK, tapi dengan bangga lelaki itu menyampaikan alasannya.
"Bukan takut sama istri, tapi gue khawatir kalau telat pulang, waktu sama istri hari ini jadi kurang, belum lagi tiap malam tugas gue buat jagain anak-anak sama bantuin PR nya Amara" jawab Erick kala itu. Dia juga tidak segan-segan menelpon istrinya dengan kalimat-kalimat gombal nan mesra, Erick tidak malu terdengar oleh kru OK, dia justru terlihat bangga. Erick juga beberapa kali terlihat mengurusi ketiga anaknya sambil bekerja, karena dia ingin istrinya istirahat sejenak. Tidak jarang para kru OK menjuluki "Dokter Erick dan rombongan sirkusnya", dan Erick bangga dengan julukan itu. Dia juga membalas dengan raut wajah bangga.
"Lihat tahun depan, anak aku tambah satu lagi" ucap Erick.
Tama mengenal Erick sejak masih residen di tahun pertama, mereka terlibat satu kasus pasien yang rumit kala itu, dan menjadi cukup dekat. Tama juga hapal sekali kelakuan Erick dulu. Lelaki itu terkenal sebagai playboy setelah patah hati, dia mendekati siapapun gadis cantik dan memacari mereka, membuat mereka jatuh cinta setengah mati, lalu setelah satu kali kencan, Erick akan memutuskan mereka dengan kejam. Melihat Erick saat ini, Tama merasa sangat heran, tapi juga merasa bersyukur, istri Erick pasti wanita yang sangat hebat sehingga bisa membuat suaminya berubah 180 derajat seperti ini. Lelaki itu tergila-gila pada anak dan istrinya.
"Emang kenapa sih?" tanya Erick, penasaran.
"Gue cuman lagi bingung mau kasih kado apa buat Raina" jawab Tama, pelan. Dia ingin membuat sebuah kejutan untuk Raina, tapi Tama bingung harus memberi kejutan apa.
"Lu tau kan, Nana, dia beda" ucap Tama lagi.
"Hmmmm, gue cuman bisa bantu kasih tau lu, tips buat bikin semua cewe di dunia ini klepek-klepek sama lu, biar gimana pun sifatnya, cuman ada tiga cara" balas Erick sambil tersenyum usil.
"Apa?" tanya Tama, jadi penasaran.
"Satu, perhatikan semuanya saat dia lagi bicara sama elu" jawab Erick.
"Gue selalu perhatikan Nana kalau lagi bicara" balas Tama.
"Perhatikan, atau cuman dengerin?" tanya Erick. Dia tahu Tama sering menunjukkan raut wajah dingin dan tanpa ekspresi.
"Maksudnya?" tanya Tama.
"Dengerin, ya cuman denger, tanpa ada feedback, kalau perhatikan, harus ada feedback nya, misalnya ekspresi wajah yang sesuai dengan ceritanya, atau rasa empati lain, misal sentuhan tangan atau apapun, sesuai ceritanya" jelas Erick, menjelaskan. Tama mendengarkan dengan seksama penjelasan mantan playboy ini. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia sudah memberikan perhatian setiap berbicara dengan Raina.
"Kedua, kata-kata manis. Sedikit gombal juga enggak masalah, asal jangan berlebihan, enggak ada yang enggak suka digombalin" jelas Erick lagi. Dia tersenyum sendiri, teringat semua gombalannya dulu. Tama mengusap wajahnya dengan kasar. Ini hal yang paling sulit dalam hidupnya.
"Trus?" tanya Tama lagi, tidak sabar mendengar lanjutan penjelasan Erick.
"Terakhir, kasih surprise, semua perempuan suka kejutan, enggak usah yang mahal, yang penting kesukaan dia, lu tahu ga apa yang Raina suka?" tanya Erick balik. Tama jadi berpikir keras.
"Ya tahu," balas Tama, tapi sebenarnya dia juga merasa tidak yakin. Erick menghela napasnya, dari raut wajah Tama saja, Erick yakin Tama masih belum tahu apa kesukaan Raina, bukankah mereka sudah cukup lama berpacaran, batin Erick.
"Ya udah, lu kasih lah, permanis aja cara kasihnya, gue kenal Raina. Dia enggak pernah ribet rasanya Raina perempuan baik, Tam. Jangan sampai lepas," goda Erick sambil berjalan pergi. Baru beberapa langkah, Erick berbalik lagi.
"Oh iya, satu lagi" ucap lelaki itu. Tama menaikkan alisnya, kembali penasaran.
"Hmmm, bakal tau pas elu nanti udah married" balas Erick seenaknya. Dia berbalik pergi sambil tertawa-tawa. Tama mencibir kesal. Dasar playboy insyaf, maki Tama dalam hati. Setelah Erick pergi, Tama berpikir keras, merencanakan kejutan untuk kekasih hatinya.
_________
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"
"Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp
reseñas