Masuk"Na," panggil Tama pelan. Dia baru saja datang untuk menjemput Raina untuk pulang bersama. Gadis itu terlihat lelah sekali sore ini.
"Hmm?" tanya Raina pelan.
Sesuai perkiraan Tama, Raina memang merasa sangat lelah. Sepanjang hari dia bekerja di dua rumah sakit. Gadis itu merebahkan kepalanya di sandaran mobil, tapi pandangannya tertuju pada Tama. Matanya berat sekali, dia mengantuk. Sementara pacarnya itu masih sibuk dibelakang setir mobilnya.
"Emm, besok, kalau kamu enggak sibuk, apa boleh kita jalan-jalan, ke bioskop? Ada film yang mau aku tonton" tanya Tama, sedikit ragu. Dia teringat dulu saat menonton berdua pertama kali bersama Raina. Bukan pengalaman yang menyenangkan karena Raina mengomel sepanjang hari mengenai film pilihannya.
Sepanjang minggu Raina selalu sibuk, entah mengapa minggu ini sedang banyak pekerjaan di dua rumah sakit tempatnya bekerja. Tama menunggu beberapa saat, tapi gadis kesayangannya itu tidak kunjung memberikan jawaban, akhirnya Tama melirik ke arah Raina dan mendapati kekasih hatinya itu sudah tertidur lelap. Tama hanya bisa menghembuskan napas panjang.
"Kasihan, lelah sekali sepertinya" ucap Tama, mengelus lembut pipi Raina, lalu dia kembali berkonsentrasi menyetir.
"Na, sudah sampai" panggil Tama, dia menepuk pelan bahu Raina. Pacarnya tidak bergerak.
"Na!" panggil Tama lagi, suaranya lebih keras. Raina sedikit terganggu. Tama mengguncang tubuh Raina lagi, akhirnya Raina terbangun.
"Emmm, udah sampai ya? Aku ketiduran ya? Maaf ya Sayang" ucap Raina, setengah nyawanya masih di alam mimpi.
"Iya" jawab Tama, pendek. Hatinya merasa senang setiap pacarnya memanggil dirinya dengan panggilan "Sayang".
"Aku masuk langsung ya Tam, mengantuk sekali" balas Raina, dia mencium pipi Tama sekilas lalu langsung turun dari mobil tanpa sempat memberikan Tama waktu untuk berbicara.
"Yah, padahal belum selesai ngomong, biar aja deh, besok langsung kabari" ucap Tama sedikit cemberut. Dia akhirnya kembali pulang. Besok dia akan langsung ke rumah Raina saja, pikir Tama.
Sampai ke rumah Raina langsung terlelap, dia baru bangun saat hari sudah subuh. Keesokkan harinya, sepanjang pagi Raina hanya bermalas-malasan di rumah. Hari ini dia baru punya janji siang nanti. Raina berencana akan nonton bersama Kayra. Janji ini sudah lama ditagih oleh gadis kecil itu, Raina baru bisa mengabulkan permintaan Kayra ini sekarang. Ketika hari sudah hampir siang, Raina pun bersiap-siap. Dia rencananya akan langsung bertemu di bioskop siang ini. Raina terkejut saat mendapati Tama sudah ada di teras rumahnya. Pacarnya itu terlihat keren sekali dengan kemeja jeans biru muda, dan celana jeans hitam. Tama sengaja menggulung lengan bajunya setinggi siku, dia tahu itu tampilan kesukaan Raina.
"Tama?" tanya Raina, wajahnya kebingungan mengapa pacarnya itu datang siang ini.
"Kamu udah siap?" tanya Tama lagi, dia senang melihat kekasihnya itu ternyata mendengar ajakannya.
"Aku mau pergi nonton bareng Kayra, kamu mau anterin aku?" tanya Raina, senang. Dia masih tetap bisa bertemu Tama walau punya janji dengan Kayra.
"Pergi bareng Kayra?!" tanya Tama, terkejut, dugaannya salah. Ternyata Raina sama sekali tidak mendengar ajakannya kemarin.
"Ya ampun, aku lupa bilang ya, aku udah keburu janji sama Kakay buat nonton bareng, maaf ya Sayang" balas Raina, sedikit menyesal. Dia benar-benar lupa mengabari Tama kalau dia sebenarnya sudah punya janji dengan Kayra.
"Hanya berdua dengan Kayra?" selidik Tama. Raina tertawa.
"Ya enggak mungkinlah. Bertiga sama Radit" jawabnya dengan tenang. Kedua bola mata Tama langsung membesar saat mendengar jawaban pacarnya. Apalagi Raina dengan tenang mengatakan dia akan menonton bersama dengan Radit.
"Udah hampir telat nih, yuk, kamu mau anter aku kan?" tanya Raina sambil memakai sepatu, dia tidak menyadari perubahan air muka Tama.
"Aku mau ikut nonton" balas Tama langsung.
"Yakin? Kita mau nonton kartun loh, kamu bukannya enggak suka nonton film anak-anak?" tanya Raina, sedikit heran. Tama tidak menjawab, dia kesal mengapa Raina masih belum bisa melihat kalau dia cemburu.
"Oke, jangan protes kalau filmnya ga enak ya, yuk!" ajak Raina lagi, tidak perduli dan langsung berjalan menuju mobil Tama.
Kayra dan Radit sudah menunggu di bioskop. Radit cukup terkejut saat melihat Raina tidak datang sendirian, ada Tama disana, walau hanya sekali lihat, Radit bisa menangkap raut cemburu dari Tama. Tapi dia tetap menyapa Tama dan Raina dengan ramah.
"Tante Nana!" teriak Kayra, berlari menyambut Raina. Kayra langsung memeluk Tante favoritnya itu.
"Wah, udah gede kamu ya, rasanya Tante cuman enggak ketemu beberapa bulan aja, udah segede ini" balas Raina, memeluk sayang Kayra. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya, meminta untuk digendong. Raina mengerti, dia mengangkat tubuh Kayra dalam pelukannya. Kayra pun langsung menempel dan tidak mau melepaskan Raina.
"Kay, jangan minta digendong, kasihan Tante Raina capek" ucap Radit, meminta Kayra untuk segera turun, tapi anak gadisnya itu menolak dengan tegas dan semakin mengeratkan pelukannya pada Raina.
"Sori ya Na" ucap Radit, merasa tidak enak hati. Dia heran mengapa Kayra bersikap terlalu manja setiap bertemu Raina, bahkan dia tidak seperti itu bila bersama ibu kandungnya.
"Enggak apa Dit. Eh, Tama ikutan nonton Dit, masih bisa beli tiket kan?" tanya Raina.
"Aku beli tiket dulu" balas Radit, dia bergegas pergi ke tempat penjualan tiket. Dua menit kemudian Radit kembali.
"Hanya ada tiket di ujung, satu barisan dengan kita, nanti aku upayakan minta tuker sama orang sebelah ya" ucap Radit. Raina mengiyakan saja.
Waktu untuk film mereka mulai tiba. Teater bioskop sudah dibuka, Kayra masih betah berada di pelukan Raina meskipun Radit sudah berkali-kali minta anaknya untuk segera turun, tapi Kayra tetap menolak. Raina juga tidak merasa keberatan, dia juga rindu dengan bocah kecil ini. Sementara Tama dari belakang hanya bisa mengekor sambil menahan rasa kesal. Pria itu hanya mendengus kesal beberapa kali.
Radit dengan sopan meminta keluarga yang duduk tepat disampingnya untuk bergeser agar Tama bisa ikut bergabung, untung saja keluarga itu mau. Tama juga cukup lega. Dia mengambil tempat duduk disamping Raina.
Sepanjang film diputar, Raina hanya memperhatikan Kayra, tidak sekali pun dia melihat Tama. Jujur Tama merasa sangat kesal. Ini bukan seperti kencan pertama yang dia impikan. Untung saja film anak-anak pilihan Kayra itu hanya berlangsung selama 1,5 jam saja. Kalau lebih lama rasanya Tama bisa meledak saking kesalnya.
"Kay, kita pulang ya," ajak Radit, mengambil putrinya dari gendongan Raina. Kayra menolak kembali. Gadis itu memalingkan wajahnya.
"Tante Nana pulang sama aku kan? Aku mau bobo sama Tante Nana malam ini" ucap Kayra dengan polos, matanya berharap sekali.
"Enggak boleh!" balas Tama langsung, akhirnya dia buka suara juga. Setelah lama memendam kekesalan, akhirnya dia meledak juga.
"Tante Raina pulang sama om malam ini!" lanjut Tama lagi, memegang lengan Raina penuh dengan tatapan cemburu. Pria itu melirik sebal ke arah Kayra. Seenaknya saja culik pacarnya tepat di hari pertama mereka kencan. Sudah terbayang di kepala Tama, Raina menginap di rumah Radit dan Kayra, berarti sepanjang malam ini sampai esok pagi Raina dan Radit akan terus bersama-sama. Bukan tidak mungkin kenangan cinta mereka dimasa lalu kembali lagi bila bermalam bersama hari ini. Tama langsung menggelengkan kepalanya, membubarkan bayangan di kepalanya. Dia menarik lengan Raina lagi.
Kayra langsung merengut, gadis kecil berusia 6 tahun itu, semakin merekatkan pelukannya kepada Raina, seolah-olah takut berpisah.
Raina dan Radit sama-sama melotot ke arah Tama. Sementara yang dipelototi membalas tidak kalah sengitnya kepada keduanya. Raina menghela napas kesal. Dasar kanebo kering, sering sekali bertingkah bodoh, umpat Raina dalam hati. Sementara Radit juga masih menatap Tama kesal, dia kesal karena Tama membentak anak gadisnya, walaupun Kayra jelas salah dan permintaannya sedikit keterlaluan, tapi yang boleh membentak tentu hanya dirinya, tidak boleh orang lain. Bahkan kalau ibunya dan mantan istrinya memarahi Kayra, Radit akan kembali marah.
"Kalian jalan berdua sana, aku mau jalan-jalan sebentar hanya berdua sama Kayra" perintah Raina. Wanita itu sengaja menekankan kalimatnya, meminta kedua lelaki yang saat ini sedang saling bertukar pandang dengan sengit itu untuk pergi.
Tama kembali melotot, dia sudah bersiap-siap untuk protes.
"Ayo cepetan" lanjut Raina lagi, mendorong lengan Tama, lalu mengibaskan tangannya pertanda mengusir mereka segera.
Radit menarik lengan Tama untuk pergi menjauh, dia mengajak Tama duduk di sebuah tempat minum kopi, sepertinya kopi bisa menenangkan pikiran mereka.
"Nih, minum dulu" ucap Radit, dia langsung memesankan Tama kopi tanpa persetujuan Tama. Sementara kekasih Raina hanya melirik saja, wajahnya masih cemberut. Mereka hanya diam selama beberapa saat.
"Gue minta maaf atas nama anak gue, dia masih kecil, masih suka seenaknya. Kayra sayang sekali sama Nana, gue juga udah melarang dia buat ajak Nana nonton hari ini, tapi Kakay sendiri yang menelpon Nana, dan entah kenapa Nana mau, sekali lagi gue minta maaf" ucap Radit, memulai percakapan. Tama tidak menjawab, dia hanya menyeruput pelan kopi yang sudah dibelikan oleh Radit. Aroma kopi ini cukup menenangkan pikiran Tama.
"Gue juga minta maaf, enggak seharusnya bentak Kayra seperti tadi" Tama akhirnya buka suara. Radit hanya tersenyum, dia sudah hapal sekali sifat temannya ini.
"Anyway, selamat" balas Radit. Kening Tama berkerut, tidak paham maksud kalimat Radit.
"Elu, sama Raina. Selamat atas hubungan kalian, gue turut senang" jelas Radit.
"You're welcome, thanks to you juga" balas Tama dengan tulus.
Raina datang bersama Kayra sekitar sepuluh menit kemudian. Gadis kecil itu sudah lebih ceria dengan es krim di tangannya. Dia masih melirik Tama dengan wajah cemberut, lalu sibuk kembali dengan es krim yang dibelikan Raina. Kayra duduk disamping ayahnya, sementara Raina mengambil tempat disebelah Tama, yang wajahnya kembali kelam.
"Aku udah ngobrol sama Kayra, akhirnya Kayra setuju, tapi ada syaratnya, aku harus antar Kayra sampai rumah." jelas Raina. Tama tidak berkomentar. Kayra mengangguk mengiyakan semua kalimat Raina.
"Oke, yuk kita pulang ya," ajak Radit.
"Kakay mau sama Tante Nana" ucap Kayra lagi, dia sudah memeluk Raina.
"Kayra!" Radit mulai tidak sabar dengan anak gadisnya itu. Anak kecil itu semakin erat pelukannya pada Raina.
"Udah, gini aja deh, Kayra balik sama aku dan Tama aja ya? Kita pisah mobil aja" usul Raina. Tama mau protes, tadi Raina sudah menjawab seperti itu, dia tidak bisa protes lagi. Tama pasrah saja dengan keputusan Raina. Radit juga terpaksa setuju.
Sepanjang perjalanan, Raina dan Kayra sibuk berduaan, membiarkan Tama menyetir, duduk sendirian di kursi depan. Lelaki itu tetap mengunci mulutnya, tidak berkata apapun, sesekali dia melirik ke belakang, melihat dengan tatapan cemburu karena kemesraan Raina dan Kayra yang hampir seperti ibu dan anak itu.
"Sampai" ucap Raina, mengajak Kayra turun dari mobil. Radit sudah sampai duluan, dia membukakan pintu mobil belakang.
"Kayra, ayo" ucap Radit. Pria itu merasa tidak enak, putri kecilnya ini pasti sudah merusak malam minggu pasangan ini. Untung Kayra menurut.
"Selamat malam Tante Nana" pamit Kayra, memeluk kembali Raina sebelum keluar bersama ayahnya.
Raina dan Tama pun kembali pulang dari rumah Radit. Tidak ada pembicaraan didalam mobil. Raina melirik wajah pacarnya beberapa kali. Tama tetap dingin, tanpa kata. Raina tahu lelaki itu kesal, tapi tidak marah seperti ini.
"Berhenti sebentar" pinta Raina. Tama tidak perduli, dia tetap melajukan mobilnya.
"Tama, berhenti sebentar, kita harus bicara" pinta Raina lagi. Tama masih tidak perduli.
"Berhenti, atau aku turun dari mobil?" ancam Raina. Tama langsung menghentikan mobilnya segera, dia tahu kekasihnya itu bisa berlaku sedikit gila. Tama menepikan mobilnya.
"Kamu kenapa sih Tama? Kok mukanya cemberut kayak gitu?" tanya Raina dengan wajah heran. Sedari tadi dia menyadari kalau Tama selalu terlihat sangat marah atau kesal, entahlah dia tidak mengerti, yang pasti Raina tahu kalau pacarnya itu tidak sedang dalam suasana hati yang baik. Raina tidak suka, dia tidak mau mereka berdua hanya berdiam diri terus seperti ini, terlalu menyiksa dirinya. Lagipula dia merasa bersalah untuk hari ini.
"Enggak apa-apa" jawab Tama pelan, tapi dari sorot matanya Raina tahu kalau pacarnya itu berbohong.
"Ayo bilang yang jujur aja sama aku, kamu kesel ya gara-gara aku pergi sama Kayra?" tebak Raina lagi. Dia bertanya sambil setengah memaksa Tama untuk mengatakan apa yang sebetulnya ada dalam hatinya. Raina menggoyangkan lengan Tama, meminta dan memaksa pacarnya untuk menjawab dengan jujur.
"Iya aku cemburu" jawab Tama yang langsung disambut dengan tawa terbahak-bahak dari Raina. Tama tambah cemberut.
"Cemburu?? Kamu cemburu sama Kayra, anak umur 6 tahun???" tanya Raina setengah tidak percaya dengan kalimat Tama sebelumnya. Hampir saja tawa Raina meledak lagi saking gelinya. Tapi dia menahan tawanya sebisa mungkin, kalau tertawa lagi, bisa-bisa Tama bertambah marah.
"Iya, aku cemburu kamu selalu dekat dengan anaknya Radit. Aku cemburu sekali. Sangat cemburu. Aku takut kamu akan kembali lagi sama Radit. Apalagi kalau kalian menginap semalaman," aku Tama dengan jujur. Pikiran buruknya itu kembali lagi.
"Dasar bodoh, mana mungkin aku nginep sembarangan gitu ditempat laki-laki single macem Radit" balas Raina, merasa pacarnya ini sangat konyol.
"Lagian, apa lagi yang perlu aku buktikan sama kamu tentang perasaan cinta aku?" tanya Raina, dia merasa sangat lucu melihat kelakuan Tama yang cemburu. Prianya itu hanya cemberut saja, tapi bibirnya masih terkunci. Raina meninju dada Tama pelan.
"Apa kurang aku buktikan? Ciuman pertama, kedua, bahkan sampai ciuman keempat semuanya buat kamu, masih kurang cinta apa coba aku?" lanjut Raina lagi, kembali memukul dada Tama. Lelaki itu menangkap tangan kekasihnya.
"Ciuman pertama?" tanya Tama terkejut. Dia tidak menyangka itu adalah ciuman pertama Raina. Pantas saja gadis itu seperti amatiran kemarin. Hatinya berubah senang.
"Iyalah, kamu pikir aku suka cium-cium sembarangan gitu?" tanya Raina, matanya melirik sebal. Tama tersenyum, marah dan kesal di hatinya lenyap begitu saja.
"Aku mau ciuman kelima sampa ke sejuta kali sama kamu, tapi seperti ciuman kedua kita" goda Tama. Dia mulai mendekati Raina.
Raina bergidik ngeri, dia membayangkan ciuman panasnya bersama Tama saat mereka baru jadian dulu. Satu kali saja dia nyaris kehabisan napas sampai Raina menyangka penyakit asma nya akan kambuh kala itu. Kalau sampai sejuta kali, bisa-bisa dia mati lemas. Gadis itu mundur sedikit, matanya tertutup. Tama menahan tawanya melihat ekspresi gugup Raina. Pria itu tidak jadi mencium kekasihnya, dia kembali mengemudikan mobilnya. Masih banyak kesempatan lain, batinnya.
Raina membuka kedua matanya. Gadis itu mengintip sebentar, dan melihat Tama sudah sibuk menyetir. Dia baru menyadari kalau Tama tidak jadi mencium dirinya. Ah, sial! Kali ini Tama benar-benar berhasil mengelabui dirinya.
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"
"Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp
Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama
Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal