Masuk"Halo," Raina menjawab ponselnya. Ada nama dan nomor ponsel Radit tertulis di layar.
"Halo, Na. Kalian berdua baik-baik aja kan?" tanya Radit. Jujur Radit khawatir sekali karena ulah anak gadis kecilnya itu membuat Raina dan Tama bertengkar. Dia tidak mau itu terjadi.
"Gue sama Tama?" tanya Raina memastikan.
"Iya, siapa lagi" jawab Radit. Raina tertawa.
"Aman, Tama sempet jealous, tapi everything is fine. Kayra gimana?" tanya Raina. Dia ingat wajah kecewa Kayra saat dia menolak untuk tidur dirumah Kayra. Menurut Raina, Kayra butuh mengerti kalau tidak semua keinginan bisa terwujud.
"Tuh, tuan Puteri udah pules, kekenyangan makan es krim kayanya" jawab Radit. Raina tertawa, membayangkan betapa lucunya Kayra saat tertidur.
"Na.." panggil Radit. Tapi dia tidak meneruskan kalimatnya. Radit mendadak merasa ragu untuk menyampaikan ini kepada Raina.
"Apa?" tanya Raina, karena dia merasa sepertinya Radit belum menyelesaikan kalimatnya.
"Oh, enggak, cuman mau bilang terimakasih, sampaikan maaf gue buat Tama ya" lanjut Radit, mengganti topik pembicaraannya.
"Oke" jawab Raina lagi.
Klik. Sambungan telepon mereka pun selesai.
"Siapa?" tanya Tama. Dia masih sibuk di belakang setir.
"Radit, nanyain kabar kita, dia minta maaf sama ucapin terimakasih" jelas Raina.
"Emm" balas Tama pendek. Raina menyelidiki raut wajah kekasihnya.
"Cemburu lagi?" goda Raina, wajahnya mendekat, menatap wajah Tama lekat sambil menahan senyum. Dia tahu Tama kembali cemburu. Dasar kanebo kering, biar kaku dan dingin ternyata dia cemburuan juga, batin Raina.
"Buat apa" balas Tama dengan santai. Raina jadi mencibir, kecewa.
"Kan ciuman pertama kamu tetap sama aku, berarti aku lebih menang ketimbang Radit di hati kamu" ucap Tama dengan bangga. Raina tertawa mendengarnya.
Radit menatap sayang gadis kecilnya yang sudah terlelap. Dia terbayang kembali kalimat permintaan dari Kayra sebelum dia terlelap tadi.
"Kakay mau Tante Nana jadi Mama Kakay" minta Kakay tiba-tiba. Radit sangat terkejut mendengar permintaan anaknya itu. Dia pikir Kayra sudah melupakan permintaannya dulu setelah dia bertemu ibu kandungnya.
"Kayra kan sudah punya Mama. Mama Irna itu Mama kandung Kakay, kenapa harus minta Tante Nana buat jadi Mama Kayra?" balas Radit. Anak itu menggelengkan kepalanya.
"Kayra mau Mama yang seharian ada buat Kayra, bukan seperti Mama Irna, yang cuman mau ketemu Kakay sekali dua kali aja. Lagian, Mama lebih pilih orang lain dibanding Kakay" keluh bocah 6 tahun itu.
Hati Radit merasa sedih dengan kalimat polos tapi jujur dari putrinya. Sudah satu bulan ini, Irna kembali pada suaminya, dia tidak jadi berpisah. Awalnya Kayra meminta Ayah dan Ibunya kembali bersatu, tapi setelah Irna memberi tahu kalau dia sudah kembali pada suaminya, Kayra mengerti, anak kecil itu membuang jauh-jauh keinginannya untuk mempersatukan kedua orang tuanya. Setelah Irna kembali pada suaminya, Irna jarang bersama Kayra, paling hanya satu atau dua kali seminggu saja, itu pun kalau suaminya tidak keberatan, tidak jarang pertemuan ibu dan anak itu batal mendadak.
Kalau boleh Radit memutar waktu kembali, dia pasti tidak akan memilih Irna. Kalau saja Radit tahu bagaimana sifat Irna yang sesungguhnya, pasti dia tidak akan tergila-gila pada Irna seperti dulu, dan anaknya tidak akan menderita seperti yang saat ini Kayra alami. Sebanyak apapun Radit menyesal, waktu tidak pernah akan kembali, dia hanya bisa memberikan Kayra pengertian kalau sulit untuk Ibunya kembali kepadanya.
"Tante Nana enggak mau ya jadi Mamanya Kakay" lanjut Kayra lagi.
"Bukan enggak mau, tapi enggak bisa. Percaya sama Ayah, walaupun Tante Nana enggak bisa jadi Mama nya Kakay, tapi Tante Nana tetap sayang sama Kakay, ya?" balas Radit, memeluk anaknya, hatinya bertambah sedih.
Setelah Kayra terlelap, Radit kembali ke ruang keluarga. Dia merasa sangat kesepian, masih beruntung dia memiliki Kayra dan bocah itu aktif sekali, kadang Radit kesulitan mengurus anak gadisnya itu. Dulu di Surabaya Radit punya Rani, adiknya yang selalu setia membantu menjaga Kayra. Dia pindah ke Bandung demi mengejar Raina. Siapa yang menyangka Radit juga harus berhadapan dengan mantan isterinya kembali di Bandung, dan tetap tidak bisa mendapatkan Raina. Justru dia yang membantu Raina mendapatkan cintanya dengan Tama.
"Huh, dasar bodoh" maki Radit pada dirinya sendiri. Tapi, melihat senyum Raina pada Tama, hati Radit merasa senang. Apa ini yang dinamakan cinta, tidak perlu memiliki, asalkan melihat orang yang kita cintai bahagia, sudah cukup, pikir Radit dalam hati.
Malam ini Bandung diguyur hujan lebat. Sudah sekitar satu jam tapi hujan masih juga belum reda. Lelaki itu tidak bisa memejamkan kedua matanya, dia kembali menuju kamar tidur Kayra. Gadis kecilnya sudah berada di alam mimpi. Radit kembali menuju ruang keluarga, dia menonton televisi sendirian. Sungguh menyedihkan, batinnya. Baru sekitar 30 menit Radit menonton acara televisi, sebuah bunyi bel di pintu depan mengagetkannya. Lelaki itu melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul 9.30. Siapa yang datang malam-malam begini, tanya Radit dalam hati. Bel itu pun berbunyi lagi. Radit beranjak dari duduknya dengan malas.
"Bertamu malam-malam begini, sungguh tidak sopan" ucap Radit kesal sambil berjalan menuju pintu depan rumahnya. Radit membuka handle pintu, dan nyaris tidak percaya dengan siapa yang datang malam ini.
"Irna?" ucap Radit.
"Kak Radit" balas Irna. Wanita itu menggigil kedinginan. Sebagian bajunya terkena air hujan. Rambutnya juga basah.
"Ada apa?" tanya Radit, masih bingung. Hari ini bukan waktunya Irna untuk mengunjungi Kayra, lagipula sudah sangat malam, tidak seharusnya Irna ke rumahnya.
"Aku, aku.. Aku kabur dari rumah" ucap Irna terbata-bata.
"Kabur?" tanya Radit, dia bingung mengapa Irna harus kabur dari rumahnya. Irna mengangguk. Radit mengalihkan pandangannya menatap dengan seksama pada mantan istrinya itu. Irna hanya memakai sweater tipis, ada koper kecil yang dia letakkan di samping kakinya, sementara di bahu Irna juga terdapat tas tenteng dengan ukuran cukup besar.
"Aku bertengkar hebat sama Andi, dia.." Irna tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Air matanya menetes di kedua pipinya. Sedikit tersamar dengan air hujan yang juga membasahi seluruh wajah Irna.
Radit ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi udara malam ini dingin sekali, tubuh kurus dan mungil Irna sudah berkali-kali bergetar hebat, dia menggigil kedinginan. Irna tidak membawa payung, dia berjalan dengan bawaannya itu menyusuri halaman rumah Radit. Dalam sekejap dia basah kuyup.
"Masuk dulu" ucap Radit, mempersilakan mantan istrinya untuk masuk ke dalam rumahnya. Radit tahu ini bisa jadi masalah, biar bagaimanapun Irna bukan lagi istrinya. Wanita itu sudah bersuami sekarang. Tapi Radit tidak tega melihat Irna yang kedinginan dan basah kuyup. Bisa-bisa dia sakit kalau berlama-lama seperti itu.
Irna masih berdiri, seluruh bajunya basah, dia tidak enak hati harus mengotori lantai dan sofa Radit.
"Duduk saja, enggak apa-apa" perintah Radit. Irna menggeleng.
"Tidak usah, nanti kotor. Kalau boleh, aku.. Aku minta tolong menginap semalam disini. Aku ingin menumpang mandi dulu" pinta Irna. Dia masih menggigil kedinginan. Radit mengangguk, dia bergegas ke dalam kamar mengambilkan handuk untuk Irna. Sementara mantan istrinya masih berdiri tidak bergerak.
"Ini, mandi disini saja, sudah ada sabun dan shampo..".
"Tidak perlu, aku sudah beli peralatan mandi sebelum kesini." potong Irna. Radit mengiyakan, dia menyerahkan handuk di atas sofa, lalu kembali ke ruang keluarga untuk memberikan pada Irna.
"Keringkan dulu, mandi air hangat nanti kamu sakit" ucap Radit, dia meletakkan handuk kering itu di atas sofa. Irna mengiyakan. Dia masuk ke kamar mandi, sementara Radit menuju dapur. Lelaki itu membuatkan sup hangat untuk Irna.
"Makan dulu, Na. Sudah aku masakkan sup buat kamu. Kamu belum makan kan?" tanya Radit. Dia mendengar suara pintu kamar mandi dibuka, ternyata benar mantan istrinya sudah terlihat lebih segar.
"Aku langsung tidur aja" tolak Irna.
Diizinkan untuk menginap saja Irna sudah sangat bersyukur, sekarang Radit malah masak untuknya, tentu saja Irna merasa tambah tidak enak hati. Dia bahkan tidak merasa pantas mendapatkan kebaikan hati Radit, apalagi setelah semua kelakuannya kepada Radit dan Kayra.
"Makan dulu, nanti kamu sakit." pinta Radit. Irna masih berdiri mematung.
"Ayo, nanti supnya keburu dingin, jadi tidak enak." ajak Radit lagi, dia menarik lengan Irna dan meminta Irna untuk duduk di meja makan.
Mangkok sup jagung itu masih mengepul. Memori Irna kembali ke masa lalu. Masa-masa paling bahagia dalam hidupnya. Saat itu dia belajar sampai malam sebelum ujian masuk spesialis. Suaminya yang baik hati mengurus Kayra, sama sekali tidak mengusik Irna yang sedang serius belajar. Kayra waktu itu masih berusia satu tahun kurang. Radit juga selalu menyediakan kopi dan cemilan.
"Semangat belajarnya, pasti lulus" ucap Radit, menyemangati istrinya setiap malam, diikuti dengan ciuman di kening Irna.
Kalau saja Irna tahu, dia akan bertemu dengan Andi dimasa awal residensi, pria yang sudah berhasil membuat cintanya pada Radit berubah, Irna pasti memilih untuk tidak meneruskan sekolahnya. Lebih baik dia hanya menjadi dokter umum dan Ibu untuk Kayra saja. Andi juga berhasil membuat Irna dengan tega meninggalkan anak semata wayangnya. Kayra bahkan belum selesai disapih kala itu. Anak itu dia tinggalkan dengan kejam. Rayuan dan kalimat cinta Andi membuat Irna percaya dan menikahi pria brengsek itu. Memikirkan semua itu, membuat air mata Irna menetes. Dia bahkan tidak sanggup untuk memakan sup hangat dihadapannya. Dia merasa tidak pantas.
"Jangan dipandangi aja. Ayo dimakan. Kamu tidur di kamar tamu disebelah kamar Kayra ya, sudah aku rapihkan tadi. Di kulkas ada ice pack. Kompres wajah kamu, aku enggak mau Kayra bertanya-tanya kenapa wajah ibunya bengkak" ucap Radit. Dari awal Radit sudah melihat ada bekas kemerahan di pipi Irna. Entah itu bekas tamparan, atau pukulan. Radit tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang pasti Radit yakin itu perbuatan Andi.
"Terimakasih" ucap Irna dengan susah payah. Air matanya sudah menggenangi sudut matanya. Irna menahan sebisa mungkin.
"Aku tidur dulu, hati-hati supnya masih panas" pamit Radit. Dia segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan Irna sendirian di dapur.
Irna mulai menyuapkan sup buatan Radit kedalam mulutnya. Sup itu terasa hangat dan nikmat. Membuat perasaan Irna menjadi lebih baik. Irna yakin ini sup instan kesukaan Radit yang biasa mantan suaminya itu simpan. Sup ini juga kesukaan Kayra dulu. Air matanya menitik satu demi satu, membasahi wajah Irna. Bayangan indahnya masa lalu masa pacaran dan pernikahannya bersama Radit kembali lagi. Semuanya sangat indah, sampai Irna sendiri yang merusaknya.
Terlambat, sudah sangat terlambat, batin Irna. Sekarang dia baru tahu rasanya penyesalan yang datangnya sangat terlambat itu. Irna punya waktu 7 bulan lalu saat dia meninggalkan Andi. Kayra meminta dia kembali kepada Radit. Tapi rayuan Andi membuat Irna kembali mempercayai suaminya itu. Irna kembali meninggalkan anak sematawayangnya. Hanya ada rasa penyesalan yang meliputi hati Irna malam ini. Kalau Tuhan memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Irna akan melakukannya, apapun caranya.
Didalam kamar, samar-samar Radit mendengar isak tangis dari arah dapur. Banyak pertanyaan di kepala Radit saat ini yang ingin ia tanyakan kepada Irna. Tapi melihat Irna malam ini, Radit mengurungkan niatnya, wanita itu terlihat kacau. Pertanyaan Radit hanya akan membuat hati Irna semakin sedih. Lebih baik diam dulu, pikir Radit.
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"
"Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp
Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama
Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal