Share

chapter 3

Penulis: Yjc_

Hari ini Radit terbangun karena mencium aroma masakan di dapur. Semalaman Radit merasa sulit tidur. Kehadiran Irna membuat hatinya menjadi gelisah. Perasaannya campur aduk, antara kasihan, marah, sedikit menyesal dan juga bingung. Dia baru bisa memejamkan mata saat sudah lewat tengah malam. Radit berjalan menuju dapur rumahnya. Irna sedang memasak di dapur. Suara langkah Radit membuat Irna menghentikan aktivitas memasaknya. 

"Ah, selamat pagi. Sudah bangun? Aku minta maaf kalau lancang Kang, aku cuman mau masak buat sarapan Akang dan Kayra saja. Duduk dulu Kang, sebentar lagi selesai." ucap Irna, wajahnya tersenyum kaku. Akhirnya Irna memanggil Radit dengan sebutan "akang" lagi setelah lama dia enggan memanggil Radit dengan sebutan itu. Radit tidak menjawab, dia sibuk memperhatikan dapurnya yang sudah rapi dan bersih. 

Ibu satu anak itu memilin ujung celemeknya. Radit tahu Irna sedang gugup, mantan istrinya itu sering memilin ujung bajunya bila sedang gugup. Masih lekat dalam ingatan Radit bagaimana gugupnya Irna saat pertama kali dia menyatakan cinta dan meminta Irna untuk jadi kekasihnya, sekitar 14 tahun yang lalu. Irna sama sekali tidak bisa menatap kedua mata Radit, tertunduk malu dan jemarinya sibuk memilin ujung kemejanya. Radit segera menghapus kenangan indah itu. Dia tidak bisa terlena begitu saja. Mantan istrinya itu lagi dan lagi melakukan kesalahan. Radit sudah terbiasa terluka dan kecewa karena sikap Irna, tapi Kayra tidak, Radit tidak mau Kayra kembali berharap Ibu nya kembali, tapi kembali terluka bila nanti Irna kembali pada Andi dan tidak memperdulikan Kayra lagi. 

"Aku mau siapin seragam Kakay dulu," balas Radit, berbalik pergi. 

"Ah, Kayra lagi mandi. Tadi aku udah setrika seragam Kakay. Dia bilang mau mandi sendiri saja" ucap Irna cepat. Radit menghentikan langkahnya sebentar, tapi pria itu tidak membalas, dia kembali berjalan pergi dari dapur menuju kamar tidur Kayra. Radit memperhatikan seluruh rumahnya. Tampak rapi dan bersih, sama seperti dapurnya. Sepertinya Irna sudah membersihkan seluruh rumah sepanjang pagi ini. Radit juga sempat melihat baju kotor dia dan Kayra sudah berada di jemuran. Pemandangan yang tidak biasa di pagi hari. Pria itu lanjut melihat keadaan anaknya. 

Kayra sedang bernyanyi di dalam kamar mandi. Tadi pagi anak kecil ini dibangunkan oleh Ibunya. Dia langsung melompat kegirangan saat menemukan Ibunya saat bangun pagi. Terakhir dia bertemu Irna sekitar dua minggu yang lalu. Melihat Kayra kelihatannya tidak butuh bantuannya, Radit kembali ke kamarnya untuk segera bersiap-siap berangkat kerja. 

Selesai bersiap-siap, Radit kembali ke dapur. Disana Kayra sudah duduk di pangkuan Irna, makan sarapannya. Hati Radit terasa sangat hangat melihat pemandangan di hadapannya. 

"Mama, tinggal disini terus kan?" tanya Kayra, mulutnya masih penuh dengan nasi goreng. 

"Jangan makan sambil bicara ya Sayang, nanti tersedak" ucap Irna, sengaja mengalihkan pembicaraan. 

Irna jelas tidak bisa menjawab pertanyaan dari Kayra. Dia bahkan tidak tahu apa Radit mengizinkan dia untuk menginap lebih lama lagi. Irna sudah berniat untuk mencari tempat kos atau kontrakan siang ini. Dia tidak mungkin berada disini terus, walaupun nantinya Radit mengizinkan, Irna hanya merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan Radit setelah semua yang ia lakukan pada keluarganya. 

Radit duduk di depan Irna dan Kayra. Irna kembali merasa gugup saat Radit memandangi dirinya. Dia pura-pura sibuk mengelap sekitar mulut Kayra. 

"Ini ada kunci cadangan buat pintu depan, kamu ambil aja" ucap Radit, menyerahkan sebuah kunci pada Irna. Wanita itu hanya mengangguk dan menyimpan kunci itu. 

"Mungkin nanti aku pulang malam Kang" ucap Irna, setengah meminta izin. Sekarang status dia hanya menumpang di rumah Radit. 

"Emm," balas Radit dingin. Dia sibuk mengambil nasi goreng buatan Irna. Wanita itu tidak berkata-kata lagi, Radit sangat dingin kepadanya. Hatinya terasa sakit, tapi dia tidak boleh marah atau kecewa, ini semua wajar dilakukan Radit padanya.

"Jadi, mama bakal tinggal disini terus kan?" Kayra kembali mengulang pertanyaan sebelumnya. Irna tidak berani menjawab pertanyaan anak perempuan semata wayangnya. Sementara itu, Radit hanya diam, dia menunggu jawaban dari Irna. 

"Emm, iya Kay.., Mama usahain ya." ucap Irna setelah beberapa saat. 

"Hore! Jangan pergi lagi ya Ma" balas bocah itu, dia memeluk erat Irna. 

Walaupun tidak menjawab, Irna merasa senang sekali mendapat pelukan dari Kayra. Awalnya Irna sudah khawatir Kayra tidak mau lagi bersama dirinya. Sudah tidak terhitung berapa kali Irna mengecewakan gadis yang baru berusia 6 tahun itu. Irna merasa sangat bersalah. Di sisi lain, Radit tersenyum dalam hati melihat pemandangan langka dihadapannya. Senyuman Kayra didalam pelukan Irna menghangatkan hatinya.

"Emm, Kang, nanti aku mungkin pulang sedikit malam, aku masih boleh menginap beberapa hari lagi?" tanya Irna saat mengantar Kayra dan Radit ke depan rumah untuk berangkat. Radit mengangguk saja. 

Walau tidak berkata apapun, tapi anggukan Radit tadi membuat lega Irna. Dia sempat bingung harus bermalam dimana. Menginap di hotel, sudah jelas Irna tidak mampu kalau dalam waktu lama. Irna hanya bisa berharap Radit masih sudi untuk menerimanya setidaknya sampai dia sudah mendapatkan tempat tinggal. 

"Halo, Ras. Pekerjaan yang kemarin, apa sudah ada yang mengambil?" tanya Irna, dia menghubungi temannya, Laras. Irna merasa beruntung karena pertemuannya dengan Laras saat Kayra sakit sebelumnya, membuat dia bisa meminta bantuan lagi pada Laras. 

"Masih Na, tinggal datang aja, nanti bilang aku yang suruh" jawab Laras di ujung telepon. 

"Makasih ya Ras" jawab Irna, hari ini rasanya dewi keberuntungan berada di pihaknya. 

"Sama-sama," balas Laras lagi. 

__________

"Dit, Radit??" Raina memanggil Radit beberapa kali, tapi pria itu hanya terdiam, sorot matanya kosong, seakan memikirkan sesuatu.

"Dit!" panggil Raina lagi, kali ini setengah berteriak. Raina juga menepuk keras lengan Radit. Hubungan mereka kini sudah jauh lebih baik. Raina sudah mulai akrab kembali dengan Radit, walau masih tetap menjaga jarak, dia khawatir Tama cemburu lagi. 

"Eh, apaan Na?" tanya Radit terkejut. Pria itu mengusap lengannya yang lumayan nyeri karena pukulan Raina. 

"Bengong mulu, dari tadi gue ngomong kagak didengerin" balas Raina kesal. 

"Sori, gue lagi banyak pikiran" jawab Radit, jujur. 

"Kenapa? Ada yang mau lu ceritain?" tanya Raina, hati-hati. Dulu, Radit selalu mencari Raina bila dia sedang mengalami kesulitan. Raina selalu ada disisinya. 

"Tadi malam Irna datang ke rumah. Dia berantem sama suaminya." Radit mulai bercerita mengenai kejadian semalam. 

"Kalau Kayra minta gue balik sama Irna, gimana ya Na?" tanya Radit dengan wajah serius, setelah selesai bercerita. Raina tidak langsung menjawab. Dia juga merasa bingung. Ternyata kisah cinta Radit dan Irna lebih sulit dibanding kisah cinta dia dan Tama, si kanebo kering yang ternyata cemburuan sekali. 

"Gue enggak bisa jawab Dit" jawab Raina, akhirnya. 

"Mungkin ini karma buat gue sama Irna ya Na, dulu kami berdua pernah buat elu sakit hati" ucap Radit, merasa malu. Setelah perlakuannya dengan Raina, sekarang dia malah berkeluh kesah dengan Raina juga. Temannya itu memang terlalu baik, batin Radit. 

"Jangan ngomong gitu, gue udah maafin kalian, kok." balas Raina cepat. Dia sudah berniat untuk benar-benar berbaikan pada Radit. 

"Tapi, Dit. Gue benar-benar enggak bisa bantu masalah lu sama Irna. Gue cuman bisa bilang, kalau elu benar-benar masih cinta sama Irna, lu pasti bisa terima dia balik, tapi bukan hanya karena permintaan Kayra. Karena elu memang mau kembali sama Irna" lanjut Raina, memberi tahu pendapat pribadinya. 

"Iya, Na. Gue juga masih bingung" balas Radit, walaupun tidak terlalu membantu, kalimat Raina tadi membuat Radit sedikit tersadar. Kali ini dia juga harus memikirkan dirinya juga, bukan hanya Kayra. 

"Tanya diri lu sendiri, masih cinta atau enggak sama Irna, cuman itu saran gue Dit," balas Raina. 

"Makasih Na." balas Radit lagi. Mereka saling tersenyum. 

"Ehem!" sebuah suara datang dari arah belakang. 

Raina mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, mendapati kekasih hatinya, Tama, sedang berdiri di ujung pintu, wajahnya terlihat masam. Senyum Radit langsung sirna melihat raut wajah Tama. Dia tidak berani tersenyum lagi. 

"Gue duluan ya, sebelum si kanebo kering mulai ngambek lagi karena cemburu lagi" bisik Raina pada Radit, lalu segera beranjak pergi menuju tempat Tama berdiri. 

Raina sengaja menggandeng mesra Tama, berusaha merayu agar suasana hati Tama lebih baik. Radit hanya bisa tertawa melihat tingkah sejoli baru itu. 

Raina tetap menggandeng lengan Tama, sampai mereka berada di depan mobil Tama. 

"Bukain dong pintunya Sayang, biar romantis gitu, kaya di drama-drama Korea gitu" goda Raina. Tama masih cemberut, tapi dia menuruti permintaan Raina. 

"Makasih" ucap Raina, tersenyum menggoda, lalu dia masuk ke dalam mobil Tama. 

Raina menunggu Tama masuk ke dalam mobil. Saat kekasihnya itu sudah duduk, Raina menarik lengan Tama, lalu mendaratkan ciuman di pipi kiri kekasihnya. Tama terkejut dengan tingkah manis Raina padanya. 

"Udah, jangan cemberut terus ah, nanti hilang gantengnya" goda Raina, mengedipkan sebelah matanya. Raina sengaja berbuat norak seperti ini, dia hanya tidak mau Tama larut dalam rasa cemburu. 

Tama tidak menjawab, dia hanya bisa mengelus pipinya yang baru saja menerima kecupan manis dari pacarnya. Hatinya langsung berbunga-bunga, dalam sekejap Tama melupakan rasa cemburunya tadi. Raina memang paling bisa membuat hatinya berbunga-bunga.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • the monkey   chapter 45

    "Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil

  • the monkey   chapter 44

    "Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil

  • the monkey   chapter 43

    "Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"

  • the monkey   chapter 42

    "Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp

  • the monkey   chapter 41

    Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama

  • the monkey   chapter 40

    Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status