Share

chapter 2

Penulis: Yjc_

Hari ini Raina hanya sendirian di rumahnya. Ayah, Ibu dan Rendi sedang pergi ke rumah sepupu Raina yang baru saja melahirkan. Dia tidak ikut pergi bersama ayah ibu dan juga Rendi karena Raina malas karena bila dia datang nanti pasti dia akan ditanya mengenai pernikahan, hal yang membosankan. Raina pikir lebih baik di rumah saja pada saat weekend ini. Apalagi Ayah, Ibu dan Rendi kemungkinan akan menginap karena jarak rumah yang akan mereka tuju ini cukup jauh. 

Setelah Raina sendiri beberapa jam, dia merasa bosan juga, seharian ini hanya menonton TV dirumah. Akhirnya dia menelpon Tama untuk menanyakan dimana Tama berada sekarang. Sebelumnya Tama bilang kalau dia harus ke rumah sakit karena ada tindakan endoskopi yang harus dikerjakan dan tidak bisa ditunda. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Raina menghubungi kekasihnya itu. 

"Halo?" sapa Tama. 

"Sayang, udah selesai tindakannya?" tanya Raina. 

"Baru aja beres" jawab Tama. 

"Ke rumah dong, aku bosan sendirian. Nanti aku masakin deh, mie instan spesial kaya kemarin" ucap Raina, mulai merayu. 

Tama justru tertawa mendengar kalimat Raina barusan. Dia teringat cerita Rendi kalau Raina sama sekali tidak bisa memasak, bahkan masak mie instan saja hasilnya selalu gagal, antara terlalu lembek atau mie nya belum matang. Tama awalnya tidak percaya, dalam hatinya bertanya, masa ada orang yang tidak bisa masak mie instan, ternyata dia membuktikan sendiri saat Raina datang ke rumahnya dan menawarkan diri untuk memasak. Mie buatan kekasihnya itu hampir seperti bubur. Mau tidak mau Tama terpaksa memakannya. Memang benar kata orang kalau sudah mabuk cinta mie lembek pun jadi rasa spaghetti buatan restoran. 

"Aku beliin makanan pas jalan pulang ya" saran Tama. Rasanya lebih baik membeli saja, batinnya. 

"Ok" balas Raina setuju. Dia menunggu dengan sabar kehadiran Tama di ruang tamu.

Selang 1 jam, Tama sudah hadir di depan rumah Raina. 

"Kamu suka pizza?" tanya Tama, menunjukkan bungkusan pizza yang baru dibelinya. 

"Makan apa aja asal sama kamu semua enak" canda Raina. Tama tertawa. 

Semakin lama Raina semakin senang menggombal, batinnya. Walaupun harusnya dirinya lah yang harus menerima kalimat gombal pada pacarnya, tapi mau bilang apa, kanebo kering ini bilang cinta aja sulit sekali, bagaimana bisa menggombal, batin Raina, kadang merasa gemas dengan tingkah kaku Tama. 

"Abis makan kita nonton yuk," ajak Raina. 

"Nonton bioskop?" tanya Tama, cukup terkejut dengan ajakan Raina. Kekasihnya itu bahkan belum mandi, Tama tidak bisa membayangkan harus menunggu berapa lama lagi untuk Raina bersiap-siap.

"Di rumah aja yah Sayang, aku lagi malas" jawab Raina. Dia masih sibuk menikmati pizza yang dibawa Tama. Mungkin karena mereka sudah berteman lama, Raina sudah merasa terlalu nyaman bersama dengan Tama, dia bahkan tidak malu lagi bila tidak sedang berdandan atau belum mandi seperti sekarang. Sedangkan Tama, masih saja kaku.

"Kamu tunggu disitu aja ya, filmnya sebentaar lagi mulai, aku mandi dulu, lama-lama malu juga ga mandi" pinta Raina sambil memamerkan cengiran usil nya. 

Raina segera mandi dan kembali lagi menuju ruang televisi di rumah. Film yang akan mereka tonton sudah akan dimulai. Tama juga sudah duduk dengan rapi di sofa ruang televisi. Film itu awalnya baik-baik saja, banyak adegan aksi dan kejar-kejaran, sampai pada menit ke 30an, adegan aksi berubah menjadi adegan percintaan yang cukup panas. Raina belum pernah menonton film ini di bioskop, tentu saja dia tidak tahu kalau ada adegan seperti ini, yang dia tahu ini hanya film aksi biasa. 

Ternyata Tama juga sama, dia pun tidak menyangka akan menonton adegan dewasa dengan Raina. Tama melirik kekasihnya, wajahnya tampak memerah dan tersipu malu, badannya tidak bergerak. Gadis itu mengambil botol soda di depannya, dia mulai kepanasan karena adegan di layar semakin tidak karuan. Tama juga sama, dia mengambil soda Stroberi dihadapannya dan ikut minum. Baru beberapa teguk, Raina tersedak ketika sang aktris wanita di televisi mulai mengeluarkan suara-suara aneh di telinganya, dia langsung batuk-batuk. Tama spontan mendekati Raina, mengambilkan botol berisi air mineral kepunyaannya dan membantu Raina untuk minum sambil menepuk-nepuk punggung Raina agar merasa lebih baik. Wajah mereka dekat sekali. 

"Kamu enggak apa-apa?" tanya Tama, khawatir. Raina menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa bicara, masih terbatuk-batuk. 

"Pelan-pelan" balas Tama lagi, tetap menepuk punggung Raina.

Wajahnya semakin mendekat hingga hanya berjarak dua senti saja. Entah karena roma harum dari Raina karena baru saja selesai mandi, di tambah bibirnya yang kemerahan dan basah terkena soda rasa stroberi, atau karena suara desahan dan adegan panas di layar televisi, atau mungkin soda stroberi itu membuat otak Tama sedikit terganggu, yang jelas semuanya membuat Tama ingin mendekati wajah Raina lebih dekat lagi, sehingga hidung mereka saling bersentuhan. Suara-suara desahan di televisi bertambah keras, membuat Tama menginginkan satu hal, mencium bibir Raina. 

"Kamu, harum sekali, aku suka" ucap Tama dengan suara rendahnya, Tama memiringkan wajahnya dan mulai mengecup bibir Raina. Di lain pihak, Raina merasa sedikit terkejut dengan tindakan Tama, tapi dia tidak menolak, Raina mengikuti alur permainan ciuman Tama. Tubuh Tama maju kedepan, menekan Raina ke sudut sofa, sampai kekasihnya itu tidak dapat bergerak lagi, Raina menurunkan tubuhnya sampai setengah tertidur dengan tubuh Tama berada diatasnya. Tama terlalu larut dalam ciumannya, sampai ciuman Tama mulai turun ke telinga Riana, membuat gadis itu terpekik dengan suara tertahan karena merasa geli. Pekikan Raina membuat Tama tersadar, dia tidak boleh melanjutkan aksinya lagi, ini sudah kelewat batas, Tama bukan lelaki jahat yang memanfaatkan kesempatan seperti ini. Dia melepaskan ciumannya dan duduk tegak. Di bawah Raina masih memejamkan matanya, tersadar kalau ciuman Tama sudah menjauh. Raina membuka kedua matanya dan melihat kekasihnya sudah duduk dengan kepala tertunduk. 

"Aku.., aku minta maaf Na. Enggak seharusnya aku seperti ini, maaf" ucap Tama, menundukkan wajahnya karena malu sendiri dengan tindakannya yang sudah kelewat batas. Lelaki itu langsung menggeser posisi duduknya menjauhi Raina. 

"Enggak apa-apa!" balas Raina cepat, tapi sedetik kemudian Raina menyesali kalimatnya. Bodoh, batinnya, kecewa pada otaknya yang kadang sering berpikiran macam-macam semenjak berpacaran dengan Tama, walaupun setengah hatinya menyemangati dirinya untuk mengiyakan apa yang baru Tama lakukan.

"Enggak, ini salah" ucap Tama, dia menggeleng. 

"Apa aku kurang menarik?" tanya Raina, wajahnya berubah sedih. Dia merasa Tama menolaknya, padahal dia tidak keberatan, mereka kan sudah dewasa, pikir Raina. 

"Enggak, justru sebaliknya. Kamu terlalu menarik, sampai aku hampir hilang akal tadi, aku yang salah, aku benar-benar minta maaf Na" potong Tama cepat. Dia tidak mau Raina jadi salah paham menganggap dia menolak Raina. Tama mendekati Raina, memegang tangan kekasihnya itu dengan lembut. Wajah Raina masih tertunduk sedih. Bayangan penolakan Radit di masa lalu terkenang lagi. 

"Sayang, jangan pikir aku menolak kamu. Justru sebaliknya pesona kamu sangat berbahaya, kalau aku enggak bisa tahan diri, bisa-bisa malam ini kita melakukan hal-hal yang tidak benar. Bisa-bisa besok Ayah kami geret aku ke KUA buat segera kawinin kita berdua. Aku.., aku mau jaga kamu sampai aku sah jadi suami kamu" jelas Tama, dia memegang dagu Raina dan mengangkat wajah Raina sehingga kedua mata mereka saling bertatapan. 

Mendengar kalimat penjelasan Tama, hati Raina menjadi lebih tenang. Tama benar, walaupun secara usia, baik Tama maupun Raina sama-sama sudah dewasa, atau boleh dikatakan cukup tua untuk melakukan apapun, tapi semua hal itu tidak benar kalau dilakukan sebelum keduanya sah sebagai suami istri. Raina tersenyum, pilihan dia memang tidak salah, Tama adalah lelaki terbaik yang diberikan khusus untuk dirinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • the monkey   chapter 45

    "Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil

  • the monkey   chapter 44

    "Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil

  • the monkey   chapter 43

    "Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"

  • the monkey   chapter 42

    "Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp

  • the monkey   chapter 41

    Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama

  • the monkey   chapter 40

    Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status