Compartir

chapter 6

Autor: Yjc_

Raina masuk ke dalam kamarnya. Detak jantungnya masih terasa tidak beraturan. Gadis itu berkali-kali menarik dan menghembuskan napas panjang. Dia menenangkan pikirannya. Dirinya baru saja melakukan tindakan yang sangat gila. Tidak pernah Raina melakukan kegilaan itu sebelumnya. Raina memegang bibirnya, potongan-potongan adegan sebelumnya berputar kembali di kepalanya. Dia tertawa sendiri, wajahnya kembali terasa panas, Raina melirik pantulan wajahnya di cermin, sudah memerah seperti kepiting rebus. Dia langsung menatap ponselnya. Belum ada satu pesan masuk dari Tama. 

"Apa aku harus kirim pesan duluan?" tanya Raina bermonolog. Dia mengetik beberapa kata, lalu menghapus segera. Raina melakukan kegiatan mengetik pesan lalu menghapus kembali beberapa kali, sampai akhirnya sebuah pesan masuk di ponselnya. Raina membacanya, lalu sedetik kemudian senyuman itu merekah kembali. Gadis itu langsung berguling-guling kegirangan di tempat tidurnya, sambil menutup kedua wajahnya, mirip seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. Setelah itu dia sibuk menatap ponselnya, kembali berpikir keras untuk membalas pesan manis dari pria yang baru beberapa menit jadi kekasihnya itu. 

Di tempat yang berbeda, Tama masih terpaku didalam mobilnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia tidak pernah menyangka kalau Raina akan mencium dirinya lebih dahulu, padahal niat awal Tama hanya mengungkapkan perasaannya. Ini hadiah ulang tahun terbaik sepanjang hidupnya, pikir Tama, senang. Setelah berbulan-bulan, akhirnya kisah cintanya dengan Raina menemukan titik temu juga, akhirnya tidak ada lagi salah paham yang membuat pusing kepalanya. 

Tama masih berada di depan rumah kekasihnya itu. Dia menatap lekat rumah itu, lalu membawa mobilnya kembali ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah. 

"Sampai ketemu besok, Sayang" bisik Tama sebelum pergi. 

Di rumah, Tama tidak bisa memejamkan kedua matanya. Sama halnya dengan Raina, kejadian di mobil itu masih lekat terbayang di kepala Tama. Rasanya lelaki itu masih bisa merasakan bibir Raina. Dia tersenyum sendiri memikirkannya. Bahkan sisa lipstik Raina masih menempel di bibirnya. Tama merasa enggan untuk membersihkannya, biarlah sampai besok dia membiarkan sisa kenangan bahagia ini masih berada disana. Tama beralih ke ponselnya. Dia berpikir keras. Seharusnya dia menanyakan keadaan Raina kan, batin Tama. Tapi apa tidak terlalu kekanak-kanakan, bukannya mereka baru saja bertemu sekitar 10 menit yang lalu, apakah tidak terlalu norak, menanyakan kabar dalam waktu terlalu singkat, semua pertanyaan itu terasa campur aduk di kepala lelaki itu malam ini. Dia menimang-nimang ponselnya dengan tangan kanannya. Membuka aplikasi pesan, mencari nomor kontak Raina, lalu menutupnya kembali. 

"Ya ampun, kenapa jadi mirip seperti anak remaja" ucap Tama, tersipu malu sendiri. Dia menertawakan dirinya sendiri. Akhirnya dia mengetik beberapa kata di ponselnya. Tama membacanya beberapa kali, semoga tidak terlalu norak, batinnya. Setelah itu lelaki itu menunggu balasan dari kekasih hatinya yang baru beberapa menit dia resmikan menjadi pacarnya. Beberapa detik berselang, ada notifikasi pesan masuk. Tama membacanya, dia tersipu lagi, dia tidak membalas pesan itu, Tama bingung harus menjawab apa, dia sibuk berpikir akhirnya pria itu tertidur. Hari ini dia mimpi indah. 

_______________

Pagi ini Raina bangun dengan perasaan senang. Walaupun tidak bermimpi indah, tapi dia tidur dengan lelap. Raina mengambil ponselnya. Tidak ada pesan baru disana, dia tidak perduli. Raina membuka pesan sebelumnya, ada dua pesan manis dari Tama semalam. 

"Terima kasih untuk malam ini, kamu adalah hadiah ulang tahun terindah sepanjang hidup aku"  tulis Tama semalam. Hanya dengan membaca kalimat itu saja Raina langsung tersipu lagi. Riana kembali berguling ke kanan dan kiri dengan wajah terasa panas. Dia benar-benar jatuh cinta pada Tama. 

"Selamat pagi, sudah bangun?" tulis Raina. Semalam setelah dia membalas pesan Tama, lelaki itu tidak membalas kembali. Raina tidak terlalu perduli, mungkin Tama tertidur, tapi bagaimana lelaki itu bisa cepat tertidur setelah mereka melakukan tiga kali ciuman semalam, batin Raina bingung. Sementara dia sulit sekali memejamkan kedua matanya. Untung saja semalam dia cukup lelah bekerja sehingga bisa tertidur lelap setelah beberapa lama. Ah, lagi-lagi adegan ciuman mereka terbayang di kepala Raina. Lamunan "panas" nya itu terhenti setelah mendengar satu pesan masuk kembali di ponselnya. Melihat itu dari Tama, Raina langsung melonjak kegirangan, dia cepat-cepat membuka pesan masuk itu. 

"Sudah," tulis Tama. Raina menggosok matanya. Hanya satu kata, tidak ada tambahan kata lain. Bahkan tidak ada tulisan basa-basi, mungkin seperti "selamat pagi juga" atau minimal Tama berbasa-basi menanyakan apakah dia sudah bangun juga, batin Raina sambil mencibir. 

"Dasar kanebo keriiiing!!!!" umpat Raina, dia melemparkan ponselnya, sedikit kesal. Raina mengambil ponselnya kembali, dia menulis satu pesan lagi. 

"Nanti ke rumah ya, sarapan bareng kaya biasa" tulis Raina, dia bergegas turun ke dapur. Hari ini Raina ingin memasak untuk teman yang sekarang resmi jadi kekasih hatinya.

Ibu dan Ayah saling melempar pandang, melihat anak gadis mereka sudah sibuk berada di dapur sedari pagi. Mereka kebingungan. Anak gadis itu sudah sibuk membuat nasi goreng, telur dadar dan juga roti bakar. Biasanya Raina memasak mie instan saja sering gagal, entah mie nya terlalu lembek atau setengah matang. Ibu sering khawatir bagaimana putrinya itu kalau menikah nanti bila tidak bisa memasak seperti itu. 

"Bu, cobain ya, enak enggak?" tanya Raina tiba-tiba, dia memaksa Ibu menyuapkan sesendok nasi goreng yang baru dia masak. 

"Gimana Bu?" tanya Raina, penuh harap ibu akan memuji masakannya, atau minimal ibu mengatakan "lumayan". 

"Enggak ada rasanya, enggak asin sama sekali" ucap Ibu dengan datar. Nasi goreng itu mirip seperti nasi putih yang berminyak. 

"Masa Bu? Aku udah kasih garam kok" balas Raina sambil mengernyitkan keningnya, dia berpikir keras berapa banyak garam yang dia taburkan sebelumnya. Raina kembali menghidupkan penggorengan yang masih berisi nasi goreng buatannya, dia mengambil tempat garam lalu menyendokkan garam dalam jumlah besar untuk ditaburkan kembali ke masakannya. 

"Na, jangan sebanyak itu!" teriak Ibu, panik. Bisa-bisa nasi goreng itu tidak termakan, batin Ibu. Raina menarik tangannya segera. Ibu bernapas lega melihat garam di tangan putrinya belum jadi ditaburkan. 

"Sini, ibu aja yang masak, kamu nih masak nabur garam sebanyak itu, yang ada keasinan Na, kalau sebanyak itu" omel Ibu. Wanita paruh baya itu dengan cekatan memperbaiki masakan anak gadisnya, sembari mengajari Raina bagaimana memasak yang benar. Sedangkan Ayah segera menyingkir pergi, pagi ini bisa jadi "arena pertempuran" untuk kedua wanita kesayangannya, yang jarang akur, lebih baik segera menyingkir, batin Ayah.

Raina hanya bisa mengangguk saja sambil mendengarkan dengan serius semua omelan Ibunya. Salahnya sendiri memang, tidak bisa memasak dengan benar. 

Setelah selesai membantu Raina di dapur, Ibu melihat sekelilingnya, dapurnya dalam sekejap berubah berantakan. Mulai dari alat masak yang mendadak keluar semua dari lemari penyimpanan. Belum lagi beberapa potongan, yang berisi butir nasi, yang sudah berceceran dimana-mana, dan telur ayam yang jadi korban percobaan masakan Raina. Wanita itu menghembuskan napas dengan berat, dia senang sekaligus kesal. Senang anaknya mau menyentuh dapur tapi melihat dapurnya berantakan, Ibu merasa kesal juga karena harus membereskan ini semua.

"Tidak usah dicuci, nanti pulang kerja, Nana yang beresin" balas Raina, mencium pipi Ibunya, seakan bisa membaca kekesalan Ibu. 

"Eh?" tanya Ibu, sekarang dia kebingungan. 

"Biar Nana yang cuci Bu, nanti sepulang kerja, sekalian mau belajar masak. Makan siang Ibu enggak usah masak, Nana udah pesen masakan kesukaan ibu semua, oke Bu?" jawab Raina lagi, dia tersenyum senang. Ibu nyaris tidak mempercayai pendengaranya. Anak gadisnya ini bersikap sangat manis padanya, anak itu bahkan mau belajar masak dan mencuci piring. Kejadian yang sangat langka, apalagi setelah bermasalah dengan Tama, Raina sering bersikap murung, tapi pagi ini Ibu bisa melihat sinar bahagia di kedua mata Raina. 

Raina tidak menunggu Ibu membalas kalimatnya, dia hanya mengecup lagi sebelah pipi Ibunya lalu pergi ke kamar untuk bersiap-siap pergi kerja. 

"Aku mandi dulu Bu" teriak Raina sambil berjalan menjauhi ibu, menuju kamarnya. Ibunya masih terpaku kebingungan. 

"Apa semalam anak itu salah makan?" ucap Ibu pada dirinya sendiri sambil memegang pipinya yang baru saja mendapat kecupan manis dari anak gadis satu-satunya itu. Dari kejauhan Ayah tersenyum melihat adegan romantis ibu dan anak itu. Ini kejadian langka, batin Ayah dalam hati.

Raina mandi dan berdandan cantik pagi ini. Dia bersiap-siap dengan terburu-buru, sudah tidak sabar ingin segera sarapan bersama Tama pagi ini. Tapi hati bahagianya berubah saat tidak mendapati Tama di ruang makan. Raina melihat ke sekelilingnya, mencari sosok Tama. 

"Makan cepetan Na, nanti keburu dingin nih nasi goreng kamu" perintah Ibu. Raina menurut, dia duduk di kursi makan tempat biasanya. Tapi matanya masih melihat kesana kemari. 

"Cari Kang Tama ya?" bisik Rendi sambil memamerkan cengiran usil khas adiknya. Raina tidak menjawab. 

"Segitu kangennya ya, padahal semalam sudah.." Rendi langsung menutup mulutnya saat melihat kakaknya itu mendelik dengan kesal, seakan menyuruh adiknya untuk segera tutup mulut. 

"Tama enggak datang Na, kemana dia? Nanti kamu dijeput Tama kan?" ucap Ibu, bisa membaca pikiran Raina, walau ibu sedikit mendengar bisikan Rendi sebelumnya.

"Em.. Nana enggak tahu juga Bu, mungkin telat kesini" balas Raina, dia salah tingkah. 

"Ya udah makan aja dulu, nanti bungkusin sarapan kalau Tama telat." balas Ibu lagi. Raina mengangguk mengiyakan saja. Kepalanya penuh pertanyaan, kemana Tama. Dia melirik ponselnya. Kosong, tidak ada pesan baru dari Tama. 

Harapan Tama untuk sarapan pagi bersama pupus, sampai semua selesai makan, Tama tidak juga hadir. Pria itu baru terlihat saat Raina baru saja akan memanaskan mobilnya, dia pikir dia akan berangkat sendiri pagi ini karena Tama tidak tampak kehadirannya.

"Na, maaf aku telat, kita berangkat bareng ya" ajak Tama. Raina masih merengut karena kesal Tama tidak datang sarapan pagi ini, tapi dia tetap ikut masuk dalam mobil Tama. 

Mereka tidak berbicara, Raina menyalakan radio, sibuk mencari saluran radio yang memainkan lagu yang enak. Setelah mendapatkan gadis itu sibuk bernyanyi dan mengikuti lagu, kegiatan itu terus dilakukan Riana sampai mereka sampai di rumah sakit. Tama tidak punya kesempatan untuk berbicara karena Raina sibuk sendiri dengan lagu dan radio. Tapi Tama tahu gadis itu pasti sedang kesal padanya. Tama memarkirkan mobilnya sedikit jauh. 

"Na, tunggu dulu" tahan Tama saat Raina hendak turun langsung setelah mobil Tama selesai terparkir. Raina menurut, dia juga ingin mendengarkan penjelasan Tama.

"Ya?" balas Raina, mencoba bersabar dengan pria dingin ini, biar bagaimanapun mereka sudah berpacaran sekarang. 

"Aku minta maaf, pagi ini, aku belum siap bertemu Ibu dan Ayah kamu" ucap Tama. Raina hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat pacarnya itu, hampir dia tertawa, tapi Raina menahan dirinya, dia khawatir Tama malah akan marah padanya. Dia menunggu dengan sabar kalimat Tama selanjutnya. 

"Biasanya aku ketemu orang tua kamu sebagai teman dan tetangga saja, tapi sekarang aku ketemu sama orang tua kamu sebagai pacar kamu," lanjut Tama lagi. Raina tersenyum senang, ternyata itu alasannya. 

"Aku punya sesuatu buat kamu" ucap Tama, dia mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya. Ternyata satu kuntum bunga mawar putih. 

"Buat kamu, aku mau kasih kemarin, cuman.. cuman..., kamu kemarin langsung pergi, jadi lupa" lanjut Tama lagi, dia memberikan mawar itu pada Raina. 

"Terimakasih banyak" ucap Raina, dia tersenyum manis sekali. Tama menggenggam telapak tangan Raina. 

"Aku mungkin sulit untuk merangkai kalimat manis, tapi aku janji akan berusaha supaya jadi pacar yang terbaik untuk kamu, Na" Tama melanjutkan kalimatnya dengan susah payah. Raina mengangguk, dia mengerti, sulit untuk Tama untuk merangkai kalimat penuh rayu dan gombal. Raina juga tahu kalau kalimat tadi saja pasti sudah menyulitkan Tama. Dia membalas genggaman Tama. 

"Aku mengerti, aku juga minta maaf, aku sudah hampir mau tuduh kamu tidak serius pacaran sama aku" jawab Raina dengan jujur. 

"Sama sekali enggak Na" balas Tama cepat. 

"Iya, aku ngerti Sayang.." ucap Raina cepat. Tama tersenyum saat dia dipanggil "sayang" oleh Raina. 

"Kamu seneng banget ya aku panggil sayang?" goda Raina, mencubit hidung mancung Tama dengan gemas. 

"Kamu mau aku panggil "sayang", atau kaya yang lagi ngetrend di anak jaman sekarang, panggil ayah bunda? Abi umi?" goda Raina, mulai menyebalkan. Tama bergidik ngeri saat mendengar candaan Raina. 

"Jangan" balas Tama cepat. Riana tertawa. 

"Anyway, kalau kamu mau jadi pacar yang terbaik buat aku, aku punya saran" ucap Raina. Tama melebarkan pupil matanya, penasaran. Raina mengayunkan jarinya, meminta Tama untuk mendekat. Lelaki itu menurut, wajahnya mendekat ke arah wajah Raina, sehingga mereka hanya berjarak beberapa senti saja. 

"Berhenti jadi Tama si kanebo kering, dan mulai jadi Tama, sayangku yang perhatian" balas Raina, lalu gadis itu dengan cepat mengecup bibir Tama. Tanpa menunggu reaksi Tama selanjutnya, Raina langsung keluar dari mobil dan berjalan cepat. Kalau Tama seperti kemarin, bisa-bisa mereka tidak bekerja hari ini. 

Di dalam mobil Tama masih bingung. Dia masih mencerna kejadian beberapa detik yang lalu, terlalu cepat sampai Tama tidak terlalu menyadari apa yang terjadi. Lagi-lagi Raina mencuri ciumannya, batin Tama, sedikit menyesal karena harusnya dia yang memulai ciuman itu, bukan Raina. Tama mengalihkan pandangannya ke arah Raina yang saat ini sudah cukup jauh berjalan. Gadis itu berjalan ke kanan ke kiri, terlihat sangat senang. Tama tertawa melihatnya.

"Dasar gadis aneh," ucap Tama, dia pun bergegas mengejar pacarnya itu.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • the monkey   chapter 45

    "Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil

  • the monkey   chapter 44

    "Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil

  • the monkey   chapter 43

    "Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"

  • the monkey   chapter 42

    "Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp

  • the monkey   chapter 41

    Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama

  • the monkey   chapter 40

    Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status