공유

chapter 7

작가: Yjc_

"Teh" panggil Rendi lagi. Raina pura-pura tidak mendengar.

"Teh," Rendi mengulangi lagi, kali ini suaranya lebih keras. Raina tahu adiknya pasti ingin kembali meyakinkan dirinya tentang Tama. Sudah beberapa hari ini Rendi selalu mencoba membela Tama. Raina mulai merasa terganggu dengan sikap adiknya yang lebih memihak Tama. 

"Apa sih?" tanya Raina, mulai terganggu. 

"Mengenai Kang Tama, teteh beneran enggak mau balikan lagi sama Kang Tama?" tanya Rendi, sedikit takut, khawatir Kakaknya itu akan mengamuk atau minimal merajuk karena pertanyaan dirinya menyangkut tentang Tama lagi.

"Balikan? Jadi aja belum" jawab Raina dengan wajah malas. 

"Tapi.." kalimat Rendi terputus saat ponsel Raina berdering. 

Raina langsung menerima panggilan itu. Dia malas menjawab pertanyaan Rendi. Raina tahu kalau Rendi sangat senang dengan Tama. Raina juga yakin Tama meminta bantuan kepada Rendi untuk meyakinkan dirinya. Tapi jujur saat ini banyak keraguan di hati Raina. Dia cuma takut merasakan patah hati lagi. Raina merasa tidak sanggup bila harus merasakan patah hati untuk yang kesekian kali. 

"Na!" suara Yasmin terdengar cukup keras di ponsel, menyadarkan Raina kalau dia sudah menjawab ponselnya tapi belum mengucapkan sepatah kata pun. Yasmin menghubunginya. 

"Oh, iya, gimana Yas?" balas Raina, dia tidak mendengar kalimat Yasmin sebelumnya. 

"Lu ngelamun ya?" tebak Yasmin. 

"Enggak, gimana Yas, tadi enggak terlalu jelas suaranya" kilah Raina. 

"Ayo keluar, makan siang bareng, gue kangen" balas Yasmin. Raina tertawa mendengarnya. Baru kali ini sahabatnya ini merengek minta untuk bertemu. Setelah pulang menjadi relawan dan kejadian beberapa hari yang lalu dengan Bella, Raina memang belum menemui atau menghubungi Yasmin. 

"Ok, gue berangkat sekarang" jawab Raina. Dia memutuskan sambungan telepon setelah Yasmin menyebutkan lokasi tempat mereka akan bertemu. Raina berdiri dari duduknya, bergegas pergi ke kamar untuk bersiap-siap. 

"Loh, Teh. Mau kemana?" tanya Rendi, bingung. 

"Teteh ada janji sama Teh Yasmin, kamu anterin teteh ya?" pinta Raina, yang terdengar seperti perintah di telinga Rendi. Dia terpaksa setuju, mengingat janjinya tempo hari pada Kakaknya itu. 

Di tempat yang sudah mereka sepakati, Yasmin sudah menunggu dengan sabar sahabatnya itu. Rasanya dia sudah rindu dengan sahabatnya ini. 

"Na!" sapa Yasmin, melambaikan tangan.

"Yas" sapa Raina, dia tersenyum senang. 

"Lu tega ya enggak sering kabari gue sekarang" rajuk Yasmin. 

"Maaf ya, lagi banyak pikiran" ucap Raina lagi. 

"Kenapa? Masalah Tama lagi?" tanya Yasmin, hati-hati. Raina mengangguk saja.

"Gue masih ragu sama Tama" Raina mulai bercerita. 

"Tama butuh buktikan apa lagi sama elu Na?" tanya Yasmin. 

"Entahlah, Yas. Gue cuman enggak yakin aja" lanjut Raina lagi. Raina mulai bercerita mengenai semua kejadian selama dia pulang jadi relawan bencana gempa. Mulai dari hari Tama menjeput dirinya, pelukan tiba-tiba dari Tama, sampai pada cerita tentang Bella. 

Yasmin menghela napas beberapa kali. Kisah cinta sahabatnya ini rumit dan menyebalkan sekali. 

" Gue yakin dia serius, mengenai Bella, yang gue tahu, Tama memang punya hutang budi sama Ayahnya Bella, mungkin itu alasan Tama membantu Bella. Waktu dia enggak bisa antar elu berangkat ke Sulawesi, itu juga karena keadaan Ayahnya Bella yang harus segera endoskopi cito Na, enggak ada alasan lain, Tama orang baik. Dia mungkin enggak bisa ungkapin dengan kata-kata, tapi sepanjang gue kenal Tama, gue yakin dia cinta dan sayang sama elu Na" ucap Yasmin setelah beberapa saat. Raina hanya diam. Mereka berdua kembali diam, akhirnya Yasmin mengganti topik pembicaraan, dia tidak ingin membuat Raina marah atau kesal.

"Gue duluan ya Na" pamit Yasmin. Raina mengangguk.

"Na, dulu gue enggak yakin gue cinta yang nggak sama suami gue, akhirnya gue ngelakuin sesuatu buat buktiin" ucap Yasmin sebelum masuk ke dalam mobil. 

"Apa?" tanya Raina, penasaran. 

"Gue cium aja bibirnya, lu pasti tahu kalau lu suka sama dia setelah itu" jelas Yasmin sambil mengedipkan sebelah matanya, sedikit menggoda Raina. Setelah mendengar penjelasan Yasmin, Raina hanya bisa mencibir. Selalu saja ada ide aneh di kepala sahabatnya itu. 

Sialnya, kalimat Yasmin itu selalu terngiang-ngiang di kepala Raina selama berhari-hari. Dia masih berusaha menghindari Tama. Hari ini Raina datang ke poli sedikit terlambat, saat akan masuk ke dalam poli, Raina mendengat semua perawat polinya sedang bernyanyi "selamat ulang tahun" sambil bertepuk tangan. Siapa yang ulang tahun, batin Raina. Dia masuk ke dalam ruangan poli dan mendapati Tama sedang berdiri dikelilingi oleh perawat polinya. Raina ingin kembali berbalik pergi keluar dari poliklinik, tapi langkahnya terlambat, seorang perawat sudah menangkap kehadirannya. 

"Dok, sudah datang, sini Dok, Dokter Tama lagi ulang tahun, kita kasih kejutan" ucap perawat itu, menarik tangan Raina untuk mendekat. Raina terpaksa mendekat. Tama yang juga menyadari kehadirannya, tersenyum gembira. 

"Na" sapa Tama. 

"Emm" balas Raina, acuh. Dia sibuk bertepuk tangan tanpa bernyanyi. 

"Nanti malam, aku mau ajak kamu makan, apa boleh?" tanya Tama, usai acara kejutan ulang tahunnya selesai. Raina melirik sebentar, wajah lelaki itu tampak berharap, tapi kalau boleh jujur, Raina masih terlalu gengsi untuk mengiyakan. Kalimat Yasmin terlintas lagi di kepalanya. 

"Enggak mau ajak Bella?" sindir Raina dengan kejam. 

"Bella sudah kembali ke Amerika kemarin. Papa Bella dapat donor hati disana" cerita Tama. Raina tersentak, ternyata Bella sudah tidak ada di Bandung. Dia sontak merasa senang mendengar tidak ada Bella lagi di antara dirinya dan Tama. Tapi Raina tetap mencoba menjaga agar tidak terlalu terlihat. 

"Oh" balas Raina, wajahnya ia buat datar. 

"Jadi, kamu bisa?" tanya Tama lagi. Wajahnya sangat berharap. Raina melirik ke arah Tama. Kasihan juga, pikir Raina. 

"Emm" balas Raina, mengangguk mengiyakan. 

"Aku jeput ya?" pinta Tama. 

"Jangan, aku ada urusan di rumah sakit lain, aku datang sendiri saja, kamu.. Ehem.. Kamu kabari saja tempatnya" balas Raina cepat. Gadis itu segera berlalu pergi tanpa menunggu balasan Tama. 

Malamnya, Raina pergi bersama Rendi menuju tempat makan yang sudah dikabari oleh Tama. Dia mati-matian mengajak Rendi untuk ikut serta, tapi adik semata wayangnya itu juga mati-matian menolak dengan berbagai alasan. Raina tidak nyaman hanya datang sendirian.

"Ren" pinta Raina lagi. 

"Teh, aku beneran harus ke tempat teman aku, ini aja udah telat banget" balas Rendi, menggelengkan kepala dengan tegas. Raina mencibir kesal. Sulit sekali meminta bantuan adiknya ini, batin Raina. Dia hanya bisa berharap didalam sudah banyak orang sehingga tidak perlu berlama-lama berdua bersama Tama.

Dengan berat hati Raina keluar dan masuk sendirian ke dalam restauran itu. Betapa terkejutnya Raina saat dia mendapatkan di dalam restauran itu hanya ada Tama dan tempat itu sudah disulap menjadi indah sekali, dengan cahaya lilin-lilin yang sangat romantis. Tama yang menyadari kehadiran Raina langsung berdiri menyambut gadis kesayangannya. Raina baru saja akan berbalik pergi, tapi Tama segera menahan Raina. 

"Na tunggu Na, aku mohon jangan pergi dulu" pinta Tama. 

"Kenapa cuman kita berdua? Dimana yang lain?" tanya Raina. Dia mulai salah tingkah. 

"Aku memang enggak undang yang lain," jawab Tama. Dia bingung mengapa Raina menyangka akan ada orang lain yang hadir. 

"Maksudnya?" tanya Raina bingung sendiri. 

"Aku memang siapkan ini untuk kamu, aku enggak pernah bilang kalau akan undang orang lain" jelas Tama, dia mengernyit keningnya, bingung, mengapa Raina merasa Tama akan mengundang orang lain. Raina terdiam, dia berusaha mengingat kembali perkataan Tama sebelumnya. Raina pun tersadar kalau Tama tadi hanya mengajak dirinya tanpa menyebutkan akan mengundang orang lain. 

"Dasar Nana bodoh" ucap Raina dalam hati, mengutuk kebodohan dirinya. 

"Ayo, kita makan dulu" ajak Tama. 

"Aku enggak bisa lama-lama." balas Raina. 

"Kamu mau kemana memangnya malam ini? Tadi diantar Rendi kan? Tadi Rendi bilang kalau dia ada janji sama temannya kan? Nanti pulangnya aku antar, please Na, sebagai kado ulang tahun aku?" pinta Tama lagi. Seakan lelaki itu sudah mengetahui semuanya. 

"Ah dasar sial, pasti mereka sudah janjian sebelumnya" batin Raina dalam hati. 

Raina menatap wajah Tama. Dari tatapan matanya, Raina tahu kalau lelaki itu berharap sekali akan kehadirannya, terlalu jahat kalau Raina menolak permintaan Tama, apalagi saat ini Tama sedang berulang tahun. Raina meneliti penampilan Tama, dia tampak sangat tampan dengan jas hitam yang dipadukan dengan kemeja berwarna biru gelap, dengan sepatu hitam. Raina menyesali penampilannya, dia masih memakai baju kerjanya, rambutnya berantakan dan riasannya sudah luntur terkena keringat selama dia bekerja di rumah sakit. 

"Oke, maaf penampilan aku berantakan" balas Raina.

"Kamu tetap cantik di mata aku" balas Tama. Raina menaikkan sudut bibirnya, dia merasa geli mendengar Tama menggombal. Tapi hatinya diam-diam merasa senang. 

"Tsk, dasar gombal" balas Raina pelan. 

"Kita makan dulu ya" ajak Tama lagi, mempersilakan Raina untuk duduk. Pelayan juga mulai membawakan makanan yang sudah Tama pesan. Mereka berdua mulai makan.

"Maaf juga aku enggak bawa kado," ucap Raina disela-sela mereka menikmati hidangan malam itu. 

"Kan sudah aku bilang, kehadiran kamu udah jadi kado ulang tahun aku malam ini" balas Tama. Raina nyaris tersedak mendengar kalimat Tama. Dia sedikit tersipu-sipu, tapi Raina menjaga air mukanya agar tetap tenang. Dia tidak ingin Tama menyadari hatinya yang saat ini dipenuhi dengan taman bunga. 

"Aku, mau minta sesuatu boleh Na?" tanya Tama lagi. Raina menghentikan suapannya.

"Aku harap ini juga bisa jadi hadiah dari kamu malam ini" lanjut Tama lagi. 

"Apa?" tanya Raina, jantungnya mulai berdegup dengan kencang. 

"Apa kita bisa mulai lagi Na? Apa aku boleh jadi pacar kamu?" tanya Tama. Raina terdiam, dia memang sudah menyangka Tama akan menanyakan hal ini, hatinya menjadi bimbang, tidak tahu harus menjawab apa, kalimat Yasmin kembali terngiang-ngiang di kepalanya.

"Ah, tidak usah jawab sekarang Na, aku masih sabar untuk menunggu kamu mau terima aku" lanjut Tama cepat. Dia menyadari perubahan air muka Raina. Tama tidak ingin merusak momen ini. 

"Aku.." Raina tidak melanjutkan kalimatnya. 

"Jangan dipikirkan, nanti saja. Aku cuman mau mengatakan hal yang seharusnya aku katakan sama kamu dulu, sebelum aku yang merusak semuanya, ayo makan lagi" ucap Tama. Dia mengerti Raina pasti masih ragu dengan kesungguhan hatinya. Tama tidak bisa memaksa, hatinya sudah cukup lega dengan mengatakan semuanya malam ini. 

Mereka berdua melanjutkan makan malam mereka dalam keheningan. Otak Raina dipenuhi banyak pikiran. Perasaannya campur aduk. Sesekali dia melirik Tama yang duduk dihadapannya. Lelaki itu tetap tersenyum setiap kali melihat Raina mencuri-curi pandang kepadanya. 

"Ayo pulang, kamu pasti capek seharian kerja, malam ini masih harus temani aku makan malam" ajak Tama. Raina mengangguk setuju. 

Sepanjang perjalanan menuju kompleks perumahan mereka, Raina masih diam. Tama juga sedikit bingung harus mulai pembicaraan apa dengan Raina, hanya sesekali dia memulai percakapan, itu pun hanya dibalas sekenanya oleh Raina, selebihnya gadis itu hanya diam, kepalanya dipenuhi banyak hal. Beruntung jalanan cukup sepi sehingga mereka tidak perlu berlama-lama dalam keheningan. 

"Sudah sampai, terimakasih sekali lagi ya Na" ucap Tama. Raina tidak menjawab, dia duduk diam. 

"Tam, ada sesuatu yang mau aku sampaikan" ucap Raina tiba-tiba. Dia menatap Tama dengan lekat. 

"Ya?" tanya Tama, hatinya berdebar. Dia harus siap apapun yang akan disampaikan oleh Raina malam ini, bahkan kalau Raina menolak cintanya pun Tama sudah siap. Tama membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling bertatapan dalam jarak yang cukup dekat.

Kejadian selanjutnya terjadi sangat cepat. Raina mencondongkan tubuhnya kedepan lalu mendongakkan kepalanya, dalam sekejap bibirnya sudah mengecup bibir Tama, tanpa berkata apapun. Kedua mata Raina terpejam, memikirkan perasaan yang terjadi saat dia mencium lelaki yang sebenarnya sudah mencuri hatinya. Sedari tadi Raina terus memikirkan saran gila dari Yasmin, Raina pikir tidak ada salahnya untuk membuktikannya malam ini, toh Tama sudah menyatakan perasaannya. 

Tama hanya bisa terpaku, dia masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Dia menatap wajah gadis dihadapannya, kedua mata gadis itu masih tertutup, keningnya sedikit berkerut seakan memikirkan sesuatu, bibirnya masih menempel pada bibir Tama, tapi tidak bergerak, hanya menempel saja. Tama merasa seluruh badannya terasa kaku. Dia sama sekali tidak menyangka Raina akan bertindak sejauh ini, bahkan gadis itu belum menjawab perasaan Tama. Apa ini artinya iya, tanya Tama pada dirinya sendiri. Kepalanya terasa berat, banyak pertanyaan yang muncul secara bersamaan. Beberapa detik setelah mereka berciuman. Raina menarik badannya, dia melirik dengan ragu ke arah Tama. Pria itu sendiri baru tersadar kalau kecupan Raina sudah usai. Wajah Tama menegang, dia panik sendiri saat Raina menatap wajahnya. Tama mengeraskan wajahnya, sehingga terkesan dia tidak menyukai apa yang baru Raina lakukan padanya. Binar mata bahagia pada wajah gadis itu terlihat perlahan memudar, berganti dengan raut sedih, dia menundukkan kepalanya. Rasa sesal meliputi hati dan pikirannya. 

"Ah, maaf, aku rasa... Aku rasa, aku terlalu kelewatan ya..." ucap Raina, pelan sekali. Dia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Hatinya kecewa. 

Sementara di sisi lain, Tama masih tetap kaku, seakan-akan mulutnya tidak bisa bersuara, badannya pun seperti es, beku. Tama ingin mengucapkan sesuatu, tapi dia kebingungan.

Mendengar dan melihat bagaimana Tama dihadapannya, sorot mata Raina semakin menggelap, dia tidak menyangka reaksi Tama akan seperti ini, jauh dari apa yang dia bayangkan dan harapkan. Gadis itu semakin menundukkan pandangannya, mengutuk berkali-kali, mengapa dia harus mengikuti saran Yasmin kali ini. Saran ini salah sekali, terlalu gila, pikirnya. Raina berbalik, memegang handle pintu mobil Tama. Sudah cukup dia berada didalam mobil ini.

"Aku pamit ya" ucapnya pelan. Dia tidak mau lagi melihat wajah Tama. Sudah cukup malam ini dia mempermalukan dirinya. Harusnya dia tidak berharap lebih, batinnya dalam hati. 

"Raina" suara berat Tama tiba-tiba terdengar. Lengan Raina ditahan. 

"Kamu mau kemana? Kamu pikir kamu enggak harus tanggung jawab?" lanjut Tama, suaranya terdengar sangat dingin. Raina menjadi takut sendiri mendengar kalimat Tama itu. Dia menelan ludah dan menutup matanya, Tama pasti marah besar karena kelakuannya, pikir Raina. Berkali-kali gadis itu mengutuk dirinya dalam hati.

"Mau tanggung jawab apa? Aku kan udah minta maaf" ucap Raina, wajahnya ketakutan, dia melihat sorot mata Tama yang menatap dirinya tajam. Raina teringat waktu Tama marah dulu setelah melihat dia dan Radit. Sorot matanya rasanya mirip seperti ini, entahlah, Raina tidak bisa berpikir. Dia kesal, sedih dan sedikit ketakutan. 

"Aku enggak butuh maaf kamu, aku cuman butuh ini" ucap Tama, tanpa permisi lelaki itu langsung mengecup bibir Raina, membuat gadis itu terkejut setengah mati, dia spontan memundurkan badannya menghindari Tama dan tangannya menahan tubuh Tama, tapi tangan Tama jauh lebih cepat, menyadari tubuh perempuan, yang belakangan ini selalu membuat tidur malamnya tidak tenang, tangan Tama langsung menarik lengan Raina dan menahan tubuh Raina agar tidak bisa pergi kemana-mana. 

Tama memperdalam ciumannya, tangannya sudah berpindah ke belakang kepala Raina, dia menahan kepala Raina. Gadis itu tidak bisa bergerak, tubuhnya membeku, awalnya dia tidak membalas ciuman Tama, tapi Raina membiarkan mengikuti ciuman Tama, sampai dia akhirnya merasa cukup kewalahan dan kehabisan napas, gadis itu langsung mendorong pelan tubuh Tama, untuk menghentikan ciumannya. 

"Tam, hmmmmfff" ucap Raina, terengah-engah. Menyadari Raina sudah kehabisan napas, Tama menghentikan ciumannya. 

"Ah, maaf" ucapnya, malu. Dia melepaskan pelukannya, mengusap-usap pipi Raina dengan ibu jarinya. Mereka tertawa pelan sambil sama-sama menundukkan kepala, tersipu-sipu karena sama-sama merasa malu. 

"Na, apa itu artinya kami terima aku jadi pacar kamu?" tanya Tama, ragu-ragu. Raina langsung mengangguk, tapi pandangannya masih ke bawah, tidak berani menatap wajah Tama.

"Makasih" ucap Tama, mengangkat dagu Raina sehingga wajah mereka saling bertatapan, lalu mengecup lembut bibir gadis yang sekarang sudah sah jadi pacarnya itu, dengan lembut, tidak terburu-buru dan menggebu-gebu seperti sebelumnya. 

"Aku pamit ya, tidak usah diantar sampai depan" ucap Raina setelah melepaskan ciumannya. Sekujur tubuhnya terasa memanas. 

Tama mengangguk, dia yakin Raina pasti malu makanya tidak mau diantar seperti biasanya. Gadis itu cepat-cepat keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa melihat Tama, jantungnya berdebar sangat kencang, hari ini dia tiga kali berciuman di hari malam pertamanya berpacaran dengan Tama. Raina memegang dadanya, jantungnya masih berdegup kencang, bahkan bisa dia rasakan hanya dengan menyentuh dada kirinya saja. 

"Ehem!" Rendi tertawa-tawa melihat tingkah kakak kandungnya itu. Anak muda itu sudah mengintip apa yang terjadi sebelumnya. Adik Raina itu duduk di ruang tamu dalam kegelapan, dia sengaja menunggu Kakaknya untuk menggoda.

"Rendi, ngapain sih ngagetin aja" ucap Raina.

"Ehem.., ehem.. Tadi ngapain Teh sama si akang?" tanya Rendi, tersenyum penuh arti. Seakan mengatakan kepada Kakaknya kalau dia sudah mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.

"Jadi udah jadian nih, sama kang Tama??" goda Rendi lagi.

"Mau tahu aja anak kecil!" balas Raina, mengeluarkan lidahnya meledek Rendi lalu pergi ke kamarnya segera sebelum Rendi sempat menggodanya lagi. Melihat wajah Kakaknya memerah, Rendi tertawa terbahak-bahak, merasa geli, sekaligus merasa senang, akhirnya Kakaknya mau membuka diri kembali.

Di tempat lain, Tama masih terpaku, dia merasa seperti bermimpi. Bibirnya masih bisa merasakan kecupan Raina. Hari ini adalah ulang tahun terindah dalam hidupnya, karena dia mendapatkan hadiah ulang yang paling indah.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • the monkey   chapter 45

    "Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil

  • the monkey   chapter 44

    "Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil

  • the monkey   chapter 43

    "Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"

  • the monkey   chapter 42

    "Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp

  • the monkey   chapter 41

    Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama

  • the monkey   chapter 40

    Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status